POV : Cristi
Aku memilih tempat duduk di sudut taman yang jauh dari anak-anak yang lain. Karena membicarakan 'mereka ' itu tidak boleh sembarangan. Di jaman yang serba canggih seperti sekarang banyak yang tidak percaya. Aku pun mulai bertanya pada Dilla sebenarnya apa yang terjadi.
" Katanya mau ngomong sesuatu? ada apa sih Cris? kamu kok dari tadi aneh banget?" Dilla memulai pembicaraan,,dari sorot matanya terlihat jelas kalau di juga penasaran.
" Gini Dill,,aku mau tanya kamu semalam di kost nemuin kejadian apa aja?"
Dilla seperti tersentak kaget,,kedua alisnya bertautan saat mendengar pertanyaan ku
"Maksud kamu apa Cris? kok kamu tanya gitu?"
" Udah deh Dill,,cerita aja sama aku gak papa kok. aku bakal jaga rahasia. Lagian aku juga sebenarnya sensitif banget ma mahkluk halus. Aku liat kamu gini tuh dah dua kali lho Dill. Kemaren waktu kejadian kamu di gentayangi sosok mbak Diyah juga muka kamu pucet gini."
Dilla membuang nafas besar,,sepertinya memang ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya
" Aku semalam diganggu sama genderuwo Cris. Tadi siang juga aku liat mahkluk berbulu lebat itu nangkring di atas pohon mangga dekat jemuran. Dia sedang merhatiin Fara dari atas."
Hhhmmmm....benar kan dugaan ku. Dilla pasti semalam diganggu makhluk itu. Kasihan Dilla baru ditinggal semalam sudah diganggu. Tapi sepertinya ada yang belum diceritakan deh sama Dilla.
" Cuma genderuwo yang kamu liat? gak ada yang lain?"
" Haah....yang lain ? maksudnya ??emang ada apa aja sih di kost kamu itu Cris?" tanya Dilla sambil membuka matanya lebar-lebar karena kaget dengar kata 'yang lain'
" hantu yang lainnya gitu?? apa lagi yang kami lihat di kost aku?"
" Eemmmm.....ada sih satu,,tapi aku lihatnya entah mimpi atau gak sih ya. Soalnya kalau mimpi kok kaya nyata banget,,tapi kalau gak mimpi kok aku terbangun gitu lho."
" Iya emang kamu lihat apa?" tanyaku tak sabar.
" Sesosok wanita setengah baya,,dia pake kebaya sama kain jarik yang dah koyak. Wajahnya kaya yang gosong gitu. Tapi yang bikin ngeri tuh matanya Cris...matanya hampir jatuh keluar. Kamu pernah liat yang begitu?"
" Ooh... pernah,,dulu waktu baru ngekost disitu aku pernah liat sosok itu. Ya kaya mimpi juga sih liatnya. Dia kaya yang ngebilangin gitu ma aku,,karena waktu itu jemuran ku blom aku angkat. Katanya aku di suruh buruan angkat jemuran supaya gak di pake nangkring mahkluk halus yang lain."
" Wah....iya aku baru ingat,,tadi juga aku di suruh cepet-cepet bangun sama sosok itu. Waktu aku bangun ternyata aku tidur masih pake mukena."
" Mungkin sosok itu adalah nenek dari bapak kost. Karena katanya dulu kost bu Imah pernah terbakar dan ada korban yang meninggal,, yaitu nenek dari suami bu Imah."
"Ooh ... gitu ya? pantesan muka n badannya gosong gitu. Eeh... ngomong-ngomong kamu sejak kapan Cris bisa lihat hantu?"
"Aku udah dari kecil bisa lihat Dill. Males banget sebenarnya. Kalau ada yang bisa nutup,,aku pengen banget bisa dititip dan gak usah lihat yang begituan.
Dilla hanya menganggukkan kepalanya. Tak terasa kami sudah lumayan lama mengobrol. Kami berdua pun memutuskan untuk kembali ke kantin dan menemui Fara. Pasti Fara kebingungan mencari kami berdua. Karena tadi kami pamitnya hanya ke toilet sebentar.
Pada saat kami sedang menuju ke arah Fara aku melihat sesosok perempuan bermuka pucat menempel di punggung Fara. Rambutnya panjang dan lepek,,dia memakai kaos berwarna merah muda dan celana soft jeans. Tetapi hal yang membuat ku bergidik ngeri adalah kenapa seperti ada yang menetes dari rambut perempuan itu? dan yang menetes itu seperti darah.
Aku merasa mual melihat pemandangan mengerikan di depan ku itu. Darah itu menetes semakin deras bahkan muka perempuan itu sudah penuh dengan darah. baju yang ia pakai pun sampai berubah dengan warna merah darah. Kasihan Fara,,dia pasti tidak menyadari ada sesosok makhluk halus yang menempelinya. Tapi dari raut wajahnya dia tampak sedikit pucat dan kerap kali memegang tengkuknya seperti merasa kecapekan.
Aku mencoba untuk mengalihkan pandangan ku ketempat lain. Jujur saja aku merasa sangat mual apabila melihat darah yang begitu banyak. apa lagi ini darah yang ditunjukkan oleh sesosok hantu yang menempel pada teman ku Fara. Ingin rasanya aku pergi meninggalkan kantin dan tak mau lagi melihat hantu itu. Tapi aku merasa sangat kasihan dengan Fara.
Ketika aku hendak menghampiri Fara,, tiba-tiba Dilla menarik tangan ku. Saat aku menoleh ke arahnya,,aku merasa sangat kaget. Wajah Dilla sangat pucat. Ia menunjuk ke arah Fara dan berkata sambil terbata-bata
" C-Cris...i-itu a-apa d-di Be-belakang Fara??"
Ternyata Dilla juga bisa melihat sosok hantu yang menempel di belakang Fara
" Kamu bisa lihat juga Dill? Aku juga gak tau itu apa. Yuk kita cepet-cepet samperin Fara. Kasian dia pasti ngerasa gak enak banget."
" Aku bisa lihat dengan jelas banget Cris. Tapi aku takut,,hantu itu serem banget. Mana darahnya banyak banget lagi."
" Udah gak apa-apa,,kita pura-pura gak liat dia aja. cuekin aja lah,,aku gak tega ma Fara,,lihat tuh kaya nya dah ngerasa gak nyaman banget."
" Iya sih,,aku juga kasian liatnya. Yuk lah
kita samperin,,siapa tau kedatangan kita bisa membuat hantu itu pergi dari Fara."
Kami berdua pun segera menghampiri Fara. Di tampak seperti melamun sendiri dengan sesekali mengusap tengkuknya.
" Hai....ngelamun aja,,awas kesambet loh." Sambil ku tepuk pelan pundaknya,,dan Fara pun seperti terlonjak kaget dengan kedatangan kami berdua. Dan benar seperti dugaan Dilla,, hantu itu pun seketika menghilang dari belakang Fara.
" Eeh....kamu ini ngagetin aja sih Cris,,dari mana aja kalian? ke toilet kok lama banget. Sampe abis tuh makanan aku nungguin kalian gak datang-datang." Omel Fara pada kami berdua. Emang sih kami meninggalkannya terlalu lama karena asik ngobrol tadi.
" Aduhh....maaf ya Far kami lama,,ini nih si Cristi tadi malah boker di toilet,,mana lama banget bokernya. Sembelit kali dia." Jawab Dilla seenaknya. Aku pun menoyor kepala Dilla pelan karena ucapannya tadi yang asal ngmong.
"Enak aja sembelit,,aku tadi gak sembelit,,,cuma lagi nyari ide aja buat nulis novel yang aku kirim ke platform
novel online. Jawab ku sekenanya saja.
" Idih...nyari ide kok di toilet,,sambil boker lagi." ucap Dilla sambil mengernyit. Menyebalkan memang tuh anak.
"Udah aah....malah jadi kalian yang ribut. Dah buruan pesan makanan aku nungguin kalian sampai badan ku pegal-pegal gini." Sahut Fara menengahi perdebatan ku dengan Dilla sambil memijat bahunya.
Giman gak pegal,,,makhluk halus nempelin dia gitu tadi. Kasihan juga melihat Fara seperti itu. Kami berteman sudah sangat lama. Sejak kami masuk kuliah dan kebetulan sampai PPL pun kami bertiga satu kelompok. Kami sudah hafal dengan karakter masing-masing. Tidak pernah ada rasa marah atau tersinggung sedikitpun dengan seloroh dan canda gurauan yang kami ucapkan.
Tapi hari ini aku melihat sorot mata Fara sangat berbeda dari biasanya. Sejak aku bertemu dengannya tadi di depan kost,,aku merasa ada yang di pendam Fara. Aneh,, kenapa setelah pulang ke kampung kedua sahabatku ini menjadi berubah? Awalnya Dilla yang menjadi seperti ku,,lebih sensitif dengan penglihatannya terhadap mahkluk halus. Sekarang Fara yang menjadi lebih pendiam. Ditambah lagi tadi aku melihat ada sesosok makhluk halus menempel kuat di punggungnya. Dan apa ini,,kenapa perasaan ku jadi tak tenang seperti ini ketika berhadapan dengan Fara?
"Cris,,nanti kaya nya aku gak pulang bareng kalian deh.Soalnya ntar kak Willy katanya mau jemput. Kalian gak papa kan aku tinggal ? Jangan pada berantem ya " tiba-tiba saja Fara berucap seperti itu saat kami berdua sedang menikmati soto kesukaan kami.
" Iya gak papa kok,, lagian ngapain juga kita berantem,,kita kan dah sahabatan lama. Ntar juga setelah ambil toga rencana ku sih mau ke salon dekat kampus pusat buat nge depe yang buat make up kita besok. Kamu jadi joint kan Cris besok ke salon itu? jawab Dilla
" Iya aku jadi joint sama kamu Dill. Trus Far kamu besok mau rias dimana? bareng kita berdua aja yuk,,kita berangkatnya barengan pesan taksi online." Ajak ku pada Fara
Fara tidak langsung menyahut ajakan ku,,tapi dia malah seperti melamun lagi. aku lihat mukannya seperti lesu dan tak semangat hari ini.
Nyyerrr....hatiku seperti berdesir tak enak melihat wajah Fara yang seperti itu. Ada apa ini dengan perasaan ku?
"Far....Fara..tuh ditanyain Cristi. Malah ngelamun lagi kamu. Hadeh ..."
Dilla melambai-lambai kan tanyannya di depan Fara
"Eh .... i-iya apa?? Sorry aku lagi gak konsen." Fara malah balik bertanya
" Yaelah.... kamu dari tadi gak dengerin aku sama Cristi ngomong ? kamu kenapa kok dari tadi ngelamun terus? Pertanyaan Dilla sama dengan apa yang ada di kepalaku. Fara memang sering terlihat melamun.
" Iya Far...sebenarnya ada apa? cerita aja,,kita kan sahabat." tanyaku pada Fara
Tidak langsung menjawab,,Fara malah terlihat seperti akan menangis. Kedua matanya berkaca-kaca seperti menyimpan sesuatu yang ia pendam sendirian.
" Lho Far,,kenapa malah mau nangis?? maaf ya kalau aku ada salah. Mungkin perkataan aku terlalu kasar sama kamu." Dilla langsung mendekati Fara dan memeluknya.
Aku pun mendekat dan ku usap lembut punggung Fara.
" Kalian gak ada salah apa-apa sama aku. Justru aku yang banyak salah sama kalian selama ini. Maafin aku ya teman-teman. Aku selama bareng sama kalian pasti banyak salah. Jangan pernah lupain aku ya. Kalian jaga persahabatan ini,, jangan saling menjatuhkan. Aku gak tau besok bisa ikut rias apa gak.Jangan lupain aku ya teman-teman. "
Fara menangis sambil merangkul kami berdua. Ada yang janggal dengan perkataan Fara. Seperti di akan pergi jauh saja. Padahal setelah acara wisuda kami masih akan berkumpul untuk menghadiri perpisahan yang bersamaan dengan dies natalis universitas.
" Udah ..udah,,kok malah jadi melow gini?? kaya uang kita mau pisah jauh aja besok. Lagian kita kan masih mau kumpul-kumpul di acara dies natalis Universitas." Dilla mencoba mencairkan suasana. Kami bertiga pun menguraikan pelukan dan tersenyum bersamaan. Tapi masih ku lihat senyum Fara seperti di paksakan.
******************
Setelah mengambil toga dan perlengkapan untuk wisuda,,Aku dan Dilla berencana untuk mampir ke salon tempat kami makeup besok. Kebetulan salon itu terletak di pinggir jalan dekat dengan kampus pusat. Salon itu terletak di sebelah kanan pertigaan. Kami pun memilih baju dan kain yang akan kami gunakan besok. Besok adalah hari yang sudah kami tunggu-tunggu. 5 tahun sudah kami mengenyam bangku perkuliahan. Suka dan susah sudah kami lalui bersama. Apalagi buat Dilla yang dari luar kota,,pasti saat-saat seperti ini sudah amat dinantinya.
Setelah puas memilih baju dan makeup yang kan kami kenakan besok,,kami pun pamit dengan mbak Rita,,pemilik salon yang namanya juga sama dengan pemiliknya. Pada saat kami keluar dari pintu salon,,aku mendengar suara klakson mobil yang memekakkan telinga dan dentuman yang sangat keras
Tttiiiiiiinnnnnnn.........
Bbrrruuuuaaakkkkkk.......
Aku dan Dilla melihat kejadian mengerikan itu langsung dengan mata kepala kami. Pemandangan yang sangat mengerikan. Terjadi tabrakan antara mobil Fortuner dan sebuah sepeda motor. Pengendara sepeda motor terpental dan yang membonceng terlindas bus yang sedang berjalan dari lain arah.
Darah seketika langsung menggenang memenuhi jalan raya. Tapi tunggu....aku tidak asing dengan baju korban yang terlindas bus.
Astaga,,, itu ...itu seperti FARA...
BERSAMBUNG