Mulut Mertua
"Mantumu ngganteng, Nyah?"
"Halah ... ganteng kalau kere, ya, buat apa, Buk-Ibuk." Minah menanggapi ledekan tetangganya itu sambil memilih tempe di tukang sayur keliling. Menimbang-nimbang kira-kira tempe mana yang ukurannya paling besar di antara tumpukan tempe di sana.
"Ah, mosok kere to, Buk?" sambung tetangganya yang lain tak percaya. "Wong kutho, lho."
"Halah lah, Buk. Rumahnya aja cuma sepetak. Masih luasan itu lho kandang Sapiku," nyinyirnya dengan bibir muncu-muncu.
"Lah katanya punya kos-kosan, Nyah." Para tetangga masih belum percaya.
"Lha iku ... orang kos-kosannya aja ya, Bu-Ibu. Wis persislah kaya kandang Ayam. Masih mending kandang Ayame aku, lho."
"Lah sing bener to, Buk?"
"Ra percoyo ya wis. Sundari itu yang punya fotonya. Rumah menantuku itu ya, Bu. Pinggir rel. Kalau ada kereta lewat. Glodak ... glodak ... glodak. Gograk kabeh koyo enek lindu. Aku neng kono. Blas gak iso turu, kok," sambungnya lagi.
Nyinyiran demi nyinyiran sang mertua tentang dirinya itu bisa Arman dengar dengan jelas dari kandang Sapi. Kebetulan ia memang sedang memberi minum dua sapi mertuanya, yang kandangnya persis bersebelahan dengan jalan di mana para ibu-ibu sibuk menggibahi dirinya.
Pria itu hanya bisa mengelus d**a. Awal-awal mengetahui sifat mertuanya yang gemar menghinanya secara terang-terangan itu, Arman merasa sangat shock berat. Dijawab salah, dianggap berani sama orang tua. Tidak dijawab, sakit hati terus menerus dihina. Untungnya ia memang orang yang kalem dan tidak suka meledak-ledak . Kalau saja kakaknya yang jadi menantu di keluarga ini. Sudah pasti mulut mertuanya itu sudah habis dihajar habis-habisan.
Setelah selesai memberi minum Sapi. Arman kembali ke dalam rumah. Lebih tepatnya ke dapur, untuk meminum kopi yang telah dibuatkan oleh istri tercintanya. Sundari. Wanita itu adalah alasan Arman tetap bertahan di rumah ini meski terkadang kesabarannya harus selalu diuji oleh mulut ibu mertua.
"Mau masak apa, Ndari?" tanyanya pada Sundari yang tengah membuka kantong plastik putih, belanjaan ibunya tadi.
Sundari tersenyum masam sembari mengangkat satu papan tempe. "Nggak papa, ya, Mas?" tanyanya tak enak hati. Karena lagi-lagi tempe satu papan itu yang akan tersaji untuk makan siang dan makan malam nanti.
"Iya, nggak papa. Tapi aku mau daun ketela, ya. Jangan lupa bikin sambal." Arman mencoba tersenyum. Tak ingin membuat istrinya sedih.
Satu lagi sifat unik ibu mertuanya. Bisa dibilang mereka orang yang cukup terpandang di desa ini. Sawah mereka juga luas. Tapi jangan harap anggota keluarga di rumah ini bisa makan beras setiap hari. Semua hasil panen seluruhnya dijual oleh ibu mertua dan dibelikan emas untuk ditabung. Sementara untuk makan, mereka biasanya makan nasi tiwul yang terbuat dari singkong.
Untuk lauk, lebih parah lagi. Jangan harap akan menemukan sekedar ikan asin, telur apalagi ayam goreng. Kecuali di hari-hari tertentu seperti syukuran panen atau saat lebaran, misalnya.
Ibu mertuanya sangat terobsesi memperluas tanah pertaniannya. Sehingga ia benar-benar sangat menghemat. Satu papan tempe yang hampir setiap hari dia beli ditukang sayur keliling. Dimasak dengan kuah santan yang banyak dan harus cukup untuk makan sehari. Untuk empat anggota keluarga.
Dan beliau tidak pernah malu mengakui itu ke tetangga-tetangganya. Malah dengan bangga menceritakan upaya penghematannya demi bisa membeli tanah untuk pertanian mereka.
"Arman!" Seruan ibu mertuanya yang khas dan memekakkan telinga itu membuat Arman seketika mempersiapkan hati dan menebalkan kupingnya.
"Iya, Buk."
"Jam berapa lho ini? Kamu belum ke sawah juga, itu Bapak kamu sudah ke sawah dari habis subuh tadi. Lah kamu, kok malah enak-enakan ngopi. Gula itu mahal. Ngerti kebutuhan nggak kamu?"
"Iya, ini juga baru selesai kasih minum Sapi, Buk." Arman hanya bisa mengelus d**a. Perkara ngopi saja bisa jadi masalah di rumah ini. Padahal ia membeli gula dan kopi juga memakai uang sendiri.
Tapi setidaknya di rumah ini, bukan hanya dirinya saja yang disiksa ibu mertua. Bapak mertua pun sama. Jangan harap pagi-pagi Bapak mertuanya itu sekedar bisa ngeteh. Sehabis subuh, istrinya pasti sudah mencak-mencak memintanya berangkat ke sawah atau ladang. Arman sampai salut, Bapak mertuanya bisa tahan puluhan tahun beristrikan ibu mertuanya yang kelakuannya sudah macam penjajah Belanda itu.
"Kamu juga ke sawah sana, Sundari. Biar Ibu saja yang masak."
"Tapi, kan Sundari lagi hamil, Buk." Arman memprotes. Istrinya sedang hamil muda dan hampir setiap hari terus dipaksa bekerja seharian di sawah. Garis bawahi, ya. Seharian. Bahkan ibu mertuaku itu tidak mengijinkan Sundari untuk sekedar istirahat siang. Padahal Sundari itu anaknya sendiri.
"Lha terus kenapa kalau hamil? Hamil itu bukan alasan untuk bermalas-malasan, lho. Justru orang hamil itu harus banyak gerak. Sudah sana Sundari. Kamu berangkat sama suami kamu ke ladang sana. Kasihan Bapak kamu dari pagi nanem jagung sendirian." Punya rasa kasihan juga rupanya beliau pada suaminya yang badannya sampai kurus kering itu. Arman membatin gemas.
"Tapi aku mau sarapan dulu, Buk. Aku lapar. Anak di perutku, kan butuh asupan gizi."
"Halah. Kamu itu alasan aja, kok. Makanya bangun itu yang pagi. Terus sat set gitu loh. Jangan klemar-klemer, lelet itu ketularan suami kamu." Arman harus kembali mengelus d**a mendengar hinaan yang ke sekian kalinya. Belum ditambah lirikan mertuanya yang setajam pisau silet itu.
"Ya Allah ... kena lagi," keluhnya dalam hati. Padahal ia pun dari pagi belum istirahat. Mengurus ternak-ternak di rumah. Ada Kambing, Sapi dan Ayam. Bersihin kandang juga memberi mereka makan juga minuman.
"Ya Allah, Bu. Aku itu bangun dari sebelum subuh. Ya nyuci, nyapu, ngepel, bikin komboran Sapi. Aku itu belum istirahat sama sekali lho, Buk. Setidaknya bikin sarapan dulu. Biar kerja di sawah juga ada tenaga. Sekalian bawa buat Bapak di sana. Kasihan Bapak juga belum sarapan." Sundari jarang sekali menjawab omelan ibunya. Hanya sesekali saja ketika ia sudah merasa jengkel dan ucapan ibunya sudah sangat keterlaluan.
"Lah, Bapakmu itu nggak pernah sarapan juga kuat-kuat saja. Sehat-sehat saja. Kalian saja yang riweh. Makan itu bisa siang nanti. Kebanyakan makan, kapan duit mau ngumpulnya?" Minah menyambar plastik tadi dan bersiap untuk memasak. "Sudah sana. Nggak usah kebanyakan drama. Minum s**u hamil kamu. Terus berangkat!" titahnya tanpa menerima bantahan.
Sundari nampak sewot, tapi enggan untuk berdebat dengan ibunya sendiri. Percuma. Yang ada malu didengar tetangga kalau pagi-pagi sudah ribut. Belum lagi suara ibunya itu sudah macam pake toa sampai tetangga jauh pun bisa mendengar suaranya.
"Kamu juga Arman. Sana berangkat! Jadi laki, kok yo klemar-klemer," gerutunya sambil membuka bungkus plastik tempe yang hendak dimasak.
"Ya salam ... nasib ... nasib ...." Arman lekas menghabiskan kopinya dan menyusul istrinya yang sedang bersiap mengambil benih jagung.
"Eh, Arman!" Baru mau mengambil cangkul. Ibu mertuanya sudah memanggilnya kembali. "Apalagi setelah ini?" batinnya.
"Iya, Buk."
"Eh, itu cuci dulu gelas bekas kopi kamu. Jangan kebiasaan main tinggal aja. Jadi orang itu yang resik gitu, lho. Jare wong kutho, kok jorok," omelnya lagi.
Astagfirrullahalazim! Sabar ... sabar ...