"Ndari, kalau capek istirahat aja." Arman kasihan melihat istrinya yang nampak kepayahan dengan keringat bercucuran.
Sundari hanya tersenyum tipis. "Aku nggak papa, Mas. Masih sanggup, kok. Biar cepet selesai juga. Biar cepat nggarap sawah. Nanti Ibu ngomel-ngomel lagi." Wanita itu lekas mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Ia takut sang suami lama-lama lelah menghadapi ibunya dan meninggalkannya yang sedang mengandung.
Bukan tidak mungkin bukan? Siapa yang tahan lama-lama hidup begini. Ia saja sebagai anak, terkadang tak mengerti dengan jalan pikiran ibunya sendiri. Apalagi suaminya itu belum terbiasa dengan pekerjaan bertani seperti ini.
"Sun. Leren, Nduk. Mumpung ibumu belum datang. Kamu itu lagi hamil, lho, Nduk." Kali ini bapaknya yang bicara. Pria tua bertubuh kurus itu sudah banjir keringat karena sudah bekerja dari habis subuh tadi. Tapi karena sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Tenaganya masih kuat, dibandingkan Arman yang memang berasal dari kota dan masih dalam tahap belajar bertani.
"Sebentar, Pak. Tanggung ini," jawab Sundari keras kepala. Ia tidak tega melihat bapaknya yang sudah tua dan suaminya harus bekerja berdua saja.
"Sundari!" Kali ini suara Arman mengeras. Dan Sundari mengerti kalau suaminya sudah begini. Wanita itu tidak berani membantah.
"Iya, Mas." Ia menurut dan berteduh di gubuk yang ada di ladang mereka. Tangannya mengusap keringat di dahi sembari memperhatikan dua pria yang sangat ia sayangi banting tulang sejak pagi dengan perut keroncongan. Sama sekali belum sarapan. Perasaan sudah lama sekali. Tapi kenapa ibunya belum juga datang membawa makanan?
"Lho ... Sun? Kamu, kok malah leha-leha di sini. Gimana to?"
Panjang umur. Baru juga diomong ibunya muncul dari belakang dan langsung menegurnya.
"Aku juga baru istirahat, Buk ini."
"Sundari ... Sundari ...." Minah berdecak lirih. "Kamu itu sejak hamil, jadi males-malesan, kok. Nggak kaya biasanya. Pasti ketularan suami kamu itu yang leda-lede." Tangannya menurunkan tenggok, semacam bakul kecil yang terbuat dari anyaman bambu dari punggungnya.
"Astagfirrullah. Demi Allah, Buk. Sundari baru istirahat. Belum ada lima menit juga duduk di sini. Lagian aku itu lagi hamil, Buk. Sundari mintalah sedikit pengertiannya." Sundari membantah dengan nada sepelan mungkin. Meski ia jengkel setengah mati, tapi bagaimanapun wanita itu adalah ibunya. Wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya.
"Ibu kurang ngerti gimana sama kamu, Sun. Ini Ibu belikan lele goreng, khusus buat kamu sama calon cucu Ibu." Minah mengeluarkan plastik bening berisi satu ekor lele yang digoreng tepung.
Awalnya Sundari sudah senang mendapatkan sedikit perhatian ibunya. Tapi melihat lele yang dibawa ibunya benar-benar hanya satu ekor saja dan benar-benar khusus hanya untuk dirinya. Hati Sundari mendadak kembali nggrentes. "Ya Allah ... Ibu ... Ibu ...," batinnya tak habis pikir.
"Kok mukamu begitu, Sun? Nggak ada terima kasih terima kasihnya sama Ibu. Satu ekor ini, kamu tahu harganya berapa? Tiga ribu! Duit segitu, bisa dapat tahu tempe buat makan sehari seluruh keluarga kita," ocehnya.
Sundari memilih tak menjawab dan lekas memanggil suami serta bapaknya. Jika perdebatan terus dilanjutkan, bisa panjang urusan. Kasihan dua orang itu pasti sudah menahan lelah dan lapar sedari tadi.
"Mas! Bapak! Makan dulu!" Serunya.
Tanpa menunggu lama dua pria itu menghampiri ke gubuk dengan peluh bercucuran. Cuaca memang mendung, tapi hawanya panas minta ampun. Sundari segera mengambilkan makanan untuk suaminya. Begitu pun Minah melakukan hal yang sama, mengambilkan makanan untuk suaminya. Seperti biasa tempe kuah santan yang menjadi menu sehari-hari, juga daun singkong dan sambal.
Mereka makan dengan lahap, karena memang perut mereka sudah teramat keroncongan. Minah pun ikut makan bersama. Karena ia pun belum makan sedari pagi.
"Lelenya nggak dimakan, Sun?" Minah melirik kesal ke anak perempuan satu-satunya itu.
"Ini mau dimakan, Bu." Sundari melirik ke suami dan bapaknya tak enak hati. Mereka sama-sama kerja keras di ladang dari pagi. Tapi hanya dirinya yang dibelikan lauk sementara yang lain makan dengan menu biasa.
Sundari memotong lele itu menjadi dua bagian. Satu untuk dirinya dan satu lagi ia letakkan di piring suaminya. Arman melongo. Ia tahu perasaan istrinya, tapi baginya tak apa ia makan dengan lauk seadanya, yang penting istri dan calon anaknya kecukupan gizi.
"Lho, ngapain kamu kasih buat Arman?" protes Minah. "Arman itu nggak hamil. Biarin aja makan seadanya. Ibu sama Bapak juga cuma makan seadanya, kok."
"Iya, Sun. Ini gizi buat calon anak kita." Arman mengembalikan lele itu ke piring istrinya. Ia sedikit menepuk punggung istrinya, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.
Wanita itu mengalihkan pandang, menatap sungai kecil yang terlihat dari kejauhan dengan mata berkaca-kaca. Malu sekali rasanya dengan kelakuan ibunya. Ia dan Arman dulunya berkenalan lewat medsos. Pacaran pun hanya lewat hp saja. LDR nyaris tiga tahun lamanya sebelum dilamar dan menikah. Begitulah, yang namanya jodoh tidak ada yang tahu.
Meski dirinya kembang desa di kampung ini. Tapi tidak ada satu pun pemuda yang mau mendekatinya. Itu karena mereka sudah sangat paham bagaimana perangai ibunya yang sudah terkenal seantero kampung.
"Arman. Nanti siang kamu nggak usah pulang. Kamu solat dzuhur di sini aja. Ibu sudah bawakan baju ganti sama sajadah buat solat. Nanti habis solat, kamu cari pakan buat ternak-ternak kita di rumah. Habis itu lanjut lagi bantu nanem jagung."
Arman menelan makanannya susah payah. Kalau sedang musim seperti ini, jarang harap bisa mengistirahatkan badan barang sejenak. Selain mengurus ladang, masih ada Sapi dan Kambing yang musti dicarikan pakan. Kalau Sapi masih mending bisa diberikan damen atau jerami kering. Tapi Kambing-Kambing di rumah yang jumlahnya delapan ekor itu. Harus diberi pakan rumput hijau sampai kenyang. Kalau tidak, nanti malam-malam suaranya bisa berisik dan mengganggu. Tapi lebih mengganggu lagi, tentu saja mulut mertuanya, yang pasti akan menyalahkannya. Karena dianggap tidak mengurus ternak dengan baik.
Bekerja sekeras ini, mending kalau dapat bagian kalau panen atau jual ternak. Sekedar rokok sebatang untuk pelepas penat saja. Boro-boro ia terima. Untungnya ia punya kos-kosan di kota. Meski dikata kosan kandang ayam oleh ibu mertuanya. Alhamdulilah memberi pemasukan setiap bulan untuk dirinya. Kalau tidak, Arman mungkin sudah stres dengan kehidupan pernikahannya ini. Untuk periksa ke dokter saja. Ibu mertuanya sama sekali tak mau keluar uang. Karena Sundari dianggap tanggung jawabnya.
"Aku nggak dibawain baju ganti sekalian, Buk?" tanya Pak Karso, suaminya.
"Kamu baju ganti buat apa to, Pak? Gayamu. Kaya bisa solat aja." Minah mencebik.
"Aku sudah diajarin solat sama Arman, Buk," ucapnya bangga.
"Halah. Wis ora usah aneh-anehlah, Pak. Wis tuek solat nggo opo, sih. Wis kerjo wae sing bener."
Arman dan Sundari hanya bisa saling melirik dan mengelus d**a. Tapi memilih diam. Percuma juga menasehati. Sudah sering mereka melakukan itu tapi selalu saja tak digubris dan berakhir dengan perdebatan.
"Justru karena kita sudah tua, Buk. Jangan terus-terusan mengejar harta, harusnya banyak-banyak ibadah," balas Pak Karso.
"Wis, terserahlah, Pak. Sakkarepmu. Emang kita kerja begini juga buat siapa. Buat anak cucu kita supaya mereka nggak kesusahan nanti kalau kita mati. Wislah, ora sah ngajari Ibuk."