"Kamu pengen makan apa, Ndari? Biar Mas beliin." Sore itu, setelah seharian di ladang. Mereka kini sudah di rumah. Tapi tentu saja belum saatnya berleha-leha. Masih banyak yang harus dikerjakan. Sundari sibuk mengangkat jemuran, sedang Arman bersiap mau ke pasar kecamatan untuk membeli polllard, dedak gandum yang biasa dipakai untuk penggemukan sapi. Tentunya dengan memakai uangnya sendiri. Meski nanti kalau Sapinya dijual, semua uangnya masuk ke rekening ibu mertua.
"Aku sebenarnya pengen bakso, Mas. Tapi ...." Sundari nampak ragu, tentu saja memikirkan nanti bagaimana ibunya kalau ia jajan di luar.
"Tapi apa?" tanya Arman. Meski sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ditakutkan istrinya itu.
"Takutnya ... nanti ibu marah, Mas." Arman tersenyum, benar dugaannya.
"Sudah, tenang aja. Nanti sekalian Mas beliin buat Ibu sama Bapak. Sekali-kali beli jajan di luar, kan nggak papa. Yang penting nggak setiap hari juga ini," ucap Arman percaya diri. Lalu berpamit pergi.
Terkadang ia heran. Sebenarnya Sundari itu anak kandung ibu mertuanya apa bukan. Sifatnya berbeda jauh, bagaikan langit dan bumi. Atau mungkin sifat istrinya itu lebih menurun dari bapaknya yang memang lebih alus dan nerimo.
***
Tak sampai setengah jam, Arman sudah kembali ke rumah dengan membawa sekarung pollard juga dedak buat pakan ayam. Tentu juga ada bakso pesanan istrinya. Ia membeli empat bungkus untuk seluruh anggota keluarga.
"Bau apa ini?" Minah mengendus-enduskan hidungnya. Membaui aroma gurih nan khas dari kuah bakso yang menguar.
"Itu, Arman beli bakso, Bu," jawabnya sembari menurunkan sekarung pollard dari atas motor.
"Bakso?" Mata Minah menyipit. "Sayur tadi pagi aja masih ada. Ngapain jajan-jajan segala to, Man-Man. Jangan boros-boros gitu jadi orang, lho. Segala pengeluaran itu musti dihitung. Kalau punya uang itu mbok ya ditabung gitu, lho buat masa depan. Orang istrimu juga sebentar lagi lahiran. Butuh biaya banyak. Lha kok malah digedhekne le jajan."
"Astagfirrlullahalazim." Arman langsung beristigfar dalam hati.
"InshaAllah, buat lahiran nanti Arman sudah siapkan uangnya, Bu. Lagian kan nggak setiap hari juga beli makan di luar. Cuma sekali-kali saja. Kasihan, Bu. Sundari itu, kan lagi hamil. Namanya orang hamil pasti ada sesuatu yang dipengen. Arman juga beliin buat Ibu sama Bapak. Bukan cuma buat Sundari. Sekali-kali makan enak, apa salahnya sih, Bu?"
"Halah. Kamu itu kalau dibilangin, sukanya ngeyel, kok. Kamu itu belajar gitu dari Ibuk. Tanah ibuk itu buanyak di mana-mana. Karena apa? Karena ibu itu selalu hemat, direwangi prihatin. Biar tanah ibu makin banyak. Kamu itu, masih muda, kok. Pikirannya terlalu nyante gitu. Mau jadi apa kamu?"
"Ada apa, sih, Bu? Nggak pagi, siang, malam. Kok, ya ribut terus?" tanya Pak Karso yang baru saja selesai membersihkan kandang Sapi.
"Ini, lho, Pak. Mantumu ini. Borosnya nggak ketulungan. Wong Ibuk udah masak, kok. Malah jajan bakso di luar segala. Ora ngerti wong tuo direwangi prihatin ben dunyo ne kumpul, kok malah sakkarepe dewe."
"Ya Allah, Buk-Buk. Arman jajan pake duitnya sendiri ya biarin aja to. Kamu itu apa-apa kok dibikin ribet." Pak Karso geleng-geleng kepala sembari menepuk pundak menantunya. "Wis, Le. Gak usah dipikir omongan Ibukmu. Bisa stres, Le kalau semua omongan ibukmu kamu masukkan ke hati. Wis, anggap saja angin lalu." Pak Karso terkekeh. Arman sampai takjub. Terbuat dari apa hati Pak Karso itu. Bisa tahan punya istri modelan kompeni begini?
"Belain aja mantumu itu terus, Pak. Ora mantu, ora anak , ora bojo ... podo wae. Susah diajak prihatin." Bibir Minah sampai monyong-monyong, terus mengoceh tanpa henti. Bahkan meski sudah masuk di dapur. Ocehannya masih terdengar nyaring.
"Sing sabar, ya, Le. Nggak usah dimasukin ke hati omongan ibukmu." Pak Karso kembali menepuk pundak menantunya itu. "Sini tak ajarin, Le. Kamu kalau pengen makan di luar. Wis mending ajak Sundari. Makan di tempat saja. Ibukmu gak bakalan ngerti," bisiknya.
"Bapak juga gitu?" tanya Arman penasaran. Ia baru sadar, kalau bapak mertuanya suka tiba-tiba ngilang entah kemana.
"Yo jelas. Kalau dapat kiriman dari Masnya Sundari. Bapak cari-cari alasan aja sama Ibukmu itu. Supaya bisa makan enak di luar. Kalau nggak gitu ... dah lama Bapak stres, Le." Pak Karso tertawa renyah. Begitupun Arman, yang seketika langsung kepikiran ide dari bapak mertuanya.
Pinter juga bapak mertuanya itu.
***
Selepas solat isak, Arman memilih untuk tidur saja di kamar. Capek mendengarkan ceramah panjang ibu mertuanya yang bikin ngelus d**a. Perkara beli bakso saja terus dibahas sampai malam seakan tak ada habisnya. Bukankah seharusnya mertua akan sangat senang kalau menantunya loyal. Mau membelikan makanan atau ini itu. Tapi ibu mertuanya memang seajaib itu.
Arman membuka-buka ponselnya. Mencoba mencari hiburan lewat medsos. Berinteraksi dengan teman-teman di kota. Di desa ini teman-temannya kebanyakan bapak-bapak tua. Karena memang kegiatan sehari-harinya ya, di sawah, ladang, mengurus ternak. Tidak ada waktu untuk sekedar main atau mengobrol dengan pemuda desa, yang memang sangat jarang. Karena kebanyakan mereka merantau ke kota. Ruang lingkupnya benar-benar hanya sawah, ladang, dan rumah. Tak pernah lepas dari pengawasan ibu mertuanya unik dan langka itu.
"Astagfirrullahalazim." Arman beristigfar dalam hati. Sebenarnya tidak ingin bicara buruk tentang mertuanya. Tapi bagaimanapun ia manusia biasa yang kadang punya batas kesabaran sendiri. Setidaknya sampai saat ini ia masih bisa menahan lisannya untuk tidak bicara kasar di depan sang mertua.
Mata Arman yang semula sudah mengantuk mendadak membuka lebar. Sebuah nama yang dulu begitu spesial di hatinya, tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan di inbox media sosialnya. Ziana. Wanita masa lalu yang pernah mengisi hati sebelum kemudian Sundari datang ke hidupnya.
Arman membaca pesan tanya kabar yang mantannya itu kirimkan. Biasanya ia bukan orang yang gemar meladeni orang lewat inbox. Kecuali, ada saat-saat tertentu di mana ia benar-benar butuh hiburan. Seperti dulu, saat ia iseng chat dengan Sundari pun awalnya karena galau patah hati dengan Ziana.
Arman menatap pesan itu lama. Sebelum kemudian membalas pesan itu. Ia pikir tidak ada salahnya bukan. Hanya sekedar saling bertukar kabar saja. Toh, ia tidak berselingkuh.
"Mas, sedang apa?" tanya Sundari yang entah kapan masuk ke kamar. Karena Arman terlalu asyik berbalas pesan dengan Ziana.
"Eh, lagi main sss aja ini," jawab Arman sedikit gugup. Ia segera menyudahi berbalas inbox dengan Ziana. Takut istrinya salah paham. Dan lagi, memang ada yang sedang ingin ia bicarakan dengan Sundari.
"Sini, Ndari. Mas mau ngomong sama kamu." Arman menarik Sundari untuk rebah di sampingnya.