Rumah yang mereka hampiri selaiknya rumah-rumah di desa itu; terkubur abu, terselimut debu, dan udara padat oleh aroma kecut, menyengat, dan busuknya buah-buahan yang luar biasa. Hel ingat aroma ini. Meski waktu itu api menyambar-nyambar dan wangi daging busuk menguar kuat, ia masih bisa mengenali gelayut kematian melingkupinya.
Rumah-rumah itu sarat oleh bau kematian. Mungkin para tetua atau orang-orang c4cat yang tak mampu berlari. Bukankah pemuda Korson kemarin juga lemas tak berdaya sebelum ditolong Hel dan Aeson? Barangkali mereka yang mati tidak punya tangan-tangan lain untuk menolong.
Sayang. Kematian yang menyedihkan. Hel juga tidak mau mati seperti ini—sadar bahwa tak akan pernah ada yang menolongnya, dan menyambut ajal di tengah sepinya kegelapan yang mengoyak-koyak.
Aeson memimpin perjalanan pendek menuju rumah tempat erangan itu bermuara. Hel sendiri mengikuti dengan ketegangan melesat cepat. Setiap langkahnya semakin memberat, tetapi tidak dengan Aeson, yang tampaknya telah terbiasa menghadapi berbagai kejahatan.
“Guru,” Hel merasa memanggilnya, tetapi Aeson tidak menyahut. Di balik kabut kelam yang menggantung rendah dan menghalangi pandangannya, Hel samar-samar melihat Aeson mengangkat tangan, dan cahaya muncul di ujung jemarinya. Entah cahaya, atau api—Hel tak tahu, tetapi sesuatu menyala benderang, meliuk-liuk halus di antara kegelapan pekat, dan kabut pun memburai di sekitarnya. Hel mengerjap-kerjap. Sekarang tampak jelas bahwa Energi yang terpancar adalah api putih kebiruan yang elok.
Aeson mendorong pintunya yang menyisakan celah. Erangan itu semakin keras, dan sempat berpadu dengan keriut pintu papan kayu. Hel mendengar semacam “ghaaah!” dan “aaakh!” yang menggaung lemah, seolah acap kali sang makhluk merintih, ada hewan yang menggerogoti kulit pucatnya.
“Demi Tuhan,” Aeson berbisik. Matanya membeliak, dan tangannya yang bebas menekan d**a, seolah menyaksikan sesuatu yang tak tertampung nalar. Hel terpaksa mempercepat langkah. Ia melongok, dan seketika menahan napas.
Pada ruang kecil terhinggap abu, seorang manusia tergolek lemas di pojok. Semula tak ada yang spesial; dia hanyalah manusia biasa. Kepalanya terkulai bersandar pada sudut pertemuan dua dinding, dan punggungnya menyerah pada dinding seolah satu-satunya harapan hidup saat ini. Ujung jemari dan kakinya menyentak-nyentak, dan itulah penyebab ia merintih, mengerahkan sisa tenaga untuk bersuara, yang seharusnya bisa disimpan untuk memperpanjang detik-detik hidupnya. Tetapi manusia itu memilih bersuara, berharap ada yang menolongnya, sebab asap hitam yang menggantung di udara terus-menerus merasuki tubuhnya.
Hel terkesiap horor. Sementara Aeson mendekat dengan berhati-hati, menyinari tubuh sang manusia sekarat. Sekarang terlihat lebih jelas bahwa manusia itu telah kehilangan dua bola matanya; menggantung kering, sementara asap terus menelusup melalui lubang mata, hidung, telinga, dan mulut yang menganga.
“Lakukan sesuatu,” Hel refleks berucap demikian, dan Aeson tampaknya berpikiran hal yang sama. Ia mengangkat tangannya yang bebas, menyebut nama Tuhan untuk mengawali, dan udara di sekitar mereka bergetar. Asap berhenti merasuk ke tubuh sang manusia.
Namun, seolah asap itu hidup, udara bergetar makin hebat, dan juluran asap itu meronta-ronta. Aeson menahan napas. Jemarinya menegang dan api di tangan satunya nyaris padam. Hel menyaksikan sang Guru melakukan perlawanan kasat mata terhadap asap yang menjulur-julur marah, dan tampaknya kegelapan nyaris menang. Asap itu berhasil melepaskan diri dari tarikan Aeson. Sang manusia meraung ketika asap menerjang tubuhnya dengan cepat, dan kulit sepuat pualamnya dengans egera semburat hitam.
Sebelum Aeson dan Hel mampu bereaksi, sang manusia tahu-tahu berdiri tegak, kakinya melayang setinggi tumpukan jari, dan ia menjerit.
Ia menyerbu Hel.
Semua terjadi begitu cepat.
“Menyingkir!” seru Aeson, dan Hel nyaris saja ditubruk manusia yang telah resmi menjadi Separuh-Iblis itu. Ia hampir pula tersandung di dekat pintu, dan sementara Hel mengibrit, Aeson menarik sang Separuh-Iblis dengan juluran tali cahaya. Sang Separuh Iblis memekik. Ia terbanting ke dalam rumah, dan Aeson melompat keluar menyusul Hel.
Sang Separuh Iblis lantas melesat melalui jendela, memecahkan kaca-kacanya yang buram, dan menghilang di balik kabut.
Aeson terkesiap. “Tidak!” teriaknya, dan ia lari begitiu kencang, sampai-sampai Hel mengira Aeson mengejar dengan bantuan Energi angin. Sungguh, berapa banyak jenis Energi yang sebenarnya dimiliki sang Guru muda? Pikir Hel, tetapi sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Aeson dengan segera hilang ditelan kabut, meninggalkan Hel yang tercenung. Jantungnya berdentam-dentam dan peluh mulai membanjiri punggung. Dengan kedua kotak obat di genggaman, Hel dibiarkan sendirian, dan suara sang Separuh Iblis maupun Aeson semakin samar.
Oh, tidak. Oh—tolong jangan tinggalkan Hel sendirian!
Petir kembali menyambar, mengentalkan ketegangan yang merayapi pria malang itu. Hel melonjak kaget, dan untunglah cengkeraman di kedua kotak obat itu mengerat—atau dia akan menjatuhkannya. Hel celingukan sesaat di tempat, kemudian memutuskan untuk mengikuti arah hilangnya Aeson dan sang Separuh-Iblis. Meski instingnya mengatakan bahwa tidak sebaiknya mengejar bahaya, tetapi hanya dua makhluk itulah yang hidup di desa ini ... atau setidaknya begitulah yang dirasakan Hel.
Ia tidak tahu apakah ada Separuh-Iblis lain, dan jika benar demikian, maka sebaiknya ia berada dalam jarak pandang Aeson.
Hel mempercepat langkah. Ia mengabaikan bisikan-bisikan dan colekan tanpa tuan yang menghampiri bahunya. Ia tak sanggup berlari, khawatir jika kedua kaki payahnya tersandung, dan ia akan dilahap juluran asap hitam yang menggantung di sekitarnya. Namun, tak peduli sejauh apa Hel melangkah, yang ada hanyalah rumah-rumah berhimpitan dan tumpang tindih di kanan kirinya, jalan yang mengular dan bercabang, dan seolah tanpa henti.
Hel mulai diserang kepanikan. “Guru!” ia tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak. “Guru!” serunya lagi, dan ia kini mulai berlari kecil. Ia meraba-raba udara di sekitarnya, dan sesekali akan menyentuh permukaan meja dagangan yang berdebu, atau tong-tong sampah yang menumpuk. Hel semula berpikir jika dirinya berjalan mengikuti jalan terus, maka ia akan mencapai suatu tempat, lantas ia tersadar, bahwa desa ini nampaknya memiliki jalan memutar bagai labirin.
Ini adalah berita buruk.
Hel berjalan semakin cepat, hingga menemukan sebuah persimpangan yang familiar. Astaga, ia sudah melewati persimpangan ini dua kali! Maka Hel memutuskan untuk berbelok tajam ke tikungan lain. Setelah berjalan cukup jauh dan melewati tiga kali erangan tertahan dari tiga rumah yang berbeda, Hel mendengar suara samar-samar. Ia tak bisa memetakan suara apa itu; semacam suara kucuran air, gesekan, dan entah apa lagi. Apakah Aeson sedang menyerang Separuh-Iblis itu?
“Guru!” seru Hel. Ia mengikuti asal suara hingga muasal keriuhan itu tidak lagi menjadi samar. Seolah mengizinkan Hel untuk melihat apa yang terjadi, kabut menyibak, dan pria itu akhirnya tahu bahwa penyebab suara bukanlah Aeson.
Sang tabib bahkan tak ada di sana.
Hel mencapai tepi alun-alun desa, tempat yang seharusnya pria itu paling hindari di antara semua sudut. Kabut menyingkir, semata-mata karena tersedot ke udara, bergabung dengan pusaran asap hitam yang bergelung-gelung mistis tepat di atas monumen air mancur.
Tapi bukan itu yang membuat Hel ketakutan, dan tak bisa berlari betapapun ia menginginkannya.
Puluhan mayat tergeletak di alun-alun. Hel takkan menyebutnya berserakan—mereka semua jatuh dalam posisi serupa, yang membuat Hel mengira mereka terlibat dalam sebuah ritual terlarang sebelum malaikat kematian mencabut nyawa dalam sekali sabet. Wajah-wajah mayat itu terarah ke air mancur, tak peduli di mana dan bagaimana posisi kematian mereka. Leher-leher itu abadi dalam posisi terpeluntir kaku, berat oleh cairan darah yang merembes keluar dari lubang-lubang di kepala, terserap pada sela-sela paving alun-alun, menciptakan sungai-sungai kecil yang senantiasa teraliri tanpa henti. Hel menyaksikan aliran itu semua bermuara ke air mancur; aliran darah merambati tepian air mancur bagai ular yang ratusan meter yang terus memanjat naik—tanpa henti, tanpa ujung, dan perlahan-lahan memenuhi kolam pancuran dengan genangan darah. Samar-samar, terlihat sesuatu menyembul dari kolam, kemudian menenggelamkan diri, kemudian muncul lain beberapa sekaligus, seolah sesuatu sedang lahir. Barangkali ritual mengerikan itu telah berjalan selama berhari-hari, karena kini kolam mulai penuh, tetapi darah tak henti-hentinya mengalir dari semua mayat yang tergeletak.
Pergi.
Batin Hel kencang menyuruhnya untuk segera beranjak, tetapi Hel sama sekali tak mampu bergerak. Matanya buram oleh air mata yang menggenang, sekonyong-konyong mual dengan aroma busuk menyengat. Kepalanya sakit, dan sekujur tubuhnya tak mau berhenti bergidik merinding.
Tak pernah dalam ingatannya, Hel menyaksikan sesuatu semacam ini. Ia ingin sekali memanggil Aeson, menunjukkan sang tabib akan apa yang ditemukannya, tetapi Hel lantas teringat—Aeson kemungkinan besar akan membenci ini.
Benar. Bukankah Aeson mendiamkan sang paman karena mereka sepakat berasumsi bahwa Hel adalah kapten dari para prajurit Separuh-Iblis itu?
Para prajurit yang ... mengubah desa ini menjadi altar raksasa bagi Lord Grimshaw, tuan mereka?
Menyadari hal ini, kedua lutut Hel seketika lemas. Ia merosot di tanah, tak kuat menopang tubuhnya saat mendapati kenyataan menerjang benaknya. Ingatannya belum kembali, dan tak peduli seberapa kuat Hel berusaha memanggilnya, yang ada hanyalah gejolak menyakitkan di kepalanya.
Hel memandang sendu kepada para mayat penduduk yang darahnya terus-menerus tersedot tanpa ampun.
Apakah ini perbuatannya?
Jika Hel benar adalah sang kapten—atau pun jika bukan, maka ia tetaplah bagian dari prajurit itu—maka apa yang telah diperbuatnya? Dan desa ini kemungkinan bukanlah satu-satunya. Desa ini adalah pemberhentian terakhir sebelum mereka mencapai desa yang dengan berani membakar seluruh pasukan tanpa ampun. Jadi ... berapa banyak, kira-kira, desa yang telah dihancurkan untuk menjadi kuil pengabdian kepada sang penguasa kejahatan?
Hel merasa dadanya sakit. Pria itu sekarang tak lagi mampu menahan tangis. Air mata pertama, kedua, dan ketiga turun begitu saja, membasahi pipinya yang pucat dan memperparah rasa nyeri di dadanya.
Hel menolak untuk percaya bahwa ini adalah perbuatannya!
Tidak, tidak mungkin ini adalah hasil tangannya!
“Oh Tuhan, oh Tuhan,” Hel terisak. Matanya memandang kosong ke arah kolam air mancur yang kini menggelegak semakin keras. Sesuatu timbul tenggelam dari sana, dan samar-samar nampak juluran tangan dari dalam.
“Oh Tuhan, maafkan saya,” bisik Hel. Air mata keempat dan kelima berlomba mengucur. “Oh Tuhan, saya bukan pembunuh.” Isaknya. “Saya hanya pencuri yang bodoh.”
Tapi tampaknya gelungan asap hitam dan berlapis-lapis aroma kematian telah menghalangi racauan sang pria kepada Tuhannya. Petir kembali menyambar, tepat pada ujung monumen air mancur itu, hingga pucuknya pecah. Bongkahan monumen tercebur ke kolam darah, membuat sesuatu yang bergejolak di dalamnya bergerak marah.
Dengan tubuh yang lemas tak berdaya, dan air mata yang terus-terusan menangisi perbuatan di masa lalunya, Hel menyaksikan sesuatu itu akhirnya merangkak keluar dari kolam darah.
Rupanya seperti manusia telanjang. Dengan kulit licin tanpa rambut dan bulu, lendir dan darah membasahi tubuhnya. Sosok macam iblis itu ceroboh; telapaknya yang licin membuatnya terpeleset saat berusaha memijak pada paving, dan ia jatuh berguling ke luar kolam. Sekarang jelas sudah bentuk tubuhnya yang mirip manusia.
Apakah ini kelahiran seorang iblis? Apakah Hel baru saja menyaksikan kelahiran iblis?
Makhluk macam iblis itu mengangkat wajah, mengedarkan pandangan, dan Hel menyadari bahwa ia tak memiliki mata. Atau belum, sebab ada dua lipatan pada posisi mata yang masih lengket oleh lemak dan lendir. Dua lubang kecil berimpitan di bawahnya adalah hidung tanpa tulang, dan mulutnya menganga lebar, dengan dagu bergelambir.
Saat makhluk itu akhirnya menghadap ke arah Hel, ia berhenti bergerak.
Mata Hel membulat. O—oh, apalagi? Apakah ia akan diserang seperti sebelumnya dan—
“Pa!” makhluk itu memekik. Sepintas kemudian, ia berderap kepada Hel, dengan kedua kakinya yang masih tak mampu berjalan, hingga ia terpeleset berulang kali. “Papa!”