Perjalanan menuju Desa Kors sama sekali tidak menyenangkan.
Yah, bukannya Hel berharap bisa menikmati perjalanan menuju desa yang sedang dilanda kekacauan, tetapi kicau burung dan desau angin tidak lagi terdengar merdu. Padahal udara semakin gelap, saluran napasnya makin sesak, dan matanya berulang kali kelilipan abu tipis.
Kali ini Aeson yang duduk di kursi kusir, dan setelah obrolan canggung tadi pagi, mereka tak lagi bertukar kata-kata. Hel dan Aeson menyelesaikan beres-beres seolah telah memahami peran masing-masing, melompat ke karavan, dan kuda pun berjalan menarik roda.
Matahari telah naik dua jengkal sekarang, dan mereka tiba di tepi desa tempat klien pemilik tambang bertabur serbuk emas. Laju karavan melambat, dan dari celah jendela kecil yang diintip Hel, para penduduk masih beraktivitas dengan normal. Meski, kain-kain sekarang diikat menutup hidung dan mulut mereka, dan para penduduk jelas-jelas tidak senang dengan situasi ini. Seorang wanita paruh baya mengibas-kibas taburan abu yang mengotori sederet pakaian yang semalaman dijemurnya, dua orang pemuda mengomel akan tumpukan jerami yang sekarang tak bisa dijual karena “terlalu gelap” dan “para hewan bersin-bersin saat mengendusnya”.
Hingga karavan berhenti seutuhnya di depan sebuah rumah, Aeson sama sekali tak berbicara padanya. Membuka pintu karavan saja tidak; sang tabib telah menyiapkan keranjang pinjaman sang klien lebih dahulu di luar, sehingga Aeson sekarang menentengnya tanpa perlu membuka-buka karavan lagi. Hel mengawasi dari jendela. Sang tabib dihampiri seorang gadis manis, yang tersipu-sipu malu saat menyapanya. Aeson sendiri menyunggingkan senyum santun. Sang tabib menundukkan pandangan dengan baik—jelas Aeson tak ada keinginan untuk mempersuntingnya. Hel lantas bertanya-tanya, mengabaikan sejenak kegundahan di dalam benaknya, akan perjalanan hidup sang tabib selama ini. Ia tidak tampak sudah menikah, dan tak terlihat akan menikah dalam waktu dekat.
Atau, para Guru disumpah untuk tidak menikah? Entah bagaimana, muncul ingatan lama di benak Hel, bahwa ada kaum-kaum tertentu yang bersumpah takkan menikah sampai waktu tertentu. Para prajurit kelas bawah, misalnya, para Pejalan Kaki, disumpah takkan menikah sampai berusia sekurang-kurangnya dua puluh lima tahun.
Peraturan aneh, tapi tampaknya itu kebijakan Raja Vestrad sebelum ditumbangkan Lord Grimshaw.
Aeson tidak berlama-lama di rumah sang klien. Setelah memberikan sekantong penuh koin-koin emas dan perak, kemudian dibalas dengan sekeranjang makanan perbekalan dan jala pancing, Aeson pamit.
Hel mengira sang tabib akan membuka pintu karavan, tapi—tidak! Aeson bahkan menaruh keranjang itu di bawah kursi kusirnya, membuat Hel terbengong-bengong.
Hei, itu makanan perbekalan! Dan, udara sedang dipenuhi abu sekarang! Apakah Aeson benar-benar segondok itu sampai-sampai tak mau mengamankan makanan perbekalan mereka?
Meski begitu Hel tidak mengucapkan apa pun, setidaknya—untuk saat ini. Kuda segera melaju lagi, dan karavan itu membelah keramaian desa yang penuh dengan gerutuan dan sumpah serapah akan langit bertabur abu.
Seperti yang pernah disinggung Aeson, Desa Kors tidak jauh. Mungkin hanya menempuh waktu kurang dari sejengkal matahari untuk mencapai tepi desa. Tetapi, kendati demikian, Hel tidak tahan lagi dengan cara sang pemuda mendiamkannya.
Baiklah, Aeson adalah sang Guru dan tabib, dan dia jauh lebih mumpuni dan berpengalaman daripada Hel yang sedang lupa ingatan, tapi Hel seusia paman Aeson! Bocah mana yang berani mendiamkan pria dewasa?
Hel menggedor pintu karavan, menarik buka celah jendela yang menghadap punggung si tabib, lalu bergumam. “Aku tahu aku mungkin saja melakukan kesalahan di masa lalu,” katanya, “tetapi aku sedang lupa ingatan dan aku, jujur saja, benar-benar membutuhkan pendampingan yang tepat. Sekarang, kita sedang menuju sebuah desa terkutuk, yang barangkali masih diliputi kegelapan pekat. Apa kau takkan memaafkanku? Bukankah Tuhan Maha Pemaaf, dan kau adalah Pengabdi Tuhan yang taat?” suara Hel semakin meninggi seiring dengan berakhirnya ceracauan.
Aeson, di sisi lain, terdengar muram untuk pertama kalinya. “Tuhan memang Maha Pemaaf,” katanya, “tapi aku bukan Tuhan.”
Luar biasa. Hel nyaris menyerah dan merosot pada dinding karavan, tetapi ia lebih suka menguji cara Aeson bertutur kata. Namun sang ‘paman’—begitulah Hel lebih suka menyebut dirinya untuk sudut pandang Aeson—tetap tidak menyerah.
“Pasti ada alasan mengapa aku lupa ingatan,” bujuk Hel. “Bukankah kau pernah mengatakannya; pertemuan kita pasti bermakna sesuatu. Aku, sang pendosa yang lupa ingatan, dan kau, sang Guru Energi dan tabib dan orang baik yang bisa membantuku.”
Aeson hanya menghela napas sebagai jawaban. Sebuah respon yang bijak jika ia masih jengkel kepada sang paman. Kalau sudah begitu, Hel tidak berani untuk berkata-kata lebih banyak lagi, dan kembali menekuk lutut di dalam karavan, menunggu waktu tiba.
Hel hanya sesekali mengintip melalui celah jendela, dan setelah upaya melirik keseribu kalinya, akhirnya karavan itu mencapai tepi desa yang lengang.
Dan, sesuai yang mungkin kau bayangkan sekarang, udara semakin pekat dan kelabu sekarang.
Namun, di atas itu semua, pemandangan yang menggantung di atas Desa Kors adalah penyebab Aeson mau berbicara kepada Hel. Pemandangan itu pula yang membuat Hel merasa tidak nyaman bahkan sebelum benar-benar mengintipnya dari celah jendela. Pemandangan itu juga, yang rupanya, menjadi penyebab ketakutan orang-orang.
Berlatar petir yang menggelegar, langit di atas Desa Kors teraduk bagai adonan legam. Gelungan asap raksasa berputar, berporos pada satu titik kasat mata yang tepat berada di atas jantung desa. Awan putih dan kelabu tersedot perlahan, menghitam dan berderak, bagai nyawa-nyawa suci yang terseret ke dalam kungkungan jeritan para penghuni neraka. Petir sesekali menyambar, menyeruduk pohon yang tak bersalah atau atap-atap rumah yang berselimut abu, setebal guyuran salju selepas badai semalaman.
Perry, kuda karavan mereka, meringkik. Dengusannya terdengar keras seiring dengan laju karavan yang melambat. Bahkan sang kuda enggan untuk melangkah lebih jauh, kendati Aeson menghendaki dan berusaha membujuknya.
“Tidak bisa,” gumam Aeson, lantas mengetuk dinding karavan. Ketakutan yang meliputi mereka barangkali telah menyingkirkan rasa gondok sang tabib terhadap Hel. “Kita harus berjalan dengan kaki.”
Hel membenarkan. Maka Aeson pun turun, kemudian menuntun Perry sang kuda ke istal tamu di luar gerbang desa. Jeraminya jelek, bertabur abu dan debu, dan Perry jelas tidak menyukainya. Tetapi Aeson membujuknya sekali lagi, berkata bahwa mereka takkan lama, dan Perry menyanggupi seolah-olah ia adalah manusia jelmaan kuda.
Sementara Hel melompat turun dari karavan untuk menyaksikan pemandangan mengerikan itu tanpa dihalangi apa pun, Aeson masuk ke karavan, mengambil kotak-kotak obatnya yang tersimpan rapi.
Hel terbengong-bengong. Ini sih, bukan lagi sebuah desa.
Benar. Ini lebih tepatnya adalah ... ahhh, kuburan rumah. Tak mungkin ada orang yang masih tinggal di sana. Sewajarnya semua penduduk—yang masih sehat, tentunya—melarikan diri, minimal ke desa sebelah. Dan, kalau dipikir-pikir lagi, jumlah penduduk yang meluber di desa sebelah memang terlalu banyak. Mungkin didatangi pengungsi dari desa ini. Mungkin pula itu penyebab gerutuan dan sumpah serapah yang sahut-menyahut di sepanjang jalan.
Aeson menghampirinya dengan dua kotak besar. Hel secara otomatis mengambil alih membawakannya, sementara Aeson mengeratkan ikat pinggang dan jubahnya.
“Demi Tuhan,” bisiknya. “Inilah kekuatan Lord Grimshaw.”
Hel menelan ludah. Jantungnya berdegup tidak nyaman, dan tidak berlebihan jika bulu kuduknya merinding sekarang.
Jika sebuah desa bisa luluh lantak seperti ini akibat para prajurit Lord Grimshaw, maka bagaimana dengan kastil yang diduduki sang penguasa kegelapan langsung?
Untuk pertama kalinya, Hel sedikit bersyukur karena para penduduk desa dekat Lord Lovell itu mampu membakar ratusan tentara Separuh-Iblis. Entah apa jadinya jika para tentara Hel tidak segera dihentikan. Berapa banyak desa yang akan mereka ubah menjadi neraka dunia, eh?
“Mari bergegas, Hel,” kata Aeson, dan tampaknya sang tabib resmi menanggalkan kekesalan pribadinya untuk sementara waktu. Ada yang lebih mengkhawatirkan daripada itu, dan ini menyangkut keselamatan sebuah desa.
Ketika orang-orang melarikan diri dari sebuah desa terkutuk, maka Hel dan sang tabib telah bertekad untuk memasukinya. Hel hanya berharap bahwa gelungan asap dan awan hitam yang berputar-putar di atas desa takkan menyedot mereka atau semacamnya. Itu bakal menjadi kematian yang menyeramkan.
Saking tebalnya abu yang meliputi desa, setiap langkah kaki menyibak abu hingga beterbangan dan menciptakan kepulan yang menyesakkan, dan jubah-jubah mereka dengan segera berlapis abu dan debu legam. Jejak kaki mereka membekas jelas di belakang, dan Hel mendadak khawatir, jika sewaktu-waktu akan muncul entitas berbahaya yang akan mengekori jejak mereka.
Bayangan itu tidak berlebihan, karena—astaga, sadarilah situasi desa saat ini. Semakin jauh mereka melangkah, semakin samar desau angin dan keramaian alam terbuka di luar desa. Seolah-olah, kabut kelam yang menggantung rendah ini telah menahan pengaruh dunia luar untuk mencapai desa, mempertahankan erang kematian yang mengapung padat. Ketika Aeson dan Hel mulai melewati rumah-rumah pertama setelah gerbang, Hel merasa ada yang mengintip di balik lubang-lubang jendela yang pecah, atau ada sesuatu melayang yang membuntuti. Hel berulang kali berbalik badan, memastikan bahwa itu hanya bisikan asap hitam yang bergelung-gelung di udara.
Sungguh, jika ini adalah perbuatan Hel dan para tentaranya, maka terkutuklah mereka. Bahkan lebih daripada itu. Terkutuk barangkali masih terlampau lunak untuk menyebut mereka. Hel sama sekali tak menduga, jika memang benar, bahwa hidupnya sebelum ini adalah menciptakan kekacauan dan merusak kehidupan.
Pantas saja kalau tabib semulia Aeson tak sudi berbicara kepadanya.
Hel tercenung. Kenapa ... kenapa Tuhan masih mengizinkannya hidup? Di antara ratusan tentara yang terbakar, mengapa ia bertahan hidup? Mengapa dagingnya tidak ikut gosong, dan mengapa api gagal menembus baju zirahnya?
Tiba-tiba saja, muncul keinginan kuat untuk menangis. Hel pun menarik ujung jubah Aeson. “Hei, Guru,” katanya, “Aku ingin ....”
Aeson mengangkat tangannya. “Kau dengar itu?”
“Apa?” Hel mengernyit. Perasaan melankolisnya buyar seketika, digantikan dengan upaya berkonsentrasi untuk mendengarkan apa yang dimaksud sang tabib. Mula-mula, Hel tak mendengar apa pun selain gerung asap dan kabut di sekeliling mereka. Hingga, terdengar rintihan pelan, yang begitu tipis bagai bisikan arwah, di rumah di sisi kiri mereka.
Mata Hel membulat, dan Aeson menahan napas.
“Ada makhluk,” kata sang Guru, tidak serta-merta menyebutnya sebagai manusia. Meski itu terdengar laiknya rintihan pemuda Korson yang kemarin sekarat, tetapi mereka tengah berada di desa mati—begitu mustahil jika masih ada yang bertahan hidup setelah diliputi kegelapan berhari-hari.
“Apa yang mesti kita lakukan?” pertanyaan Hel begitu tidak penting, semata-mata karena lututnya agak gemetaran sekarang.
Aeson mendengus. “Kita ke sana,” katanya, yang jelas-jelas membuat Hel menyeret langkah. Sungguh, bagaimana jika makhluk itu bukan manusia?