“Semisal ... ini semisal saja,” kata Aeson lagi, mencoba menekankan dengan perlahan. “Semisal kau memiliki dasar Energi air, kalau begitu mengapa kau berbeda dari para prajurit lainnya?”
Hel tak bisa menjawab itu. Ingatan saja ia tak punya, bagaimana ia mampu memberikan balasan yang memuaskan? Ekspresinya yang termangu cukup mengingatkan Aeson bahwa ia adalah pria yang tak tahu apa-apa, baru saja ‘hidup’ kembali selama kurang lebih satu minggu.
“Ya ... mungkin saja ... ada segelintir prajurit yang membawa Energi lain?”
Sang tabib memicingkan mata. Apa? Bukan itu jawabannya?
“Prajurit adalah suruhan,” kata Aeson, seolah-olah ini adalah hal sejelas bahwa sungai terbuat dari air. “Dan bagi Lord Grimshaw, para prajurit, terutama yang mereka ke mana-mana berjalan dengan kedua kaki saja, adalah ... boneka.”
Sang tabib tercenung. Ia memandang kosong ke arah makan malamnya. “Dan ia membentuk boneka-bonekanya.”
“Apa?”
Aeson kembali memandang Hel. “Prajurit Grimshaw adalah makhluk bentukan. Mereka manusia, tetapi mereka telah dipengaruhi dan dijejali Energi sang Lord sedemikian rupa menjadi Separuh-Iblis.”
“Apakah, itu maksudnya, tidak ada prajurit yang memiliki Energi berbeda?” Hel bertanya-tanya. “Apakah semua prajurit membawa Energi yang sama?”
“Seharusnya begitu, karena Grimshaw-lah yang membentuk mereka.” Aeson menghela napas. Ia memutuskan untuk mengakhiri topik kali itu, karena ia meneguk segelas air suling, dan mulai menyantap makan malamnya. Aeson lebih banyak diam selepasnya, dan Hel juga tak ingin mengganggu Gurunya dengan topik yang sangat mengherankan ini.
Seperti—wow, Hel merasa tidak tahu-menahu tentang dirinya sama sekali. Mendadak saja, darahnya berdesir, dan sekujur tubuhnya merinding.
Siapa dirinya?
Kenapa perut Hel mulas sekarang?
+ + +
Ketika pagi datang, hal yang pertama kali Hel cek adalah kondisi sungai itu. Ia sama sekali tidak menyangka jika sungainya lebih kotor daripada yang dilihatnya kemarin, ketika sebuah keluarga meminumkan kudanya dengan air saringan sungai. Sekarang, alirannya bahkan tidak jernih. Abu mengapung padat, dan airnya kelabu. Ada pancaran warna ungu dan kuning menjijikkan yang menggelayut pada air, seperti tumpahan minyak, dan Hel seolah-olah melihat ada nyawa-nyawa yang terperangkap di dasar sungai.
Berbeda dengan sebelumnya, Aeson tidak melarang Hel untuk minum dari sana lagi. Ia justru menghampiri sang asisten. Kedua tangannya saling mengait di belakang punggung. Ia sedang santai.
“Kau ingin mencoba sesuatu, Hel?” tawar sang pemuda.
“Apa itu?”
“Mari kita uji Energi apa yang kau punya,” kata Aeson, membuat Hel mengangkat alisnya tak percaya. “Karena kita akan memasuki Desa Korson, Hel. Jika suasana negatif desa itu bisa memengaruhi Energimu dan memunculkannya tanpa kendalimu, maka itu akan merepotkan seandainya kau adalah pembawa Energi asap.” Aeson menjelaskan. “Tapi, kalau ternyata Energimu berbeda, maka itu lain soal. Kita tak perlu mengkhawatirkan keselamatanmu di desa itu.”
“Ah, benar.” Hel segera melepas sandal. Ia pun menjinjing celananya, melipat hingga setinggi lutut, kemudian mencelupkan kedua kakinya pada sungai.
“Baiklah.” Aeson mengangguk. Selagi sang tabib muda belum mengenakan jubahnya, dan lapisan rompi maupun sabuk kain tidak akan mengganggu proses apa pun itu yang akan dilakukannya.
Selama sesaat Aeson tak bergerak. Matanya memejam, dan sekujur tubuhnya emmatung. Ini membuat Hel tegang seketika; apa yang bakal dilakukan sang tabib? Mengingat pemuda itu juga seorang Guru Energi. Apakah ... apakah ia akan menyorot Energi atau apa pun itu? Entahlah, Hel tidak tahu, dan satu-satunya yang diingatnya adalah bayang-bayang vehemos yang pernah dipancarkan Aeson untuk menakut-nakuti kawanan pemburu Drest.
Hel terlanjur tegang, sehingga ketika Aeson membuka mata dan kedua bola mata pucat itu bersinar, Hel nyaris memekik. Kakinya refleks gemetaran kala Aeson mengangkat satu tangan. Kerikil di bawah kaki sang tabib menggelinding seolah-olah angin bertiup kencang; saling menabrak dan mendorong, meluncur menuju tepi sungai dan tercemplung satu-persatu. Tepian air beriak—mula-mula perlahan, kemudian bergelombang agak kencang, hingga membasahi dan menciprati lipatan celana di lutut Hel. Sang pria menyaksikan dengan ngeri air yang beriak dan bergelung di sekelilingnya; menempatkan Hel sebagai pusaran, dan saat Hel mengira ia akan ditenggelamkan oleh sungai setinggi tulang keringnya, pusaran itu memecah deras, dan menimbulkan gelombang besar di sekelilingnya.
Lalu, tenang.
Hel tercenung. Sang pria melongo mengingat apa yang baru saja terjadi, terlebih-lebih arus sungai sekarang kembali normal, seakan-akan pusaran tadi tak pernah terjadi, dan kerikil-kerikil tak menggelinding ke arahnya. Sensasi sekilas yang anti-k*****s itu membuat Hel memandang sang tabib dengan alis terangkat.
“Aku tidak merasakan apa-apa,” Hel berkata dengan agak tercengang. Ia mengira pengujian Energi yang diusulkan Aeson bakal sedikit ... entahlah, keren? Hebat? Ia kira bakal ada ledakan Energi, atau Hel akan terangkat di udara dan mengejang-kejang—entahlah, dia tak tahu darimana gagasan ini muncul.
Hel bahkan tak tahu Energinya apa. Apakah air yang berpusar tandanya ada angin beliung? Eh, apa? Tampaknya tidak. Hel tidak merasakan embusan angin atau semacamnya. Tak pula ada asap hitam yang menggelora, sebagaimana para prajurit Separuh Iblis yang menerjang Desa Kors.
Aeson pun tidak segera menjawab, membuat sang asisten frustasi. “Guru?” tanyanya, sembari mengawasi sang pemuda hanya memandang tangannya yang tadi terangkat, semacam telah melakukan kesalahan.
“Jadi, Energi apa yang aku punya?” tanya Hel, dan saat sang tabib hanya menatap tanpa suara, seolah merangkai kata yang tepat untuk diucapkan, Hel menjadi agak uring-uringan. “Atau tidak ada Energi sama sekali?”
“Ada.” Pertanyaan itu tentu paling mudah untuk dijawab sang tabib sekarang. “Tapi ....”
“Tapi?”
Alih-alih menjawab, Aeson mengatupkan bibir. “Aneh,” gumamnya. “Sebab aku ... ah, mungkin aku tidak cukup terampil untuk menguji Energimu.”
Aeson lantas mengisyaratkan agar Hel beranjak dari sungai dan membenahi penampilannya. Mereka perlu bersiap-siap pergi. Sang Guru, sembari mengenakan jubahnya, melanjutkan. “Ini bukan kali pertama aku menguji Energi seseorang,” katanya. “Seperti kemarin, saat aku mengobati pemuda Korson itu, aku seketika tahu bahwa dia memang memiliki sekelumit Energi para prajurit Separuh-Iblis. Asap terus menguar dari lubang telinga, hidung, dan mulutnya saat aku mengobati.”
Hel mendengarkan dengan saksama. Ada apa dengan penjelasan panjang ini?
“Tapi,” kata Aeson, membuat sang pria sedikit tersentak dengan perubahan nadanya yang serius. “Aku agaknya kesulitan memetakan Energimu.”
Hel tidak berusaha menyembunyikan kekecewaan. Apakah Aeson ternyata tidak sehebat yang ia kira? Tetapi—tetap saja, sang Guru Energi telah banyak membantunya dan orang lain. “Mengapa?” tanya Hel, mencoba untuk mengurangi kekecewaannya karena sempat berekspektasi tinggi.
“Energimu terlalu kompleks.”
Sungguh, Hel tidak menduga jawaban itu akan keluar. Ia menatap Aeson dengan mulut terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Matanya membulat kendati alisnya bertaut. “Maaf?”
Aeson ragu-ragu sejenak. “Aku mengenali beberapa paduan Energi, tetapi itu hanya sekelumit saja—seperti kau pernah mencoba menyerap berbagai Energi milik orang lain, tetapi tidak banyak-banyak.”
“Aku tidak paham.”
Aeson menghela napas. Memang tidak mudah menjelaskan ini kepada orang awam, terlebih-lebih yang ingatannya telah dihapus. Aeson kemudian berkata, “Energi laiknya jiwa, dan tubuhmu adalah rumah.” Ia mencoba menjelaskan dengan pelan. “Kadang-kadang, kau akan menerima tamu di rumahmu, tetapi mereka tidak menetap.”
“Yah.”
“Kau seperti itu; kau punya satu Energi besar—Energi inti—yang menyatu dengan dirimu sejak dulu, tetapi kau juga menyerap Energi-energi lain yang hanya sedikit saja. Berbagai Energi ini tidak bisa disebut sebagai milikmu; mereka terekam dalam tubuhmu hanya sebagai ... yah, pemanis saja.”
“Pemanis,” ulang Hel. “Apakah itu mungkin? Untuk memiliki banyak Energi dalam tubuh?”
Pertanyaan itu tampaknya telah memancing sesuatu yang dipendam sang guru tabib, sebab Aeson langsung menatap Hel dengan mulut terkatup rapat-rapat. “Mungkin saja, Hel,” katanya. “Tapi itu hanya berlaku bagi segelintir saja, bahkan tidak semua Guru Energi diizinkan melakukannya.”
Hel, menyadari ekspresi sang Guru, memutuskan untuk tidak menanyakan situasi Aeson. Dia akan mempelajarinya secara perlahan. “Dan apakah itu mungkin bagi seorang prajurit?”
“Kalau kau dulunya berpangkat kapten, atau bahkan jenderal, mungkin saja segalanya masuk akal.” Sekali lagi, jawaban Aeson mengejutkannya. “Tetapi itu berdasarkan pengalamanku yang pernah mengobati seorang jenderal dan dua kapten bertahun-tahun lalu, bersama Guru seniorku.”
Hel mendadak ingin sumbawa. Tunggu, apakah itu benar? Apakah itu berlaku secara umum? Sebab, jika itu benar, maka ... woah—woah—WOAH!
SIAPA SEBENARNYA HEL DI MASA LALU?
“Kalau begitu segalanya menjadi lebih rumit lagi, Hel,” kata Aeson, mengawasi ekspresi Hel yang berubah drastis dari kebingungan menjadi antusiasme yang lancang. Sang Guru Tabib berkacak pinggang. “Apa kau mengerti situasimu, Hel? Jika kau benar adalah seorang kapten pasukan, misalnya, maka kau punya masalah yang belum terselesaikan.”
“Ya? Apa maksudmu?” Hel sudah terlanjur terbutakan oleh euforia dadakan ini. Dia kapten? Hebat! Bahkan Aeson pun mau memercayai spekulasi ini!
“Kau, seorang kapten, dan pasukanmu, telah menghancurkan desa.” Aeson menatapnya dengan perasaan bercampur aduk. “Dan, di atas itu semua, seluruh pasukanmu tewas terbakar.”
Saat wajah Hel memucat dengan cepat, Aeson menambahkan dengan pelan. “Kau punya tuan yang belum kau temui,” katanya. “Dan jika kalian Separuh Iblis, maka tuanmu adalah Lord Grimshaw.”
Tak ada ucapan lagi selepas itu. Satu-satunya yang tersisa adalah emosi yang berusaha ditahan oleh satu sama lain. Hel, dengan jantung berdegup kencang dan perut mulas tak berkesudahan, sementara Aeson, sang guru tabib yang jelas-jelas tidak menyukai Lord Grimshaw, yang kini menatapnya dengan mulut terkatup rapat-rapat.
Oh Tuhan, kenapa selalu saja ada kejutan setiap harinya?