Perjalanan Panjang Pertama

1918 Kata
Tak ada yang lebih melegakan ketimbang sang pemuda Korson yang bangun keesokan harinya dengan senyum tipis di bibir. Meski ia mengeluh badannya masih sakit, dan ada kedutan-kedutan aneh di sekujur tubuhnya, setidaknya ia bisa berbicara dan berjalan sekarang. Sang gadis muda tak pernah sebahagia ini, dan nyaris saja menyosor kembali untuk mencium kaki Aeson saking gembiranya. Aeson lantas membekali sang pemuda dengan lebih banyak tumbukan tanaman Peranggas Kuku. “Jangan lupa dicampur dengan bir sulingan,” katanya, “dan selalu ingat untuk minum tepat waktu.” Sesuai saran sang tabib, mereka akan berkeliling festival Lord Lovell untuk mencari pekerjaan dan—jika memungkinkan—tuan baru yang bisa menjaga mereka dengan baik. Tentu itu bakal sedikit susah, mengingat sang pemuda sekarang bukan lagi manusia biasa. Ia sudah menjadi Separuh-Iblis, meski tidak berbahaya. Asal Lord Lovell dan para prajuritnya tidak mengenali pemuda Korson itu, dia akan aman. Aeson juga membekalinya kalung Penangkal Bau, agar sang pemuda Korson tidak bereaksi berlebihan saat mencium venome dan sejenisnya. Saat melepas kepergian kakak beradik Korson, Hel bertanya-tanya. “Apakah tanaman Peranggas Kuku bukan titipan orang, Guru?” Aeson menggeleng. “Itu adalah tanaman obat-obatan milikku.” Hel mendadak malu. “Ahhh, pantas saja engkau seketika tahu jika aku yang mencurinya dahulu.” “Ya, siapa lagi?” Hel dan sang Guru menghabiskan sisa hari dengan menjual barang-barang klien sebisa mungkin—tentu saja dengan mengandalkan suara lantang Hel dan kemampuan Aeson untuk menawan para pembelinya agar membayar dengan harga awal. Mereka pun menghabiskan hampir seluruh barang dagangan dalam empat hari festival, dan tanpa menanti perayaan itu berakhir pada hari ketujuh, Aeson memerintah agar mereka segera pergi. Perjalanan meninggalkan festival Lord Lovell menuju rumah si penggembala dilalui dengan jarak tempuh yang sama, kecuali karavan lebih ringan sekarang. Alih-alih kain-kain mengilap atau perkakas berasap, berbagai stok makanan memenuhi rak-rak, baik dari pemberian si pedagang roti gepeng yang murah hati, atau penjual lonceng angin yang sedih melihat Aeson dan Hel harus pergi dahulu, atau dari daging-daging asap yang dibeli dengan sisa untung hasil penjualan. Sang penggembala cukup terkejut melihat Hel lagi, mengiranya sudah tewas atau apa, dan cukup senang mendengar bahwa Hel bekerja untuk Aeson sekarang. Sang penggembala membekali mereka dengan sebongkah roti hitam dan satu galon su5u sapi. Mereka juga menginap lagi di sana, dan Hel menjumpai loteng tumpukan jerami sekali lagi. Kemudian, perjalanan dari rumah sang penggembala menuju desa di dekat Desa Kors, itulah perjalanan panjangnya. Bersiap-siaplah untuk pemandangan yang membosankan. Tiap-tiap desa besar dipisahkan setidaknya bukit-bukit atau hutan-hutan yang mengular panjang. Pemisah desa terkutuk dengan desa tujuan mereka selanjutnya adalah bukit lagi. Kali ini bukitnya sedikit lebih tinggi, dengan hutan yang merambah padat di sepanjang kaki bukit, dan sungai lebar yang membelah bukit di sisi timur. Karavan bergerak ke arah timur; mengikut jalur yang telah dibentuk oleh ribuan kuda dan belasan ribu roda karavan sebelum-sebelumnya. Kali ini Hel yang mengajukan diri untuk menggantikan Aeson duduk di kursi kusir, meski sang tabib terlalu sering mengecek kondisi kudanya dari arah jendela intip karavan. Walau Hel lupa ingatan, tubuhnya seolah kembali pada kodrat lamanya saat menggenggam tali kekang. Ia bahkan sempat berkata dengan penuh percaya diri, “Aku pasti penunggang kuda yang hebat dulu, atau prajurit yang bisa bertempur dari atas kuda,” dan Aeson menanggapi dengan sepatah “Semoga,” yang terdengar seperti doa alih-alih sekadar anggapan. Hel ingat Vestrad yang identik dengan langitnya yang senantiasa kelabu. Awan-awan besar memayungi bagai lapisan langit kedua. Menurut Aeson, hanya Vestrad yang mendapat kutukan seperti ini. Ini terjadi tidak lama, barangkali sejak belasan tahun yang lalu, saat Raja Vestrad memerintah.” “Bukan Lord Grimshaw?” Aeson menggeleng. “Raja Vestrad yang sebenarnya,” jawabnya, membuat Hel yakin bahwa Lord Grimshaw telah merebut tahta itu dengan semena-mena, sebagaimana namanya yang buruk. “Ini karena kebijakan Raja yang menghendaki banyaknya jumlah pengrajin besi dan segala macam. Udara mengotor, air membusuk, dan awan semakin gelap. Ketika salju turun, saljunya tidak lagi putih. Dan jika hujan, maka jangan pernah sekali-kali menampungnya dengan mulutmu.” Hel terpana. Memori ini tidak ada dalam ingatannya. Mengapa hal umum semacam ini ikut dihapus? “Karena segalanya kotor?” Aeson menggumamkan pembenaran. Ia sempat tidak berkata-kata lagi setelah itu, karena jalanan mulai menanjak, dan Hel berkonsentrasi mengendalikan lajur kuda agar tetap stabil. Ketika Hel menarik kekangnya terlalu erat, si kuda protes, dan Aeson mengingatkan dari dalam karavan. Hel melepaskannya. Mungkin si kuda juga sudah terbiasa dengan jalur perjalanan seperti ini, dan Hel memutuskan untuk menyerap detail di sekelilingnya dengan lebih saksama. Mereka mulai memasuki lereng bukit; sedikit curam, dan jalinan pepohonan tidak terlalu rapat di sini. Tanahnya agak berlumpur, barangkali karena sungai yang hanya berjarak beberapa langkah saja di sisi kanan mereka. Dari kejauhan, di seberang sungai yang kelabu dan berarus tenang, tampak sebuah karavan kuning dengan sebuah keluarga yang sedang mencuci sepatu mereka. Kuda-kuda diberi makan ala kadarnya, dan seorang anak berkutat menyaring air sungai untuk para kuda. Di antara desis pepohonan dan kicau kawanan burung yang berpadu dengan semilir angin, Hel memang mencium seutas aroma besi panggang dan ... entahlah, sesuatu yang nampaknya berwarna kelabu hitam, dan kotor. Saat Hel menunduk, ia mengamati rerumputan hijau itu tidak lagi berselimut embun atau serbuk bunga, melainkan—di atas bercak lumpur yang terpercik pada permukaan daun—bulir kotoran tipis yang lebih besar daripada debu, semacam abu pembakaran kertas. Kemudian Hel mendongak, memicingkan mata pada udara yang mengambang di sekelilingnya, dan baru menyadari bulir-bulir abu tipis yang beterbangan. O astaga—apa-apaan ini? Hel mendadak merasa ingin batuk atau bersin-bersin. “Apakah Vestrad menjadi seperti ini sejak raja waktu itu memerintah?” tanya Hel, sedikit tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. “Mm, ya, tapi tidak serta-merta demikian,” kata Aeson. “Semua bermula dari Ibukota, kemudian menyebar pada kota-kota sekitarnya, dan baru-baru ini mencapai daerah terpinggirkan semacam ini.” “Kita ada di tepi Vestrad?” “Ya.” “Dan mengapa Lord Grimshaw tak menghentikannya?” “Aku bukan Lord Grimshaw. Aku tidak tahu.” Jawaban Aeson, kendati benar, membuat Hel tidak tahu harus merespon apa. Ia kira para Guru telah terpelajar sejauh itu—tetapi Aeson memang tidak salah. Guru dan seorang penguasa jahat bukanlah kepribadian yang bisa menyatu dengan baik. Kalau pun bisa, maka buktinya adalah Guru Energi bengkok yang dilihat Hel pada festival lalu itu. Ia yakin, Gurunya ini—Aeson—bukanlah orang yang mendukung Lord Grimshaw. Yah, mana mungkin! Hel kemudian memaksa Aeson agar bercerita lebih banyak. Ayolah, sang tabib sudah berkelana ke mana-mana, meski kebanyakan menyusuri tepi Vestrad semenjak pemerintahan Lord Grimshaw, sebab—menurutnya—posisi para Guru pun terhimpit olehnya. Karena itulah Hel melihat adanya Guru Energi yang agaknya sesat. Barangkali dia tak punya pilihan lain, atau memang termakan iming-iming kekuasaan Lord Grimshaw yang kian hari kian membesar. Kabarnya, kekuasaan Lord Grimshaw pun hampir menyentuh tepi Freds, sebuah negeri kecil di barat daya Vestrad. Aeson pun meluruskan banyak hal tentang informasi yang Hel salah tangkap. Semula, sang pria mengira Vestrad dan Freds adalah kota-kota besar saja—tetapi ia keliru. Keduanya adalah negara, dan Hel lagi-lagi mempertanyakan distorsi informasi yang dimilikinya ini. Aeson juga menunjuknya, dan mereka berdua sepakat meyakini bahwa siapa pun yang menghapus ingatan Hel, maka ia juga mendistorsi sebagian informasi yang lain. Sial. Padahal Hel sudah terlanjur membagikan informasi kepadamu. Semoga kau tidak ikut kebingungan dengan kehidupan Hel saat ini. Ia bahkan mulai khawatir untuk berpikir macam-macam sekarang. Bagaimana jika informasi yang selanjutnya ia ingat, adalah hasil gubahan lainnya? Untung saja ada Aeson. Hel tidak tahu apakah ia bisa bertahan hidup dengan baik tanpa sang tabib. Ia tak mau membayangkannya. Mereka berkuda melintasi bukit, dan bermalam setelah mengitari puncaknya yang lebih jauh ketimbang bukit pemisah desa Lord Lovell. Hel kembali teringat dengan kakak beradik Korson itu; jika mereka gagal menumpang pada karavan mana pun, maka pantas saja mereka melalui perjalanan yang cukup panjang selama berhari-hari, apalagi sang pemuda juga sekarat. Hel juga menyadari bahwa semakin banyak abu yang bertebaran di sekelilingnya, dan ia mulai bersin-bersin. “Mungkin kita sudah semakin dekat dengan Desa Kors,” kata Aeson, saat menghangatkan daging asap dan masing-masing sepotong roti hitam. Ia mengernyit saat melihat bongkahan mungil abu mengapung di atas daging. Ia mengibaskannya berulang kali. “Apakah saat kau mengunjungi desa klienmu ini, tidak ada abu beterbangan?” “Ada, meski tidak sebanyak ini. Lumrah sebagaimana biasanya,” jawab Aeson. “Mungkin kejadian p*********n Desa Kors terjadi setelah aku pergi. Aku memang menempuh jalur yang lebih jauh dan memutar daripada jalan pilihan kita; aku berhenti di banyak tempat sebelum mencapai si penggembala. Aku perlu mengumpulkan banyak bahan obat-obatan.” “Dan pasukan prajurit berkuda tentu berjalan lebih cepat darimu.” Aeson mengangguk sekali lagi, tepat saat Hel bersin untuk kesekian kali. Sang pria kemudian menghela napas, berkata bahwa dirinya butuh minum. Aeson tak menggubris. Ia mengira Hel akan minum dari galon air sulingan, tetapi ketika Hel melewati karavan dan mencapai tepi sungai, Aeson membeliak. “Hel!” serunya. “Jangan minum dari sana!” Hel, yang sudah terlanjur menciduk air sungai dengan tangkupan kedua tangan, dan sedang meneguk sebagian, memandang sang Guru. “Apa?” tanyanya. “Aku tidak terlalu mendengarmu—di sini gelap.” Itu tak ada kaitannya, tapi begitulah orang-orang beralasan. Lagipula Hel benar. Satu-satunya penerangan hanyalah kobaran sedang api unggun di dekat karavan, dan satu sangkar kuningan mungil yang menggantung di atas kursi kusir. Selebihnya gelap; dan beruntungnya mereka telah melepaskan diri dari kungkungan hutan yang rapat. Di bawah langit hitam yang nyaris tak berbintang, Hel tak bisa melihat apa-apa, dan mengandalkan rabaan kaki dan tangan untuk mencapai sungai. Aeson beranjak. Ia meraih satu kayu bakar yang ujungnya tersulut api, mendekati Hel, dan menancapkannya di tepi sungai. “Itu kotor, Hel,” ujarnya tak percaya. “Bukankah kau sudah melihatnya dengan mata kepalamu sendiri tadi siang?” dan sembari sedikit mengomel, Aeson masuk ke karavan untuk mengambilkan satu galon kecil. “Kau akan muntah-muntah dan perutmu bakal sakit sekali.” Hel, yang sedari tadi bersin dan hanya menginginkan air, tentu tak mengingat informasi semacam itu. Lagipula ia pun baru tahu jika air sungai itu berbahaya. “Tapi,” kata Hel heran, “aku berulang kali meneguk air sungai dan sumur si penggembala, dan aku baik-baik saja.” “Apa?” Hel menolak sodoran air galon. “Mari simpan air sulingan ini untukmu dan hal-hal yang lebih penting,” katanya santun. “Aku baik-baik saja meminum air sungai, dan aku tak pernah muntah-muntah maupun sakit perut karena ini.” Hel kemudian kembali menciduk air sungai, membuat Aeson terbengong-bengong. Sang Guru tidak sekali pun beranjak dari posisinya hingga Hel selesai minum. Mereka kembali ke tepi unggun. Hingga Aeson selesai menghangatkan daging dan roti, mulutnya masih terkunci, dan matanya memandang jauh. Hel menyadari itu. Ia menyeringai. “Tenang, Guru, aku takkan merepotkanmu dengan penyakit.” “Bukan itu,” kata Aeson, dan terdengar cukup ragu-ragu. “Tapi tak pernah, sekali pun dalam pengalamanku, melihat seseorang mampu bertahan dengan air sekotor itu. Bahkan untuk Guru Energi sekalipun ....” “Ah, masa?” Hel mendadak ingin sumbawa. “Kecuali,” kata Aeson, “Guru, atau Separuh-Iblis, dengan Energi air.” Hel mengunyah makanannya sejenak. Ia tak merasa ada yang aneh dengan informasi itu. Tetapi, karena Aeson tak kunjung menyantap makan malamnya dan terus mengamati Hel seolah-olah menuntut penjelasan, sang pria lantas tersadar. “Bukankah para prajurit itu ber-Energi asap, Hel?” tegas Aeson, seolah tak sabar dengan betapa lemotnya sang pria merespon. Hel terhenyak. Tunggu, batinnya. Benar juga. “Seandainya kau memiliki dasar Energi air,” Aeson melanjutkan, “kenapa kau berbeda dari para prajurit lainnya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN