Hel terkejut. Selama sesaat pria itu tak bisa menjawab. Jeda waktu yang cukup lama itu membuat sang gadis muda sedikit gugup.
“Kau bilang apa tadi?” ulang Hel akhirnya.
“Desa Kors.”
“Bukan,” kata Hel, merasakan kepanikan merayap di dalam benaknya. “Prajurit apa? Dan seperti apa mereka?”
“Prajurit Separuh-Iblis,” jawab sang gadis, dan belum juga ia menyelesaikan penjelasannya, Hel menyela sekali lagi.
“Bagaimana kau tahu kalau mereka adalah Separuh-Iblis?”
Sang gadis muda nampaknya jengkel karena Hel menanyakan sesuatu yang jelas-jelas akan disampaikannya. Ia menatap Hel tajam cukup lama, menanti apakah pria itu akan menanyakan hal lain lagi, dan setelah memastikan bahwa Hel hanya menunggu jawabannya saja, gadis muda itu pun menghela napas.
“Aku bahkan tidak tahu bagaimana awalnya,” kata gadis muda tersebut. “Aku dan abangku bekerja untuk Tuan Sofos di tepi hutan. Kami mengumpulkan jamur-jamur seperti itulah—kau tahu—jamur-jamur dan rumput-rumput berpucuk perak, atau memanen jeruk-jeruk yang berada di tepi pekarangannya.
“Itu adalah pekerjaan kami setiap hari. Hingga, pada hari itu, terdengar gemuruh.” Sang gadis muda terdiam sejenak, menggigit bibir, kemudian melanjutkan dengan pelan. “Gemuruh yang tidak seperti gemuruh arus sungai yang membanjir, atau gemuruh sekawanan burung yang menyasak pepohonan di tepi hutan. Bukan. Gemuruh itu tak pernah kami dengar sebelumnya, dan kendati Tuan Sofos adalah pria pemberani, beliau cepat-cepat berlari meninggalkan kami.
“Pada saat itulah abangku punya inisiatif untuk masuk ke rumah Tuan Sofos. Tak ada siapa pun di sana, maka dia mengambil pedang panjang yang terlampau berat buatnya.” Sang gadis muda menghela napas lagi di sini, sepertinya menyadari betapa bodohnya sang abang yang kini sekarat di karavan Aeson. “Tetapi pedang panjang saja tak bisa melawan muasal suara gemuruh itu. Segera, kami melihat sebuah pasukan besar—pasukan prajurit, yang rupanya tak pernah kami lihat sebelumnya.”
Hel membuka mulut, hampir saja menelurkan pertanyaan lain akan bagaimana rupa para prajurit itu. Tetapi sang gadis Korson—begitulah Hel memutuskan untuk menyebutnya sekarang—segera melotot kepadanya agar diam dahulu. Si gadis Korson akan menceritakannya setelah ini.
“Mereka mengenakan baju zirah seperti pengawal lainnya,” kata sang gadis memulai. “Tetapi penutup kepala mereka rapat, berjaring-jaring dan berat. Aku sempat bertanya-tanya bagaimana mereka melihat dengan pelapis tebal itu. Tangan mereka juga tertutup sarung yang berbeda, bunyinya seperti benturan besi-besi ringan setiap mereka bergerak. Dan mereka membawa pedang-pedang, tombak-tombak, dan panah-panah yang menyala.”
Hel berusaha mengingat kembali apa yang ditemukannya pada tumpukan mayat para prajurit itu. Mereka memiliki wajah yang biasa saja—mereka manusia yang tampak normal. Seandainya Hel masih tidak tahu kalau mereka adalah Separuh-Iblis, Hel tentu akan mengira mereka hanya manusia biasa saja, sepertinya.
“Kuda-kuda mereka bukan kuda-kuda biasa,” kata sang gadis Korson. “Kuda-kuda mereka berwarna hitam legam, surainya kasar dan kaki-kakinya besar.”
“Kau terlampau teliti untuk bisa memerhatikan itu saat orang-orang lain berhamburan kabur.”
Komentar Hel membuat sang gadis menyipitkan mata. “Karena ...,” katanya, dengan suara yang agak gemetaran, “karena Abang memutuskan untuk menyerang mereka, dan aku mengejarnya, dan seorang prajurit merenggut Abang hingga melayang di udara, dan itu terjadi.”
“Apa yang terjadi?”
Si gadis mulai terisak, sebagian besar karena desakan Hel yang membuatnya merasa dipojokkan. Namun, Hel yakin penyebab sang gadis begitu kesal karena mengingat kembali penyebab Abangnya sekarat seperti sekarang ini.
“Asap menyembur dari balik penutup kepala prajurit-prajurit itu,” ujar si gadis gemetaran. “Bukan asap lilin, apalagi asap api. Itu asap hitam, yang begitu pekat, yang begitu mencekam! Dan asap-asap itu merasuk ke hidung, mulut, dan telinga Abang—mereka mencekokinya dengan asap hitam yang mahajahat.” Si gadis Korson menyedot ingus, kemudian melanjutkan lagi. “Dan Abang bukan satu-satunya. Mereka merenggut siapa saja yang berada terlalu dekat. Desa kami dengan segera diliputi kabut asap hitam yang begitu menyeramkan. Karena itu aku berlari. Aku—aku terpaksa meninggalkan Abang. Sebab jika aku ikut terenggut, maka kami berdua akan mati.”
Sementara gadis itu tenggelam sekali lagi dalam ketakutan, Hel merenungkan kisah kemalangan yang menimpa Desa Kors. Ahh ... itulah yang terjadi, rupanya, batin Hel, dan tak berani menyuarakan pendapat seperti itu. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat, membayangkan asap hitam bergejolak dan membumbung tinggi di langit Desa Kors, menyelimutinya dalam kegelapan menyesakkan, yang membuat para penduduk tertinggal menjadi sekarat. Gadis muda ini telah melakukan hal yang benar meski cukup menyakitkan—ia cukup cerdas untuk segera menyelamatkan diri, dan barangkali kembali setelah beberapa saat untuk menyeret abangnya menjauh.
Pikiran Hel lantas kembali pada peristiwa pembakaran itu. Ia tak menyangka jika tumpukan mayat itu pernah merasuki orang-orang dengan asap hitam dari mulut mereka.
Ini membuat Hel merinding.
Apakah—jangan-jangan, Energi yang tersimpan di dalam dirinya juga ... berupa asap hitam? Jika demikian, Hel beruntung tidak mengetahui cara mengeluarkan Energinya, atau gadis ini akan menjerit ketakutan, dan identitasnya diketahui semua orang.
Tapi, lebih buruk daripada itu, kalau Energinya tiba-tiba keluar tanpa pengendalian Hel, maka situasi bakal lebih buruk daripada skenario pertama!
Hel menelan ludah. Ia memutuskan untuk beranjak, mengambil satu gelas tambahan air suling, dan memberikannya kepada gadis Korson itu tanpa banyak bicara. Sayangnya Hel juga tidak mampu menemui Aeson sekarang. Sang tabib masih sibuk menyembuhkan pemuda Korson itu, dan tampaknya akan memakan waktu yang sangat lama. Maka Hel duduk di tepi meja, dan tanpa sekali pun menawarkan dagangan kepada para pejalan kaki, ia tenggelam dalam renungannya sendiri.
+ + +
Aeson akhirnya keluar dari karavan setelah waktu yang terasa sangat lama. Kembang api tidak lagi memenuhi langit, dan jalur pejalan kaki lengang. Sebagian orang masih berpesta di lapangan festival, dan konon para prajurit pun juga ikut bergabung di sana, sehingga keramaian hanya terpusat di meja-meja panjang itu. Gadis-gadis muda dan pemuda-pemuda santun telah pulang ke rumah masing-masing, cukup lama, yang sempat membuat si gadis Korson bertanya-tanya kapan kiranya sang abang selesai diobati. Sehingga, ketika Aeson muncul pada malam yang senyap di sekitar karavan mereka, gadis itu spontan beranjak.
“Bagaimana?” tanya Hel. Ia bahkan sempat terlelap di tepi meja. Pipi kanannya penuh oleh bekas tekanan dan lipatan dari tumpukan lengannya yang kebas.
Aeson menyeka keringat, sesuatu yang mengherankan pada malam yang dingin ini. “Dia baik-baik saja,” kata sang tabib, menjawab hal yang paling ingin diketahui sang gadis muda. Ia refleks memuji nama Tuhan. “Dia masih bisa diselamatkan ... dan sekarang dia tidur. Dia kelelahan menanggung rasa sakit itu.”
“Dia hanya tidur saja kan, Tuan Tabib?”
Aeson mengangguk. “Aku sudah memberinya minum dan sedikit makanan—dia kemudian mengeluh mengantuk dan ingin kau bangunkan esok pagi.”
“Tentu saja!” kata sang gadis, dan ia menangis sekali lagi karena kebahagiaan yang tumpah ruah. Ia seketika menghambur di kaki Aeson, membanjirinya dengan ucapan terima kasih, yang segera dicegah Aeson. Sang tabib menariknya agar berdiri kembali.
“Tidurlah di dalam,” kata Aeson. “Jagalah abangmu.”
Kemudian, setelah gadis itu menghilang ke dalam karavan dan hanya menyisakan sedikit celah pada pintu, sang tabib merebahkan tubuhnya pada karpet.
“Kau akan kedinginan, Guru,” kata Hel sembari membeberkan jubahnya.
Aeson mengatur napas, semata-mata lelah oleh proses penyembuhan yang memakan waktu berjam-jam. “Nyaris saja,” bisiknya, menarik perhatian Hel.
“Apa maksudmu, Guru?”
Alih-alih menjawab, Aeson terdiam sejenak, barangkali meramu kata yang tepat untuk diucapkan. “Untunglah kau segera membawanya kemari,” bisik sang tabib. “Energi di dalam tubuh pemuda itu nyaris merenggut seluruh badannya; dan jika Energi itu merayap dan terserap hingga ke otaknya, atau mencapai ujung kuku jemari kakinya, maka dia akan tewas.”
Hel melotot. “Apakah Energinya belum merayap sejauh itu?”
Aeson menggeleng lemas. “Energinya sebatas mencapai pelipis dan tulang keringnya.”
Pengetahuan yang aneh, dan Hel tak paham seutuhnya, tetapi ia mengangguk saja. Toh, yang penting, sang pemuda telah selamat, dan Hel membawanya di waktu yang tepat sebelum ajal menjemput.
Aeson mengistirahatkan diri sejenak. Selama itu pula Hel menyuguhkan segelas air seruling, ditambah roti gepeng dan krim bawang (lagi) yang buru-buru dibelinya dari karavan sebelah. Setelah Aeson merasa lebih baik, Hel menyarankan sang guru agar beristirahat di dekat roda kereta, karena di sana lebih hangat, dan Hel akan berpuas diri di bawah bayang-bayang meja dagangan.
“Omong-omong, aku tadi bertanya banyak hal kepada si gadis muda,” kata Hel, kemudian menceritakan segalanya dengan lengkap seperti biasa. Aeson akan sesekali mengangguk, membenarkan dan mengatakan dengan pelan bahwa itulah yang memang dialami sang pemuda Korson.
Seusai bercerita, Hel menatap Aeson dengan pucat. “Apakah, menurutmu, itu adalah para prajurit yang dibakar menumpuk?”
Aeson menatap Hel dengan saksama. Mengapa Hel menanyakannya? Ini bukan kali pertama Hel memuntahkan pertanyaan yang, sesungguhnya, jawabnnya sudah jelas bahkan seorang bocah pun mampu menunjukkannya.
“Oh, Hel,” ujar Aeson pelan. “Satu-satunya saksi yang bisa menjawab adalah Tuhan,” lanjutnya, membuat sang pria pendengar tak tahu apakah ia mesti lega atau bagaimana. Setidaknya ketakutannya cukup tereda saat mendengar jawaban sang tabib. “Tetapi kita bisa menemukan jawabannya,” tambah Aeson lagi. Saat Hel menatapnya dengan alis terangkat, tabib itu menyunggingkan senyum menenangkan.
“Salah satu klienku, pemilik tambah serbuk emas itu, tinggal di desa yang bertetangga dengan Desa Kors,” jelas sang tabib. “Kita bisa mengunjunginya, dan memastikan dengan mata kepala sendiri akan apa yang tertinggal di Desa Kors.”
“Bagaimana dengan dua kakak beradik itu?”
“Biarkan mereka,” kata Aeson. “Mereka telah menempuh perjalanan berhari-hari menuju festival ini. Mereka juga sudah belajar sejauh kegunaan tanaman Peranggas Kuku sebagai salah satu obat bagi rasa sakit sang pemuda. Seandainya aku adalah mereka, aku takkan kembali ke desa yang masih terkutuk itu, dan festival ini adalah sebaik-baiknya rumah untuk sementara waktu. Mereka akan mendapat pekerjaan jika memang mencarinya.”
Hel mengangguk. Sementara itu Aeson bergeser, bersiap untuk merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
“Jangan khawatir, Hel,” kata Aeson dengan riang, dan ini pertama kalinya Hel mendengar sang tabib berusaha menghiburnya seperti itu. “Aku akan membantumu menemukan identitas dirimu.”
Hel menelan ludah. “Betapa aku sangat ... berterima kasih padamu, Guru,” katanya, nyaris saja bersimpuh pada kedua lututnya. “Tetapi engkau begitu baik—dan mengapa? Padahal aku pernah berusaha mencuri barang titipan.”
“Yah.” Aeson mengangkat bahu. “Setidaknya pencuri takkan mengejar pencuri lain.”