Pembukaan festival Lod Lovell berlangsung meriah. Meja-meja panjang dengan ratusan kursi dan bangku kayu berjajar di pusat lapangan festival. Karavan-karavan dalam berbagai ukuran dan warna memagari jalur pejalan kaki yang sudah disediakan. Sesemakan bunga kali ini tersemati pita-pita, dan tiang-tiang beribu lentera tidak pernah padam—pemuda-pemuda lokal rutin datang setiap beberapa jam sekali untuk mengganti lilin. Belakangan Hel juga melihat seorang Guru Energi berkeliling untuk memastikan apinya tak pernah padam. Ia tampak garang dibanding Aeson, dan sang tabib mengaku pernah melihatnya di perguruan sekali. Memori tajam sang tabib membuat Hel ngeri.
“Lonceng emas sungguhan, didatangkan langsung dari Selatan!”
“Ayo ayo, mari lihat! Bebatuan bersinar sesuai emosi!”
“Lumen impor dari Utara; menyala sepanjang masa asal ditanam di pot tanah liat!”
“Pasir kesehatan! Pasir biru, pasir ungu—bagus untuk meredakan nyeri kaki dan melunakkan kapalan!”
“Roti gepeng dan krim bawang, Nona-nona? Dimasak dengan resep tradisional ala Timur!”
Keramaian pedagang dari luar mengalahkan riuhnya para warga lokal yang menjajakan dagangan lebih awal kemarin. Tentu saja mereka adalah pedagang terampil; mereka berpindah dari satu festival ke festival lainnya, mengarungi lautan ganas dan Negeri Gurun dan Badai Gunung untuk mendapatkan barang-barang unik yang tak dikuasai pedagang lain. Mereka memiliki kapal-kapal layar yang kokoh, atau kapal-kapal terbang yang tahan badai, atau karavan-karavan dengan roda anti bocor yang tangguh.
Berbagai aksen bercampur padu, berusaha menyuarakan Bahasa Persatuan yang digunakan mayoritas penduduk dunia. Kebetulan pedagang lonceng dari berbagai Konservatori agak cadel; dan si penjual roti gepeng terbiasa bersuara lantang. Sayangnya Aeson cenderung bersuara pelan, sehingga Hel pun mengajukan diri untuk menjajakan setiap barang yang dibawa.
“Kain mengilap—bagus untuk gaun-gaun! Nona, kain untuk gaun barumu!” ujar Hel, dan suaranya yang menggelegar membuat tiga gadis desa yang melintas spontan tersentak, dan alih-alih mampir, mereka justru terkikik geli saat menyadari bahwa penjualnya adalah pria berotot yang berwajah kusam. Padahal pedagang-pedagang kain lainnya cantik-cantik dan lemah lembut, segemulai kain sutra yang mereka tawarkan. Ini membuat Hel terheran-heran.
Aeson, yang membersihkan karavan di baliknya, berkata, “Coba jual selain kain.”
Hel mengangguk. Ia kini mengacungkan tali tambang bertabur serbuk emas. “Tali tambang emas!” serunya, kemudian menunjuk sekawanan pelayan yang akan melintas. “Tali tambang serbuk emas, kawan-kawan! Cocok untuk ... cocok untuk apa, Guru?”
Aeson menyahut dengan kalem. “Menarik ikan-ikan perak mendekat saat berlabuh.”
“Cocok untuk memancing ikan-ikan perak saat berlabuh!”
Usaha Hel mulai berbuah manis. Sekawanan pelayan itu saling menyenggol dan mendekat, kemudian Aeson turut hadir untuk menyebut harganya. Setelah tawar-menawar yang cukup pelik—dengan Hel mengotot menjual dengan harga awal, para pelayan itu akhirnya membayar dengan harga dua keping emas lebih murah.
“Ini festival hari pertama,” kata Aeson, “tidak perlu menjual terlalu mahal.”
“Tapi keuntunganmu tidak akan banyak, Guru.”
Aeson tersenyum. “Kita penuhi kewajiban kita dahulu.”
Hel ditinggal terbengong-bengong. Memang para Guru itu suci—setidaknya, bagi Aeson, bukan Guru Energi sesat yang ada di desa terkutuk itu. Hel tidak paham bagaimana Aeson bisa hidup dari uang minimal dan berbagai macam perbekalan seadanya yang dibawakan klien-kliennya. Hel tidak yakin bisa hidup seperti sang Guru, tetapi hanya Aesonlah harapannya sekarang.
Hel kemudian melanjutkan menjual barang-barang yang lain. Perkakas berasap belum laku, seorang anak memaksa ibunya untuk membeli batu emosi di dalam pasir merah, dan seorang pemuda membeli batu emosi di dalam pasir seputih salju untuk melamar gadis kesukaannya. Ia juga orang pertama yang membeli gulungan kain bekerlip.
Ketika siang berubah menjadi sore, ketika matahari di puncak kepala mulai turun ke ufuk barat, Hel mendapati tenggorokannya kering. Bahkan bergelas-gelas air suling disela-sela berdagang tidak cukup mereda haus. Apalagi ia juga agak kelelahan, dan Aeson bolak-balik menyuruhnya membeli makanan ini dan itu, atau barter barang dengan karavan di pucuk sisi utara atau di sudut sisi tenggara.
Kendati demikian festival semakin ramai; semakin petang harinya, semakin padat jumlah pejalan kaki yang meluber di jalanan. Gadis-gadis yang baru saja selesai berkebun, pemuda-pemuda yang masih memakai sepatu boots dengan jejak lumpur kering, petani-petani dengan anak-anak dan istri-istri mereka, prajurit Lord Lovell yang sesekali mengedar dengan pandangan tajam dan tangan di belakang punggung, para pelayan bau amis yang membawa gelas-gelas bir rempah, dan individual bertubuh jangkung atau berjubah tebal. Sesekali anak-anak nakal akan melintas, menyerobot kerumunan dan menyahut apa pun yang tampak menarik di depan mata. Hel menyaksikan kerumunan yang melewati mejanya dengan suntuk, menawar asal-asalan dengan “Silakan dilihat,” pada siapa pun yang mencondongkan tubuh di atas meja dagangan. Selebihnya Hel hanya diam, merenung akan identitasnya.
Ada begitu banyak manusia, pikir sang pria. Tetapi tidak ada yang mengenalnya. Hel sempat berharap akan ada seorang anak, lebih baik kalau perempuan cantik, yang menghampirinya dengan terkaget-kaget dan mata berbinar, lalu mengklaimnya sebagai seorang keluarga yang hilang, dan betapa mereka telah mencari Hel ke mana-mana. Tapi angan-angan hanyalah sekadar impian belaka—pada hari pertama festival yang akan berakhir ini, tak ada seseorang yang mengenali Hel selain prajurit menyebalkan yang kemarin nyaris membunuhnya. Prajurit itu semula sekadar berjalan-jalan ketika menunjuk Hel di kiosnya, memicingkan mata, lantas—setelah melihat Aeson yang berpakaian ala tabib—sang prajurit pun memasang tampang “oh, pantas,” yang menjengkelkan.
Hel masih tidak terima dengan cara prajurit itu membuatnya nyaris terkencing-kencing kemarin, tetapi Aeson meminta untuk mengikhlaskannya. Lagipula ada sisi baiknya dari penuduhan itu. Hel sekarang tahu dirinya adalah Separuh-Iblis, sehingga ia bisa lebih berhati-hati.
Sekarang malam hampir tiba. Hel membersihkan bekas makan dan Aeson bersiap-siap untuk sembahyang duluan. Kepadatan pejalan kaki kadang-kadang membuat meja dagangan bergeser, sehingga Hel tidak heran ketika merasakan tepi meja menyentuh kepalanya saat Hel berjongkok untuk memungut kotoran. Namun, ketika terdengar suara gedebukan dan orang-orang berseru “Hei!” dan “Awas!” maka Hel segera berbalik badan.
Seolah hari itu tidak cukup melelahkan mentalnya, seorang gadis muda mencuri dua toples tanaman Peranggas Kuku.
Hel spontan melompat. Ia masih bisa melihat bocah bertudung karung kumal itu dan meneriakinya. “Pencuri!” suaranya yang menggelegar membuat para pejalan kaki terkejut. Tidak sulit bagi Hel untuk menyibak kerumunan yang terhenti sejenak itu. Sayangnya Hel bertubuh besar, tidak seperti gadis remaja keceng itu, sehingga ia pun sering menabrak para pejalan kaki.
“Hei!”
“Maaf, tapi—pencuri! Berhenti kau!”
Yang benar saja! Kenapa harus ada pencuri di saat seperti ini!
Menyerobot pejalan kaki adalah hal paling melelahkan, ditambah dengan usaha berlari yang berulang kali terhalang, dan tenggorokan kering yang membutuhkan guyuran air minum. Hel mengangkat tangan, berusaha menggapai bocah itu, tetapi dia terlampau gesit. Hel mengumpat. Ia tak peduli lagi dengan desis kesal dan amarah para pejalan kaki yang disenggol olehnya—yang penting itu barang dagangan orang!
Ketika Hel dan bocah pencuri itu akhirnya keluar dari kungkungan para penonton festival, sang pria bersyukur luar biasa. Dadanya tidak lagi sesak, dan ruang pernapasannya tak lagi dipenuhi aroma keringat dan rempah-rempah menyengat. Bocah pencuri itu melompati pagar, memasuki area padang berumput alih-alih ke jalur pedesaan. Hel sempat merasa sang bocah pencuri sengaja menjebaknya, membuatnya berlari dalam keraguan, tetapi melihat bahwa anak itu memiliki tekad besar untuk benar-benar melarikan barang curiannya, maka Hel pun mempersempit jarak.
Tidak butuh waktu lama hingga anak itu mengambil tikungan tajam dan berbelok ke arah rumah para peternak. Namun, ia tak memasuki rumah satu pun, dan justru berbelok ke kandang sapi. Langkah larinya bagai orang kesetanan sekarang; ia murni mengabaikan Hel dan menyerukan seseorang.
“Kak! Bertahanlah, kak!”
Saat Hel mendekat, larinya melambat, dan napasnya terengah-engah. Ia menyaksikan seorang pemuda bersandar lemas pada kandang sapi. Ia jelas-jelas berada di ambang kematian; kulitnya seputih pualam dan membiru, bibirnya gemetaran, pembuluh darahnya menonjol di sekujur kulit dan berkedut-kedut. Darah merembes di antara giginya, tapi alih-alih berwarna merah pekat, darahnya hitam.
Hel merasakan hatinya mencelos.
“Kakak!” gadis muda itu melepas karung dari kepalanya, membuka toples cepat-cepat, dan merogoh-rogoh tanaman menggeliat itu. Ia memekik saat tanamannya berusaha mencaplok kukunya.
“Hei!” bentak Hel. Ia merebut toples itu dengan cepat.
Sang gadis spontan menangis. “Tolong maafkan saya!” serunya. “Tapi Kakak—dia akan mati! Tolong, hanya itu yang bisa menyembuhkannya!”
Hel tercengang. Tanaman Peranggas Kuku ini bisa menyembuhkan pemuda yang jelas-jelas bersandar pada malaikat kematian itu? Tetapi Hel tak ingin berdebat panjang di dalam benaknya. Dengan jantung berdegup gelisah, ia merenggut pemuda itu ke pundaknya. Sang gadis terkejut.
“Ikut aku,” kata Hel. “Aku kenal seorang tabib.”
Gadis itu terperanjat. Ia mengejar Hel yang melangkah lebar dengan kedua kaki gesitnya. “Tapi saya tidak punya uang!”
Hel menelan ludahnya sendiri. “Persetan dengan bayaran,” ujarnya. “Yang penting dia selamat.”
Sang gadis terpaku. Ia mengikuti Hel dalam diam setelah itu, dan selang tak lama kemudian, Hel mendengarnya terisak pelan dari arah belakang. Sementara di pundaknya, sang pemuda keceng hanya mampu menyuarakan erangan kesakitan yang begitu lemas, mengeluhkan betapa panas dan ‘berisiknya’ bagian dalam dirinya. Ini membuat Hel gugup, sekaligus cemas setengah mati.
Pemuda yang diangkutnya ini jelas-jelas adalah Separuh Iblis.
Hel takkan membiarkannya mati. Jangan—kalau setiap momen yang ditemuinya sekarang menyimpan rahasia tersendiri.
+ + +
Kedatangan Hel membuat Aeson lega, sekaligus terheran-heran setengah mati. Meski begitu ia tidak bertanya banyak. Ia tahu apa yang mesti dilakukan. Sang tabib pun mengisyaratkan Hel agar segera memasukkan pemuda Separuh-Iblis itu ke dalam karavan. Sementara Hel menerima perintah untuk mengambil sebotol air suling dan lap, Aeson mengunci pintu, dan segera mempraktekkan pengobatan kepadanya. Sedangkan gadis remaja itu meringkuk di tangga karavan, berulang kali menyebut nama Tuhan dan mengharapkan kesembuhan sang abang.
Untuk sementara waktu kios karavan itu diabaikan. Toh tidak ada yang tertarik juga—orang-orang sekarang berbondong-bondong memenuhi pusat lapangan festival, karena ada jamuan besar-besaran dari Lord Lovell. Kembang api kembali dinyalakan, dan meski tidak semeriah pembukaan tadi siang, cukup untuk memenuhi langit dengan berbagai kilat warna yang gemerlap.
Hel, selepas menyerahkan baskom dan lap kepada Aeson, menghampiri gadis remaja yang rupanya sudah berantakan itu. Rambut pirangnya melekat di dahi oleh keringat, kepangan rambutnya semrawut, dan baunya sarat oleh jahe dan bawang. Hel menyodorkan sebuah lap lain dan sisa air sulingan di gelas.
“Minumlah,” kata Hel, dan gadis itu semula ragu-ragu menerimanya. Hel memaksa. “Kau terlihat sama-sama nyaris mati.”
Gadis itu, kendati mengakui bahwa situasinya memang demikian, merenggut tidak suka. Ia menerima sodoran minum dengan bibir melengkung ke bawah.
Selepas meminumnya, ia mengelap keringat. “Terima kasih,” suaranya teramat serak, dan jelas sekali ia sangat malu. “Dan maaf.”
Hel menghela napas. Ia duduk di dekat meja dagangan, sekaligus menghadap bocah itu. “Apa yang terjadi pada kakakmu?” tanya Hel, membuat mata sang gadis membulat. “Jangan khawatir,” katanya lagi. “Guru—maksudku tabib itu—dia familiar sekali dengan situasi kakakmu.”
Sang gadis terdiam sejenak, barangkali menimbang-nimbang situasi. Tapi Hel benar, dan barangkali sang bocah tidak punya tempat bercerita selain Hel sendiri.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Sebenarnya,” kata sang gadis takut-takut, khawatir jika ada prajurit Lord Lovell yang menguping. “Kami datang dari Desa Kors.”
“Desa Kors?”
Bocah itu mengangguk. Wajahnya suram. “Desa kami hancur. Oleh sekelompok prajurit Separuh Iblis.”
Darah Hel berdesir.
Tunggu—apa?