Hel terbangun dengan perut melilit lapar dan aroma dupa yang memenuhi ruang mungil karavan. Ia mengerang dan mengaduh, mengeluhkan pinggangnya yang sakit atau bahunya yang kaku. Kemudian, setelah beberapa menit yang dimanfaatkan untuk membiasakan seluruh panca indra, Hel akhirnya sadar bahwa malam telah menjelang. Terdengar keriuhan festival yang menggema di luar dinding karavan. Bayang-bayang merah, kuning, dan biru menyinari tepi celah jendela dan pintu, diikuti suara letusan kembang api yang bersahut-sahutan.
“Sudah bangun, Hel?” pertanyaan basa-basi Aeson terdengar dari ambang pintu. Sang tabib duduk di tepi, dengan kaki menjejak pada tangga karavan, dan satu tangannya menggilir butir-butir mutiara yang tersusun pada untaian kalung. Mulutnya komat-kamit memuji Tuhan.
Hel berusaha mengumpulkan tenaga di bawah lapisan-lapisan menyakitkan yang menghunjam sekujur tubuhnya. Ia tidak lagi merasa mual, tetapi perutnya bergejolak, dadanya sesak, kepalanya sakit, dan pandangannya berputar.
“Paha kalkunmu sedang kuhangatkan,” kata Aeson, tidak menunggu jawaban sang pria. “Mungkin pula sudah hangat. Apa kau bisa berdiri?”
Kendati Aeson menanyakan hal demikian, sang tabib muda beranjak dari karavan dan mengambilkan paha kalkun untuk Hel. Ia menyodorkan roti gepeng yang menjadi alas paha kalkun. Kepulan asap tipisnya membuat perut Hel keroncongan.
“Dan ini, minum.” Aeson menyodorkan segelas air sulingan.
Hel bahkan masih tidak berkata-kata saat ia menyantap paha kalkun dan meneguk air. Ia merasa tenaganya semula hanya cukup untuk mempertahankan tubuhnya agar duduk tegak, dan tidak selebihnya. Namun, seiring dengan daging kalkun yang menipis, dan roti gepeng dingin yang mengecil, Hel merasa hidup seutuhnya.
Sungguh, ia merasa seperti roh yang terperangkap pada patung tadi.
“Terima kasih,” kata Hel akhirnya. Ia menepi ke pintu karavan untuk membuang tulang paha ke dekat roda. “Aku merasa nyaris mati.”
“Tampaknya demikian,” kata sang tabib. Ia mempelajari ekspresi Hel yang tidak tenang. “Apakah sesuatu terjadi?”
Hel tidak lagi ragu-ragu untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada sang tabib. Aeson mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, tetapi tak dipungkiri lagi bahwa semakin jauh Hel bercerita, maka semakin dalam kernyitan di dahi sang Guru Energi.
Aeson tanpa sadar meremas untaian mutiara di genggaman.
“Kira-kira aku sakit apa, Sir?” tanya Hel, mencoba menyederhanakan situasinya. Bagaimana pun Aeson adalah seorang tabib. Ia tak mau menduga-duga sementara ada orang yang lebih ahli untuk menentukan penyakitnya.
“Mau mencoba mencari tahu?” penawaran Aeson membuat Hel terheran-heran. Mengapa Hel diajak untuk menelusuri penyakitnya?
Hel mengangguk ragu, kemudian Aeson mengisyaratkan sang pria agar mengambil buntalan kain Drest yang tersimpan rapi di bawah rak karavan. Sesuai dugaan Hel, Aeson membukanya dan mengeluarkan panah beracun itu. Reaksi tubuhnya begitu cepat daripada sebelumnya; makan malam yang baru saja disantapnya seolah-olah memaksa naik kembali ke kerongkongan.
“Tolong,” ujar Hel sembari menutup mulutnya. Ia pun menyingkir. “Jauhkan itu.”
Aeson menghela napas. Ia bahkan hanya mengacungkan panah beracun itu, tetapi Hel sudah nampak akan memuntahkan makan malam. Matanya memerah lagi dan pelupuknya memberat.
Namun, di atas itu semua, reaksi Aeson pun nyaris serupa. Hanya saja sang tabib tidak tampak akan memuntahkan apa-apa.
Hel mengawasinya dengan terbengong-bengong. “Guru,” bisiknya, dan tampaknya dia akan memanggil Aeson dengan apa pun sesuka hatinya sekarang. “Guru, matamu juga kemerah-merahan.”
Aeson mengangguk. Ia mendorong buntalan kain itu kembali ke sudut karavan yang gelap. “Karena aku Guru Energi,” jawabnya kalem. Ia menyeka hidungnya dan mengerjap-kerjapkan air mata yang berkumpul. “Setiap pembawa Energi akan bereaksi terhadap panah beracun itu. Atau, lebih tepatnya, pada racun yang melumurinya.”
Hel mengerjap-kerjap. “Racun apa itu tepatnya?” tanyanya. “Kau pernah bilang itu adalah racun untuk vehemos. Mengapa itu juga mempengaruhimu?”
“Karena Energi yang kubawa berasal dari vehemos, Hel,” Aeson menjelaskan dengan sabar, seolah-olah menjabarkan bahwa satu ditambah satu sama dengan dua kepada bocah ingusan. “Energi memang membuat para pembawanya menjadi kuat di atas rata-rata, tetapi ada efek negatif yang juga menjeratnya. Salah satunya adalah racun ini juga akan berefek kepada kita.”
Aeson terdiam sejenak. “Racun itu diolah dari sebuah tanaman. Venome, namanya. Segala bentuk racikan venome sudah cukup untuk meracuni.”
Hel mendengarkan dengan mata membulat. Ia lantas teringat dedaunan kering yang disodorkan prajurit sialan tadi. Jadi ... itu racun dalam bentuk yang berbeda lagi. Hel pun menelan ludah. Berlatar belakang hingar bingar festival yang akan dibuka besok, ia berbisik. “Apakah itu berarti aku ....”
Aeson mengangguk. “Kau punya Energi.”
Hel tercenung. Hei, sungguh? Hel punya Energi di dalam tubuhnya? Tetapi kenapa ia tak merasakan apa pun sejak terbangun dari tumpukan mayat itu? Ia tak mengeluarkan Energi apa pun secara tak sengaja, atau ada semacam pelatuk yang perlu ditariknya untuk mengerahkan Energi itu?
Wah, seandainya Hel tahu lebih awal, dia pasti bisa mengatasi Drest dan kawanan pemburunya.
“Tapi,” kata Hel, setelah menyadari sesuatu. “Tampaknya ... aku bukan Guru Energi.”
“Kemungkinan begitu,” kata Aeson. “Setiap Guru mempunyai Cap pada bagian tubuhnya, kebanyakan lengan atas.” Dan sembari menjelaskan, Hel menyingkap lengan jubahnya yang lebar. Baru kali ini Hel melihat lengan sang tabib secara utuh—kulitnya lebih pucat, sedikit kasar dengan berbagai codet, tetapi yang paling menarik adalah Cap merah membara pada lengan atasnya. Simbol itu mengingatkan Hel pada liukan rumit di liontin kalung Drest, meski sama sekali tidak sama.
“Cap apa itu?”
“Ini adalah nama vehemos Energi yang mengalir di dalam diriku,” jawab Aeson. Jarinya menunjuk Cap nama itu sembari melanjutkan, “Setiap vehemos punya nama, meski bukan dalam kata-kata yang bisa kita ucapkan. Simbol ini adalah nama mereka; dan setiap Guru Energi wajib memiliki Cap sebagai bukti legalnya.”
“Kalau tidak memilikinya?”
“Maka kau dianggap tidak memiliki Energinya secara legal,” kata Aeson, dan kembali membetulkan lengan jubahnya. Mereka terdiam sejenak, barangkali menyepakati sesuatu di benak masing-masing.
“Aku tidak punya itu,” kata Hel. “Itu berarti, kalau aku bukan Guru Energi, maka aku adalah ....” Hel terdiam sejenak, tak percaya dengan apa yang akan dikatakannya. “Aku Separuh-Iblis.”
Aeson membenarkan. “Hanya dua kaum itulah yang mampu membawa Energi vehemos di tubuh mereka.”
“Kalau begitu mengapa Lord Lovell membenci Separuh-Iblis dan sejenisnya?” kata Hel. “Mengapa tidak dengan Guru Energi? Bukankah mereka sama saja membawa Energi para vehemos?”
Hel menanyakannya murni karena pikirannya semula buntu oleh ketakutan. Tetapi sekarang, setelah ia menelurkan pertanyaan itu, Hel seketika memahami jawabannya. Namun ucapan Aeson adalah penegasan yang paling dibutuhkannya, bukan sekadar terka-menerka dari benaknya sendiri.
“Sederhana,” jawab Aeson muram. “Karena Guru Energi mendapat izin legal dari Konservatori untuk membawanya, sementara Separuh-Iblis dan sejenisnya—mereka mencuri Energi itu. Itulah mengapa mereka disebut ‘Separuh-Iblis’, karena mencuri adalah tingkah buruk khas Iblis.”
+ + +
Hel melewati sisa malam itu dengan gelisah. Sesuai janjinya, ia akan tidur di karpet yang terhampar di luar karavan, berpayung kanopi dari karung-karung jahitan milik Aeson. Ia menyembunyikan kepalanya di bawah bayang-bayang meja yang besok akan digunakan untuk memamerkan berbagai barang dagangan. Di sebelah kanannya, berjarak dua petak tanah berumput, adalah karpet si penjual roti gepeng, dan ia terlelap di ambang pintu dengan kaki menggantung di tangga karavan. Sementara mayoritas pedagang dari luar desa tidur di dalam karavan mereka, sebagaimana Aeson, sehingga Hel melawan desau angin malam sendirian di lapangan terbuka.
Hel tidak bisa tidur cukup lama, ia sempat menduga semalaman. Ini gara-gara obrolannya dengan sang tabib, saat langit masih dipenuhi bunga-bunga kembang api, dan tawa anak-anak mengalahkan keriuhan para pendatang yang merayakan malam menjelang festival dengan bergelas-gelas bir suling. Sekarang langit gelap seutuhnya, nyaris tanpa bintang, tertutup gelungan awan kelabu yang samar-samar terdengar geluduknya dari arah barat. Suasana hening, hanya terdengar sahut-sahutan bersin atau batuk dari berbagai karavan di sekeliling Hel. Dengung nyamuk sesekali berputar di dekat telinganya, dan tak peduli betapa Hel mengibas-kibaskan tangan, ia tak pernah menyentuh makhluk mungil menjengkelkan itu.
Hel menghela napas. Pada malam yang tak kunjung berakhir, Hel memikirkan siapa dirinya sebenarnya.
Kalau benar ia adalah Separuh-Iblis—manusia yang mencuri Energi vehemos tanpa seizin Konservatori, maka bagaimana bisa ia menjadi prajurit? Apakah Hel dulu begitu pandai menyembunyikan identitas dirinya? Atau, apakah para prajurit yang bertumpuk itu adalah sekumpulan Separuh-Iblis? Namun Hel tidak mengingat adanya darah hitam berlumuran, atau, Hel terlalu panik untuk bisa mengamati situasi waktu itu.
Jika para prajurit itu adalah sekumpulan Separuh-Iblis, maka semakin lazimlah alasan pembakaran mereka. Kombinasi sempurna antara desa terpencil, Guru Energi yang tinggal di sana, dan Lord Lovell yang teramat membenci vehemos dan turunannya ... adalah malapetaka bagi para prajurit yang mampir ke sana.
Lantas, untuk apa para prajurit itu dikirim ke desa terpencil?
Hel berputar, membaringkan tubuhnya miring agar menghadap karpet si penjaja roti gepeng. Angin berembus di sela-sela roda karavan hingga ujugn karpet mengelepak ringan, dan Hel menggigil kedinginan. Ia menarik jubah tebal Aeson semakin rapat.
Ah, tapi—tunggu dulu. Hel baru mengingat sesuatu yang terlupakan. Bukankah sang penggembala waktu itu bilang bahwa Lord Lovell sekalipun tak punya kuasa atas desa terpencil itu? Dan, daya Lord Grimshaw—penguasa jahat yang menguasai seantaro Vestrad sekarang—adalah yang meliputi desa?
Kalau begitu, misteri ini belum terpecahkan.
Maaf, Hel mencapai kesimpulan yang salah tadi. Ini justru semakin rumit. Terlepas dari Lord Lovell, Desa yang diliputi daya buruk Lord Grimshaw telah membunuh pasukan prajurit yang kemungkinan adalah Separuh-Iblis, manusia-manusia berhati busuk yang mencuri Energi.
Hel mendadak gugup. Bulu kuduknya merinding, padahal angin dingin tidak lagi berembus.
Sial. Ini bukanlah perkara baik melawan buruk—ini adalah sebuah keburukan yang dilawan dengan keburukan yang jauh lebih besar. Pasukan Separuh-Iblis kalah oleh desa terpencil yang diliputi daya jahat Lord Grimshaw. Itu berarti, kemungkinan besar Guru Energi yang bertempat tinggal di desa itu juga sudah bengkok—mereka terpengaruh jalan sesat Lord Grimshaw.
Pada penghujung malam, dan waktu di mana Hel akhirnya mulai merasa mengantuk, pria itu pun mencapai sebuah kesimpulan yang dirasa cukup benar.
Apa pun yang terjadi di masa lalunya, Hel berhasil melepaskan diri dari cengkeraman marabahaya. Ia mampu bertahan hidup dari hasil peperangan antar dua pihak kejahatan. Dan, sekarang, Hel diizinkan ikut dengan seorang tabib suci, setelah berbagai upaya pencurian bodohnya tergagalkan.
Mungkin Tuhan ingin Hel bertobat.
Dan, mungkin—mungkin saja—tidak ada buruknya sebagian ingatan Hel terhapus. Ia tak terlalu penasaran ingatan macam apa yang hilang itu. Selama Hel sekarang sadar bahwa nasibnya bakal berubah seratus delapan puluh derajat, maka ia akan baik-baik saja.
Ya, benar. Hel akan menjadi Separuh-Iblis yang berbuat kebaikan sekarang.
Ia sudah cukup berkecimpung di dunia yang buruk.