Para Separuh-Iblis

1965 Kata
Hel menyaksikan dengan ketakutan memuncak saat monster itu bangkit dari jatuh, lipatan matanya berkedut seolah berusaha membuka lebar-lebar, dan mulutnya yang berlendir berseru. “Papa!” Hel jelas bukan ayahnya. Ia tak tahu mengapa makhluk monster mengerikan itu memanggilnya demikian. Tetapi satu yang pasti, Hel mendadak menemukan kekuatannya kembali, dan dengan kaki gemetaran hebat, Hel terbirit-b***t. Insting menyelamatkan dirinya baru hidup. “Guru!” pekiknya. Ia tak peduli betapa konyol Hel terdengar, atau suaranya kemungkinan akan menarik perhatian para Separuh-Iblis yang lainnya. Sial, dia sedang dikejar vehemos yang baru lahir! Ini persoalan hidup dan matinya! Hel berlari serampangan, menyibak kabut yang menggelayut rendah di sekelilingnya. Saking kencangnya ia berlari sampai-sampai kakinya terasa melayang; tak ada lagi yang Hel pikirkan, termasuk derap kaki sang vehemos yang sesekali terpeleset di belakang punggungnya. Napas Hel tersengal-sengal, dadanya terasa terbakar dan napasnya memendek. Ia tak pernah berlari sekencang ini semenjak sadarkan diri! “Guru!” Hel meraung, tenggorokannya terasa kering. Ia benar-benar butuh guyuran air minum. “Guru!” serunya lagi, kali ini dengan serak. Sekali lagi ia berteriak, Hel akan melukai tenggorokannya. Namun beruntung—Hel sekarang mendengar suara benturan, pekikan aneh, dan hantaman sekali lagi. Ia mengikuti arah suara itu hingga mendapati Aeson tengah berada di pasar desa. Tangannya teracung dan Hel mampu melihat cahaya putih berkobar dari ujung jemarinya. Pilinan udara berkilauan terpancar dari telapaknya, menyorot sang Separuh-Iblis yang kini terdesak di dinding sebuah bangunan. Separuh-Iblis itu tertahan oleh jalinan cahaya bagai tali yang mengikatnya tinggi-tinggi di dinding. Kedatangan Hel membuat fokus Aeson terpecah. Sorot Energinya melemah, dan jalinan yang menahan Separuh Iblis Asap—begitulah Hel menyebutnya sekarang—melonggar. Sang Separuh Iblis Asap lantas melesat ke udara, meninggalkan jejak asap hitam yang perlahan memudar. Dia kabur. “Oh, maaf!” seru Hel, ia merasa nyaris ambruk dengan kepala dan tubuhnya yang memanas. “Tapi—tapi!” Hel tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Tepat pada saat itu terdengar suara derap di belakangnya, dan sang vehemos lendir terpeleset sekali lagi. Ia membentur lorong dinding di belakang Hel, memberikan kesempatan Aeson untuk melihatnya. Sang tabib membeliak tak percaya. Mulutnya menganga dalam kengerian tak terucap, dan jarinya teracung pada monster itu. “V-vehemos!” Hel buru-buru bersembunyi di balik punggung sang tabib. Untuk pertama kalinya, Hel menyadari bahwa sang Guru gemetaran. Tapi ini bukan karena ketakutan—ia gemetaran karena mulai lelah. Keringat yang membanjiri leher dan pelipis sang Guru membuktikannya. Aeson menghela napas. Ia mengangkat tangan tepat saat Vehemos Lendir itu mendekat. Sekarang lipatan matanya hampir terbuka sempurna. Lendir masih menahannya melihat dengan jelas. “Papa!” Aeson terperanjat. “Apa?” “Abaikan saja!” pekik Hel. “Serang saja dia!” “Yah, aku tidak menyerang,” gerutu Aeson, dan cahaya putih kembali terpancar dari telapak tangannya. Hanya saja kali ini ia mengerahkan Energi dengan sekuat tenaga, karena Vehemos Lendir lebih besar dua kali lipat dari si Separuh-Iblis Asap tadi. Efeknya pun kilat; Energi Aeson menghempasnya ke dinding terdekat. Sang vehemos memekik kesal saat juluran cahaya membentuk ikatan rapat di sekujur tubuhnya, menahannya agar tidak mampu bergerak selain mengayun-ayunkan kakinya yang menetes-neteskan lendir. “Bagus,” ujar Hel di sela-sela napas. “Ayo lari, Guru. Ayo kembali!” tambahnya, dan mereka pun lari tunggang langgang keluar dari pasar. Mereka berlari tanpa arah, hanya mengikuti mana sekiranya jalan yang tidak tertutupi cukup banyak kabut. Setelah berlari kira-kira lima menit, mereka tiba di kawasan sisi barat desa, jauh dari pasar, dan begitu senyap seolah-olah tak pernah ada kehidupan di sini. Hel merosot dan bersandar pada sebuah dinding rumah. “Desanya—hh—sudah ... sudah tidak tertolong.” Aeson mengusap keringat. “Aku mendengar rintihan. Cukup banyak.” Hel rasanya ingin pingsan sekarang. “Lalu?” tanyanya dengan nada tinggi, berharap Aeson paham bahwa sang paman tidak kuat kalau harus berhadapan dengan satu Separuh-Iblis lagi. Aeson menatapnya bimbang. “Kita harus menolong mereka ... semampunya.” Saat Hel melotot kepadanya, sang tabib mengalihkan pandangan. Kalau begini, sang paman terlihat mengerikan sesuai usianya. Aeson merasa seperti seorang keponakan yang bandel. Ia mengusap hidungnya. “Setiap nyawa itu berharga, Hel.” “Bagaimana kalau mereka semua berubah menjadi Separuh-Iblis?” Aeson tercenung sesaat, memikirkan solusi yang dirasa paling masuk akal untuk situasi mereka saat ini. “Kita ... lepaskan saja.” “Apa?” “Kau mau melawannya?” tanya Aeson dengan mata menyipit. “Kita bahkan tidak punya persiapan cukup. Apalagi Separuh-Iblis yang baru lahir itu punya kapasitas Energi yang meledak-ledak. Kalau kau tidak ahli dalam menanganinya ....” “Ya, ya.” Hel menyela dengan jengkel. Kepalanya berdentam-dentam sekarang. Pandangannya agak memburam dan adrenalinnya terpacu deras. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri bergaung. “Tapi kalau mereka berubah menjadi Separuh-Iblis, kita benar-benar akan kabur kan?” “Daripada itu,” kata Aeson gusar. “Bagaimana bisa kau dikejar vehemos?” Bahu Hel melorot. “Mana kutahu,” katanya, lalu menceritakan apa yang disaksikannya tadi selama Aeson menghilang. Sang tabib mendengarkan dengan wajah pucat. Ia lantas meminta Hel untuk mengarahkannya ke alun-alun desa, yang seketika disesali Hel karena telah bercerita. Tetapi sang tabib memiliki rasa penasaran yang kuat. Ditambah dengan semangatnya sebagai pemuda di awal dua puluhan tahun, kegigihannya tak terkalahkan sekarang. Setelah mencapai alun-alun desa, Aeson refleks menggeleng-geleng. Ia menyebut nama Tuhan berulang kali. Sementara sang tabib mengedar dan berusaha menuntaskan berbagai pertanyaan di dalam benak dengan melihat-lihat, Hel mengawasi dari tepi alun-alun. Matanya tertuju pada kolam air mancur yang tidak lagi penuh. Nampaknya kolam itu nyaris banjir karena disesaki oleh makhluk berlendir tadi. Hel sekarang melipat tangan dengan gusar. Sungguh, apakah dia tadi menyaksikan kelahiran vehemos—makhluk adidaya dengan Energi sungguhan? Tunggu. Kalau vehemos berlendir itu lahir di sini ... apakah itu berarti tujuan asli kedatangan para prajurit itu untuk mengubah desa ini sebagai tempat kelahirannya? Hel bergidik. Apakah ini perbuatannya? Apakah ia mendapat perintah untuk melakukan hal itu? Ini jelas-jelas bersumber dari Lord Grimshaw—tak ada keraguan lagi. Kalau sang penguasa kejahatan menginginkan lebih banyak kelahiran monster ... woah, sungguh, akan jadi apa negeri ini? Situasi yang tengah disaksikan Hel adalah situasi desa-desa di tepi negeri, yang berbatasan dengan pegunungan dan bentangan lembah atau padang. Di seberangnya adalah negeri-negeri lain. Kalau kekacauan sudah mencapai tepi negeri, maka .... Hel merinding. Seburuk apa situasi di ibukota? Di Kota Kerajaan? Aeson mendekat tak lama setelah itu. “Ini parah,” katanya, “dan ini pertama kalinya aku menyaksikan hal seperti ini. Tak pernah, seumur hidupku, aku mengira akan menyaksikan hal-hal yang hanya diceritakan para pengasuh.” Mereka meninggalkan alun-alun selepas itu, dengan langkah yang lebih tenang sekarang, dan Hel lega karena mereka tak perlu berlama-lama di tempat terkutuk itu. Sambaran kilat selalu berhasil mengejutkannya setiap waktu. Setiap sambaran akan meruntuhkan pucuk monumen kolam yang tersiksa, dan lambat laun kolam akan hancur. Hel tidak tahu apakah saat kolamnya terbelah, seluruh darah yang tertampung akan tumpah membanjir atau tersedot ke langit. Keduanya sama-sama menyeramkan dan menjijikkan untuk dibayangkan. “Pengasuh?” tanya Hel penasaran. “Ini pernah terjadi sebelumnya?” Aeson mengangguk. “Semenjak Lord Grimshaw menduduki ibukota,” jawabnya muram. “Ia menyebar banyak pasukan untuk menjarah tempat-tempat tertentu—seperti desa ini, misalnya—untuk berbagai kepentingan ... dan salah satunya ini.” Hel terbengong-bengong. “Kenapa kau tak katakan padaku sejak awal?” “Kau lupa ingatan, untuk apa aku membuatmu bingung dengan hal-hal yang belum tentu benar kau lakukan?” Aeson benar. Selama ini mereka mengupas identitas Hel dengan begitu lambat, satu per satu, dan tidak semuanya langsung mencapai kebenaran. Masih ada hal-hal yang perlu dipastikan, dan satu-satunya jalan adalah dengan menemukan kembali ingatan Hel yang hilang. Tapi mereka bahkan tak tahu siapa yang menghapus ingatannya. Obrolan itu terhenti sejenak. Mereka kini menghampiri rumah pertama yang mengungkung seorang wanita paruh baya. Tadi ia mengerang, sekarang ia sudah meninggal. Aeson menyesal karena tidak menghampirinya lebih cepat. Aeson dan Hel berpindah ke rumah yang lain. Kali ini seorang pemuda, yang tampak seusia sang pemuda Korson sebelumnya. Pemuda Korson kedua ini masih bisa ditolong, dan tidak tampak akan berubah menjadi Separuh-Iblis mengerikan lainnya. Maka Hel, dengan setengah memanggul tubuhnya di pundak, mengikuti Aeson ke rumah terakhir di dekat tepi desa. Penghuninya pun baru saja meninggal, dan asap hitam tengah merasuki tubuhnya tanpa ampun. Sadar bahwa ini berarti bahaya lain, mereka pun memilih untuk bergegas pergi. “Aku akan mengurus pemuda ini. Kau kemudikan karavannya, Hel,” kata Aeson. “Kita pergi ke Utara.” Hel mengangguk. Tak ada lagi kata yang terucap selain keinginan untuk menghilang dari desa itu secepatnya. Saat tepi desa akhirnya terlihat, dan nampak Perry si kuda yang sedang menggosok-gosok tanah dengan bosan, kedua lelaki itu menghela napas lega. Mereka mengerahkan sisa tenaga untuk mempercepat lari. Sementara Aeson menjeblak pintu karavan membuka, Hel menaruh pemuda yang sekarat itu, dan sang tabib seketika melompat. Namun, seolah desa itu tidak rela mereka beranjak, terdengar suara derap familiar yang menggaung, dan seruan yang menggetarkan gendang telinga. “Papa!” “Oh Tuhan!” lolong Aeson. Wajahnya yang bersimbah keringat memucat. “Aku tidak mampu. Aku harus menyembuhkan pemuda ini! Ayo, Hel, mari pergi sekarang!” “Mampus,” umpat Hel. Apakah mereka sebaiknya lari sekarang? Tentu itu opsi yang dirasa paling masuk akal, tetapi ia sudah tahu kecepatan lari Vehemos Lendir itu. Saat kabut menyibak dan ia sungguhan muncul, sang vehemos kembali terpeleset oleh lumpur. Hel merasa ini kesempatannya. Dengan jantung berdebar, dan mata yang mengawasi sang monster bersusah payah bangkit, ia mengacungkan tangan. Ia meniru cara Aeson untuk berusaha mengeluarkan Energinya sendiri, tetapi tak peduli betapa kuat Hel berupaya, tak ada yang terpancar dari telapaknya. Aeson bertanya di waktu yang tepat “Apa yang kau lakukan?” “Tolong, Guru,” serunya, dan mulai panik saat Vehemos Lendir itu sekarang mampu berdiri. “Katakan bagaimana caranya kau melakukan itu!” Aeson tercengang, tetapi sang tabib tahu ini bukan waktunya untuk memikirkan keputusan Hel. Lagipula sang paman gemetaran hebat sekarang, sebab sang monster menatapnya dengan bingung, dan memanggilnya dengan suara mengerikan itu. Aeson menelan ludah. “Rasakan ... tubuhmu,” jawabnya ragu-ragu. “Fokuslah, rasakan apa saja yang bergerak di dalam tubuhmu. Kau ... kau mungkin akan mengenali sesuatu yang sudah lama tidak bergerak, tetapi ia bergejolak.” Aeson terdengar lebih yakin sekarang. “Dan, gerakkan itu, seperti kau menggerakkan jemarimu.” Hel mengernyit. Itu terdengar sangat sulit, tapi dia mencoba. Hel berusaha merasakan sesuatu di dalam tubuhnya; ia mengenali arus deras darahnya, jantungnya yang berdentam-dentam tak karuan, sensasi gatal dan berkedut-kedut di sepanjang bawah kulitnya karena lama tak berlari, dan ... oh. Hel merasakannya. Mengikuti anjuran Aeson secara harafiah rasanya sulit, dan sang tabib nampaknya memahami itu. Hel mendengar ia berbisik di belakang. “Ikuti saja,” katanya. “Kau pasti bisa.” Mungkin karena keyakinan sang Guru, Hel mendadak merasa percaya diri. Ia kini menatap sang monster yang tak beranjak dari tempatnya, antara takut terpeleset lagi atau bingung dengan tingkah Hel. “Papa!” Hel mendesis. “Aku bukan ayahmu, monster!” geramnya, dan saat itu pula Hel merasakan sekujur lengannya yang teracung berkedut-kedut. Namun, alih-alih memancarkan sesuatu dari telapaknya, terdengar gemuruh dari sumur di belakang sang monster. Seolah menjawab teka-teki Aeson selama ini, atap sumur yang rapuh itu bergoyang karena getaran yang memantul di sekujur dinding sumur. Kemudian, air menjulur keluar, meliuk-liuk bagai sulur tanaman yang menggelepar marah. Aeson menahan napas. “Sekarang!” serunya, dan seolah mereka mampu memikirkan hal yang sama, Hel seketika menggerakkan telapak tangannya. Seiring dengan ketakutannya yang ingin segera pergi, sulur air itu merenggut sang monster dengan cepat. Vehemos itu menjerit saat kepalanya membentur dinding sumur, kemudian terenggut masuk, dan pekikannya menggaung. Hel menarik tangannya tak percaya. Seruan Aeson tak memberinya waktu untuk berpikir. “Ayo!” ujar sang tabib. “Kita pergi sekarang!” Hel mengangguk. Ia segera melompat ke kursi kusir, menarik kekang Perry, dan karavan itu pun melesat dari desa yang terkutuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN