Konservatori Tujuan

1655 Kata
Konservatori adalah kuil peribadatan para penyembah Tuhan, dan di sanalah mereka akan bermalam. Namun, pertama-tama, Hel harus mampu mengerahkan sisa tenaganya mengarahkan Perry mengarungi perjalanan panjang lagi, dan untungnya kuda itu juga ingin bergegas menjauh dari desa. Setelah sekitar satu jam berkuda, stamina Hel perlahan kembali, dan karena Aeson juga sesekali menyodorkan gelas berisi air sulingan kepadanya. Mereka pun sempat menyingkir ke sungai, bersyukur atas cerahnya langit, kicauan burung, dan gemerisik pohon hijau yang damai. Tak ada kungkungan kegelapan, kabut hitam yang menggantung, maupun pekikan para Separuh-Iblis. “Yang tadi itu mengerikan,” komentar Hel retoris, saat ia membasuh kakinya dengan air sungai. Sekarang, terlihat jelas pengaruh Energi pada sang paman. Aeson mengawasi air kotor itu menetes-netes jernih saat mengaliri kaki Hel. Heh. Ke mana endapan itu pergi? Aeson, yang sementara waktu beristirahat dari upaya menyembuhkan pemuda yang sekarat di karavan, hanya duduk merenung di atas batu besar. Jemarinya menggenggam gelas dari tanah liat, dan wajahnya pucat—lebih mengkhawatirkan daripada biasanya. “Kau tak apa-apa, Guru?” tanya Hel seusai menyadari keabsenan respon Aeson. Sang tabib menghela napas. “Ada begitu banyak yang kupikirkan,” katanya, dan itu sudah jelas. Siapa saja yang mengawasi Aeson bahkan hanya sekadar melirik sekilas pun bakal tahu pemuda itu dirundung beban pikiran. Hel mengangkat tangannya yang tadi menggerakkan Energi, lalu berbisik. “Energi air,” ucapnya. “Sesuai dugaanmu.” Dan ini membuat Hel lebih antusias, sekaligus cemas di saat yang bersamaan. Benaknya bercampur aduk akan berbagai gagasan yang saling berlawanan. Baiklah, sudah dipastikan dia adalah Separuh-Iblis sekarang, yang punya kewarasan laiknya manusia biasa, dan tidak menggila macam Separuh-Iblis Asap tadi. Kemudian, ia punya Energi Air, yang sudah pasti berbeda dengan mayoritas prajurit Lord Grimshaw, dan .... “Aku hanya berpikir,” kata Aeson, memecahkan lamunan Hel. “Apakah Separuh-Iblis berasap yang bertarung denganku tadi telah melarikan diri ke Lord Grimshaw.” Gagasannya membuat Hel bungkam. Ia bahkan tak ingin membayangkannya. “Dan, apakah sudah ada penduduk desa yang mampu berubah menjadi Separuh-Iblis sebelum dirinya? Jika demikian ... maka kemungkinan inilah cara Lord Grimshaw membentuk pasukannya—pasukannya sangat besar, dan jumlahnya seolah tak pernah berkurang. Sekelompok prajurit boleh saja tewas terbakar ... tapi bakal ada jiwa-jiwa lain yang menggantikan mereka.” Buku kuduk Hel mendadak merinding mendengarkannya. “Apa?” matanya melotot. “Apakah begitu caranya para prajurit Lord Grimshaw direkrut?” Aeson mengangguk. “Tapi kenapa ada yang bisa bertahan hidup, dan tidak?” Hel menunjuk pemuda yang pingsan di dalam karavan. “Mungkin itulah seleksi alamnya,” gumam Aeson gusar. “Mereka yang mampu bertahan hidup dari rasukan Energi asap hitam, maka mereka secara alamiah cocok untuk medan pertempuran. Tak peduli kau sebenarnya orang lemah atau sudah terlahir di kehidupan penuh kekerasan—jika tubuhmu mampu beradaptasi dengan Energi, maka tak ada masalah. Begitu pula sebaliknya.” Hel ikut-ikutan tercenung. Ia menyingkir ke tepi sungai, dan baru saja akan duduk, tetapi Aeson memutuskan untuk beranjak. “Jangan,” ujarnya. “Kita baru berjarak satu jam dari Desa Kors, Hel. Kita harus tetap menjauh, dan mempercepat waktu kedatangan kita ke Konservatori itu lebih baik.” Hel menghela napas. “Baiklah,” katanya. “Dan apa kau mengenal Guru-guru di Konservatori itu?” “Jangan khawatir.” Untuk pertama kalinya, Aeson menemukan senyum setelah waktu yang agak lama. Ia tak lagi tersenyum semenjak mencurigai bahwa paman yang dibantunya ini kemungkinan adalah antek-antek Lord Grimshaw. “Aku sering menginap di sana jika bepergian jauh di sekitar sini.” Tak hanya Aeson, Hel pun gembira bukan kepalang saat melihat gerbang Konservatori yang dimaksud. Akhirnya, batin Hel, tempat yang manusiawi! Setelah berbagai kekacauan yang dialaminya sejak sadarkan diri di tumpukan mayat itu, Hel—untuk pertama kalinya—tiba di tempat yang memancarkan kedamaian bahkan dari kejauhan. Pertama-tama, Konservatori itu indah. Konon, sebagai tempat beribadah, Konservatori bisa didirikan di mana saja, asal kau percaya Tuhan. Tetapi berdasarkan sebuah buku paling kuno dan paling terlarang untuk dibaca—ini kata Aeson—sebuah dunia lama hancur karena peradaban yang terlalu maju, dan alam yang rusak. Karena itu, pada dunia ini, tak akan ada pengulangan kesalahan yang sama. Maka Konservatori umum didirikan di alam terbuka, dengan pilar-pilar tanpa atap yang dirambati sulur. Sepanjang karavan itu memasuki pintu masuk yang berupa jalan setapak berpagar sesemakan, bunga-bunga serupa tulip dengan putik berpendar cahaya tersebar, menerangi gelapnya jalanan yang dibayangi padatnya pepohonan yang menaungi mereka. Hel bahkan tak perlu mengarahkan Perry—kuda itu seakan-akan pulang ke rumahnya sendiri. Ia melangkah santai, membiarkan sang pria menikmati setiap jengkal hamparan sesemakan yang menghiasi jalanan menuju Konservatori. Papan-papan kayu diukir nama Tuhan, bahkan sesemakan dipotong dengan simbol-simbol pujian kepada-Nya. Hel tak merasa jalan setapak itu begitu panjang—tahu-tahu mereka sudah mencapai susunan pilar-pilar sepanjang jalan, yang juga dirambati sulur lumen—bunga-bungaan bercahaya itu. Sekarang juga terlihat orang-orang dalam jubah berkeliaran. Mereka mengenakan jubah aneka warna, tapi yang jelas, segalanya bersih tanpa noda. Hel mengira yang jubahnya kusam adalah para pendatang, yang tak punya persediaan jubah bersih selain kain-kain yang mereka gunakan sebagai alas tidur. Orang-orang itu berjalan dalam berkelompok, saling menyapa, tertawa seakan-akan tak ada beban dunia, dan saling berpelukan sebelum berpisah. Sebuah rombongan lantas menyeberangi jembatan yang sebagian terendam sungai jernih. Jauh di sisi timur, terdapat kincir-kincir air raksasa. Di sisi barat, bangunan terbuka dari susunan bebatuan sungai dan pilar-pilar saling tumpang tindih, dan di sanalah berbagai kegiatan diadakan. Sementara sungai dan tepiannya, sebagaimana mayoritas Konservatori di dunia berfungsi, adalah pusat bersuci dan area sembahyang. Seorang pemuda, yang lebih polos daripada Aeson, datang menghampiri. “Salaam!” ujarnya. “Pendatang dari manakah engkau, dan mengapa ....” Ia terdiam sejenak, memerhatikan Perry dan ukiran khas pada karavan Aeson. “Mengapa aku mengenal karavan ini?” Aeson membuka pintu karavan, mengejutkan sang pemuda. “Kakak Aeson!” seru sang remaja. Ia melompat girang. “Kakak, lama tak berjumpa!” Hel menyaksikan Aeson melompat turun, menyambut pelukan sang remaja, dan mereka bersuka cita bagaikan dua sahabat cilik yang lama tidak bersua. Hel tanpa sadar tersenyum. Ia merasa seperti seorang ayah yang menyaksikan anaknya bertemu sahabat lama. “Hel adalah asistenku, Said,” kata Aeson, mengisyaratkan Hel agar bergegas turun. Pria itu menyusul dan menyalami Said, sang remaja. “Begitu?” Said menyeringai. Ia memandang Hel lekat-lekat dengan sinar mata yang usil khas bocah. Giginya yang berantakan membuatnya tampak lucu. “Tidak biasanya Kakak Aeson punya asisten! Dan, betapa irinya aku—tapi tak mengapa! Apakah karavannya bisa kubawa ke istal sekarang?” “Ya, tolonglah. Tapi sebelum itu, kami membawa seorang pemuda,” kata Aeson, dan menunjukkan sang pemuda dari Desa Kors yang pingsan. Said membeliak, matanya yang pucat menyala-nyala dalam semangat. Ia berkata dengan penuh kepercayaan diri. “Kebetulan sekali kami baru saja melepaskan dua penduduk Kors yang juga sepertinya, Kakak. Kau tenanglah saja—mari kita turunkan dia di Ruang Tabib dan semoga Tuhan menyembuhkannya.” Sungguh sebuah pembicaraan yang penuh harapan. Hel berpikir bagaimana Tuhan akan menyembuhkan pemuda sekarat itu hanya dengan meletakkannya di Ruang Tabib? Dugaannya mulai meluncur ke mana-mana, tapi kenyataan tidak membiarkannya. Setelah Hel dan Aeson mengikuti Said yang menuntun Perry ke sebuah paviliun tepi sungai, ia lantas sadar maksud dari ucapan Said. Tentu saja, Tuhan menyembuhkan melalui perantara Guru-guru Tabib! Apa yang Hel pikirkan? Bukankah Aeson juga seorang tabib? Setelah sejumlah Guru Tabib berkata akan menangani pemuda sekarat itu, dan Said pergi sembari menuntun Perry ke istal yang bersih di dekat kincir air, Aeson membawa Hel menyeberangi jembatan sungai. Sang paman merasa seperti bocah saat mencelupkan kakinya tanpa alas. Air jernih itu terasa begitu sejuk, dan Hel mendadak ingin mandi sekarang juga. Barangkali ini hanya perasaannya saja, atau memang karena dirinya membawa Energi air, tetapi sekujur tubuh Hel perlahan-lahan membaik. Denyut nyeri dan memar di bawah kulitnya menghilang. Hel bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri; air menjulur dari kakinya, naik merayap hingga menghilang di balik celana, sabuk, kaos, lapisan rompi, dan muncul kembali di lengannya, menyembuhkan tiap memar samar di sepanjang lengan akibat berbagai benturan di Desa Kors tadi. Saat Hel menarik perhatian Aeson untuk menegaskan apa yang terjadi, sang tabib hanya tersenyum. “Ia membersihkanmu.” Hel terbengong-bengong. Aeson berucap seolah-olah sungai ini memiliki jiwa. Setibanya di seberang sungai, Hel menghadapi beberapa paviliun yang lebih lapang, dan sebuah kelompok yang tadi dilihatnya kini duduk melingkar untuk resitasi ayat suci. Di paviliun lain, terlihat dua pria tua dengan jubah kelabu tengah mengobrol, sambil sesekali menunjuk hamparan lembah di balik Konservatori. Saat Aeson mendekat dan memberi salam, mereka membalas, dan tak dipungkiri lagi salah satu dari mereka seketika menambatkan pandangan pada Hel. Sang paman menelan ludah. “Kemari, Hel.” Aeson memberi isyarat. Hel menghampiri dengan ragu-ragu. Woah. Ia merasa ... kotor. “Aes,” kata Guru yang masih memandang Hel. Ia lebih tinggi daripada satunya, berjenggot lebat yang dipangkas rapi, dan sorot matanya tajam. “Datang dengan tamu, eh?” “Dia membantuku selama berkeliling,” kata Aeson santun. Ia bergantian mencium tangan kedua Guru. “Dan ... Saudara Hel pun nampaknya membutuhkan sedikit pencerahan. Ia mengalami beberapa masalah.” “Aku bisa melihatnya.” Jawaban sang Guru tinggi membuat Hel agak waswas. Ia tidak tampak cukup bersahabat. Sementara Guru di sampingnya, punya wajah yang senantiasa tersenyum, dan selama sesaat mereka berdua tampak begitu berkebalikan. Seolah-olah mereka berperan laiknya tetua dan penjaga keamanan Konservatori ... dan sepertinya memang begitu. Hel menyadari bahwa Guru tinggi yang mengawasinya tanpa cela itu mengenakan sabuk yang tebal, dan sebuah belati tersembunyi di balik jubahnya. Sementara Guru berwajah santun di sampingnya memiliki badan yang membungkuk karena usia, dan ujung jemarinya menghitam karena terlalu banyak tercelup tinta. “Kalau begitu kau tak perlu khawatir,” Guru Tetua itu berkata. Ia tersenyum lebar, menampakkan giginya yang masih utuh dan cemerlang. “Pertama-tama, engkau perlu bersuci dulu.” Hel mengangkat alis. “Baiklah,” katanya, dan mengira itu hanyalah proses lumrah, tetapi menyadari bahwa mata Aeson membulat dan seringai tipis mampir di wajah Guru Kepala Keamanan, Hel mengerjap. Tunggu. Apa ... maksudnya dengan bersuci?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN