Hel menjerit.
Tubuhnya mengejang, kesepuluh jarinya menegang, dan urat lehernya menonjol. Wajahnya merah padam saat memekik nyaring. Tangan-tangan para Guru mencengkeramnya agar tetap berlutut di sungai, tapi tak peduli bagaimana doa-doa dirapal di sekelilingnya, Hel hanya merasakan tubuhnya berkedut-kedut seolah akan meledak.
Kepala Keamanan mengelus jenggotnya. Ia bertanya pada Aeson yang menyaksikan di sampingnya. “Dia Separuh-Iblis, benar?”
Aeson, yang sama sekali tak berkedip saat menyaksikan sang paman meraung-raung, sedangkan air sungai di sekitarnya mulai merembes hitam, menelan ludah. “Ya.”
“Dia kotor sekali.”
Aeson bergumam. “Dia ... kemungkinan besar adalah antek-antek Lord Grimshaw.”
“Apa?”
Kepala Keamanan tak bisa menahan diri untuk tidak melotot kepada tabib muda itu. Sementara Aeson hanya mengatupkan bibir rapat-rapat. “Kenapa kau baru ...?” Kepala Keamanan tak mampu menyelesaikan kalimatnya, karena Hel baru saja menjerit begitu keras, sampai-sampai mereka mengira kedua bola mata pria itu copot. Kenyataannya, asap hitam membanjir, mengotori sungai jernih yang membuat para Guru yang menahan Hel seketika mengibrit. Mereka melompat ke tepi sungai, meninggalkan sang pria ambruk tercebur.
“Iblis!” seru seseorang.
Sementara Guru Tetua menggeleng pelan. Ia mendekat dan mengangkat tongkatnya, memberi uluran tangan kepada Hel yang mencoba bangkit. Orang-orang di sekitar menahan napas saat menyadari bola mata Hel berpendar terang sesaat, sebelum kembali meredup seperti semula.
Sang tetua mengangkat dagunya samar. “Separuh-Iblis, Tuan Heldrado?” katanya pelan. “Maukah engkau memberitahu siapa dirimu sebenarnya?”
“Aku ... aku tidak tahu.”
Aeson memutuskan untuk ikut campur. Sang tabib muda melangkah mendekat. Ia mencelupkan kakinya ke sungai, menyibak air yang masih terkontaminasi asap hitam, dan membantu Hel berdiri. Ia berbisik, “Apakah kau keberatan jika aku menceritakannya?”
Hel mengerang. “Terserah kebijakanmu,” katanya, dan pria itu tersengal-sengal saat Aeson memapahnya ke tepi sungai. Beberapa Guru yang tadi sempat kabur kini mendekat lagi, memohon maaf kepada Hel, dan bergegas membawanya ke paviliun terdekat.
Aeson berbalik menghadap Guru Tetua. “Ia lupa ingatan, Guruku yang Bijak,” katanya. “Atau, lebih tepatnya, ingatannya dihapus. Ia tak mampu mengingat berbagai peristiwa kehidupannya selama beberapa tahun terakhir, tetapi tidak seutuhnya, melainkan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya, statusnya, dan orang-orang yang berhubungan dengannya selama itu. Selebihnya”—Aeson terdiam sejenak, memastikan kondisi sang paman—“ia ingat. Ingatannya tentang masa kanak-kanak dan remaja masih utuh dan tidak mengalami bahaya apa pun.”
Kepala Keamanan mendekat. “Grimshaw barangkali membuangnya.”
Guru Tetua tak buru-buru menyimpulkan. Ia bertelekan pada tongkatnya, mengawasi Hel yang kini dibalut jubah dan pakaian baru, sementara seorang Guru membawa pakaian basahnya ke tempat lain. Hel menggigil dan seseorang menyeduhkan teh mengepul panas untuknya.
“Maukah kau bercerita lebih banyak, putra Aes?” tanya Guru Tetua. “Terangkan padaku segala hal yang kau tahu tentangnya, baik yang ia katakan, maupun yang kau lihat dengan mata kepalamu sendiri.”
Aeson mengangguk. Bersama sang tetua dan Kepala Keamanan, ia melangkah menuju paviliun Hel dan bercerita panjang lebar. Kedua Guru itu mendengarkan dengan seksama, tetapi berbeda dengan sang tetua yang diam saja, Kepala Keamanan tidak berusaha menyembunyikan ekspresinya. Semakin jauh Aeson bercerita, semakin banyak kerutan di dahinya.
“Seharusnya kau mengatakannya dari awal, putra Aes,” kata Guru Tetua akhirnya. Ia menghela napas. “Penyucian itu bisa membunuhnya.”
Aeson tercenung. “Maafkan saya.”
“Meminta maaflah kepadanya.” Guru Tetua mengedikkan dagu ke arah Hel. Saat ini seorang Guru sedang menunjukkan kue-kue manis untuk disantap Hel, dan pria itu mengambil roti tipis dengan isian kacang tumbuk. “Kau juga sudah membiarkannya ragu-ragu sementara kau adalah seorang panutan satu-satunya baginya.”
Aeson menurunkan pandangan, terpaku pada kedua kakinya yang berjalan seirama dengan kedua Guru di kanan kirinya.
Kendati mereka sudah tiba di tepi paviliun, pembicaraan terus mengalir. Sekarang, Kepala Keamanan mengangkat suara. “Sedikit sekali kemungkinan keberhasilan untuk membersihkan kegelapan yang mengakar.”
Guru Tetua tak mengangguk, tetapi ia menyahut. “Kemungkinan ia untuk berakhir tewas lebih besar ... untuk saat ini.”
Hel menatap mereka dengan nanar. Ia mampu mendengarkan pembicaraan itu sekarang, dan dari ekspresinya jelas terlihat bahwa sang pria tersinggung.
Sungguh, apakah tak ada kesempatan baginya untuk membersihkan diri? Dia bahkan tak paham seutuhnya akan dosa yang ia lakukan—ia tersadar dengan tubuh yang sudah legam secara fisik maupun mental.
Hel menelan ludah. Mengabaikan berpasang-pasang mata yang menatap kepadanya, ia menambatkan pandangan pada sang tetua. “Apakah ... apakah aku tak punya kesempatan untuk menjadi suci? Maksudku, setidaknya, membersihkan diri?”
Sang tetua tersenyum. “Tentu saja ada, Saudara Hel,” jawabnya santun. “Tuhan Maha Pemaaf, kecuali jika engkau menyekutukan-Nya. Selama engkau yakin kepada Tuhan dan mau menjadi lebih baik setiap saat, akan selalu ada kesempatan untukmu.”
“Tapi kalian bilang kemungkinan diriku untuk sembuh ... kecil.”
“Itu,” kata sang tetua, “hanya berlaku jika engkau tetap melakukan apa yang telah kau lakukan.”
Hel refleks menegakkan punggung. “Aku tidak akan melakukannya lagi!” suaranya meninggi. Matanya melotot karena panik. “Aku bahkan tidak mampu mengingat apa-apa sampai sekarang, dan aku tidak punya keinginan sama sekali untuk mengulang kesalahan yang kemungkinan telah kulakukan. Aku—aku ingin perubahan!”
“Bagus,” gumam Kepala Keamanan.
“Tolong.” Aeson melangkah maju. “Tolong bantulah ia, wahai Guru. Saudara Heldrado telah membantu saya berulang kali. Saya tahu ia tidak akan mengulang masa lalunya.”
Sang tetua tidak buru-buru menjawab, dan begitulah ia, selalu membutuhkan waktu meski beberapa detik saja untuk memikirkan setiap kata yang akan diucapkan. Kedua tangannya bertumpu pada ujung tongkat, dan jemarinya saling mengetuk. Setiap detik yang berlalu, dan jengkal-jengkal kesenyapan yang meliputi paviliun dan para Guru yang menanti ucapan Guru Tetua selanjutnya, membuat Hel merasa tercekik.
“Kalau begitu, pikirkan ini,” ujar sang tetua lambat-lambat. Ia memastikan Hel akan terfokus pada ucapan selanjutnya. “Jika, andaikan saja, Tuhan kemudian mengembalikan ingatanmu ... entah melalui tangan Lord Grimshaw, seseorang yang melakukannya, atau dari perantara siapa pun ... kemudian kau menyadari bahwa kehidupan lamamu justru adalah kehidupan yang kau inginkan daripada sekarang, apa yang akan kau lakukan?”
Hel membuka mulut, namun sebelum suaranya keluar, Guru Tetua kembali menambahkan. “Ketahuilah bahwa engkau memiliki Energi, Saudara Hel, dan bukan sekadar Energi biasa. Engkau membawa Energi murni; Energi air, yang hanya segelintir saja yang diizinkan memilikinya.” Ia terdiam sejenak, mempelajari ekspresi Hel yang terkejut. “Saudara Aes mungkin belum mengatakannya kepadamu. Tetapi hanya orang terpilihlah yang boleh memiliki Energi murni. Seperti Guru Energi, misalnya. Atau, bagi kaum Separuh-Iblis, adalah mereka dengan ... posisi yang cukup tinggi di kelasnya.”
Hel tak tahu harus menjawab apa. Ia melirik Aeson. “Aeson bilang ada kemungkinan bahwa aku merupakan kapten dari pasukan prajurit itu.”
“Bisa saja demikian.” Tetua itu mengangguk. “Tapi hanya orang-orang dari masa lalumu dan Tuhan saja yang tahu kebenarannya. Jangan percaya seutuhnya pada asumsi; kau akan tersesat.”
“Sehingga,” ulang sang tetua, “Jika suatu saat nanti kau menemukan identitas lamamu kembali, dan masih tersimpan keinginanmu untuk menghidupkannya sekali lagi, apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan itu berubah. Sang tetua menempatkan Hel seolah-olah dia masih menginginkan kehidupan lamanya. Hel bahkan tidak tahu apa-apa selain desa yang telah berubah menjadi tempat kelahiran seorang vehemos dan sejumlah Separuh-Iblis, atau pasukan prajuritnya yang terbakar gosong.
Bagian mana dari kehidupan lama yang ia ingin jalankan kembali, coba?
Tapi, kenyataan bahwa Hel ternyata memiliki Energi murni dan menegaskan bahwa dia bukan sekadar prajurit biasa, ini membuatnya goyah. Bagaimana bisa ia memiliki Energi semacam itu? Apakah benar dia hanya sekadar kapten saja?
Hel menjawab. “Aku tidak ingin—“
“Pikirkan itu baik-baik,” sang tetua menyela, membuat Hel tercenung. “Kembalilah kepadaku jika engkau sudah siap.”
Tapi—tapi, bukankah Hel sudah siap sekarang? Ia terhenyak saat sang tetua pamit dari paviliun bersama Kepala Keamanan, dengan pesan-pesan sederhana seperti mengingatkan para Guru untuk menyediakan kamar dan makanan bagi Hel.
Apakah karena ia tidak segera menjawab tadi? Apakah hanya karena itu?
Untungnya, Aeson tidak ikut beranjak. Ia terdiam, mengawasi sang paman yang terpekur di posisinya. Hel pun mengambil sepotong kue lagi, memakannya dengan kalut, hingga Aeson menyarankannya agar segera beristirahat di paviliun tamu saja. Aeson masih perlu berkeliaran, termasuk mengecek kondisi pemuda Korson yang sedang diobati di Ruang Tabib.
+ + +
Paviliunnya bagus, cocok dipakai untuk merenung.
Hel terbangun dari tidur pendeknya. Ia telah mengenakan pakaian para Guru yang lembut dan wangi, tidur di dipan rendah berlapis kain-kain tebal, dan selimut tipis yang cukup menghangatkan. Bagi Hel, ini adalah kemewahan sederhana setelah hari-hari dan malam-malam yang melelahkan.
Ia mengerjapkan mata untuk menghalau kantuk. Matanya memandang kubah paviliun dari bebatuan sungai yang ditumpuk rapi. Tanaman lumen menjulur dari pilar-pilar yang menahan kubah kecil itu, terjalin pada pucuk kubah hingga membentuk kandelir alami yang cukup rendah untuk disentuh kepala saat berdiri. Pendar cahayanya hangat dan tidak menyilaukan mata.
Hel lantas menoleh, mengamati lubang-lubang jendela yang hanya dilapisi kain sarung. Di dekat pintu, ada meja rendah untuk segala macam; bersantap, membaca perkamen, menulis sesuatu—apa pun yang kau inginkan. Di sebelahnya, rak-rak kayu bertingkat yang semula kosong kini terisi beberapa barang standar; setumpuk jubah harum, dua mangkok tanah liat bersih, sebuah cangkir, satu galon air sulingan, dan gulungan perkamen yang berisi kisah-kisah religius. Hel sempat teringat dengan gulungan perkamen Drest yang masih tersimpan di bawah rak karavan, meski ia tidak berkeinginan untuk mempelajarinya di sini.
Hel bangkit. Ia mengintip dari jendela dan menyadari langit yang mulai semburat jingga. Ia bergeser untuk menuangkan air sulingan ke gelas saat pintunya diketuk.
Aeson muncul. “Ah, Hel, kau sudah bangun,” sapanya.
“Ya,” jawab Hel sekenanya, karena sekarang ia meneguk minum.
“Mari bersiap-siap,” kata Aeson lagi. “Kita akan makan malam sebentar lagi, kemudian Sembahyang Malam selepas itu.”
“Ya,” ulang Hel, dan karena Aeson tidak beranjak setelah ajakan itu, ia menambahkan. “Apa kau sudah tidak jengkel kepadaku?”
Aeson mengerjap. “Apa?”
“Kau sempat gondok,” kata Hel, bagaikan seorang paman yang mengingatkan keponakannya akan kekesalan konyol pada pagi lalu. “Kau mendiamkan aku hingga kita mencapai Desa Kors.”
“Ah.” Aeson nampak malu sekarang. “Ya ... itu ... adalah kesalahanku,” katanya, membuat Hel terkejut. Bagaimana itu bisa menjadi kesalahan sang tabib? “Tidak seharusnya aku memperlakukanmu demikian, Hel, ketika engkau telah memutuskan untuk memercayaiku atas berbagai hal.”
Hel menyeringai sekarang. Nampaknya kedamaian kehidupan Konservatori telah mengembalikan kewarasan Aeson pula. Dia boleh saja seorang Guru Energi, tetapi dia masih muda dan emosinya tidak setenang para tetua—dihadapkan dengan kotornya dunia luar jelas membuat Aeson lebih mudah untuk goyah.
“Kumaafkan,” kata Hel, dan ia tak pernah merasa lebih bangga saat mengatakan hal ini. Aeson pun mengangguk lega. “Kalau begitu, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
“Ya?”
“Mari kita bicara dengan tenang,” kata Hel, mengisyaratkan Aeson agar tidak bertahan di ambang pintu terus-terusan. “Sebab aku ingin membicarakan hidupku. Ucapan Gurumu benar-benar menusukku.”