Aeson tersenyum. “Kalau begitu mari kita bicara sembari menuju aula makan,” katanya. “Lokasinya cukup jauh, kau akan punya banyak waktu untuk membicarakannya.”
Hel mengangkat alis. “Baiklah,” kata sang paman menyanggupi. Ia pun bergegas mengambil satu jubah baru dan mengalungkannya di bahu, kemudian menyusul Aeson yang telah menunggu di luar. “Omong-omong,” ujarnya saat menutup pintu. “Barang-barang Drest yang masih kubawa itu, apakah sebaiknya aku keluarkan di sini?”
“Untuk apa?”
“Barangkali ada yang tahu sesuatu mengenai segala barang itu? Aku penasaran dengan kehidupan Drest.”
Aeson menghela napas. “Kau mencurinya. Tidak ada yang lebih pantas daripada engkau mengembalikannya kepada Drest.”
“Aku tidak bisa.” Hel bersikukuh. “Kehidupan Drest menarik perhatianku sejak awal.”
Seandainya mereka masih berada di dunia luar Konservatori, Aeson barangkali akan mencemoohnya sekarang. Namun sang tabib muda hanya tersenyum masam, dan mereka pun mulai melangkah santai menyusuri jalan setapak yang berpagar sesemakan lumen. Hel pernah melihat tanaman ini di hutan sebelumnya, tetapi mereka tidak tumbuh pada sesemakan. Apakah tanaman ini bisa tumbuh di mana saja? Memori lamanya tidak menjelaskan banyak mengenai lumen.
Hel nyaris lupa untuk memulai pembicaraan karena sibuk mengagumi kolam-kolam kecil berundak yang tersebar pada beberapa titik, terlindungi oleh sesemakan lilac yang merekah subur-suburnya di awal musim dingin. Aeson lantas menyikutnya hingga Hel seketika berkomentar, “Oh,” dan sang paman terkekeh. “Aku memikirkan banyak hal, Guru.”
“Sepantasnya demikian.”
Hel mengernyit. Bocah ini, kalau dipikir-pikir, mulutnya sedikit ... terlampau jujur. Hel penasaran bagaimana Aeson tumbuh. Dan bukankah panggilannya adalah Aeson? Itu seharusnya sebuah nama marga. Aeson—pemuda dari Aes. Hel tak pernah mendengar nama wilayah Aes. Apakah jauh dari sini?
“Pertama-tama,” kata Hel dengan dagu terangkat. “Aku berterima kasih karena engkau membelaku di depan Guru-gurumu, terutama yang berjenggot tajam itu.”
“Ah, Guru Jasar?” gumam Aeson, sedikit terhibur dengan pilihan kata sang paman. “Ya, memang sudah tugasnya untuk memastikan setiap orang asing yang masuk ke Konservatori bukanlah seorang pengacau.”
Hel lantas teringat dengan sungai yang keruh karenanya. “Bagaimana dengan sungai itu?” tanyanya dengan berhati-hati. “Asap keluar dari tubuhku dan mengotorinya. Dan ... tunggu. Apakah itu berarti aku juga punya Energi lain?”
Hel menatap Aeson dengan mata membulat, sementara sang tabib muda mengalungkan pergelangan tangannya di belakang punggung. Mereka baru saja turun dari jalan setapak, dan kini menginjak jalan utama Konservatori, berupa tanah berselimut kerikil. Rombongan kecil murid perguruan melintas dan menyapa Aeson serta Hel.
“Ada begitu banyak hal untuk dibicarakan. Bukankah begitu, Hel?” kata Aeson pelan. “Tetapi mari kita dengarkan apa yang ingin kau ucapkan sedari tadi—kita bisa membicarakan yang lainnya nanti.”
Sikap Aeson menyiratkan seolah-olah ia juga sudah membicarakannya kepada Guru Tetua selama Hel terlelap tadi. Yah, Hel tak masalah—mereka memang tampaknya lebih tahu akan situasinya saat ini, dan biarlah mereka yang berpusing-pusing memikirkan nasib Hel.
“Menyoal apa yang ditanyakan Guru Tetua tadi pagi,” kata Hel muram. Tangannya tanpa sadar mengepal saat mengingat belasan kata yang membuat hatinya tertohok. “Seandainya aku ingat masa laluku lagi, dan ternyata itu adalah kehidupan yang kuinginkan. Sebab aku pun memiliki Energi murni, yang menurut kalian, itu berarti aku punya kedudukan di mata ... Grimshaw.”
Aeson bergumam membenarkan, meski ia juga tidak menyukai gagasan itu seandainya sungguhan terjadi. Guru Tetua benar—memercayai dugaan itu memang tidak menyenangkan. Gelayut ketidakpastian menghantui.
“Tapi kupikir,” kata Hel. “Sebagai seorang Lord terkuat yang menguasai negeri, kupikir ia sudah pasti memiliki banyak armada. Kita menyaksikan sendiri bagaimana ia membuat pasukan sementara yang lain tumbang—dia pasti juga punya banyak sekali kapten dan jenderal dan apalah itu.”
“Mm, ya ....”
“Sehingga,” kata Hel, kali ini lebih mantap. “Kehilangan satu kapten pun pasti tak masalah baginya.”
Mereka kini meniti sebuah jembatan kecil. Hel menyadari bahwa setiap jembatan tidak melengkung laiknya jembatan pada umumnya; jembatan-jembatan di Konservatori datar dan dibiarkan terendam air sungai kira-kira setinggi mata kaki. Hel menjinjing celananya, tetapi para Guru tetap membiarkan ujung jubah mereka menjuntai basah. Lapisan kerikil pada tanahlah yang akan membantu mengeringkannya.
Mereka memang tidak menghindari alam. Mereka begitu berhati-hati untuk tidak mengulang kesalahan para manusia kuno di Dunia Lama.
“Benar,” kata Aeson pelan. “Meski lenyapnya satu kapten tidak membuat Lord Grimshaw kesusahan, tetapi kehilangan satu Separuh-Iblis dengan Energi murni mungkin akan sedikit berdampak ... atau kami harap begitu. Apa pun yang bisa mengurangi kekuasaannya, meski efeknya hanya sejentik debu saja, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Hel termenung. Ucapan Aeson baru saja membuatnya sedikit bersemangat.
“Dengar,” katanya. “Karena kau sudah berkata seperti itu, maka aku ingin mengutarakan keinginanku. Guru, kau tahu—aku ingin mengembalikan desa-desa yang telah dirusak oleh Grimshaw dan pasukannya. Terutama desa-desa yang telah kami lewati sebelum pasukanku terbakar. Aku ingin menghancurkan tempat ritual sialan itu, membangun desanya sebisa mungkin, dan memulangkan para penduduk aslinya ke sana. Mereka tak mungkin menyesaki desa-desa lain untuk selamanya.”
Aeson membeliak. “Wah, itu ....”
“Apakah mustahil?” tanya Hel penasaran. Ayolah, padahal ia sudah bersemangat. Jangan lagi ada alasan yang bisa meruntuhkan kegembiraannya. Setidaknya, sekali ini saja! “Meski ... dengan seorang Guru sepertimu? Bukankah kau Guru Energi, dan kau bisa mengendalikan beberapa Energi?” Hel bertanya lagi, kali ini dengan penuh kehati-hatian. Aeson pernah bilang bahwa tidak sembarang Guru Energi bisa membawa banyak Energi sekaligus, dan pemuda ini telah menunjukkannya; ia sendiri berulang kali mengeluarkan Energi berbeda sejak dahulu.
Aeson, tentu saja, bukanlah sekadar Guru muda biasa.
Aeson mengatupkan bibir. “Ya, bisa saja ... semua bisa saja terjadi kalau Tuhan mengizinkan,” jawabnya pelan. “Namun, di atas itu semua, yang terpenting adalah dirimu. Kau pun harus bisa menguasai Energimu dengan baik, walau tampaknya ada sekelumit Energi asap.”
“Sungguh?”
Aeson mengangguk. “Tadi Guru Tetua mengatakannya kepadaku,” ujarnya. “Bahwa setiap Energi itu eksis dari tangan Tuhan, sebagaimana kita semua. Dan itu berarti, setiap Energi memiliki sifat netral ... tinggal bagaimana kita para pembawanya mengolah. Apakah kita menggunakannya untuk kebaikan, atau kejahatan? Energi asap ... meski telah berstigma mematikan karena bawaan dari Lord Grimshaw, tidak diciptakan Tuhan sejak awal untuk itu.”
Mereka berhenti melangkah sejenak, tepat sebelum melewati deretan paviliun di tepi sungai. Aeson menatap Hel dengan sungguh-sungguh. “Kau, Hel,” ujarnya. “Bisa saja menggunakan kedua Energimu dengan sebaik-baiknya, dan melawan stigma buruk yang telah melekat padamu. Gunakan Energi asap itu untuk membantu pembangunan desa atau semacamnya. Apa pun; asal kau gunakan untuk kebaikan.”
Hel mengangguk mantap. “Aku akan mempelajarinya,” katanya. “Meski aku yang dahulu mungkin telah mahir menggunakannya, tetapi aku akan mempelajarinya dari nol sekarang.”
Aeson juga mengangguk-angguk, bahkan dengan senyum antusias sekarang. “Benar,” katanya sumringah. “Kalau begitu mari kita sampaikan ini kepada Guru Tetua setelah Sembahyang Malam.”
+ + +
Tidak sulit menemukan Guru Tetua selepas Sembahyang Malam. Selaiknya Guru paling senior di sana, yang telah mengabdikan dirinya selama puluhan tahun kepada Tuhan, Guru Tetua sedang menggumamkan berbagai pujian Tuhan di salah satu paviliun. Paviliun itu cukup kecil, barangkali hanya cukup dipakai sembahyang dua atau tiga orang saja, tetapi memiliki pemandangan paling spektakuler. Saat Aeson dan Hel menapak ke lantai paviliun yang dingin, Hel menyadari bahwa paviliun itu menghadap langsung ke arah lembah. Cekungannya yang dalam dan menampilkan aliran sungai bagai ular kecil membuat Hel terbengong-bengong.
Wah, dia mau menjadi Guru kalau tiap hari menghadap pemandangan sehebat itu. Matahari terbenam tepat di balik tebing-tebing lembah, dan langit masih semburat jingga keunguan di ufuk barat. Pada langit timur dan di atas kepalanya, ribuan bintang telah jatuh berkilau pada bentangan gelap.
“Saudara Heldrado?” Guru Tetua menelengkan kepalanya, dan tidak barang sedetik pun mulutnya berhenti membisikkan nama Tuhan di sela-sela menanti jawaban. “Apa kau sudah siap sekarang?”
“Aku sudah memikirkannya masak-masak,” kata Hel mantap. “Meski aku tidur, aku bisa memikirkannya dengan baik.”
Guru Tetua tersenyum tipis. “Engkau memang terlihat membutuhkan istirahat yang cukup untuk bisa berpikir lebih jernih.” Sang tetua lantas beranjak. “Mari dengarkan apa yang ingin kau sampaikan.”
Mereka lantas duduk melingkar di tengah ruangan, dan Hel mendapat kesempatan untuk memandang ke arah lembah di bawah tebing Konservatori. Aeson dan Guru Tetua sama-sama membelakangi pemandangan itu, membuat Hel tersadar betapa mereka mendapat kemewahan ini kapan saja mereka inginkan. Pantas saja Aeson sering mampir kemari!
“Aku ingin berubah,” kata Hel tanpa banyak penjelasan. Matanya nyaris melotot saat bertatapan dengan sang tetua yang tersenyum tipis. “Aku tidak peduli seperti apa masa laluku, dan seandainya aku punya pangkat tinggi pun—aku tak peduli. Toh dia penguasa, sudah pasti ada begitu banyak kapten, jenderal, atau Separuh-Iblis berbakat yang membantunya. Kehilangan satu takkan berarti baginya, dan aku takkan mengulang kesalahan yang sama.”
Senyum tipis di bibir sang tetua melebar, seolah-olah ia ingin menenangkan emosi sang pria yang meledak-ledak. “Begitu,” katanya lambat-lambat. “Barangkali ... aku perlu mengingatkanmu, bahwa Tuhan menyukai orang-orang yang bertanggung jawab dengan tekadnya.”
Hel menelan ludah. Pembicaraan menyangkut Tuhan membuat perutnya sedikit mulas. “Ya.”
“Tetapi Tuhan pun menghargai mereka yang tertatih-tatih—jatuh bangun untuk mencapai tujuannya. Karena ... yang terpenting adalah ... prosesmu.”
Hel mengangguk pelan. Ia kurang paham.
“Sehingga,” kata sang tetua dengan senyum terlebarnya, menampakkan barisan gigi yang rapi itu. “Jika kau sudah memiliki tekad untuk berubah menjadi orang yang baik, kemudian satu per satu masalah dari masa lampaumu datang menerjang hingga menjegalmu jatuh ... maka ingatlah; tujuanmu adalah menjadi orang baik.”
Aeson bahkan ikut mengangguk-angguk pada bagian ini, dan Hel merasakan kelegaan membanjirinya.
“Kalau begitu,” kata Hel. “Apa engkau menerima tekadku sekarang?”
Sang tetua tak buru-buru menjawab. Ia memelajari ekspresi Hel sejenak, lalu berkata dengan pelan. “Pertanyaanku tadi pagi hanya perantara saja. Engkaulah yang memutuskan untuk tetap bertahan pada pendirianmu, dan Tuhan mengizinkannya. Ini semua atas kehendak Tuhan.”
Hel tidak tahu apakah dia dahulu juga makhluk yang religius—dan kalau pun demikian, maka tidak mungkin ia melayani seorang penguasa kegelapan—tetapi Hel sekarang optimis sekali untuk menjadi bagian dari para Guru ini. Ia bahkan tak masalah disebut sebagai murid paling bodohnya Aeson, seorang Guru yang sepuluhan tahun lebih muda darinya.
Hel sudah terlanjur geram pada berbagai kerusakan yang dilihatnya. Mengingat akan vehemos yang memanggil-manggilnya ‘Papa’ pun membuat Hel gemetaran. Ia tak habis pikir akan dirinya di masa lalu yang sanggup menghadapi kehidupan sekelam itu.
“Baiklah,” kata sang tetua, kali ini kepada Aeson. “Kau bisa memulainya bersama Saudara Heldrado, Putra Aes. Sembari melakukannya, dia pun akan memahami segala hal yang kita bicarakan tadi.”
“Baiklah.”
Hel mengangkat alis saat Aeson beranjak. “Apa yang akan kita lakukan?”
Hel tampaknya telah memberikan pertanyaan yang tepat, karena sekarang Aeson memberinya seringai geli. “Tentu saja kita akan melatihmu agar terbiasa menggunakan Energi,” katanya, memunculkan semangat pada sang paman. “Dan,” tambah Aeson, dan ia terlihat seperti akan menahan tawa. “Kau akan memulainya dengan Guru Jasar—dia adalah pengajar Energi terbaik di Konservatori ini.”
Senyum Hel melenyap.