Irish menghela napas saat sampai ke apartemennya. Ia lelah bukan main. Fisiknya dan psikisnya sangat lelah. Ia berperang dengan kebencian yang dirasakannya pada Daren dan fisikya lelah karena semalaman ia harus menemani Aarav dan Alissa, bahkan ia juga memastikan Daren masih diperiksa kepolisian. Hari ini, sepertinya ia akan ke kantor di siang hari. Tubuhnya menyuruh untuk beristirahat sejenak—untuk sementara ia ingin melupakan permasalahannya sejenak. Irish tidak tau sudah berapa lama ia tertidur, sampai dering teleponnya yang sedari tadi ia abaikan kini sangat mengusik tidurnya. Ia bahkan belum mengganti bajunya semalaman. Irish mengusap wajahnya dan mengerang pelan—kesal karena tidurnya terganggu. “Halo?” Ia tidak melihat siapa nama yang tertera di ponselnya. “Apa-apaan, Irish? Iris

