Selama dua minggu pasca kejadian memalukan di kantin sekolah. Theo benar-benar membuktikan ucapannya, pria itu semakin dingin padanya. Sama sekali tak menganggap dirinya ada meskipun mereka tinggal di atap yang sama.
Tak hanya itu, lebih parahnya nyaris semua siswa perempuan di sekolah Laura, merundung nya. Mencaci dan mengerjai Laura di setiap ada kesempatan. Tentu saja hal itu semakin membuat gadis polos ini merasa tersudutkan. Di bully oleh teman-temannya sendiri, itu sangat menyakitkan bukan?
Jika kalian bertanya tentang pembelaan guru? Jawaban adalah tidak ada. Bukankah sudah dijelaskan sejak awal jika dunia berpihak pada yang punya uang dan memiliki tampilan menarik. Bagi kaum miskin dan buruk rupa sepertinya siapa juga yang mau membela?
Menatapnya saja sudah ingin muntah.
Dari semua siswa perempuan yang merundung nya hanya satu siswi yang dirasa ingin sekali membunuh Laura. Dia adalah Lucy Baker, fans nomor satu dari Theo Robinson. Berkali-kali, Laura mendapat bullyan darinya. Mulai jebakan tepung, sobeknya seragam sekolahnya dan kini yang lebih parahnya gadis itu tengah mencekiknya di atap sekolah.
"Le.. Lepaskan aku, Lucy.." rintih Laura sembari menahan sesak di area lehernya akibat cengkeraman Lucy saat ini. Laura sudah menitihkan air matanya sejak tadi, memohon pada gadis berambut pirang itu. Tapi semuanya nihil, Lucy tak mendengarkan ucapannya dan justru mencemooh dirinya.
“Lepas kau bilang?” ujar Lucy dengan senyum sinis bak setannya. Gadis itu bahkan tak menunjukkan raut wajah iba sama sekali. “Bukankah sudah aku peringatkan padamu untuk menjauh dari Theo, gadis buruk rupa ! Sialan!” teriak Lucy begitu nyaring di bagian akhirnya.
Gadis itu marah karena ia melihat Laura selalu berusaha menempel pada Theo dan hal itu membuatnya muak. Bagi Lucy, Theo Robinson itu adalah miliknya. Dan Laura adalah lalat kotor yang harus ia lenyapkan.
Laura gadis berkacamata kuda itu hanya memejamkan matanya kuat-kuat. Sungguh ia ketakukan sekali saat ini. Obsesi Lucy terhadap Theo benar-benar membuat gadis itu gila dan hilang akal hingga berniat membunuhnya. Meskipun Laura sadar jika saat kematiannya pun tak akan ada yang merasa kehilangan, namun setidaknya bisakah Tuhan memberikan hidup lebih lama lagi? Ia ingin mengejar impiannya.
‘Mom, Dad! Laura takut’ cicit gadis itu dalam hatinya.
“Aaaaa…” teriak Laura sekali lagi karena Lucy kembali mendorongnya. ‘Siapapun tolong aku!’ pekik Laura dalam hatinya.
Laura membuka matanya sedikit, langit hari ini terlihat cerah sekali. Apa ini akhir dari hidupnya? Apakah ia akan pergi menemui kedua orangtuanya? Apa hari ini adalah hari terakhir ia menghidup udara di bumi? Ujar Laura bermonolog dalam hatinya. Oh, bahkan rasanya oksigen di sekitarnya saja sudah mulai menipis.
“MATI SAJA KAU GADIS BURUK RUPA!” teriak Lucy dan kembali mencekik dan kembali mendorong Laura. Bersamaan dengan teriakan itu Laura memejamkan matanya tak sadarkan diri.
BRUK
“APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? JALA*G!!” teriak seorang siswa yang lain. Yang kini tengah menatap tajam ke arah Lucy yang tersungkur di sebelahnya. Sedangkan Laura, gadis itu merosot ke bawah dan pingsan.
Siswa berjenis kelamin laki-laki itu tampak menatap ke arah Lucy begitu sengit, tercetak jelas bagaimana amarahnya saat ini. Berjalan mendekat pada Lucy dengan aura dingin.
Awalnya Lucy ingin marah karena berani sekali seseorang merusak rencananya yang ingin meleyapkan gadis kutu buku dan buruk rupa itu. Namun, kini wajahnya terlihat terkejut sekali, matanya membola sempurna melihat sosok yang mendorongnya itu.
“Th.. Theo?” cicit Lucy disertai wajah takutnya.
PLAK
Sebuah tamparan keras melayang begitu saja tepat di pipi sebelah kiri milik Lucy, membuat gadis itu tersungkur kembali.
Tanpa segan Theo melayangkan satu tamparan keras setelah pria itu mencapai jarak yang cukup dengan Lucy. Bahkan kini pria itu menarik kerah milik gadis yang selalu menempel padanya itu. Bahkan, gadis itu adalah gadis yang memuaskan hasratnya. Tidak, bukan ia yang meminta namun Lucy yang menawarkan tubuh padanya.
“Kau…” desis Theo begitu sengit sembari mencengkeram erat kerah seragam sekolah milik Lucy. Tak ada kelembutan apapun di mata pria itu. “Apa kau sebodoh itu? Kau bisa membunuhnya, sialan!” teriak Theo sembari mendorong tubuh Lucy hingga membuat wanita itu terjatuh kesekian kalinya.
Lucy, gadis yang penuh obsesi itupun memandang ke arah Theo sembari tersenyum licik. “Memang itu tujuanku,” ujarnya sembari mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah akibat pukulan Theo.
“Gadis buruk rupa sepertinya memang pantas mati! Dia ingin merebutmu dariku, Theo!” ujarnya penuh kebencian menatap ke arah Laura dan menunjuk ke arah Laura.
Rahang Theo tampak kembali mengeras, pria itu tidak suka dan merasa muak dengan ucapan gadis gila dihadapannya ini. Pria muda itu tampak mengusap wajahnya frustasi. Sungguh, berhadapan dengan wanita sangatlah merepotkan. Bikin sakit kepala.
“Lalu kau pikir dengan kematiannya semua masalah akan selesai?” ucap Theo menatap tajam ke arah Lucy. Gadis itu diam, tak mampu menjawab.
Theo menyunggingkan sudutnya ketika melihat Lucy hanya berdiam diri saja, lalu pria itupun kembali berujar, “Kau benar-benar bodoh, Lucy Baker!” ucap Theo dengan nada rendahnya. Memandang remeh ke arah Lucy.
Lalu ia pun berbalik ke arah Laura. Pria muda itu mulai berjongkok di depan Laura yang masih tak sadarkan dir, meletakkan kedua tangannya di bawah leher dan kaki Laura.
Mata Lucy terbelak terkejut melihat seorang Theo Robinson, mengangkat tubuh gadis buruk rupa itu dengan mudah dan tidak merasa risih sama sekali.
Theo membawa Laura dalam gendongannya. Sebelum kaki pria itu melangkahkan kakinya pergi, ia kembali berbicara.
“Ah, dan satu lagi!” ujar Theo yang berdiam diri di tempatnya dengan membawa Laura. “Jangan pernah merasa dirimu special hanya karena aku mau menyentuhmu, kau tak ada bedanya dengan w***********g di luaran sana,” ucap Theo begitu dingin tak ingin menoleh.
Mata Lucy terbelak, jantungnya berpacu cepat. “Ap.. Apa?”
“Tapi aku kekasihmu!” pekik Lucy tidak terima. Nafasnya memburu saat itu juga.
Theo menolehkan kepalanya, menatap remeh ke arah Lucy. “Aku bukan kekasihmu dan bukan kekasih siapa-siapa,” balas Theo dengan nada rendahnya.
“Ingat batasmu dan jangan pernah mencampuri urusanku!” ujarnya dan segera kembali mengalihkan pandangannya. Pria itu mulai melangkah lagi menuju tangga rooftop sekolah. Namun sebelum mencapai anak tangga suara pria itu terdengar kembali. Dan kini suara itu terdengar jauh lebih menyeramkan dan semakin dingin.
“Dan jangan pernah mencoba mengusik orang-orangku. Hanya aku yang bisa menentukan mereka pantas mati atau tidak.”