ADC57

1609 Kata
~Place Aurel~ Aurel yang ingin berangkat besok, merasa ingin berpamitan dengan Garvi dan Aurora meskipun hatinya pasti sakit, tapi Aurel ingin melihat orang yang sangat Aurel sayanggi untuk terakhir kalinya dan juga Aurel sudah berusaha mengihklaskannya, karena kejadian ini adalah takdir yang harus di terima dengannya. Namun Aurel masih ragu dengan keingiananya, dan Aurel memutuskan untuk bertanya kepada mamahnya meminta saran, Aurel keluar dari kamarnya dan mencari di mana keberadaan mamahnya, setelah mencari Aurel menemukan keberadaan mamahnya yang teryata sedang di dapur. Tanpa fikir panjang Aurel langsung menghampiri mamahnya dan menanyakan sesuatu yang ingin di tanyakan olehhnya. “Mah ...!” panggil Aurel. “Iya kenapa sayang!” jawab mamahnya. “Mah aku mau nanya menurut mamah gimana baiknya!” tutur Aurel. “Nanya apa sayang! Sok atuh ngomong!” sambut mamahnya dengan senyuman. “Jadi gini mah! Besok kan aku mau berangkat ke jepang tuh! Nah aku pengen ketemu sama Garvi sama sahabat aku (istrinya) 1 kali lagi aja buat yang terakhir kalinya, menurut mamah gimana?” papar Aurel. “Kamu yakin! Kamu kuat ga ngeliat mereka!” ucap mamah Aurel menyakinkan. “Ya sebenernya mah ga kuat mah! Cuman gimana lagi! Aku pengen pamit juga sama dia! Biar gimana juga kan hubungan aku sama dia di mulai dengan baik-baik! Dan ya kejadian ini bukan kehendak kita berdua! Sama aku kasian juga sama sahabat aku! Biar gimana juga dia korban, dia orang yang gatau apa-apa tentang hubungan kita, dia pasti bakal ngerasa bersalah terus! Kalo aku bersikap gini terus!” jelas Aurel. “Yaudah kalo kamu maunya gitu mah! Dan hati kamu kuat! Kamu ikhlas ya mangga! Mamah cuman gamau kamu sakit lebih sakit lagi! Tapi kalo dengan berbuat begini membuat kamu lega ya gapapa lakuin aja! Ikutin kata hati kamu nak! Karena kata hati itu yang paling jujur!” ujar mamah Aurel sambil mengelus-ngelus rambut putrinya. “Iya sih mah! Aku takut kalo aku ga ikutin hati aku malah pas di sana aku kepikiran mereka berdua terus! Aku mau nuntasin urusan aku disini dulu! Biar aku tenang di sana ga kepikiran apapun! Dan bisa memulai dari awal lagi!” tutur Aurel. “Anak yang baik! Mamah bangga sama kamu! Kamu ga pernah mikirin perasaan kamu sendiri! Tetep jadi anak mamah yang baik ya! Yaudah sana telfon atau kirim pesan sama Garvinya kamu ungkapain maksud baik kamu! Dan berpamitan dengan baik!” perintah mamah Aurel. Setelah berdiskusi dengan mamahnya Aurel memberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepada Garvi dan menyampaikan keinginannya. ~pesan teks~ “Maaf menganggu waktunya, dan selamat atas pernikahanya ya, semoga bahagia selalu dan jangan sakitin sahabat aku! Biar bagaimana juga dia sahabat aku! Sebenarnya aku mau ngasih tau, kalo besok aku mau berangkat ke jepang!” kata Aurel. “Iya makasih ya! Semoga kamu sehat selalu disana! Dan semakin sukses! Makasih juga udah pamit! Semoga kamu bisa mendapatakan sosok lelaki yang lebih baik!” jawab Garvi. “Oh iya aku boleh minta permohonan ga! Buat yang terakhir! Aku minta kamu sama Aurora dateng ya, aku ingin ngucapin selamat sama Aurora juga! Sekalian aku mau pamit!” permintaan Aurel. “Oh yaudah jam berapa kamu terbang besok!” tanya Garvi. “Ya jam 10 terbang! Jangan lupa dateng ya!” ujar Aurel. “Iya nanti pasti dateng! Tapi apa kamu gapapa! Aku tau rasanya pasti sakit!” papar Garvi. Percakapan antara Aurel dan Garvi berhenti disini, Aurel tidak ingin banyak berbicara dengan Garvi karena hanya akan mengigatkanya dengan masa lalunya, dan sekarang Aurel mengistirahatkan tubuhnya menyiapakan energi dan hati untuk besok bertemu dengan dua manusia yang sangat Aurel sayangi itu, namun sangat membuatnya sakit juga. ~Place Aurora~ Aurora yang sudah selesai mandi sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, melihat Garvi yang masih serius dengan laptop di depanya membuat Aurora mendekatkan dirinya kepada Garvi duduk di sebelah Garvi dan melihat apa yang dikerjakannya, Garvi yang merasa aneh sama tingkah Aurora melihat Aurora kebinggunangan “lu ngapain! Salah minum obat di kamar mandi! Apa habis kejedot!” ucap Garvi kebingunangan. “Ih emang kenapa! Salah gitu! Kan gua mau liat suamiku ini lagi ngapain!” goda Aurora sambil mencubit pipi Garvi. “Nah kan bener! Lu tuh aneh banget! Lu kenapa cepet banget berubah! Nanti bentar-bentar marah, bentar-bentar lu baik, nanti bentar-bentar jadi kayak gini! Lu berkepribadian ganda ya lu!” ucap Garvi asal. “Enak aja! Lu tuh yang aneh! Huh!” sangkal Aurora sambil beranjak dari tempat tidur. Garvi yang iseng ingin mengerjain Aurora, saat Aurora beranjak dari kasur, Garvi menarik tangan aurora seakan Aurora tak di isinkan pergi, tangannya di tarik sampai Garvi yang dengan posisi duduk menjadi tiduran, dan Aurora yang berada di hadapanya dengan posisi muka sangat dekat mereka saling bertatapan tajam, dan sekarang tangan Garvi yang sudah melingkar di pinggang Aurora sekan menarik badan Aurora yang masih berjarak dengan Garvi. Namun Aurora menahan dengan tanganya, jantung Aurora berdetak kencang seperti habis di pompa dengan begitu cepatnya, dan Aurora mengerahkan seluruh kekuatannya agar keluar dari posisi ini. “Lu lagi apa-apan sih!” geram Aurora. “Takut ya lu! Gua tau pasti jantung lu tuh berdetak kencang tuh!” goda Garvi. “Gila lu ya!” murka Aurora. “Ga lah kenapa gila coba! Orang gua juga cuman mau ngejailin lu aja! Jangan marah lah! Lu mah cepet banget berubah moodnya!” ucap Garvi. “Ya gimana ga marah! Orang lunya gitu! Siapa juga bakal marah lah!” sinis Aurora. “Yaudah maaf! Oh iya tadi Aurel ngechat gua! Dia bilang! Dia mau berangkat besok! Dan dia mau gua sama lu nemuin dia dulu!” papar Garvi. “Ngalihin topiknya bisa banget! Ga ah ngapain gua nemuin dia! Gua ga punya muka! Gua belum siap nemuin dia! Gua ngerasa ngehianatin dia!” tolak Aurora. “Ya tapi ini permintaan dia sendiri! Lu ga lebih malu kalo lu gamau nemuin dia! Lu ketawan banget salah kalo gitu! Kan emang apa salahny! Toh ini juga bukan hal yang kita semua inginkan! Temuin dia ayo! Jangan bersembunyi! Dan gua juga gamau lu ngerasa bersalah seumur hiduplu!” jelas Garvi. “Sebenernya ini murni kesalahan gua! Bukan kesalahan lu ataupun Aurel! Gua yang telat ngenalin Aurel ke orang tua gua! Dan perjodohan sudah di rencanakan! Jadi gua gabisa nolak! Dan gua gamau juga nama papih gua buruk! Karena tiba-tiba membatalkan!” sambung Garvi. “Ya tapi tetep aja! Gua ngerasa ngerusak kebahagian kalian!” sesal Aurora. “Udah ini takdir! Ayo kita hadapin bersama! Gausah ngerasa bersalah lagi ya!” bujuk Garvi sambil mengelus kepala Aurora. “Yaudah! Gua juga mau minta maaf sama dia! Sejak kejadian ketemu dia di mall waktu itu! Ga punya muka gua mau ketemu dia! Ya mungkin sekarang waktunya! Aku mau minta maaf juga!” balas Aurora. “Yaudah sekarang kita tidur yuk! Besok kan harus bangun pagi!” ajak Garvi. “Iya ayok, udah ngantuk juga! Seperti biasa! Apa gantian kek! Lu di sofa!” protes Aurora. “Ih yaudah sih, apasalahnya coba disini aja! Kan gua juga gabakal ngapain-ngapain lu juga! Takut amat!” gumam Garvi. “Ya gamau lu tuh suka iseng soalnya! Males gua!” sindir Aurora. “Yailah jangan males-males! Nanti cinta lu sama gua!” terang Garvi. “Dih itu mah maunyanya lu! Ogah gua mah cinta sama lu!” tolak Aurora. “Udah ah sana sih! Gantian! Gua mau berpamitan dengan kasur gua dulu! Kan beberapa hari ga bakal ketemu sama kasur gua yang gua sayangin nih!” perintah Aurora. “Iya iya yaudah sini silimutnya! Sama bantalnya!” pinta Garvi. Garvi dan Aurora tidur secara terpisah seperti biasa namun tengah malam saat Aurora sudah terlelap, Garvi pindah ke kasur, karena ingin tempat yang lebih luas, karena Aurora tidak tau juga gapapa! Dan memang Garvi suka juga membuat Aurora kesal. Keesokan harinya Aurora bangun lebih cepat daripada Garvi dan melihat Garvi yang sudah ada di sebelahnya membuat Aurora bertanya-tanya dan membangunkan Garvi dengan kesal, Aurora mengoyang-ngoyangkan badan Garvi menyuruh Garvi bangun. “Woy woy bangun!” ujar Aurora sambil mengoyangkan badan Garvi. Garvi memelekan matanya merasa ada yang membangunkanya, melihat Aurora yang membangunkanya dengan wajah kesal, membuatnya justru malah menarik Aurora ke dalam pelukanya. Aurora yang memang tidak begitu kuat menahan, akhirnya jatuh di pelukan Garvi, rasanya jantungnya berdetak kencang, dan Aurora berusaha bangun dari posisinya namun justru Aurora malah di peluk dengan erat. “Tolong jangan menolak! Sebentar aja!” ucap Garvi. Aurora yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Garvi seakan menandakan dirinya butuh di berikan perhatian lebih dan sikap yang ramah, akhirnya membiarkan Garvi melakukannya untuk sebentar. Setelah beberapa menit, Akhirnya Garvi melepaskan pelukannya dan mengusap lembut kepala Aurora sambil berkata. “Makasih ya! Yaudah gih sana mandi! Kita siap-siap!” kata Garvi. “Hmm ...!” jawab Aurora. Aurora yang masih memendam emosinya, belum mampu untuk mengeluarkan amarahnya karena perlakuan Garvi yang tiba-tiba menjadi lembut seperti ini, namun Aurora tidak akan membiarkan Garvi lolos kali ini. Aurora masuk ke kamar mandi untuk mandi, namun kali ini tidak seperti biasanya, Aurora mandi agak cepat karena banyak yang akan di lakukan, dan mau berangkt lebih awal juga karena mau menemui Aurel yang berangkatan pesawatnya lebih cepat 1 jam. Tidak butuh waktu lama Aurora akhirnya selesai mandi, Aurora memakai baju sembarang, Garvi yang sudah menunggu di atas kasurnya dengan baju yang sudah di siapkan agar Aurora tidak mengomelnya. Saat Aurora keluar dari kamar mandi, Garvi langsung masuk kamar mandi tanpa menunggu berlama-lama lagi, karena sudah tau Aurora pasti akan mengomelinya habis-habisan kalo bersantai-santai. Garvi mandi dengan cepat, sedangkan Aurora membuatkan s**u dan membawakan roti untuk Garvi akan perut mereka tidak terlalu kosong, tidak begitu lama Aurora menyiapkannya dan kini sudah kembali lagi ke kamarnya, begitupun dengan Garvi yang sudah selesai mandi. ||bersambung ...||
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN