ADC36

1833 Kata
“aneh kenapa sayangkuh? Apanya coba yang aneh?aku cuman mau kita cepat sampai aja! Takut kamu di cariin sama mamah kamu!” ujar Garvi sambil mencubit pipi Aurel. “Ah bohong! Kamu kira aku gatau! Aku udah kenal sama kamu bukan baru sebulan dua bulan ya! Udah hampir 4 tahun aku kenal kamu! Dan aku tuh bisa ngerasa! Kalo hati sama fikiran kamu tuh ga ada disini sama aku!” ucap Aurel dengan nada tinggi. “Udah ya sayang kamu jangan mikir aneh-aneh aku gapapa kok cuman perasaan kamu aja!” jawab Garvi menenangkan. “Bohong! Kamu jawab aku sekarang ga! Dari maya kamu udah terlihat banget, kalo kamu tuh menyembunyikan sesuatu! Aku dari tadi berusaha untuk ga peduli ya! Tapi aku sakit berpura-pura untik ga peduli!” tegas Aurel. Garvi yang sedang menyetir mobil sontak langsung berhenti, setelah mendengar apa yang di katakan oleh Aurel kepadanya membuat hatinya sangat sakit! Bukan maksud Garvi untuk menyakiti hati kekasihnya, hanya saja Garvi tidak tau apa yang hatis di lakukannya, karena Garvi juga berat berada di posisi sekarang ini! Dimana dia harus memilih antara menuruti kemauan orang tuanya untuk menikah dengan wanita yang Garvi sajapun tak tau, atau harus tetap dengan pendiriannya! “Yang jawab dong! Kok malah diem aja! Benggong lagi! Kan teryata bener apa yang aku bilang! Mending kamu omongin semuanya sama aku daripada kamu pendem sendrian,” ujar Aurel. Mendengar ucapan Aurel yang seakan menunjukan rasa sakitnya membuat Garvi tak sanggup lagi untuk menutupi semua ini, Garvi tak ingin lagi menyakiti hati wanita yang ia cintai, dan dengan berat hati Garvi mengambil resiko untuk memberitahu semuanya kepada Aurel. Selain tidak ingin menyakiti hati Aurel terus menurus, Garvi juga tak bisa melawan keinginan orang tuanya, hal ini membuat Garvi berfikir untuk memberitahu Aurel secepat mungkin, karena cepat atau lambat Garvi memang harus mengatakannya. “Hm sebenernya aku di jodohin,” ucap Garvi dengan berat hati dan memandang ke depan dengan pandangan mata kosong. “Aku gatau lagi harus kayak gimana! Selama 6 bulan terakhir ini, aku berusaha menyakini orang tua aku untuk percaya sama pilihan aku! Tapi keputusan mereka sudah bulat!” sambung Garvi dengan suara lemes. Aurel yang mendengar hal ini, membuat aurel menjadi lemes tak berdaya! Di hatinya terasa seperti ada sesuatu yang menekannya dengan sangat kuat! Dengan suara lemah Aurel menyahuti ucapan Garvi. “Hah! Di jodohin kamu bilang! Aku ga salah denger nih! Kamu serius!” tegas Aurel. “Iya aku tuh binggung! Aku tuh udah selalu nolak tapi gimana! Orang tua aku tetep gamau tau, aku udah ngebujuk terus tapi hasilnya sama aja! Aku gatau lagi harus apa!” jelas Garvi. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, Garvipun kembali menjalankan mobilnya karena hari sudah semakin larut. Di tempat lain Aurora dan Devandra yang sedang asik mengobrol layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. “Eh lu mau beli apan! Gua traktir deh!” tawar devandra. Bagi Devandra Aurora yang terpenting, melihatnya saja sudah sangat membuatnya bahagia! Bahkan ketika sedang bersama Lavina pun perasaannya tidak terlalu senang seperti saat bersama dengan Aurora. “Hm gua mau apa ya! Gua juga binggung! Gua mah ngikut lu aja deh!” ujar Aurora. “Yaudah kita minum coffe aja yuk! Sambil duduk di taman rumah sakit! Gua kangen banget pengen ngobrol berbagi cerita sama lu!” usul Devandra. “Boleh- boleh! Gua juga mau bertukar cerita nih!” jawab Aurora. ~place manendra~ Manendra yang sedang menuju rumah sakit bersama Kayra untuk menjenguk Ganendra akhirnya tiba juga di rumah sakit, tanpa berlama-lama lagi! Dalam hitungan menit Manendra sudah berada di ruangan rawat Ganendra. Perbincangan kecilpun terjadi antara Menendra dan Ganendra, dengan perasaan penuh pengharapan juga Ganendra ingin menitipkan putri tersayangnya kepada Manendra dan ingin segera melangsungkan acara pertunangan. “Aduh gimana keadaan lu bro!” ujar Manendra santay. “Ya beginilah gua! Ga ada perkembangan! Lu di kasih tau siapa kalo gua ada disini!” tanya Ganendra. “Lah dia lupa! Sebelum kejadian lu bisa di bawa kesini kan kita mau ada pertemuan!” ujar Manedra. “Oh iya bener! Aduh sory ya malah jadi buat lu repot!” ujar Ganendra dengan rasa penyesalan. “Gua telvon sekertaris lu! Karena ya tumben lu ga tepat waktu saat pertemuan kita! Gua tungguin juga lu ga sampe-sampe, pas gua tau, langsung deh gua jemput istri dulu terus langsung kesini!” jelas manendra. “Iya sama saya juga kaget dapet kabar udah masuk rumah sakit aja! Kronoliginya juga gatau!” sahut Carissa. “Oh iya ini minumnya! Maaf cuman ada air putih doang!” ungkap Carissa lagi. “Oh iya Aurora kemana Ca?” tanya Kayra. “Tadi lagi keluar sebentar dia sama temennya!” jawab carissa. “Oh iya Kayra, Manendra, gua titip Aurora sama kalian ya! Gua pengen mereka segera di tunangkan dan ga pengen lama-lama, penyakit gua udah semakin parah, gua mau mereka menikah sebelum gua meninggal!”  ujar Ganendra dengan berat hati. Manendra yang mendengar ucapan dari sahabatnya dengan setulus hati ini membuatnya jadi merasa iba dan tidak ada pilihan lain selain mengiyakan keinginan sahabatnya itu. Bukan tanpa alasan Manendra mau menjodohkan Garvi kepada Aurora, melainkan demi kebaikan Garvi, Manendra tidak ingin Garvi salah memilih pasangan, dan memang sejak kecil mereka sudah sangat cocok sekali. “Lu jangan ngomong gitu kenapa! Jangan pernah putus harapan! Lu pasti sembuh kok! Iya kan emang menurut rencananya juga minggu depan mereka harus tunangan dan sebulan setelah tunangan kita langsung nikahkan saja mereka,” jelas Manendra. “Aurora udah tau belum! Kalo mau di jodohin tanya Kayra. “Aurora belum tau! Nanti rencananya mau ngomong kalo dia dateng kesini nanti! Dan nanti sekalian mau disuruh siap-siap buat acara pertunanganya!” jawab Carissa. “Ih gitu ya! Yaudah kita juga harus menyiapkan nih Carissa!” ujar Kayra. “Kalo Garvi sih gimana? Udah tau?” tutur Carissa. “Garvi mah udah tau kalo mau di jodohin, cuman kalo tunangan mah belum! Dia lagi keluar kota nanti kalo pulang langsung di kasih tau!” jelas Kayra. “Oh gitu ya! Yaudah ga nyangka ya kita bakal jadi besan hehehe!” ujar Carissa senang. ~place Garvi~ “aku ga nyaka hubungan yang kita bangun selama 4 tahun lamanya harus kandas! Rasanya berat! Aku gabisa melepaskan kamu! Tapi aku gatau lagi harus berbuat apa! Kalopun mau di lanjutin ga akan bagus kedepannya! Dan kamu juga ga akan bisa menolak keinginan orangtumu!” gerutu Aurel sedih menahan air mata. “Bukan kamu aja! Aku juga sama! Aku berat melepas kamu! 4 tahun kita jalanin susah seneng bareng! Dan harus kandas karena keinginan orang tua aku! Aku gatau lagi harus apa! Aku stres! Aku sayang sama kamu! Tapi aku gabisa menentang orang tua aku!” tutur Garvi. “Mungkin memang harus aku yang ngalah! Gapapa aku ikhlasin kamu bersama perempuan pilihan orang tuamu! Dan semoga kamu selalu bahagia! Aku gapapa kok! Aku juga gamau ngahalangin keinginan kamu untuk berbakti sama orang tua kamu!” papar Aurel. “Jadi kamu udah tau wanita pilihan orang tua kamu belum!” sambung Aurel lagi. “belum tau! Maaf ya jujur hati aku berat banget untuk ninggalin kamu! Cuman aku ga bisa berbuat apa-apa!” ujar Garvi. “Iya gapapa, mungkin ini yang di sebut takdir! Seseorang yang bersama kita lama belum tentu bisa jadi jodoh kita! Manusia hanya bisa berencana tapi kalo takdir tidak mengizinkan ya kita hanya bisa menerima dengan lapang d**a! Semoga kamu bahagia! Dan jangan pernah lupakan kenangan kita! Setidaknya itu yang aku bisa pinta dari kamu!” ujar Aurel sambil menanggis. Garvi yang tak tega melihat Aurel menanggis pun dengan sigap langsung memeluk aurel sambil menepuk-nepuk punggung Aurel agar Aurel menjadi sedikit tenang “Maafin aku ya! Yang gabisa memperjuangkan cinta kita! Aku harap kamu bisa hidup bahagia dan mendapat cowok yang ga pengecut kayak aku! Dan maaf juga kalo semua rencana kita ga berjalan, dan hubungan kita harus berakhir seperti ini! Percaya bukan kamu aja yang sakit! Aku juga sakit harua berpisah sana cewek yang aku cintai selama ini!” jelas Garvi. “Iya gapapa bukan salah kamu kok! Emang bukan jodoh aja kita! Yaudah karena udah sampe rumah aku mau pulang ya! Udah gapapa kamu jangan pikirin aku! Makasih karena udah selalu ada buat selama ini! Hari-hari yang aku lewatin bersama kamu sungguh sangat membuatku bahagia! Kamu ati-ati pulangnya!” ujar Aurel sambil melepaskan pelukan dan berjalan keluar dari mobil. Setelah Aurel keluar dari mobil, kemudian Aurel terdiam berdiri sejenak membelakangi mobil seperti seseorang yang meratapi nasibnya , Garvi yang melihat Aurel seperti ini membuatnya merasakan rasa sakit yang sangat amat, bagaimana bisa seorang Garvi tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang yang ia cintai, bahkan sebuah bukti cintapun ia tak bisa mendapatkanya. Garvi yang sangat menyesali hal ini pun , kemudian akhirnya berlalu meninggalkan rumah Aurel dengan perasaannya yang sangat menyesal, Garvi berjanji di dalam hatinya tidak akan ada lagi kejadian seperti ini. “Jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan seperti ini! Pasti aku akan memperkenalkan kamu lebih dulu kepada orangtua, dan aku akan segera menikahimu walaupun kamu masih kuliah Aurel!” lirih Garvi dalam hati. “Namun semua sudah terjadi! Tidak ada yang bisa di lakukan aku! Tidak ada yang tersisa dari kita melainkan kenangan! Semoga kamu mendapatakan seseorang yang berani dan membuktikan cintanya kepada kamu! Ga seperti aku yang terlalu pengecut!” sambung Garvi dalam hati. Garvi akhirnya tiba di rumah dengan langkahnya yang lemah, seakan sedang memperlihatkan keadaan suasana hatinya yang kacau, melihat hal ini membuat kayra merasa khawatir pada anak semata wayangnya, lalu kayra menghampiri Garvi. “Nak kamu kenapa? Ada masalah apa? Kamu tumben seperti ini? Sini cerita sama mamih!” pinta Kayra. “gapapa mih! Garvi cuman kecapean aja!” jawab Garvi singkat. Kayra menyentu wajah anaknya kemudiannya mendongakan kepalanya agar matanya bisa melihat mata anaknya dengan jelas kemudian berbicara dengan lembutnya. “Nak, kamu liat mamih! Kamu tuh anak mamih, kamu ga akan bisa menyembunyikan ini dari mamih! Mamih tau kamu sedang tidak baik-baik saja! Kamu bisa kok cerita sama mamih apa permasalahan kamu! Mamih dengan senang hati mendengarkan keluh kesah kamu! Jangan sungkan untuk cerita ke mamih! Sekarang kamu cerita pelan-pelan ke mamih ya nak!” bujuk Kayra. Garvi yang tak kuasa menahan tanggisnyapun, memeluk Kayra sambil menanggis tersendak-sendak,lalu Kayra dengan tangan lembutnya mengelus punggung Garvi dengan pelan dengan maksud ingin menenangkan putranya. “Nanggis aja nak! Keluarin unek-unek kamu nak! Biar lebih tenang sedikit!” ujar Karya. “Kenapa sih mih! Garvi harus di jodohin! Garvi tuh punya pilihan Garvi sendiri! Kenapa mamih sama papih ga ngertiin perasaan Garvi!” rintih Garvi sambil menanggis. “Bukan gitu nak! Ini semua juga demi kebaikan kamu! Mamih sama papih bukan mau memisahkan kamu sama orang yang kamu cintai! Mamih sama papih cuman ingin yang terbaik buat kamu nak!” jelas Kayra. “Tapi kenapa harus di jodohi! Mamih sama papih ga percaya sama pilihan aku! Aurel juga cewek yang baik mih! Dia tuh bukan cewek yang aneh-aneh! Dia bahkan ga pernah nuntut Garvi! Mamih sama papih mau cewek yang kayak gimana lagi!” rintih Garvi.   || bersambung ...|| 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN