Aurora yang belum selesai mendapatkan telfon dari daddynya jika daddynya sudah sampai dan menanyai dimana keberadaan Aurora dan Carissa, sebab di tempat perjanjian mereka bertemu Ganendra tidak melihat sama sekali kehadiran Carissa dan Aurora.
~Di telfon~
“Nak, kamu dimana! Kok ga ada! Daddy udah sampai nih!” ujar Ganendra.
“Di Atas dad! Aurora lagi spa sama mommy hehehe!” jawab Aurora dengan polosnya.
“Yailah pantesan! Masih lama ga!” tanya Ganendra tegas.
“Ini udah selesai kok! Yaudah Carissa ke sana sama mommy!” ujar Aurora.
Telfonpun di tutup Aurora langsung mengajak Carissa untuk bergegas pergi dari sini karena daddynya sudah menunggu mereka, Carissa yang di beritahu oleh putrinya langsung menyetujui ucapan putrinya dan menyudahi saja perawatan mereka meskipun p berag hati.
“Mom hayo udah aja yuk! Daddy udah nelfon tuh! Nanti daddy marah!” ujar Aurora khawatir.
“Oh iya tah! Yaudah yuk kita udah aja! Tapi padahal tanggung banget ya sebentar lagi!” sela Carissa.
“Udah lain kali aja mom! Daddy udah gaenak tadi nadanya tau!” jelas Aurora.
“Yaudah yaudah ayo kita udahan aja! Kamu duluan aja biar mommy yang bayar! Kasian daddy kelamaan sendiran nanti!” usul Carissa.
“Oh oke mom!” jawab Aurora sinkat dan langsung berjalan melarikan diri dari tempat situ menuju tempat keberadaan daddynya.
Carissa yang membayar biaya perawatan mereka, Aurora yang berjalan nyamperin Ganendra, dan Ganendra yang menunggu 2 wanita terkasihnya justru malah berbelanja lebih dulu di karenan kan bosan menunggu, dan agar cepet selesai dan bisa melanjutkan aktivitas lainnya, dan akhirnya Aurora sampai juga.
“Dad, lama ya sampe belanja duluan!” ujar Aurora tak enak hati.
Namun seperti Ganendra tidak pernah bisa marah sama putri kecilnya dan pada akhirnya mereka malah bercanda dengan asiknya layaknya dunia hanya milik bapak dan anaknya dan barulah sampai carissa.
“Dad lama ya!” ujar Carissa.
“Hemm!” jawab Ganendra.
“Ih pundung daddy mah! Ya maap! Habisan daddynya tadi belum dateng lama! Yaudah mommu spa dulu! Udah lama ga perawatan!” jelas Carissa.
“Iyaudah buruan belanja kan masih harus ke satu tempat lagi!” ujar Ganendra datar.
Aurora, Carissa dan Ganendra berbelanja, sedangkan Aurel sudah siap untuk pergi bersama Garvi untuk makan sore bersama dengan orang tua Garvi, Garvi berniat untuk mengenalkan Aurel kepada orang tuanya, dan Aurel sudah siap bepakaian dengan sangat angunnya.
“Hey yang!” sapa Garvi.
“Eh hay! Udah lama tah!” ucap Aurel.
“Ga sih! Baru aja!” ujar Garvi.
“Duh cantik banget sih kamu! Eh iya mamah mu mana! Aku mau izin!” ujar Aurel.
“Gembel aja huh! Ada di dalam! Yaudah yuk ke dalam dulu! Terus kita cus!” urai Aurel.
“Yaudah yuk!” ajak Garvi.
Aurel dan Garvi masuk ke dalam rumah dan meminta izin kepada orang tua Aurel untuk mengajak putrinya untuk keluar, lalu mereka pergi dengan hati gembira, Aurel yang merasa deg deg an takut dan senang sekaligus merasa gugup.
“assalamualaimkum bu!” sapa Garvi sambil bersalaman.
“Walaikumsalam nak!” jawab mamah Aure.
“Bu mau pinjem Aurel dulu ya! Boleh ga nih!” canda Garvi.
“Oh iya boleh-boleh! Ati-ati ya! Jangan sampe tergores sedikitpun ya!” goda mamah Aurel.
“Iya siap bu! Ga ke gores kok! Paling nanti nanti idungnya ilang! Hehe!” ledek Garvi.
“hihihi bisa aja kamu ini nak! Yaudah ati-ati kalian ya!” ujar mamah Aurel.
Aurel dan Garvi pergi ke restoran selama perjalanan mereka berbincang-bincang sambil mendengarkan musik di mobilnya, Aurel yang gugup banyak berdiam diri melamun memikirkan pertemuan ini berlangsung, di sisi lain Aurel sangat ingin mengenal orang tua Garvi namun di sisi lain Aurel takut kerena untuk pertama kalinya Aurel di kenalkan pada keluarga kekasihnya.
“Yang kamu kenapa! Kok diem aja sih!” ujar Garvi.
“Aku gapapa yang! Hehe, cuman aku lagi gugup aja! Mau ketemu orang tua kamu! Kira-kira orang tua kamu bakal suka ga ya sama aku!” papar Aurel.
“Oh udah gausah khawatir gitu sayang! Mamih papih aku pasti suka sama kamu!” ujar Garvi menanangkan.
“Tapi ya tetep aja aku malu yang!” gumam Aurel.
“Udah kamu tenang aja ya sayang! Kan ada aku yang!” ujar Garvi.
“Hm iya semoga aja sih! Berjalan dengan lancar yang!” ucap Aurel.
Untuk beberapa menit akhirnya Garvi dan Aurel sudah sampai di restoran yang sudah di pesan oleh Garvi, namun baru Garvi dan Aurel saja yang datang sedangkan Manendra dan Kanaya masih di perjalanan menuju restoran.
“Yang kamu mau pesen apa!” tanya Garvi.
“Apa aja deh aku mah!’ nanti aja deh nunggu mamih sama papih kamu!” sahut Aurel.
“Yaudah gapapa pesen aja dulu minum mah! Emang kamu ga haus apa!” timpal Garvi.
“Lama ya kalo nunggu papih sama mamih mah keburu haus dulu!” sambung Garvi lagi.
“Yaudah iya apa aja dah!” ujar Aurel pasrah.
‘Aku udah rapih belum yang!” ujar Aurel meminta pendapat.
“Beh udah cantik kamu mah sayangkuh!” puji Garvi.
Jika Garvi dan Aurel menunggu kedatangan Manendra dan Kanaya berbeda dengan Aurora yang di tinggal sendirian di mall karena Ganendra dan Carissa harus pergi ke rumah sakit untuk melaksanakan kemoterapinya.
“Nak kamu mau di anterin dulu ga! Apa nanti daddy suruh supir aja anter kamu!” tanya Manendra.
“Ah gausah dad, nanti aku bawa sendiri aja mobilnya! Kan ada mobil yang tadi aku bawa sama mommy dad!” jelas Aurora.
“Oh iya bener! Yaudah kalo gitu kamu ati-ati ya sayang!” perintah Ganendra.
“Dah daddy sama mommu pergi dulu ya!” sahut Ganendra lagi.
“Oh iya nak! Kamu bawa belanjaan ya kalo gitu!” perintah Carissa.
“Yah mommy! Yaudah deh mana sini kunci mobilnya!” pinta Aurora.
“Nah gitu dong kan anal baik! Mau bantu daddy sama mommynya!” puji Carissa.
Lalu Carissa dan Ganendra menaiki mobil Ganendra mereka pergi ke rumah sakit, lalu Aurora ke mobil untuk menaroh belanjaan ke dalam mobil! Lalu Aurora memutuskan untuk ngopi sejenak di atas untuk menenangkan sekedar bersantai memberikan waktu untuk dirinya.
Aurora berjalan ke caffe seorang diri, memesan vanilla latte dan duduk sendiri melihat ke arah luar memperhatikan langit yang seakan terlihat sangat baik hari ini, sebenarnya Aurora harus memperiapkan dirinya karena mulai besok Aurora harus membantu daddynya untuk mengelolah perusahaan.
“Langitnya bagus banget ya cuacanya! Tidak terlalu panas dan ga mendung juga!” gumam Aurora sambil melihat langit.
“Eh ngomong-ngomong sih Devandra giamana ya kencannya penasaran gua! Dia belum cerita sama sekali tiba-tiba punya cewek ajah itu bocah!” gumam Aurora lagi.
“Besok ajak Devandra makan siang bareng ah! Mau gua palak dia!” gumam Aurora lagi.
Aurora masih saja asik dengan kesendiriannya, seakan aurora sangat menikmati waktunya sendiri tanpa di ganggu oleh siapapun, namun tiba-tiba saja ketenangan Aurora terusik karena ada seseorang yang entah datang dari mana sudah berada di bangku depan Aurora tanpa izin, Aurora yang kebinggungan pun berbicara kepada cowok tersebut.
“Anda siapa?” tanya Aurora mengintimidasi.
“Hm bukan siapa‐siapa cuman mau kenalan aja!” jawab cowok tersebut.
“Ga waras nih orang!” jawab Aurora lalu pergi meninggalkak meja lalu pergi ke kasir untuk membayar kemudian Aurora memutuskan untuk pulang.
Di tempat lain Manendra, Garvi, Kanaya dan Aurel sudah menikmati makan sore bersama mereka berbincang-bincang setelah Garvi memperkanalkan Aurel kepada papih dan mamihnya, namun ada reaksi tak biasa dari mamihnya saat bertemu dengan Aurel.
“Pih, mih gimana di jalan macet ya!” tanya Garvi basa basi.
“Hm iya gitu lah!” jawab Manendra seadanya.
“Oh iya mih pih kenalin Aurel, ini pacar Garvi!” ujar Garvi.
“Halo ibu, bapak!” sapa Aurel dengan pandangan mata ke bawah serta menunduk.
“Hey Hallo nak!” sinis Kanaya dengan wajah yang tersenyum palsu.
Suasana menjadi sangat canggung tanpa ada obrolan apapun lagi di antara mereka satu sama lain hanya berfokus untuk makan, hingga akhirnya Garvi yang merasa tidak enak dengan suasana ini memulai pembicaraan.
“Oh iya mih! Nanti mulai besok Aurel mau bantuin aku di caffe mih! Caffe kan ga kepegang-pegang tuh! Jadi dia mau bantuin aku jeh! Sementara aku ngurus masalah-masalah di kantor!” ujar Garvi.
“Hm kenapa kamu ga suruh Devandra aja tuh! Buat ngehendel caffe kamu! Toh devandra juga ga ada kegiatan kan sewaktu libur!” tegur Kanaya.
“Ya barangkali aja kan Devandra sibuk bantuin ayah mamih tuh! Ayah juga kan sibuk! Masa iya Garvi suruh Devandra bantuin Garvi!” jelas Garvi.
“Ya coba aja dulu! Pasti kamu belum ngomong kan!” ujar Kanaya.
Garvi yang tak enak dengan Aurel, imgin tetap mempertahakan Aurel sehingga terjadi perdebatan kecil antara ibu dan anak ini, untungnya Aurel membantu menenangkan Garvi dan Manendra menyuruh istrinya untuk bertingkah seperti ini.
“Udah dong mih! Mamih tuh harus percaya sama Garvi! Toh itu caffe milik Garvi juga!” tegas Garvi.
“Ya bukannya seperti itu! Kamu ngelibatin orang lain di caffe kamu! Kalo ada keluarga kenapa harus orang lain!” geram Kanaya.
“Orang lain mamih bilang! Dia bukan orang lain bagi aku mih! Dia orang yang bearti buat aku!” gerutu Garvi.
“Ya orang lain lah! Toh kalian belum nikah kan! Demi orang lain aja kamu berani ngebentak mamih kamu kayak gini! Hebat!” marah Kanaya sambil menepuk tangan.
“Udah Garvi! Mamah kamu bener kok! Jangan berantem sama mamah kamu gara-gara aku!” ucap Aurel sambil mengelus-ngelus punggung Garvi.
“Kanaya udah! Malu jangan ribut disini! Kamu kenapa sih kok jadi kayak anak kecil gini!” ujar Manendra.
“Bukanya gitu pih! Aku kan bener ngasih tau Garvi! Toh buat kebaikan Garvi juga! Bukan apa-apa kalo ngerepotin orang kan kasian!” jelas Kanaya.
Lalu Manendra mengajak Kanaya untuk pergi dari sini untuk menenangkan perasaan satu sama lain, dan Garvi sangat paham akan apa yang dirasakan oleh Aurel, Garvi sangat tau jika saat ini hati Aurel sangat sakit, namun Aurel belagak kuat, hal ini menyakitkan Garvi, niat hati ingin mengenalkan Aurel namun kenyataan berkata lain, semesta memang senang mempermainkan.
Aurel yang tersenyum dengan mulut tertutup lalu memalingkan pandangannya dari Garvi pun tidak dapat berkata apapun lagi terhadap Garvi, memang sudah jalan yang harus di laluinya begini! Garvi yang merasakan hal menyedihkan dari Aurel pun menenangkan Aurel.
“Aku tau kamu pasti sedih yang! Maafin aku atas perkataan mamihku tadi yang! Kita jalanin ini sama-sama ya! Aku tau ini ga akan mudah! Tapi kamu yang kuat ya! Maaf in aku karena belum bisa bikin kamu bahagia!” ujar Garvi.
|| Bersambung... ||