ADC29

1638 Kata
“Aku gatau harus gimanan! Aku gabisa berkata apa-apa lagi!” tutur Aurel sedih. “Itu mamih gamau ngerepotin kamu aja yang! Ga ada maksud apa-apa kok! Mamih lagi kesel kayaknya! Jadi kebawa-bawa!” ujar Garvi menenangkan. “Yaudah ayo kita ke tempat lain aja yuk! Udah kamu gausah sedih gitu! Kamu pasti kuat yang! Dan kamu ga sendirian kok! Ujar Garvi menenangkan. “Aku mau pulang aja!” pinta Aurel. “Kamu yakin mau pulang! Aku masih kangen lho!” ujar Garvi. “Iya aku mau pulang aja!” ucap Aurel mendundukan kepala. “Yaudah ayo kita pulang! Kamu mau di bawa apa buat mamah sama papah kamu!” cakap Garvi. “Yaudah deh serah kamu aja! Aku ga mood!” ketus Aurel. Akhirnya Garvi dan Aurelpun bergegas pulang, selama perjalanan tidak ada pembicaraan apapun yang, Aurel hanya terdiam menahan tanggis terlihat dari sorot matanya, Garvi yang merasa sedih pun tidak dapat berbuat apa-apa, Garvi tidak menyangka ini harus terjadi pada hubungan asmaranya, dan tiba saatnya Aurel tidak bisa lagi menahan tanggisnya, Air matanya turun begitu saja melewati pipinya. Hal ini membuat Garvi memberhentikan mobilnya, kemudian mengelap air mata yang membasahi pipi Aurel dan memeluknya, Garvi tidak tau lagi harus berbuat apa! Hal ini di luar dugaan! Niat hati ingin mencairkan suasana yang terjadi justru keributan. “Maafin aku ya sayang! Aku tau ini menyakitkan bagi kamu! Tapi aku bener-bener gatau bakal kejadian kayak gini! Aku tau kamu pasti sakit! Siapa yang ga sakit hati di omongin kayak gitu! Tapi aku mohon kamu harus kuat ya! Aku selalu ada di sisi kamu!” sesal Garvi. “Aku gatau kenapa harus kayak gini! Apa aku ga pantes buat kamu! Padahal aku cuman pengen bantuin kamu aja! Ga lebih! Aku juga ga ngarepin apa-apa dari kamu! Tapi kenapa harus kayak gini!” ucap Aurel. “Ini cobaan aja, aku yakin kita pasti bisa lewatin ini! Kamu di uji gini karena kamu kuat! Aku tau kamu wanita yang kuat! Udah ya! Jangan sedih lagi!” rintih Aurel. “Ya tapi kenapa harus nunjukin banget kalo ga suka! Aku kan juga punya hati! Kan bisa sakit hati!” rintih Aurel. “Yaudah sekarang udah ya! Kan mau pulang! Gaenak nanti di kira mamah kamu habis di apain! Makin panjang nanti urusan kita! Aku janji sma mamah kamu balikin kamu dengan keadaan baik-baik aja kan!” lontar Garvi sambil memeluk Aurel. Setelah menenangkan Aurel Garvi menjalankan kembali mobilnya, sebenarnya Garvi sangat tertekan dengan keadaan ini! Namun tak ada yang bisa di perbuat oleh Garvi sebab keduanya adalah seseorang yang sangat Garvi jaga. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya sampai juga di rumah Aurel, Garvi tidak di izinkan untuk masuk kedalam rumah Aurel, karena Aurel benar-benar ingin menenangkan dirinya sendiri, Aurel menyuruh Garvi untuk langsung pulang. “Kamu langsung pulang aja! Gausah main dulu! Aku cape! Aku mau langsung tidur!” ujar Aurel singkat. “Yaudah gapapa! Tapi aku mau pamit dulu sama mamah kamu!” protes Garvi. “Udah gausah! Biar aku aja nanti yang bilang sama mamah!” usul Aurel. “Ih gaenak yang! Nanti mikir yang aneh-aneh lagi!” ujar Garvi. “Ga, udah tenang aja aku yang urus!” jelas Aurel. “Bener nih! Yaudah aku pulang ya! Kamu istirahat yang cukup! Jangan di pikirin aja yang tadinya nanti kamu sakit! Aku pulang dulu ya!” ujar Garvi. “Iyaudah ati-ati!” ungakap Aurel. Garvipun pulang dengan berat hati, beban yang di tanggungnya makin berat, tidak hanya masalah perusahaan saja di tanggungnya kini bertambah lagi masalah asmaranya. “Masalah satu aja belum kelar! Udah tambah masalah lagi ya allah!” keluh Garvi. “Aku harus bagaimana! Bela ini mamah bela itu pacar! Mana perusahaan lagi ga bener!” rintih Garvi. “Oke sekarang aku harus cari tau permasalahan keuangan dulu! Baru habis itu kelarin masalah sama Aurel” ujar Garvi. “Hari ini ke kantor aja! Ngurusin Kerjaan, suruh Devandra ke kantor ah! Sekalain mau curhat sama dia siapa tau bisa ngasih saran! Dia kan fuckboy!” ucap Garvi. ~SMS~ “Dev, ada kerjaan ga! Sini ke kantor! Ada yang mau gua omongin! Gua tunggu ya!” isi pesan tesk Garvi. “Ga ada nih lagi kosong! Yaudah gua otw!” balas Devandra. ~Selesai~ Garvi dan Devandra berjalan menuju kantor, sedangkan Aurora sedang mempersiapkan segala kesiapan untuk membantu ayahnya di kantor! “Daddy.. besok aku bareng dad? Apa aku bawa kendraan sendiri!” tanya Ganendra. “Mau bareng gapapa! Kalo mau bawa kendaraan sendiri, bawa mobil mamah aja dulu! Nanti kita beli mobil ya buat kamu!” ujar Ganendra. “Eh kok gitu dad!” ujar Aurora terkejut. “Ya gapapa masa naik motor! Panas kamu kan ga suka panas! Dan kamu bakal sering kesana kemari ga diem aja di kantor!” ujar Ganendra. “Nanti besok kita ke shorum mobil dad!” ajak Ganendra. “Yaudah dad!” ucap Aurora sambil tersenyum. “Yaudah sekarang kamu istirahat ya biar besok kamu ga kurang tidur! Kamu bahaya kalo kurang tidur! Nanti ngomel-ngomel lagi!” ledek Ganendra. “Hehe ... asiap dad! Aku bobo dulu ya!” ujar Aurora. Aurora menikmati waktu santainya sedangkan Aurel sudah tertidur sejak tadi karena lelah menanggis sampai tertidur sendiri, dan Garvi sudah bersama dengan Devandra. “Hey bapak direktur! Aduh kayaknya sih lagi sibuk banget ini! Sampai harus ketemu disini! Biasanya sih kayak buncul tiba-tiba ada dirumah! Sekarang mah sulit euy!” ledek Devandra. “Iya euy tapi gua binggung nih! Lu bisa ga bantuin gua!” pinta Garvi. “Perlu bantuan apa nih bos!” ujar Devandra. “Iya ini ada yang ga beres! Soalnya penjualan tuh laku barang habis tapi pemasukan malah berkurang! Ini pasti ada yang menggelapkan uang!” ujar Garvi. “Lho kok gitu! Udah coba lu selidikin belum!” jawab Devandra. “Ya ini lagi gua selidikin! Mangkaya gua coba minta tolong bantuin elu! Lu coba cari tau! Ini pasti orang atas juga yang ngelakuinnya!” jelas Garvi. “Coba lu selidikim orang-orang terpercaya lu! Pasti mereka pelakunya!” ujar Devandra. “Iya coba deh nanti! Lu ga sibuk bro!” tanya Garvi. “Ya biasa lah gua mah sibuk, bantuin ayah!” jelas Devandra. “Terus sekarang! Gapapa lu kesini!” ujar Garvi. “Ya gapapa lah! Lu ga pulang tah!” tanya Devandra. “Pulang lah nanti!” ujar Garvi. “Sekarang aja ayok pulang!” ajak Devandra. Garvi dan Devandra akhirnya pulang! Namun Garvi teringat kejadian tadi berama ibunya membuatnya mempertimbangkan kembali keinginanya untuk pulang! Namun akhirnya memutuskan untuk pulang. Devandra dan Garvi pulanh masing-masing dengan kendaraanya masing-masing tidak butuh waktu lama akhirnya sampai juga mereka, Garvi memasuki rumahnya dengan wajah lesunya. Namun di luar dugaan Garvi, Kanaya yang melihat Garvi di ruang tamu dengan sorot mata yang tajam, posisi kaki kiri naik ke kaki kanan, seperti Garvi melakukan kesalahan yang besar. Garvi yang tidak ingin berdebat dengan Kanaya langsung melewati saja Kanaya namun tidak semudah itu untuk lolos dari mamihnya, Kanaya yang dengan tegas memberhentikan langkah Garvi. “Mau kemana kamu! Ada orang tua di sini bukanya di samperin! Malah asal nyelonong aja! Dari mana kamu!” murka Kanaya. “Mau ke kamar mih! Mamih kenapa sih! Tiba-tiba marah ga jelas! Tadi Garvi ke kantor dulu! Nyelesain berkas-berkas” tanya Garvi binggung. “Bohong jelas-jelas tadi kamu sama wanita itu!” ujar Kanaya tegas. “Kamu denger ya baik-baik! Mamih ga akan ngerestuin kamu sama wanita itu!” ujar Kanaya. “Lho kenapa mih! Dia salah apa sama mamih! Mamih baru juga ketemu sama dia kan! Kok asal nilai orang aja! Mamih ga biasanya kayak gini!” ucap Garvi. “Kalo mamih bilang mamih ga setuju ya sampai kapanpun mamih ga setuju! Mending kamu putusin sekarang! Dari pada mamih yang bilang sma dia untuk ga ganggu kamu lagi! Mending kamu yang putusin sendiri!” ancam Kanaya. “Kok mamih jahat banget sih! Dia juga manusia mih! Punya hati! Kok mamih bisa sekejam itu!” tutur Garvi heran. “Yaudah terserah kamu! Mamih kasih waktu 6 bulan buat mengakhiri hubungan kalian! Setelah itu kamu harus tunangan dengan orang pilihan mamih sama papih!” jelas Kanaya. “Hah! Apa mamih bilang! Mamih mau jodohin aku! Tanpa sepengetahuan aku! Ya gabisa gitu lah!” protes Garvi. “Jadilah anak yang berbakti ya nak! Ini udsh keputisan mamih sama papih! Mau gamau kamu harus terima!” ujar Kanaya sambil terseyum memeluk Garvi sambil berkata. “Ini kemauan papih dan mamih! Mamih tau kamu anak berbakti! Jadi mamih mohon ya sama kamu! Sudahi hubungan kalian! Dan terimalah kenyataannya!” ulang Kanaya. Usai berbicara dengan Garvi, Kanaya pun berlalu masuk ke kamar dan membiarkan Garvi seorang diri di ruang tamu! Garvi yang tak menyangka akan kisah asmaranya yang selama ini ia bangun akan berakhir begitu saja karena keingan orangtuanya. Mendengar ucapan Kanaya kepada Garvi tadi membuat Garvi lemas dan terjatuh begitu saja di sopa dengan tanggisan yang di tahannya, sambil mengeluh dan menutupi matanya dengan tanganya. “Gimana aku harus ngejalanin hidup tanpa kamu Aurel! Gimana aku ngejalanin hidup bersama orang baru! Semua yang kita jalanin hancur begitu saja!” gumam Garvi. Garvi berjalan gontay ke kamarnya, fikiranya tak karuan percuma saja dia berjuang setengah mati memperjuangan Aurel jika keinginan orang tuanya dia menikah dengan orang lain. Garvi merasa dunia tak adil padanya! Sejak kecil Garvi selalu saja menuruti keinginan orang tuanya bahkan tak jarang memberi prestasi-prestasi yang raihnya hanya untuk menjadi anak kebanggan orang tuanya, bahkan soal pernikahanpun harus di atur. Garvi memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya dan memberitahukan papihnya melalui chat bahwa Garvi ingin meminta libur seminggu untuk menerima kenyataan ini dan menenangkan dirinya sendiri. ~Pesan ~ Pih, Garvi minta istirahat dulu seminggu! Garvi perlu waktu untuk menerima kenyataan ini! Dan harus ada karyawan yang menggelapkan uang! Garvi lagi cari tau orangnya! Nanti papih aja yang ngurus! Kasih Garvi waktu sampai besok siang untuk mencari pelakunya!” Jelas Garvi.   ||Bersambung ...||
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN