ADC72

1847 Kata
“Karena gua juga gatau, apa yang gua khawatirin, gua gatau mau ngomong apa! Bukan apa-apa sih!” sambung Aurora. “Hmm ... yaudah kalo kayak gitu! Lu coba tenangin diri lu sendiri dulu! Banyak-banyak istigfar biar perasaan lu tuh lega! Jangan panik! Sebentar lagi juga kita pulang kok! Pesawat kita sebentar lagi berangkat kok! Sabar ya!” ucap Garvi sambil mengelus-ngelus kepala Aurora. Aurora yang mendengarkan ucapan tulus dan merasakan sentuhan tangannya yang begitu lembut membuat Aurora merasa nyaman, Aurora merasa tidak sendiri untuk menghadapi badai apa yang akan di laluinya di depan nanti, Aurora mencoba menuruti ucapan Garvi sambil menarik nafas dalam-dalam. Aurora menarik nafsunya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan-pelan, aurora melakukannya beberapa perasaannya menjadi agak tenang, setelah perasaannya tenang Aurora mencoba berfikir positif dan menghilangkan fikiran negatif yang menempel di otaknya kemudian Aurora mengajak Garvi mengobrol santai supaya suasana tidak canggung. “Hmm ... pesawat kita berangkat jam berapa Vi?” tanya Aurora basa-basi. “Ya bentar lagi deh! Kenapa emang?” tanya Garvi. “Ah gapapa Vi cuman nanya aja!” balas Aurora. “Gimana perasaannya udah enakan!” tutur Garvi. “Ya enakan sih! Udah lumayan! Ya gua seneng juga mau pulang! Udah rindu Indonesia nih!” papar Aurora. “Yah bearti ga seneng dong selama di sini sama gua!” goda Garvi. “Wah ya jelas lah! Ngapain juga gua seneng tinggal sama lu! Orang lu ngeselin!” jawab Aurora. “ish ish sama suami kayak gitu banget! Ga ada tuh. baik-baiknya!” keluh Garvi. “Hahaha ya lu tuh gabisa di baikin! Kalo di baikin nanti ngelunjak kayak waktu itu!” gumam Aurora. “Yey ga gitu juga lah! Yaudah kita damai ya! Gua mau baik-baik sama lu deh!” buruk Garvi. “lu ada maunya pasti ya! Hayo ... ngaku lu!” tuduh Aurora sambil menunjukan jari telunjuknya di wajah Garvi. “Gila ini anak ya! Gua baik di bilang ada maunya!” gumam Garvi kemudian menggigit jari Aurora yang menunjukkan. “Aw sakit pea! Lepasin!” kata Aurora sambil berusaha mengambil tangannya dengan tangan satunya dan memukul-mukul Garvi agar melepaskan gigitan, namun bukanya malah di lepaskan justru malah Garvi memegang tangan Aurora untuk memberhentikan pukulannya. “Ih lu mah kayak gitu banget! Lepas woi tangan gua!” ucap Aurora. Garvi melepaskan tangan Aurora yang di giginya, namun tidak dengan tangan Aurora, Garvi masih menganggapnya dengan erat, namun Aurora yang tidak ingin di genggam dengan Garvi terus berusaha melepaskan pegangan tangan Garvi. “Lepas aja kalo bisa wek!” ledek Garvi. “Ih bisa gua ngelepasnya! Tenang aja!” jawab Aurora sombong. Padahal Aurora tau tenaganya tidak akan kuat untuk melepaskan tanganya dari genggaman Garvi, namun Garvi sengaja melemahkan genggaman tangannya hingga akhirnya Aurora terlepas dari eratnya genggaman Garvi. “Ah elu lu! Badan lu keras banget sih! Sakit nih! Merah tuh!” keluh Aurora sambil memasang wajah memulainya. Garvi yang melihat Aurora sangat imut dengan wajah memelasnya merasa gelas dan meladenin ucapan Aurora layaknya berbicara dengan anak kecil. “Mana-mana sini coba biar om liat!” canda Garvi sambil menarik tangan Aurora dan melihatnya memerah atau tidaknya kulit putih Aurora. “Ah gamau-gamau nakal lu mah! Bisanya menyakiti saja! Huh!” Sorak Aurora. “Uuuu sini tayang-tayang yaudah maafin gua ya!” ucap Garvi sambil mencubit pipi Aurora. “Ah gamau! Nakal! Sakit tau!” ambek Aurora. “Uluh uluh! Bocah ngambek jeh! Yaudah nanti pulangnya kita jalan-jalan mau ga!” buruk Garvi. “Gamau ih! Males jalan sama lu mah!” sahut Aurora. “Udah ah ngantuk mau bobo aja! Nanti bangunin ya!” sambung Aurora. “Iyaudah bobo anak bawel!” ujar Garvi sambil mengelus kepala Aurora. Aurora tertidur dengan kepala menyender ke bahu Garvi, Garvi yang melihat Aurora tertidur pun membuat perasaannya menjadi lebih tenang, entah terasa ada perasaan yang hangat saat melihat Aurora senang. ~Place Carissa~ Carissa yang masih menunggu dengan perasaan yang tidak tenang, membuatnya sangat takut, mana tidak tau apa yang harus di lakukanlah, dokter pun belum keluar juga padahal sudah agak lama juga Carissa menunggu dokter. Carissa memutuskan untuk memberitahu keadaan Ganendra kepada Manendra dan Kayra, cuman mereka yang bisa di hubungin saat ini, tanpa fikir panjanga lagi Carissa mengambil ponselnya mencari nama Kayra kemudian menelfonya, ~Panggilan telfon~ “Tut. ... tut ...!” Dering ponsel Kayra. ~Panggilan tak terjawab~ “Aduh sih Kayra segala ga di angkat! Lagi apa sih Kayra! Aku butuh kamu nih!” batin Carissa. Setelah beberapa kali menelfon Kayra namun tak ada jawaban akhirnya Carissa mendengar suara pintu ruang suaminya terbuka, dan benar saja dokter sudah selesai memeriksa keadaan Ganendra, dengan cepat Carissa langsung saja melangkah cepat menuju dokter ingin tau apa yang di katakan oleh dokter. “Dok gimana keadaan suami saya dok!” tanya Carissa terburu-buru. “Keadaan suami ibu sekarang sedang parah-parahnya bu!” jawab dokter. “Ah masa iya dok! Terus gimana dok! Kok bisa padahal beberapa hati terakhir keadaanya sangat sehat!” jelas Carissa. “Iya kondisinya sekarang kita sedang menunggu saja apakah bisa melewati masa kritisnya! Ya doakan saja suami ibu berhasil melawan penyakitnya!” papar Dokter. “sekarang kita pindahkan ke ruangan ICU ya bu!” kata Dokter memberitahu. Setelah selesai berbicara dengan dokter, dokter pun kembali ke ruangannya dan para perawat yang memindahkan Ganendra keuangan ICU, betapa hancurkan hati Carissa bagaimana bisa tadinya tidak terjadi apa-apa! tiba-tiba saja. Carissa berusaha memberitahu Kayra namun belum juga ada jawaban dari Kayra, entah apa yang sedang di lakukan oleh Kayra, sekarang Carissa hanya menunggu seorang diri, ingin memberitahu Aurora tidak bisa karena Aurora sedang di jalan dan ponselnya pasti di matikan. ~ place Manendra~ Manendra yang sudah rapih, hanya tinggal makan dan sehabis itu pergi, dan Kayra yang baru selesai makan dan mereka berdua mengobrol di meja makan mereka. “Hm .. boleh juga nih skill memasaknya mamih! Belum ilang ya!” puji Manendra. “Hilih! Kalo habis di masukin enak gini ngomongnya! kemaren-kemaren apan! Orang di siapin aja ga fi makan tuh!” sindir Kayra. “Kan padahal mah susah masuknya mah! Mending tidur deh! Daripada masak tapi ga di makan! cape-cape huh!” Sorak Kayra. “Hihihi ya kan buru-buru udah telat mamih! Bukan gamau ih!” jawab Manendra tak terima. “Hilih apan tapi giliran di bekel in gamau!” sinis Kayra.. “Hehehe kan lama mamihku sayang! Ngebungkus dulu! Nyari wadah dulu! Ini itu segala macem!” papar Kayra. “Yaudah gimana kalo mamih tuh masaknya pas papih tuh libur! Pasti papih makan!” usul Manendra. “Iya sekarang mah gamau masak kalo pagi-pagi mah! Mending mamih tidur aja daripada bangun pagi-pagi masak ga di makan! Udah makan yang banyak pih! Mau jam berapa kita pergi ke Carissa?” tanya Kayra. “Iya wkwkwkwk yaudah maaf lah mamih! Jangan marah-marah! Ya nanti aja kalo kita udah selesai makan! Belum nelfon juga!” sahut Manendra. Manendra dan Kayra makan bersama menyantap sate yang di buat Kayra, mereka makan dengan cepat dan lahan setelah menyelesaikan makannya Kayra meletakan piring-piring dan merapihkan lauk di meja makan di bantu oleh Manendra. Karena memang pembantu Kayra sedang pulang kampung jadi Kayra melakukan semuanya sendiri, dan tidak ada banyak orang juga di rumahnya hanya berdua bersama Manendra, setelah Kayra selesai mencuci piring, Kayra mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Manendra menonton film di TV, Manendra mengambil ponselnya yang terletak di sampingnya niat hati ingin menelfon Garvi untuk menanyakan keberadaannya sudah di mana, namun melihat panggilan tak terjawab dari Carissa. “Wah ada apa nih! Carissa menelfon?” batin Maendra. “Coba telfon balik deh!” sambung Manendr. Manendra menelfon Carissa untuk menanyakan kenapa menelfonnya. ~Panggilan telfon~ “Tut ... tut ...!” suara Dering Carissa. “Hallo assalamuaikum!” salam Carissa. “Walaikumsalam Carissa, kenapa tadi nelfon?” tanya Manendra. “Iya ini mau ngasih tau! Kalo Ganendra lagi krisis! Sekarang masuk rumah sakit! Ada di ruangan ICU!” jawab Carissa terbata-bata. “Hah! Kok bisa! Sejak kapan! Kemaren bukanya masih baik-baik aja ya!” sahut Manendra heran. “Iya gatau tadi pagi tiba-tiba aja penyakitnya kambuh lagi!” tutur Carissa. “Kok bisa ya! Yaudah nanti aku sama Kaya kesana! Kasih tau aja di rumah sakit mana!” ujar Manendra. “Iya nanti di kirim pesan! Cepet kesini ya! Garnak banget nunggu disini sendiri!” lirih Carissa. “Iya tunggu ya Kayra lagi mandi!” jawab Manendra. “Yaudah udah dulu aja! Assalamualaikum!” ucap Cariisa. “Walaikumsalam!” sahut Manendra sambil menutup ttelfonnya. Setelah telfonya di matiin, Manendra menghampiri Kayra yang lagi mandi, dan menggedur-gedur pintu kamar mandinya memberitahu agar Kayra mandi dengan cepat dan bisa bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi Ganendra. “Mih .... mih ....!” panggil Manendra. “Iya kenapa pih! Bentar lagi selesai!” jawab Kayra singkat. “Burua. Mih! Jangan lama-lama!” protes Manendra. “emang kenapa sih pih! Yaudah bentar lagi!” gumam Kayra. Setelah mendengar ucapan Manendra yang terkesan tergesah-gesah, membuat Kayra penasaran dan mempercepat gerakan, hingga akhirnya Kayra keluar dari kamar mandi menggunakan handuk mandinya, Kayra keluar kamar mandi melihat Manendra yang berada di sisi kasur membuat Kayra menanyakan tentang perihal apa yang membuatnya menyuruh kayra cepat-cepat padahal sebelumnya bersantai. “Ada apa pih?” tanya Kayra. “Ini tadi papih nelfon Ganendra terus kata Carissa Ganendra lagi kritis mih!” ungkap manendra. “Hah! Kok bisa sih, sakitnya mulai dari kapan emang? Terus sekarang di rumah sakit mana?” tanya Kayra kaget. “Iya gatau, bilangnya mah tadi pagi tiba-tiba kambuh aja penyakitnya, ada di rumah sakit! Yaudah mamih cepet siap-siap! Kita kesana!” ajak Manendra. “Oh astagfirullah, bukannya kemaren udah baik-baik aja ya! Kenapa jadi kayak gitu tiba-tiba! Katanya penyakitnya sudah membaik!” papar Kayra. “Papih juga gatau pasti mih! Belum nanya-nanya lagi soalnya! Tadi cuman bilang gitu aja!” sahut Manendra. “Oh yaudah! Kita kesana dulu aja! Tunggu bentar! Terus udah ada kabar dari Garvi sama Kayra belum?” tutur Kayra. “Iya belum ada kabar juga! Kayaknya lagi di jalan deh! Yaudah ayo mih!” ajak Manendra. “Yaudah yuk pergi!” sambut Kayra mengiyakan. Manendra dan Kayra pergi menuju rumah sakit, mereka sibuk sendiri-sendiri, Manendra yang menyetir dan Kayra yang berdandan di dalam mobil, beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai di rumah sakit. ~place Aurora~ Aurora yang terbangun dari tidurnya melihat keadaan sekitarnya kemudian melihat jam, Garvi yang sadar jika Aurora sudah bangun membiarkannya begitu saja, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Garvi, Garvi hanya melihat Aurora dan kembali sibuk dengan tidurnya. Aurora yang melihat Garvi tertidur lagi membangunkannya dan menyuruhnya untuk tidak tidur, Garvi harus menemaninya mengobrol. “Vi, kok lu malah tidur sih?” ucap Aurora. “Lah ya terus gua harus ngapain!” jawab Garvi singkat. “Yailah lu tuh harus liatin jalan! Ini kita udah sampe dimana! Ini udah jam berapa!” tanya Aurora. “Ish ish ngapain gua ngeliatin jalan! Kagak ada apa-apan di jalan! Gua suruh ngeliatin awan gitu maksud lu! Terus lu enak-enakan tidur!” omel Garvi. “Aish aish lu tuh ngapain sih! marah-marah mulu! Perasaan tadi sebelum gua tidur lu ga kenapa-kenapa deh!” ungkap Aurora mengingat-ngitat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN