ADC73

1829 Kata
“Ya kesel gua! Orang mau tidur ga boleh! Udah tau ngantuk malah di bangun in! Lu kan udah tidur! Sekarang gua yang ngantuk! Lu mah!” keluh Garvi. “Aish lu mah yaudah yaudah tidur aja sono! Gua ga bakal ganggu!” ketus Aurora. “Yaudah, gua tidur bye!” sahut Garvi acuh. Garvi tertidur namun berbeda dengan Aurora yang terjaga, Aurora menunggu pesawat sampai sambil bermain game ofline di ponselnya, setelah menunggu kira-kita 1 setengah akhirnya pesawatnya landing, pemberitahuan pramugari juga sudah terdengar dan para penumpang juga sudah mulai bersiap untuk turun, begitupun dengan Aurora dan Garvi. Aurora membangunkan Garvi yang masih belum juga terbangun dari tidurnya. “Vi ... bangun!” panggil Aurora. “Vi bangun!” panggil Aurora sambil menoel-noel tubuh Garvi. “Hmm ..,” sahut Garvi. “Apan lagi sih! Baru aja gua tidur nyenyak! Lu mah kebiasan! Baru aja gua mau nyenyak tidur!” gumam Garvi sambil merem. “Ah udah lah serah lu aja! Di bangunin malah ngomel! Udah sampe pea! Dah lah gua tinggal lu!” ancam Aurora. Garvi yang mendengar ucapan Aurora kalo teryata sudah sampai, matanya langsung terbuka dan membulat sempurna, Garvi langsung melihat jam dan memperhatikan keadaan sekitar, setelah melihat masih banyak orang yang duduk di kursi masing-masing, membuat Garvi merasa tenang, kemudian mengatur pernafasanya. Setelah selesai mengatur pernafasanya Garvi pun mulai mengajak Aurora berbicara, membujuk Aurora yang masih terlihat kesal karena di marahin tadi, sebenarnya Garvi tidak berniat memarahi Aurora hanya saja terbawa emosi karena di bangunkan di saat yang sedang ingin terlelap di alam bawah sadaranya dan itu membuat jantung Garvi bertedak lebih kencang seperti habis lari maraton dan kepalanya menjadi pusing. “Maaf Ra? Gua ga maksud buat marah sama lu!” ucap Garvi. “Ah gapapa kok! Santai aja! Kalem lah! Udah biasa kok!” jawab Aurora seadanya. “Lu mah gapapa tapi diem aja! Bete gitu!” kata Garvi. “ah ga kok! Perasaan lu aja itu mah! Orang gua gapapa kok! Kenapa juta gua harus bete! Ga ada alasannya kan! Di omong kayak gitu mah ya udah biasa!” ketus Aurora. “Halah boong! Gua tuh tau lu kayak gimana Ra! Gua bener-bener lepas kendali tadi beneran deh! Maafin dong!” buruk Garvi. “Apan sih lu lebay banget! Lu punya pikiran jangan kemana-mana deh! PD banget! Gua kan udah pernah bilang sebelumnya ga sih! Gua ga peduli sama lu! Jadi mau lu marah-marah sama gua juga ya gua bodo amat!” tegas Aurora. “Gua ga bakal anggep lu kayak gitu! Gua ga akan marah! Gua hanya akan diem!” sambung Aurora. “Hmm ... ya Allah Ra masa gara-gara kayak gini doang sampe kayak gini!” bela Garvi. “Jih ini orang ga paham bearti! Bukan masalahnya, tapi emang bener kan gua pernah ngomong kayak gitu!” ucap Aurora sambil meletakan jari telunjuknya ke dagunya dan memutarkan bola matanya tanda Aurora mengigat dan berfikir. “Hmm ... iya sih iya bener tapi kan!” tolak Garvi sambil memasang wajah memelesanya. “Yaudah turun dah! Udah sampe! Jangan ngomong mulu!” gumam Aurora. Garvi dan Aurora turun dari pesawatnya dan pergi ke tempat barang, untuk mengambil koper dirinya dan di ikuti oleh Garvi di belakang Aurora, Setelah selesai mengambil koper Aurora menuju loba bandara dan langsung menelfon orang tuanya dan Garvi yang menelfon supir untuk menjemputnya. ~Dering ponsel Carissa~ “Tut tut tut!” Dering ponsel Carissa. “hallo mom ...!” panggil Aurora. “Hallo nak ...! kamu udah dimana nak?” tanya Carissa. “Ini di bandara mom! Mommy kenapa? Mommy habis nangis ya!” ucap Aurora heran. “Mommy kenapa?” sambung Aurora. “Hmm daddy Ra!” lirih Carissa. “Daddy kenapa mom! Mommy jangan nakutin! Jangan setengah-setengah ngomongnya mom!” gumam Aurora dengan rasa khawatir menunggu jawaban Carissa. “Daddy kritis! Ini mommy lagi di rumah sakit! Di temenin sama mertua kamu nak!” papar Carissa. “Hah kok bisa, yaudah Aurora kesana sekarang mom!” ujar Aurota terburu-buru. “Iya ati-ati nak!” ucap Carissa. “Iya mom! Aurora tutup ya!” jawab Aurora seadanya. Aurora langsung mendekati Garvi dengan ekspresi wajah tidak tenang, Aurora merasa sangat takut dan Garvi yang sedang menelfon supirnya merasa khawatir sama Aurora, apa yang membuatnya seperti orang ketakutan dan ingin nangis. ~pembicaraan Garvi di telfon~ “Hallo pak,” sapa Garvi. “Iya pak ada yang bisa saya bantu, atau ada yang harus saya kerjakan!” tanya supir. “Iya pak bisa jemput saya di bandara sekarang?” perintah Garvi. “Oh iya siap pak, bisa, ini saya berangkat sekarang!” ujar supir mengiyakan. ~Telfon di matikan~ Garvi yang merasa kondisi Aurora tidak baik-baik saja berusaha menenangkan Aurora dengan mengenggam tangan Aurora seakan memberi kekuatan kepada Aurora. “Kamu kenapa? Kok tiba-tiba gelisah gitu? Apa yang kamu fikiran?” tanya Garvi lembut sambil melihat wajah Aurora dengan tatapan lembut seakan menyemangati Aurora bahwa dia tidak sendiri menghadapi masalah yang di hadapinya. “Daddy masuk rumah sakit!” lirih Aurora singkat. “Yaudah sabar ya sayang, kita langsung kerumah sakit ya!” tutur Garvi sambil memegang tangan Aurora. “Udah tenang ya! Daddy pasti gapapa kok! Daddy pasti bisa ngelewatin ini semua! Kita berdoa aja buat daddy oke! Tenang ada aku yang selalu bisa ngelindungin kamu kayak daddy kamu ngelindungin kamu kok! Ada aku yang selalu bisa kamu andaikan!” sambung Garvi menenangkan. Aurora yang tidak bisa berkata apapun, hanya mengangguk saja saat mendengar ucapan Garvi, dan Garvi yang terus berusaha menenangkan Aurora, mengelus-elus bahu Aurora, Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya jemputan datang, Garvi dan Aurora segera beranjak dari duduknya dan pergi menggunakan mobil ke rumah sakit. Aurora dan Garvi sudah di dalam mobil dan mereka langsung menuju rumah sakit, tidak ada pembicaraan di dalam mobil, hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit, setelah sampai di rumah sakit Aurora langsung turun dengan terburu-buru di ikutin dengan Garvi di belakang Aurora. Carissa, Manendra dan Kayra sedang menunggu di depan ruangan Ganendra mereka semua tampak khawatir dengan keadaan Ganendra yang masih dalam masa kritis, Carissa melihat Aurora berjalan dari kejauhan, Aurora berjalan dengan cepat menghampiri Carissa. Setelah sampai di depan ruangan Ganendra, Aurora menyalimin Carissa, Kayra dan Manendra setelah selesai berbasa-basi Aurora langsung menanyakan tentang keadaan Ganendra. “Mom gimana keadaan Daddy?” tanya Aurora tidak tenang. “Daddy masih kritis Ra! Untung kamu cepet dateng! Mommy gatau lagi kalo kamu masih belum pulang! Mamih gatau lagi Mau gimana bilang sama kamunya kalo terjadi apa-apa sama daddy!” lirih Carissa. “Ih mommy kenapa ngomongnya kayak gitu banget! Jangan ngomong kayak gitu lah! Daddy pasti bisa ngelewatin ini kok mah! Kita harus kuat demi Daddy!” ucap Aurora menenangkan. “itu gimana kronologi kejadiannya mah! Kapan daddy masuk rumah sakit! Terus kapan masuknya?” tanya Aurora. “Tadi pagi nak! Gatau tadinya baik-baik aja, lagi ngobrol jeh sama mommi terus tiba-tiba ngeluh kesakitan yaudah mommy ajak kesini! Eh gataunya pas di bawa ke rumah sakit malah kritis!” jelas Carissa. “Terus tadi kata dokternya gimana?” sela Kayra. “Dokter bilang kankernya semakin menggerogoti otaknya dan semakin parah, selama ini memang membaik tapi obat yang di konsumsi cuman bisa buat menghilangkan rasa sakitnya saja tidak untuk menyembuhkan!” papar Carissa. “Waduh gawat dong kalo kayak gitu! Lu yang kuat ya gua yakin Ganendra bisa melewati ini semua! Lu hanya perlu yakin aja!” ucap Manendra menenangkan. Aurora yang juga merasakan keatakutannya yang sangat luar biasa harus menutupi itu semua dan terlihat tetep tenang, Aurora tidak ingin membuat Carissa semakin sedih, setelah Carissa di tenangkan oleh Aurora dan juga ada Manendra dan Kayra yang ikut menenangkan Carissa. Perasaan Carissapun membaik, Aurora izin untuk keluar sebentar untuk dan di ikuti oleh Garvi, Garvi tau Aurora pasti ingin melepaskan semua bebannya yang Aurora tahan selama ini, di tambah harus terlihat baik-baik saja setelah apa yang menimpa daddynya. “Mom, mih, pih Aurora ke luar sebentar ya!” pamit Aurora. “Mau kemana nak?” tanya Kayra. “Ini mih beliin makanan! Kalian belum pada makan kan?” jawab Aurora. “Jangan lama-lama nak! ati-ati!” sambung Carissa. “Iya mom, di tinggal dulu ya semuanya!” tutur Aurora. Garvi yang sedang duduk mendengar ucapan Aurora, dengan sigap mengikuti Aurora juga. “Aa.... iya Garvi juga ikut Aurora ya!” ucap Garvi dengan Cepat. “Iya ati-ati!” jawab Carissa, Manendra dan Kayra. Aurora yang sudah jalan lebih dulu dengan langkah lesuhnya di susulin oleh Garvi yang berlari dan tiba-tiba ada di samping Aurora, Aurora yang heran mengapa bisa orang satu ini mengintilinya dan tidak memberikannya ruang untuk sendiri akhirnya mengambilnya. “Lu ngapain!” ujar Aurora melirik Garvi dengan menaikkan matanya ke atas dan bawah melihat Garvi. “Gua mau nemenin lu!” jawab Garvi santai sambil mengelus rambut Aurora. “Ah apan sih lu! Di depan umum juga! Gausah pegang-pegang!” ketus Aurora. “Lagian lu ngapain sih ngikut aja! Sana coba lah! Gua gamau di buntutin!” sambung Aurora. “Gua tau lu tuh lagi sedihkan! gua mau terus di samping lu!” ucap Garvi. “Apan sih lebay banget! Dah sana gua mau sendiri! Toh gua biasa sendiri! Selama ini aja gua fine-fine aja kok! Selama ini juga lu ga peduli kan!” ujar Aurora. “Ih lu tuh kenapa sih! Gua tuh gamau lu tuh merasa sendiri! Masih ada gua! Lu lupa gua pernah bilang apa!” ucap tulus Garvi. “Ya tapi gua mau sendiri dulu!” lirih Aurora pertamanya seketika hancur dan air mata menetes di pipinya. “Lu ga perlu ngerasa sendiri Ra! Gua selalu ada buat lu! Walaupun pernikahan kita itu terpaksa! Tapi gua bakal tetep jadi sosok suami yang baik buat lu Ra!” ungkap Aurora. Aurora terdiam sejenak mendengar ucapan Garvi yang terasa sangat tulus, tidak lama setelah mendengar ucapan Garvi, Aurora tidak lagi bisa menahan semuanya dan akhirnya tangisannya pecah Aurora tidak lagi menangis dalam diam, Aurora langsung memeluk Garvi dan menangis di pelukan Garvi. Garvi terus menenangkan Aurora dan disisi lain juga ada Carissa yang masih bersedih, kini Carissa sudah masuk ruangan karena ruangan ICU, Carissa masih menunggu duduk di samping kasur Ganendra sambil berbicara sendiri menyemagati sang suami. “Dad ... daddy pasti bisa sehat kembali kan! Daddy ga akan ninggalin mommy kan! Daddy ga mungkin kan ninggalin Aurora juga kan! Katanya daddy mau liat cucu kita kan dad! Sekarang Aurora udah pulang dad! Aurora qda disini dad!” ucap Carissa sambil menangis. “Mommy bakal nemenin daddy terus! Daddy semangat ya! Daddy pasti bisa! Daddy kuat kan!” sambung Carissa lagi. Carissa yang terlihat sangat putus asa terlihat dari cara bicaranya membuat Kayra mendekat mengelus-ngelus pundak Carissa. Aurora yang sudah terliha sedikit tenang menyudahi tangisnya, teringat keadaan mommynya yang memintanya untuk tidak berlama-lama, jadi Aurora bergegas membeli makanan dan setelah selesai membeli makan, Aurora kembali ke ruangannya Ganendra. Aurora yang sadar matanya pasti terlihat seperti habis menangis menyuruh Garvi untuk masuk lebih dulu, Aurora ingin ke kamar mandi dulu untuk mencuci wajahnya agar tidak terlihat seperti habis menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN