Elang tertidur lelap setelah ia sampai di hotel dengan wanita yang ia temui di bar itu.
Wanita yang bersamanya itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di wastafel ia menatap wajah cantiknya di cermin kemudian ia menghela napas berat.
"Aku nggak nyangka hari ini terjadi juga," lirih Naura. Ya, wanita yang bersama Elang itu tak lain dan tak bukan adalah Naura.
Naura kemudian menyentuh bibirnya yang sedikit membengkak akibat ciumannya dengan Elang. Pemuda itu sesuai yang ia bayangkan, brutal dan sangat ganas di ranjang.
"Not bad," ucap Naura lalu ia tersenyum licik. Ia melirik ke arah lehernya yang banyak tanda merah pemberian dari Elang.
Elang terbangun dari tidurnya, ia pun panik ketika ia tak melihat Naura di sampingnya. Ke mana wanita itu pergi? Apakah pertemuannya dengan Naura hanyalah mimpinya saja? Namun apa yang ia rasakan terasa nyata baginya, ia benar-benar merasakan sentuhan Naura yang membuatnya tergila-gila.
Untuk membuktikan bahwa kejadian tadi nyata adanya, Elang pun melihat ke bawah di mana tubuh atletisnya hanya tertutup celana pendeknya saja. Ia menyeringai, berarti kehadiran Naura nyata adanya dan ia tak berkhayal saja.
"Sayang?" panggil Elang sambil turun dari tempat tidur.
Naura datang memenuhi panggilan Elang, ia tersenyum nakal sambil memainkan rambutnya itu.
Elang menelan ludah melihat tubuh indah Naura yang hanya tertutupi daster pendek berwarna pink itu.
"Aku nggak lagi mimpi kan?" tanya Elang sambil menghampiri Naura kemudian ia memeriksa wanita itu dengan seksama, benar itu adalah Naura wanita yang ia cintai.
Naura mengangguk sambil tersenyum. "Iya dong, emangnya siapa lagi?" ia berjinjit untuk memeluk Elang yang tinggi itu. Elang tentu saja merasa senang dan memeluknya balik.
"Aku kangen banget sama kamu, Naura. Aku sampai hampir gil* gara-gara nggak liat kamu. Kamu ke mana aja belakangan ini?" Elang mengusap rambut Naura dengan penuh kelembutan. "Aku bisa mat* kalau sampai nggak ketemu sama kamu, Sayang."
Naura tampak terbaru mendengar ucapan Elang tersebut, rupanya pemuda itu memang benar-benar tak bohong saat mengatakan bahwa ia merindukannya. Ia sudah membuktikan sendiri ketika melihat Elang yang mabuk di bar sudah seperti orang yang tak ingin melanjutkan hidup.
"Aku nggak ke mana-mana kok, kamu aja yang nggak nyari aku," bisik Naura.
"Aku udah nyari kamu ke manapun tapi gagal," bantah Elang.
"Masa seorang stalker sejatinya aku kok bisa gagal?" gurau Naura sambil mengusap pipi Elang.
Elang terkekeh lalu ia mengecup pipi chubby Naura dengan gemas. "Dari mana kamu tau kalau aku ini penggemar berat kamu hm?" ia menjawil dagu Naura.
"Itu nggak penting, sayang. Yang penting sekarang itu..." Naura menatap nakal memberi kode untuk Elang.
Elang yang paham maksud Naura lantas mengangkat tubuh wanita itu yang membuat Naura memekik kaget dan mengalungkan lengannya di leher Elang.
"Kamu ternyata nakal juga ya?" bisik Elang kemudian ia mengecup kening Naura dengan lembut.
Naura tertawa kecil. "Yang penting kamu suka kan?"
"Suka banget banget," jawab Elang. Ia lalu membaringkan Naura di atas ranjang dan mulai mencium bibirnya dengan lembut.
"Aku juga mau di atas meja nanti," bisik Naura di sela-sela ciuman mereka.
"Oke sayang."
Selanjutnya ruangan kamar hotel yang mewah itu menjadi saksi percintaan mereka kembali yang entah kapan berhentinya.
Di tempat lain tepatnya di rumah terlihat Jennifer yang sedang masak di dapur sendirian. Ia sibuk masak sup ayam hari ini.
Aldo datang ke dapur kemudian ia duduk di meja makan sambil bermain ponsel.
"Sayang, kamu bantuin aku dong sini kan aku lagi masak makanan kesukaan kamu!" pinta Jennifer dengan kesal karena Aldo malah asyik dengan ponselnya tak peka.
"Kamu peka dikit dong, sayang!" ujar Jennifer lagi.
"Iya, sayang. Maaf ya kalau aku nggak peka, maaf ya sayangku kasihku milikku cintaku." Dengan terpaksa Aldo meletakkan ponselnya itu ke atas meja kemudian ia menghampiri sang kekasih tercinta.
"Sini sini aku bantuin."
"Gitu dong! Kamu harus peka biar aku ini makin cinta sama kamu," ujar Jennifer merasa senang karena Aldo mau juga membantu dirinya.
Iyalah aku harus mau meskipun terpaksa, kalau nggak gitu aku bisa kehilangan sumber uang aku yaitu kamu Jennifer batin Aldo.
"Kamu bisa potongin wortelnya ini buat bikin bakwan terus abis itu kamu potongin bakso terus nanti masukin ke sayur aku ini soalnya tadi aku lupa masukin baksonya."
"Oke siap, sayangku." Aldo mulai melakukan apa yang Jennifer perintahkan padanya.
Duh gini amat sih kok aku jadi disuruh-suruh gini ya sama perempuan? Perasaan si Naura aja pas dia masih jadi istriku tapi dia nggak pernah nyuruh aku ini itu mana berani dia batin Aldo nelangsa.
Aldo menghela napas panjang, baru juga ia cerai dari Naura namun ia masih tetap kepikiran mantan istrinya yang baik hati dan setia padanya itu.
"Aduh kok kamu motongnya kecil banget kayak gitu sih? Aduh jangan gini dong, Mas! Kamu kalau motongnya kecil kayak gitu nanti jadi nggak enak rasanya," tegur Jennifer.
"Iya maaf deh, sayang. Aku mana tau soal motong ginian aku ini kan nggak pernah masuk dapur," ujar Aldo membela diri.
"Yang lumayan gede dong nih kayak gini nih sini aku contohin." Jennifer memotong wortel sesuai dengan apa yang ia inginkan dan Aldo pun dengan terpaksa mau memperhatikannya.
"Oh gitu ya, sayang? Iya deh aku coba ya!"
"Iya kayak gini cara motongnya yang bener awas loh kalau sampai salah lagi!" balas Jennifer.
Kembali ke hotel, setelah selesai bersenang-senang bersama, Naura dan Elang kini berbaring sambil berpelukan. Elang tampak lega setelah ia bertemu kembali dengan Naura dan bahkan kini mereka sudah satu selimut berdua.
"Kamu seneng kan, sayang?" tanya Naura sambil memainkan rambut Elang.
Elang mengangguk dengan semangat. "Seneng pakai banget, sayang."
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Itu kayaknya ada yang telepon kamu deh, gih kamu angkat aja siapa tau penting kan?" ujar Naura.
"Ganggu aja sih! Nggak tau apa kita lagi berduaan gini."
Naura tertawa kecil. "Udah angkat dulu aja!"
"Iya deh."
Naura tersenyum melihat Elang yang memakai kaosnya itu kemudian mengambil ponsel.
[ Iya hallo? ] sapa Elang dengan malas bahkan ia tak melihat dulu siapa si penelepon.
[ Hallo, sayangku! My honey, kamu lagi di mana? Tolong dong jemput aku di bandara aku udah sampai nih! ]
DEG!
Elang menelan ludah begitu ia paham siapa orang yang telah menghubunginya itu. Itu adalah Ria yang merupakan tunangannya sendiri.