"Kamu keterlaluan, Mas! Dengan seenaknya kamu bawa laki-laki lain masuk ke kamar kita ini dan malah yang lebih parahnya lagi kamu mau nyerahin aku ke laki-laki itu. Kamu tega Mas kamu suami yang kejam!" seru Naura di sela-sela tangisnya itu.
"Aku nggak peduli! Mulai sekarang aku talak kamu, Naura. Langsung aku talak tiga, mulai hari kamu Naura Maudy bukan istriku lagi! Kita udah nggak punya hubungan apapun lagi!" ucap Aldo dengan tegas.
Mendengar hal itu hati Naura yang sudah sakit hatinya semakin sakit mendengarnya, apa salahnya sehingga Aldo memperlakukannya seperti itu? Dengan semua cinta dan pengabdiannya sebagai istri selama ini namun hanya balasan menyakitkan itu yang ia terima dan malah sekarang ia diceraikan.
"Kamu kan sekarang bukan istriku lagi, Naura. Aku bukan suami kamu lagi jadi hubungan kita sekarang udah berakhir kita nggak ada ikatan apapun lagi. Jadi kamu harus mau layani dia biar kita berdua dapat uang. Anggap aja sekarang kita ini lagi kerjasama sebagai rekan bisnis, iya mulai sekarang kita ini rekan bisnis bukan lagi suami istri. Kamu nanti dapat enaknya dan aku dapet uangnya kan sama-sama menguntungkan," ujar Aldo dengan mulut jahatnya itu.
Naura menghapus air matanya dengan kasar, baiklah ia sudah memantapkan hatinya. Aldo sudah tega mencampakkannya sekarang dan bahkan berniat menjualnya ke p****************g lalu apa lagi yang bisa ia pertahankan di sini.
"Oke. Tapi Mas Aldo keluar dulu dari kamar ini kan katanya saya harus layanin dia," usir Naura dengan tatapan datarnya.
Aldo tersenyum lebar dan ia mengangguk cepat. "Oke. Kamu layani dia dengan baik, aku tungguin di luar! Pokoknya aku terima beres aja" katanya lalu ia pun keluar dari kamar itu.
Naura menatap tajam laki-laki yang masih di sana itu, ia merasa jijik melihat senyum mes*m laki-laki itu.
"Kamu sekarang milik aku, dan kalau pelayanan kamu itu memuaskan maka duit yang akan kamu terima juga semakin banyak. Untuk perempuan secantik kamu dan seksi kayak kamu ini uang berapapun tetap akan saya berikan ke kamu," ucap laki-laki itu dengan sombongnya.
"Kalau gitu kamu harus merem karena saya akan melayani kamu dengan sangat hot," titah Naura sambil turun dari tempat tidur.
Laki-laki itu mengikuti perintah Naura, ia naik ke atas tempat tidur dan duduk membelakangi Naura.
"Nah gitu betul, sebentar saya mau siap-siap dulu," kata Naura. Yang ia maksud siap-siap adalah ia keluar dari jendela kemudian ia pun kabur dari rumah itu.
"Duh kok lama banget ya?" ucap laki-laki itu, karena penasaran ia pun akhirnya berbalik. Ia terbelalak kaget begitu ia tak melihat keberadaan Naura di dalam kamar itu. Ia panik lalu ia pun keluar untuk menemui Aldo. Ia protes pada Aldo karena Naura ternyata sudah kabur.
"Brengs*k!" Aldo mengumpat kasar lalu ia pergi mencari Naura namun mantan istrinya itu tak terlihat di manapun. Ia mengumpat kesal lagi karena ia gagal mendapatkan uang dan juga pastinya ia sangat marah.
"Si*lan kamu, Naura. Udah jadi mantan istripun kamu tetep bikin aku jengkel. Dasar kamu perempuan nggak ada gunanya perempuan nggak tau diuntung! Awas kalau aku ketemu sama kamu aku bakalan abisin kamu, Naura!" umpat Aldo dengan penuh amarah.
Naura berlari tak tentu arah bahkan ponselnya pun tak ia bawa karena ia begitu ketakutan atas kejadian tadi. Setelah ia mengira bahwa ia sudah aman, ia pun berhenti di pinggir jalan.
Naura kembali menangis teringat kejadian tadi, kejadiannya begitu cepat ia rasakan. Betapa sungguh menakutkan saat ia dihadapkan dalam situasi mengerikan bahkan di dalam kamarnya sendiri. Di mana ada seorang pria tak dikenal yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya. Sungguh tak pernah ia mengira bahwa orang yang menyuruh pria mes*m itu datang adalah Aldo. Ia bersyukur sekarang ia sudah terlepas dari pria jahat seperti Aldo mantan suaminya itu.
"Aku nggak nyangka banget, aku beneran nggak nyangka kalau Aldo itu bisa sejahat itu ke aku," ujar Naura. Ia kini sudah tak sudi untuk memanggil Aldo dengan sebutan Mas lagi karena apa yang telah pria jahat itu lalukan padanya selama ini.
"Aku selama ini sabar banget sama dia, aku cuma diem aja kalau dia marah dan walaupun dia itu juga sering berbuat kasar sama aku tapi aku cuma diem. Aku diem dan sabar karena aku cinta sama dia, aku berharap dia bakalan berubah aku terus nunggu dia berbuah jadi baik ke aku jadi sayang ke aku tapi tetap aja nggak bisa. Dia ternyata lebih kejam dari manusia jahan*m," ucapnya.
Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di depan Naura lalu dua orang pria keluar dari mobil mewah itu dan membekap mulut Naura dari belakang. Mereka membawa Naura masuk ke dalam mobil tersebut dan segera tancap gas pergi dari sana.
Lima hari kemudian, Aldo mendapatkan surat cerai dari Naura jadi ia langsung menandatangani surat tersebut dengan terpaksa karena ia takut nyawanya akan melayang di tangan dua laki-laki bertubuh kekar yang membawa surat tersebut. Entah siapa mereka ia pun tak tahu, yang jelas mereka adalah orang suruhan dari Naura pikirnya.
"Serem amat tuh orang siapa yak? Kok bisa sih mereka yang datang nganterin nih surat cerai? Apa mereka itu temennya Naura? Ah mana mungkin si cupu Naura punya teman dia kan orang cupu nggak pernah keluar rumah nggak kenal siapapun!" ujar Aldo setelah mereka berdua pergi. Aldo pun akhirnya tak mau ambil pusing, ia masuk ke dalam kontrakannya.
Dua minggu kemudian
Sejak Elang tak melihat Naura ia selalu mabuk-mabukan karena begitu terpuruk merasa ditinggalkan oleh seorang wanita yang begitu ia cintai. Seperti saat ini saat ia sedang mabuk berat ia pun tergeletak begitu saja di sofa club malam seorang diri.
Datang seorang wanita cantik berambut sebahu dan berpakaian minim, ia duduk di samping Elang. Ia tersenyum simpul mendengar pemuda tampan itu mengigau memanggil nama Naura.
"Bangun, sayang. Saatnya kita pergi dari sini," bisik wanita cantik itu. Sontak saja Elang membuka matanya dan tersenyum melihat wanita cantik yang bertubuh seksi itu.
Elang pun duduk lalu ia mendekap tubuh wanita itu kemudian ia mencium bibirnya dengan paksa. Wanita itu awalnya terbelalak kaget namun ia tak menolaknya, ia malah membalas ciuman itu dengan tak kalah panasnya.
"Kita ke hotel?" bisik Elang dengan napas yang memburu setelah ia mengakhiri ciuman dan wanita itu mengangguk setuju.