Chapter 6

1157 Kata
Kini Gendis dan Bintang sudah berada dalam bis, dengan wajah di tekuk Gendis terus membuang muka dari Bintang. "Gendis" panggil Bintang yang duduk disampingnya. Namun Gendis sama sekali tidak bergeming. "Gendis, ayolah ... jangan menekuk terus wajahmu seperti Ellahan buku!" gerutu Bintang mencoba mengganggu Gendis. "Diam, lagipula kenapa kamu harus mengajakku ikut acara seperti ini sih?--" "Aku tidak menyukainya" ucap Gendis dan Bintang bersamaan. Kening Gendis mengkerut mendengar ucapan Bintang. "Aku juga tidak menyukainya, tapi jika aku diam di rumah ... aku bosan" jawab Bintang. "Ayolah untuk hari ini saja, mari kita bersenang-senang" Gendis kembali membuang mukanya, "Bersenang-senanglah sendirian!" ucap Gendis menempelkan earphone pada kedua telinganya. Di dalam bis, semua bernyanyi bersama. Terlihat wajah mereka yang bahagia, kecuali Gendis dan Bintang. Hingga akhirnya, Bintang mengambil salah satu earphone dari telinga Gendis dan menempelkan pada telinganya. "Suara mereka semua membuatku mual" ujar Bintang, terlihat Gendis terkekeh mendengar ocehan Bintang. Mereka berdua berbagi earphone dan mendengarkan lagu yang sama, hingga keduanya tak sadar terlelap dalam perjalanan. "Pssttt, kalian lihat mereka" ucap Midah pada anak-anak lain sambil menunjuk bangku yang ditempati Gendis dan Bintang. Kini beberapa pasang mata terlihat memperhatikan posisi Gendis dan Bintang yang kepalanya saling menumpuk dengan mata terpejam. Mereka berdua sungguh menikmati tidurnya. "Pantas saja, manusia satu ini tidak membuat ulah lagi di kelas. Ternyata sudah menemukan spesiesnya" ujar Dino tertawa. "Apa mereka berpacaran? Lihatlah mereka berdua berbagi earphone" tunjuk Samantha, membuat semuanya terkekeh. Namun disaat itu, mata Gendis dan Bintang terbuka. Betapa kagetnya mereka saat melihat beberapa pasang mata yang kini memperhatikan. "Oh tidak, sedang apa kepalamu diatas kepalaku!" pekik Gendis membenarkan posisi duduknya. "Kepalamu terlebih dahulu yang bersandar pada pundaku!" Ella Bintang tak mau kalah. "Cieeee~~~" sorakan itu terdengar begitu kompak di dalam bis. *** Setelah melalui perjalanan selama lebih dari tiga jam setengah akhirnya bis yang dinaiki Gendis dan teman-teman lesnya tiba di Taman Impian Jaya Ancol. Sebenarnya ini bukan acara yang mewajibkan seluruh murid les untuk ikut, namun dalam surat tertera, jika tidak mengikuti acara ini maka harus tetap membayar. Tidak salah jika Gendis tak menginginkan terlibat dalam acara ini. Seluruh anak-anak segera berhamburan keluar bis setelah Pak Kusuma memberikan pengumuman acara bebas untuk bermain dan kembali bertemu di bis jam enam sore nanti. Sungguh waktu yang cukup lama untuk mencoba semua wahana yang ada di Dufan. Sedangkan Gendis? Ia berjalan sendirian. Lalu kemana perginya Bintang? Gendis mulai mengamati wahana permainan yang berada di hadapannya, beberapa badut menggodanya hingga membuat Gendis mengeluarkan kamera dari dalam tasnya dan mulai membidik satu-persatu moments menarik menurutnya. Disaat Gendis tengah fokus memotret wahana komedi putar, tiba-tiba ia dikagetkan oleh wajah Bintang yang muncul di depan kameranya. "Wleeee~~" teriak Bintang membuat wajah konyol saat Gendis tengah memfokuskan kameranya. "Aihh s**t!!" pekik Gendis kesal, ia menjabak rambut Bintang. "Sedang apa kamu disini! Bersenang-senang lah sendiri!" keluh Gendis, berjalan kembali. Namun Bintang tidak tinggal diam, ia terus mengikuti langkah kaki Gendis. "Hey, Gendis pemarah! Bagaimana jika kamu memotret dari atas sana?" teriak Bintang menunjuk wahana bianglala. Gendis terdiam sambil berpikir sejenak, namun tak lama langkah kakinya menuju wahana bianglala hingga terlihat guratan senyuman dari wajah Bintang yang berlari mengikuti. "Kenapa kamu mengikutiku!" keluh Gendis menaiki salah satu bianglala diikuti Bintang diBelakangnya. Bintang tersenyum, "Aku yang memberikan ide ini!" jawabnya cuek. Bianglala mulai berputar, dari sini terlihat keindahan kota Jakarta yang terus Gendis abadikan melalui lensa kameranya. "Kamu menyukainya?" tanya Bintang. Tanpa sadar Gendis mengangguk sambil tersenyum ke arah Bintang. "Wah? Kamu tersenyum? Itu senyuman hanya untukku? Luar biasa!!" Bintang bertepuk tangan kegirangan. Gendis memutar bola matanya, "Berlebihan!" gumam Gendis memukul pundak Bintang. "Sudah lama sekali aku tidak ketempat ini" ujar Gendis tiba-tiba. Bintang membetulkan posisi duduknya, ia merasa Gendis akan mulai bisa bicara dengannya. "Hei, kenapa kamu terus mengangguku! Kenapa kamu tidak bersama teman-teman lainnya?" tanya Gendis. Bintang terkekeh, "Seharusnya itu pertanyaan untukmu sendiri! Apa jawabannya?" Bintang malah balik bertanya. "Aku tidak menyukai mereka!" jawab Gendis to the point. Bintang menjentikan jarinya, "Itu adalah jawaban ku juga!" Gendis dibuat penasaran oleh Bintang, pasalnya ia merasa jika dirinya dan Bintang mempunyai persamaan. Ia menatap tajam Bintang. "Berhentilah menatapku seperti itu!" teriak Bintang mendorong wajah Gendis. "Kamu tidak mempunyai teman? Aku juga. Kamu suka menyendiri? Aku juga. Kamu menyembunyikan sesuatu? Aku juga. Lalu apa salahnya jika aku merasa kita cocok untuk berteman?" Gendis terdiam dengan semua jawaban Bintang. Bagaimana bisa dia tau semuanya? "Sudahlah berhenti berpikir, kita nikmati saja semua wahana disini" ujar Bintang mengedipkan sebelah matanya. "Cih, kamu membuatku ingin muntah!" kekeh Gendis. Hem ... sepertinya Gendis sudah mulai terbiasa akan kehadiran Bintang di dekatnya saat ini. *** Terlihat dari sudut pantai Gendis dan Bintang yang tertawa bahagia. Gendis yang tengah membuat istana pasir terus diganggu oleh kejahilan Bintang. "Bintang!! Kamu merusak istanaku!" pekik Gendis menyingkirkan kaki Bintang yang terus menginjak istana pasirnya. "Mana ada istana berbentuk rumah Patrick?" cibir Bintang, membuat Gendis tertawa dibuatnya. "Oh tidak! Rumah milik Patrick hanya gunungan saja, apa kamu tidak lihat jika istana pasirku lebih bagus!" jawab Gendis tidak terima. "Pergilah!!" usir Gendis. Bintang tersenyum, kemudian ia berjalan meninggalkan Gendis yang masih membangun istana sesuai ekspektasinya sendiri. Hingga tidak lama Bintang kembali, ia menempelkan ice cream pada pipi Gendis. "Hey bersikaplah dewasa! Apa kamu lupa akan umurmu?" ujar Gendis. "Jujurlah, jika kamu begitu menyukai ice cream!" balas Bintang memberikan ice cream pada Gendis. Dengan kasar Gendis menerima ice cream pemberian Bintang. "Ya sudah kamu memaksaku" jawab Gendis segera menjilati ice miliknya. Bintang terkekeh, "Hey, kapan aku memaksamu, hah?" ujarnya mengacak-acak rambut Gendis. Sambil menikmati ice cream akhirnya mereka berdua berjalan menyusuri pantai menuju tempat bis diparkir karena waktu sudah menunjukkan pukul enam. *** Suasana dalam bis menuju Bandung kembali ramai oleh nyanyian anak-anak lainnya. Mereka sepertinya tidak kenal lelah akan seharian bermain di Dufan. Tiba-tiba Pak Kusuma memanggil nama Gendis dan menyuruhnya untuk bergantian tempat duduk dengan Bunga yang mendapatkan tempat duduk paling Belakang, ternyata ia mabuk darat. Disaat Gendis mengambil tasnya yang berada di samping Bintang, tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Bintang membuat Gendis kembali duduk. "Duduk disini, sebentar saja" bisik Bintang, menaruh kepalanya pada pundak Gendis. Gendis terdiam membeku saat ini. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. "Jangan pindah" pinta Bintang lemah, Gendis melirik pelan, ia memastikan jika Bintang baik-baik saja. "Kamu sakit?" tanya Gendis. "Tidak, aku butuh istirahat saja" jawab Bintang pelan. Secara refleks Gendis menyentuh kening Bintang. "Badanmu panas! Ini sakit namanya!" bentak Gendis bangkit meninggalkan Bintang. "Haiss ... wanita itu sama sekali tidak memperdulikan ku" gerutu Bintang kesal. Namun tak selang beberapa lama, Gendis kembali dengan membawa minyak kayu putih di tangannya. Ia menarik kerah baju Bintang paksa. "Kenapa tidak pakai kaos dalam sih? Angin pantai itu jahat!" tegur Gendis mengolesi leher Bintang dengan minyak kayu putih. Bintang tersenyum mendapati sikap Gendis yang menjadi peduli padanya. Tanpa menjawab ucapan Gendis, Bintang hanya menikmati sentuhan yang diberikan Gendis meskipun terasa begitu kasar. "Tidurlah, jangan banyak bicara lagi. Aku akan duduk disini!" ujar Gendis. "Terimakasih" ucap Bintang menatap Gendis. "Berhentilah memasang wajah seperti itu!" bentak Gendis, lagi-lagi Bintang hanya tersenyum. *** Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN