Chapter 7

1053 Kata
Cuaca Bandung malam ini begitu dingin, hembusan angin seolah dapat menusuk langsung hingga ke dalam tulang. Hujan baru saja berhenti beberapa jam yang lalu, menyisakan sisa genangan air di jalan. Terlihat Langit yang sudah lima kali mondar-mandir di depan rumah Gendis, hari ini Langit sulit sekali menghubungi Gendis. Padahal biasanya, hari Minggu seperti ini adalah jadwal mereka berdua untuk berlari pagi. "Kemana perginya dia?" ucap Langit, menggigiti kuku tangannya. Ia tidak berani untuk bertanya ke dalam, karena mobil milik papa Gendis masih terparkir di garasi. Tak selang berapa lama, sebuah mobil berwarna hitam melewati Langit dan berhenti di depan rumah Gendis membuat Langit segera mencari tau siapa yang turun dari mobil itu. Benar saja, sosok Gendis turun. Wajahnya terlihat begitu lelah. "Gendis!" panggil Langit menghampiri Gendis yang baru saja menutup pintu mobil. "Kamu baru pulang? Dari mana? Itu siapa?" "Langit? Sedang apa kamu di sini? Anginnya kencang, kamu tidak masuk ke dalam? Itu taxi online" Gendis balik bertanya. Ia meraba lengan Langit. "Uh ... dingin sekali badanmu, pulanglah! Aku juga akan beristirahat" ujar Gendis menepuk pundak Langit. Namun tidak ada pergerakan dari tubuh Langit saat ini, membuat Gendis kembali menghampiri Langit. "Ada apa?" "Kamu sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku" Gendis tertawa, ia menepuk-nepuk pipi Langit dengan kedua tangannya. "Ah menggemaskan!!" ucap Gendis. "Aku baru pulang dari Dufan, ini acara dari tempat les" jelas Gendis, ia memijat pelan pundaknya. "Badanku juga sakit semua" Kini Langit tersenyum, ia mengacak-acak rambut Gendis. "Bisa kita makan dulu? Aku belum makan, cacing diperutku kasihan" ajak Langit menunjuk perutnya. "Ayolah Langit, aku lelah ... kita bisa besok makan bersama ya di kantin sekolah. Aku harus tidur, kamu tidak lihat mobil siapa yang terparkir" tunjuk Gendis dengan gerakan matanya. Langit mengerucutkan bibirnya, "Baiklah aku pulang ... istirahatlah yang cukup. Besok kita berangkat ke Sekolah bersama!" pesan Langit. Gendis mengangguk setuju, ia mengacungkan ibu jarinya. "Siap, jangan terlambat ya ... aku tidak mau berlari-lari untuk mengejar angkot!" pesan Gendis. "Aih ... menggemaskan" cibir Langit mencubit pipi Gendis. "Coba saja kamu seperti ini di sekolah, aku yakin laki-laki mana yang tidak akan tertarik" oceh Langit yang segera mendapat tonjokan di lengannya. "Diam lah!! Sana pulang!!" usir Gendis mendorong tubuh Langit. *** Ella menatap Gendis yang sedari tadi begitu sibuk mengerjakan PR Matematika. Wajahnya terlihat amat serius saat ini. "Gendis" bisik Ella, "Itu pekerjaan rumah, kenapa kamu kerjakan sekarang?" tanya Ella heran. Gendis melirik Ella, ia menaruh pulpennya. "Jika aku menyukainya, kenapa harus ku tunda?" tanya Gendis, membuat Ella sedikit ketakutan. Melihat ekspresi Ella saat ini, Gendis merasa tidak enak. Ia bukan bermaksud untuk membentak Ella, namun intonasi dan nada bicaranya memang sulit untuk ia kontrol. "Maaf Gendis, aku memang terlalu banyak bicara ya. Aku ke toilet dulu" ujar Ella, menutup bukunya lalu bangkit meninggalkan Gendis di dalam kelas sendirian karena ini adalah jam istirahat. Gendis berpikir sejenak, sepertinya ia harus meminta maaf pada Ella. Hingga akhirnya Gendis memutuskan untuk mencari Ella di kamar mandi. Betapa marahnya Gendis saat melihat beberapa kakak kelas yang tengah mempermainkan Ella dengan mengambil kacamatanya. "Apa yang kalian lakukan, hah?" teriak Gendis memukul keras pintu kamar mandi. Membuat beberapa kakak kelas disana terhenyak. Gendis menghampiri salah satunya, ia merebut kacamata milik Ella. "Apa kejadian di kantin waktu itu tidak membuat kalian kapok?" tanya Gendis menatap lekat kakak kelasnya ini. "Aku tidak ada urusannya denganmu! Lagipula apa untungnya kamu memElla si cupu ini? Apa kegalakkan kamu sekarang berubah menjadi ibu peri penolong?" goda Lulu tersenyum picik. Gendis terkekeh, "Apakah ada ibu peri yang bisa menjambak rambut lawannya hingga putus? Mari kita coba" ujar Gendis melangkahkan kakinya mendekati tubuh Lulu. Lulu merasa terancam saat ini, "Ternyata benar, selain pemarah kamu juga sedikit gila!" teriak Lulu, berlari keluar kamar mandi diikuti beberapa temannya. Gendis menatap Ella yang terlihat masih ketakutan. "Pakai kacamata mu, kamu adalah orang pertama yang membuatku harus ikut campur dengan masalah orang lain!" gumam Gendis, menarik tangan Ella keluar dari kamar mandi. Kini Gendis berjalan menuju kantin sambil merangkul Ella, ia berusaha sesantai mungkin berjalan bersamaan. "Gendis!!" teriak Langit, ia segera menarik lengan Gendis. "Aku lapar dan kamu membuatku hampir mati mencarimu!" gerutu Langit. Gendis melirik sinis Langit, "Lepaskan! Jangan membuatku menghajarmu disini" gumam Gendis kesal. Langit hanya terkekeh, "Ayo kita makan!!" ajaknya lagi menarik lengan Gendis. *** Dalam perjalanan pulang Gendis terus terdiam, itu membuat Langit kebingungan. "Apa yang terjadi? Ini hanya kita berdua, kenapa diam saja?" tanya Langit kesal, ia menggoncangkan tubuh Gendis. "Aku memikirkan Ella" jawab Gendis datar. "Sepertinya aku harus mengubah penampilannya" tambahnya lagi, ini malah semakin membuat Langit bingung. Gendis terus menyusuri trotoar, pikirannya entah berada dimana dan itu membuatnya tersandung batu besar yang membuatnya jatuh tersungkur. Langit yang melihatnya hanya bisa terdiam, "Aww ..." rintih Gendis, "Kenapa kamu diam saja? Aku terjatuh!" teriak Gendis, Langit tersadar dan tertawa melihatnya. "Bagaimana bisa wanita galak ini merengek ketika terjatuh?" kekeh Langit, memberikan uluran tangannya pada Gendis. Gendis meraih tangan Langit namun sayang saat ia mencoba berdiri, kakinya tak mampu menahan tubuhnya hingga kembali terjatuh. "Kamu benar-benar terluka?" Langit menjadi panik, ia membungkukkan tubuhnya melihat kondisi kaki Gendis. "Ya ampun berdarah! Dasar bodoh!" ucap Langit segera berjongkok di hadapan Gendis. Gendis melihat tingkah aneh Langit, "Sedang apa kamu? Ayo bantu aku bangun!" pinta Gendis manja. "Cepat, naiklah ke punggungku. Sebentar lagi komplek kita, tidak akan ada yang melihat!" perintah Langit. "Benarkah? Kamu kuat?" tanya Gendis memastikan. Langit mendengus, ia mengubah posisi tasnya menjadi di dadanya. "Ayo Gendis, atau kaki kamu akan mengeluarkan banyak darah!!" Dengan terburu-buru Gendis segera memeluk tubuh Langit dari Belakang. Kini Langit mencoba bangkit sambil menggendong Gendis di punggungnya. "Lihat, aku semakin kuat bukan?" ucap Langit bangga, ia mulai berjalan. Sedangkan Gendis, melingkarkan lengannya di leher Langit. "Dasar ceroboh, bagimana jika kakimu ini terkilir!" Gendis tersenyum, ia merasa kembali pada masa kanak-kanak ketika Langit menggendongnya disaat dirinya menangis karena terkena permen karet pada roknya. "Langit, apa yang kamu rasakan padaku?" tanya Gendis tiba-tiba. Langit terdiam, detak jantungnya seolah berdetak tak karuan ketika Gendis bertanya hal ini. "Apa maksudmu?" tanya Langit berlaga bodoh. "Hahaha ... aku hanya bercanda!" ucap Gendis, "Tapi sepertinya Ella menyukaimu, dia selalu bertanya. Langit dimana? Kenapa Langit tidak datang ke kelas? Sampai aku saja muak mendengarnya" cerita Gendis dalam gendongan Langit. "Memang susah jika mempunyai wajah tampan sepertiku" Gendis berpura-pura muntah, sambil menyentil telinga Langit. "Diam lah, kata-kata mu tadi sangat menjijikan!" umpat Gendis mempererat pelukannya. *** Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN