“eh lo tau nggak Jihan kenapa?”
“Jihan kenapa, Tis?” tanya Ikbal balik.
“Ye, gue tuh nanya, malah ditanya balik, tinggal bilang aja kagak tau,” sebal Tissa.
“Dah hampir sebulanan ini kayak ngehindar ya buat diajak kumpul, gue tanya Bunda katanya Jihan lagi banyak semedi di dalam kamar atau pergi kemana gitu,” jawab Kanaya. Bagas dan Ikbal kemudian saling pandang. Dean sendiri sibuk bermain game di gadgetnya.
“Kalian tadi sekelas kan? Lo udah bilang mau ngajak ke sini? Ke café Almameter?” tanya Bagas. Café Almameter memang coffee shop terkenal di dekat kampus mereka. Tempatnya sangat luas dan ramai buat anak kuliahan nongkrong. Selain tempatnya yang instagramble, price food and beverage-nya juga pas di kantong mahasiswa.
Tissa sampai melongok ke pintu, menunggu keajaiban Jihan bakalan datang. Mereka sengaja duduk dekat dengan meja kasir agar bisa mengamati kondisi di luar atau agar Jihan bisa melihat mereka langsung begitu masuk ke café.
“Gue udah bilang, sih. Dia bilang iya, mau ke toilet. Eh kagak balik. Sempet kita cari di parkiran, motornya dah raib.”
“Gue penasaran yang ketemu sama Jihan siapa ya? Bukannya hanya kita ya temennya Jihan? Atau jangan jangan dia punya circle baru trus nggak mau temenan sama kita lagi? Ternyata temennya yang baru ini lebih asyik, lebih mengayomi, lebih bisa ngasih dia kebebasan, lebih bisa nyariin dia cowok?” ujar Kanaya terlihat sangat panik.
“Apaan lo dah, overthinking banget sih,” cetus Tissa berusaha mengacak-acak rambut Kanaya agar pikiran negative itu hilang dari otaknya.
“Kalau itu yang lo takutkan biasanya emang itu yang lo lo lakuin ke Jihan. Kalian kayak nggak ngasih kesempatan buat dia setidaknya belajar self defense. Jadinya dia gampang diperdaya deh,” sela Dean. Semua mata kemudian tertuju padanya yang masih asyik bermain games. Lagi-lagi Ikbal dan Bagas kemudian saling pandang, wajah mereka tidak terbaca. Sedang Tissa tidak sengaja melihat hal itu, dirinya kemudian mengernyitkan dahi. Kanaya hanya menganggukkan kepala pelan. Memikirkan kembali setiap omongan Dean. Selama mereka berteman sejak awal memang Kanaya merasa membatasi pergaulan Jihan tapi bukannya itu demi kebaikan Jihan? Dia terlihat rapuh dan bener gampang ditipu dan diperdaya sama orang. Kalau nggak gitu, luka di hati Jihan bakalan membesar.
“Dean, temenin gue pesen minum dong...” rayu Tissa, Dean hanya melirik sebentar.
“Mau gue temenin Tis?” tawar Bagas. Tissa menggeleng pelan. “Gue maunya sama Dean.”
“Woah, ada yang straight to the point mau deketin manusia kulkasnya kita. Susah Tis, hati dan pikirannya masih tertaut ke mantan terindah,” sahut Ikbal.
“Oh, ya? Yah, gue ilang kesempatan nih?” ujar Tissa wajah dan suaranya dibuat sedih.
“Yaudah ayok.” Dean lalu beranjak dari duduknya mendahului Tissa berjalan ke counter bar. Tissa langsung mengikuti dari belakang.
“Dean, gue boleh nanya sesuatu nggak?” tanya Tissa, Dean cuma melirik dan mengangguk kecil.
“Pesan apa kak?” tanya sang bartender.
“Gue pengen yang crème brulee. Lo nambah minum nggak?”
“Gue nambah ice americano aja deh.”
“Tambah ice americano satu ya, mas.”
“Baik kak, saya ulang pesanannya ya, satu crème brulee dan satu ice americano, atas nama siapa?”
“Kalau crème brulee-nya atas nama Tissa, s nya double. Kalau satunya Dean. D-E-A-N.”
Barista itu langsung memberikan struk ke Tissa dan sebelum Tissa membayar, Dean sudah meletakkan uang berwarna merah di counter. “Nanti lo tinggal nuker gue,” ujar Dean.
“Sebenernya lo mau nanya apa ke gue?” tanya Dean. Tissa tersenyum kecil, merasa aneh aja ada cowok yang lumayan peka.
“Kok tau?” tanya Tissa.
“Soalnya lo ngotot maunya diantar sama gue. Padahal bisa aja lo manggil langsung barista ke meja kita. Mereka tuh seneng aja ngelakuin second service.”
“Apa? Lo mau nanya apa?” tambah Dean. Mereka masih berdiri di dekat counter menunggu barista selesai membuatkan pesanan mereka.
“Ikbal sama Bagas itu soulmate-annya dah nempel banget ya?”
“Iya.”
“Lo deket karena kalian sekelas?”
“Kita dah deket dari SMA. Gue masih sodaraan sama Ikbal.”
“Oh, jadi lo tahu semua rahasia mereka dong?”
“Tahu.”
Tissa kemudian beringsut mendekati Dean dan berbisik, “Lo berarti tahu dong mereka punya rahasia apa sekarang? Dari tadi gue amatin setiap kita ngomongin Jihan, mereka langsung saling pandang-pandangan gitu.”
“Kenapa nggak lo tanya langsung aja ke mereka, tinggal lihat jawaban mereka. Gue emang temenan, gue emang deket sama mereka tapi kalau itu mereka anggap rahasia, ya berarti rahasia. Bukan lantas gue bisa sebar rahasia mereka kan?”
“Bahkan jika itu rahasia kelam mereka?”
Dean menoleh, “coba lo tanya sama diri lo sendiri. Kalau Kanaya dan Jihan punya rahasia yang lo tahu, bahkan jika itu rahasia yang kelasnya udah tinggi, entah dark atau biasa aja, tep bakal lo kasih tahu nggak ke orang-orang?”
“Ya nggak sih,” ujar Tissa nyengir.
“Trus apa yang bakal lo lakuin kalau tahu mereka buat salah? Ngomong ke orang lain atau justru ngomong sama mereka sendiri?”
Tissa terpekur dengan kata-kata Dean. Tanpa harus dijawab, mereka sepakat jika ada temannya yang buat salah, mereka bakalan negur teman mereka sendiri. Bukan malah mengumbar aib temannya. Bukannya selesai masalah malah nambah masalah.
“Makes sense.”
“Bukan makes sense lagi, emang harusnya gitu kan?”
“Silahkan kak pesanannya, kalau butuh bantuan tinggal panggil saya saja ya, dengan Kevin,” senyum barista itu. Tissa mendongak mendengar nama itu, nama yang sering dia dengar dulu. Saat itulah tatapan mereka saling bertemu. Ada raut kekagetan bertengger di wajah mereka berdua. Tapi Kevin dengan cepat mengontrol mimic wajahnya, kembali tersenyum. Sedang Tissa terdiam. Mengambil minumannya dan mengajak Dean lekas kembali duduk kembali bergabung dengan teman-temannya.
“Kevin, apa kabar lo?” bisik Tissa pelan pada dirinya sendiri.
**
“Bunda beneran nggak cerita ke Kanaya dan Tissa kalau Jihan dah di rumah kan?”
Bunda mengangguk meski raut wajahnya menandakan kekhawatiran, sudah beberapa minggu ini Jihan meminta tolong padanya untuk berbohong. Hal yang tidak mau dilakukan karena selama ini Bunda mengajarkan Jihan untuk selalu jujur. Dan sekarang apa yang dilakukan Bunda? Berbohong demi kenyamanan anaknya sendiri.
“Kamu kenapa? Ngehindar terus? Nggak baik, Han. Kalau ada masalah diselesaikan, bukan malah dihindari. Kalau dihindari memangnya masalah akan selesai sendiri?’
Jihan menggeleng pelan, mulai memainkan remote tv, mencari channel kartun.
“Lalu kenapa masih dilakukan?”
“Karena Jihan justru nggak bisa nyembunyiin sesuatu dari mereka berdua, Bund. Jihan kan dah cerita kalau Jihan punya hubungan backstreet, takut keceplosan aja.”
Bunda menggeleng pelan, “makanya itu jangan memulai sesuatu dengan cara yang kurang pas. Memang kenapa kalau kamu dekat dengan orang dan teman-teman kamu tahu? Bunda yakin mereka bakalan support kamu.”
“Bunda kan jadi nggak sreg juga sama Bagas. Masak mampir ke rumah juga belum pernah. Emang Bunda nakutin ya? Tapi Dean ketemu sama Bunda biasa aja.”
Sebenarnya Jihan sudah meminta untuk Bagas mampir ke rumahnya, tapi kayaknya keterusan deh pas di awal Jihan minta ketemuan di luar aja, biar aman. Padahal dia juga pengen Bagas ketemu dengan Bunda.
“Bun, Jihan mau cerita something boleh?”
“Boleh, mau cerita apa?”
“Tentang Dean, Bund.”