Gimana rasanya lagi main game trus ada yang nungguin di belakang? belum lagi peristiwa tadi masih membayang di wajah Jihan. Bisa nggak ini Dean pergi aja gitu, biar Jihan fokus dan mengejar 5 battle dan akhirnya dia bisa dapat kupon 3 permintaan ala Dean.
“Not bad,” bisik Dean di belakang Jihan membuat gadis itu menghentikan jari-jarinya memainkan keyboard. Bulu kuduk Jihan langsung berdiri dan dirinya bertindak waspada. Benar-benar bahaya dan ide buruk berada dengan satu ruangan dengan orang yang kita nggak suka.
Akhirnya Jihan menoleh dan mendapati Dean sedang mengamatinya. Jihan langsung memaksa tersenyum memperlihatkan giginya kemudian sekian detik langsung berubah flat wajahnya.
“Ya iyalah, gue mah dah terbiasa main game, game PC so easy,” ujar Jihan dengan wajah sombongnya meski tidak sepadan dengan nada suaranya yang terlihat bergetar. Dean mendengus pelan dan berusaha menahan senyumnya.
“Nggak harus langsung selesai lima itu hari ini kok, mana tahu Bunda nyariin dan lo harus pulang, bisa disambung kapan-kapan.”
Yang artinya Jihan harus datang ke rumah ini lagi. Jihan bergidik ngeri, membayangkan harus seruangan lagi dengan Dean. Sampai saat ini saja jantungnya berdetak lebih kencang tidak seperti biasanya.
Tapi memang Dean ada benarnya juga, satu jam berada di depan monitor, Jihan baru menyelesaikan dua battle. Selain karena game ini baru buatnya, Jihan harus mencari tahu juga dengan googling gimana cara kerja game ini. Jadi akhirnya Dean menunggu tiduran di Kasur sambil membaca komik. Sebenarnya Dean menawarkan diri untuk memberikan tutorial, tapi hati Jihan sudah sangat lemah pertahanannya dan Jihan nggak mau Dean terlalu dekat lagi dengan tubuhnya. Jihan nggak mau khilaf. Rasanya sedari tadi Jihan hendak mengeluarkan alarm permintaan tolong.
Jihan merasakan kehadiran Dean yang berangsur menjauh. Dirinya sampai tidak ingin menoleh saking takutnya. Dean kembali merebahkan dirinya ke ranjang, menatap serius ke plafon kamarnya.
“Gimana akhirnya hubungan lo sama Bagas? Ada hasil?”
Ada, malah kita udah pacaran. Dan gue nggak akan ngasih tau lo.
“Ya, mayan.”
“Lo lagi nggak nyembunyiin sesuatu kan dari temen temen lo?”
Kata-kata Dean membuat Jihan menghentikan aktivitasnya dan memutar kursi langsung menatap tajam Dean. Dean melihat Jihan sekilas kemudian bangun dari rebahan, menyender di dinding, satu kakinya berselonjor sedang satunya ditekuk agar tangan kirinya bisa tertopang. Kini Dean bersiap menghadapi Jihan.
“Maksud lo apa?” tanya Jihan. Otaknya dengan cepat memproses tindakan atau kata-kata yang akan dilakukan Dean dan apa solusinya agar Dean tidak bisa menebak keadaan hubungannya dengan Bagas.
“Nggak usah berpura-pura jadi cewek bloon, Han. Gue bisa melihat tingkah laku kalian. Bukannya gue dah bilang ya? Lo cari tahu dulu sebelum lo deket sama orang.” Jihan beranjak dari kursi dan menghampiri Dean sampai jarak mereka terhalang ranjang. Gadis itu langsung berkacak pinggang.
“Cari tahu apa? Gue udah nyari tahu, he is the one for me.” Jihan mengucapkannya dengan keyakinan yang membuat salah sudut bibir Dean terangkat. Cowok itu bahkan mendengus keras.
“Berarti lo belum nyari tahu,” ujar Dean dengan suaranya yang berubah dingin. Bulu kuduk Jihan semakin terangkat. Suasana di sekitar mereka menjadi sangat dingin.
“Gue nggak paham maksud lo apa, bisa nggak sih lo ngasih tau ke gue langsung.”
“Dan lo bakalan percaya?”
Sepersekian detik Jihan berhenti berpikir karena kata-kata Dean tepat sasaran ke bagian hatinya saat ini. Dia nggak mempercayai Dean, yang dia percaya hanyalah Bagas.
“Gue mau bilang apa, kalau lo-nya aja buta, sia-sia dong.”
“Tapi gue punya cara buat bikin lo mikir. I’ll show you how,” tambah Dean kemudian memajukan badannya setengah berdiri hingga pandangan mereka saling beradu. Jihan membelalak matanya, tidak siap dengan serangan secara langsung. Pertahanannya sekarang ini hanyalah ketegasan di kedua tangannya yang tidak juga kunjung turun dari pinggangnya. Jihan masih kuat menantang Dean.
“Truthfully, lo itu cantik, Han.” Jihan terkesiap dengan kata-kata Dean, seakan tidak percaya Dean bilang dirinya cantik. Nggak banyak orang yang bilang itu tentang dirinya. Tangan Dean kemudian dengan cepat menarik pelan pelan ikat rambut Jihan hingga kini rambutnya terurai jatuh bersinggungan langsung dengan kulitnya. Pelan-pelan tangan Jihan mulai turun, deru napasnya kencang, bukan lagi napas orang yang sedang emosi.
Dean merapikan dan menyisir rambut Jihan pelan, menyampirkan anak rambutnya di belakang telinga Jihan hingga akhirnya menyusuri pipi gadis yang mulai menatapnya berbeda. Tak hanya itu, Dean mengelus pipi Jihan membuat semu merah itu muncul.
“Perkataan dan reaksi alamiah itu memang seringkali berbeda, Han,” bisik Dean. Tatapan mata mereka masih saling mengunci. Tangan gadis itu langsung luruh ke bawah, seperti sudah terkuasai oleh mantra Dean.
“Lo tau kan apa yang bakalan gue lakuin ke lo?” tanya Dean masih setengah berbisik. Jihan menggeleng pelan. Badannya seperti terikat dan Jihan seperti pasrah berada di bawah tatapan tajam Dean. Dean pelan pelan mendekatkan wajahnya ke wajah Jihan. Kening mereka kini sudah saling menempel.
“Masih belum ngerti?” Terpaan napas Dean di wajahnya mampu membuat Jihan tidak bisa berpikir lagi. Wajah Jihan terlihat sangat merah. Cowok itu mengamati masih membelai pipi Jihan, tertegun dengan kepolosan yang terukir di wajah gadis itu. Pertahanannya sangat lemah. Pantas dia bisa dengan mudah diperdaya. Tatapan matanya beralih menyusuri hidung kemudian ke bibir merah Jihan. Disanalah pandangan itu berhenti. Mengamati dengan intens bagaimana bibir Jihan membuka sedikit, seperti siap dengan pikiran liarnya.
Dean memang tidak berpikir harus mengambil tindakan seperti ini. Tadinya dia hanya ingin menggertak Jihan, tapi ketika kening mereka saling bertemu, skenario selanjutnya hilang dari pikirannya. Dean menginginkan lebih dari apa yang sudah dia rencanakan.
“Maafin Dean,” bisik Dean teringat Bunda dan ibunya di bawah. Saat itulah akhirnya bibir mereka bertemu. Kecupan singkat yang membuat Jihan refleks memejamkan matanya dan langsung membuka mata ketika sadar sentuhan itu hilang begitu saja. Terjadi begitu cepat. Dean langsung turun dari kasur meninggalkan Jihan yang membeku di tempat menuju ke lemari. Mengeluarkan blazer Jihan.
Jihan mengelus dengan gemetar bibirnya. Belum sadar sepenuhnya apa yang baru saja terjadi. Dean menyampirkan blazer itu ke pundak Jihan. “Pakai, lo kayaknya kedinginan.”
Jihan menggeleng pelan berkata pada dirinya sendiri. “Lo salah, badan gue rasanya panas.”
“Dean...”
“Hm, apa?” Mata mereka kembali beradu.
“Lo nggak habis nyium gue kan?” tanya Jihan masih nggak percaya.
“Menurut lo?”
“Itu ciuman pertama gue,” bisik Jihan masih berusaha denial.
Dean yang tadinya tersenyum mencemooh, kini langsung terdiam. Wajahnya datar tidak terbaca membuat Jihan menyadari bahwa mereka sama sama sedang berbuat kesalahan.