Dean

1270 Kata
Jihan terkesiap, antara tidak percaya dan ingin segera Dean menurunkannya. Jihan nggak siap dengan perasaan yang timbul akibat tindakan Dean menggendongnya. Rasa panas menjalar di sekujur tubuh gadis itu. Rasanya was was dan juga Jihan merasa aneh. Seharusnya dia marah ada laki-laki lain yang menggendongnya, bukan Bagas. Bukan ayahnya. Tapi ini Dean. Orang yanh selalu mengajaknya bertengkar. “Mikir apa lo?” tanya Dean lalu tiba-tiba menurunkannya. Jihan kebingungan dan melihat pintu di belakangnya sambil merapikan gaun yang sedari tadi dia jaga agar tidak tersingkap berlebihan. “Eh sudah nyampe, kamar kamu ya?” ujar Jihan terlihat rikuh. Dean membuka pintu melewati tubuh Jihan membuat Jihan lagi lagi membeku. Bau aftershave langsung tercium kuat saat tubuh Dean mendekat dan Jihan rasanya ingin tenggelam di tubuh itu. “Masuk,” ajak Dean mendahului masuk. Jihan yang gelagapan lalu mengikuti dari belakang. Jihan memukul kepalanya kecil menyadari d******i Dean membuatnya bertingkah layaknya orang kasmaran. Nggak mungkin dia jatuh hari ke Dean. Ada hati yang harus dia jaga dengan komitmennya ke Bagas. Begitu masuk, Jihan terkesima dengan dekorasi kamar yang terasa minimalis namun elegan. Tak banyak barang yang menempel di dinding. Justru banyak rakitan robot gundam yang tersebar di beberapa sudut kamar. Tapi yang justru membuat Jihan menelan ludah mneyadari perbedaan mereka adalah seperangkat alat PC Gaming yang mampu menghidupkan jiwa tanding di diri Jihan. Di meja terlihat ada 3 monitor LED berjejer, mouse dan keyboard dominan hitam dan putih dan kursi gaming yang sekarang diduduki oleh Dean. Dean menghidupkan PC lalu memutar kursinya menghadap ke Jihan yang kini duduk di pinggiran kasurnya. Jihan terlihat masih melongo mengagumi isi kamar Dean. “Kalau kebanyak mangap, diisi sama nyamuk loh,” ujar Dean sedikit berbangga diri karena melihat Jihan tidak berkutik, terpesona dengan isi kamarnya. “Memang di sini bakalan ada nyamuk? Yang ada nyamuknya minder kali. Baru mau masuk saja udah mati kebanyakan overthinking.” Dean terkekeh kecil, “tetap saja ada. Kalau gue sampai lupa nutup jendela pas sorenya pasti mulai banyak nyamuk masuk. Nyamuk mah nggak ngenal kasta. Mau sekaya apapun lo, pasti pernah kena gigit nyamuk.” Jihan mengangguk, “iya sih, karena manusia spesial. Mereka punya akal dan bisa berpikir jadi terbentuklah perbedaan.” Jihan kemudian berdiri dan  mengambil salah satu mainan rakitan di rak, mengamati dengan detil, tanpa sadar Dean memgamati setiap pergerakan yang dibuat oleh Jihan. Matanya menyusuri bagaimana tangan yang kecil dan lentik itu memegang mainannya. Bagaimana mata bulatnya berkedip karena terkesima. Dan bagaimana senyum manis terukir di wajahnya saat gadis itu mengembalikan mainan itu lagi ke tempatnya. “Hobi lo mahal juga ya, gue sering nggak sengaja lihat lewat di timeline gue. Ya orang kaya mah bebas ngabisin uang sih.” Dean menaikkan satu sudut bibirnya, tidak merasa marah dengan kata kata Jihan. “Hobi itu nggak ngenal uang dan mahal, Han. Namanya juga hobi, gunanya memang buat nenangin pikiran seseorang. Hobi nggak berbatas dengan punya barang, tapi yang terlihat ini memang life saver gue. Lo juga pasti suka main games, bisa lewat gadget yang lo punya. Ini semua hanyalah beda di fasilitas.” “Lo sendiri sukanya apa buat healing?” tanya Dean. Jihan menoleh ke Dean, laki laki itu duduk tenang masih terus melihatnya. Jihan lumayan jadi salah tingkah juga ditatap demikian oleh Dean. Jihan mengusap lehernya tanpa sebab. “Gue, sederhana sih, hobi makan.” Tawa kecil terlepas dari bibir Dean. “Itu hobi semua orang, Han. Anything else?” Jihan mengernyitkan keningnya berusaha mengingat, apa yang membuatnya akhir akhir ini bersemangat. Selain melihat youtube untuk menaikkan skillnya bermain games ML, Jihan juga suka nonton dan mempraktekkan tutorial make up dari  minimalis sampai yang heavy. Meski kalau sudah selesai praktek, Jihan langsung menghapus make upnya, merasa tidak cantik dan kurang percaya diri alasan utama Jihan nggak pernah memamerkan hasil menghias dirinya. Bagaimana kalau dia ditertawakan kalau hobinya yang sekarang adalah merias wajah? “ML?” ujar Jihan bahkan nggak yakin dengan jawabannya sendiri. Dean masih terdiam, melihat Jihan dengan pandangan intens. Rasanya kegerahan di kamar ini meningkat 80% dari saat Jihan masuk. Diliriknya AC yang sedari tadi sudah nyala. Jihan mulai mencopot blazernya pelan pelan. Dean mengamati setiap gerakan yang dilakukan oleh Jihan saat mencopot blazer, kilatan yang muncul di tatapan mata Dean membuat Jihan menyadari sesuatu. Pemilihan kata dan setelahnya apa yang dia lakukan sepertinya kurang tepat. “Maksud gu-gue, game Mobile Legend, not ma-making itu loh anu itulah,” gugup Jihan menyampirkan blazer ke pundahknya. Kini lengan kecil itu terpampang karena bentuk dress Jihan yang modelan tanpa lengan.  Dean langsung nyengir, “i didn’t say anything.” “Ya gu-gue cuma jelasin saja.” Jihan berusaha menghindari tatapan mata Dean. “Sini deh,” perintah Dean.  “Apa? Mau apa?” “Sini deh gue ajarin lo sesuatu. Lo tahu kan salah satu manfaat bermain game itu menstimulus kognitif kita, gue mau kasih liat games yang pas buat lo.” Dengan langkah ragu, Jihan mendekat sedang Dean memutar kursinya menghadap ke monitor. Jari jarinya terlihat sangat ahli memainkan keyboard dan mouse, membuat Jihan semakin minder berhadapan dengan yang sudah pro dalam bidang apapun. Apalagi Dean. Dia mah sudah pro kegantengannya, kekayaannya, kesarkasannya, kejahilannya, main gamesnya. Apalah Jihan, masih newbie levelnya. “Nah ini games bagus buat lo karena bagus untuk mengasah otak. Bahkan yang tadinya nggak ada jadi ada,” tunjuk Dean ke depan layar monitor. Jihan mengernyit memikirkan maksud omongan Dean. Dean sendiri langsung berdiri dan mengambil blazer dari pundak Jihan. Menaruhnya di rak lemarinya serta mempersilahkan Jihan untuk duduk di kursi gaming. “Kalau lo bisa ngelewatin 5 battle saja, gue bakal kabulin 3 permintaan lo. Bisa lo gunain kapan saja, dan dimana saja.” Mendengar itu Jihan langsung menatap Dean  bersemangat. “Eh serius? Beneran?” And those puppy eyes attack Dean with ultimate weapon. Dean tiba tiba memaki dirinya dalam hati, hal yang dibayangkannya membuat menyesali keputusannya menjanjikan Jihan hal yang bisa saja dia nggak bisa penuhi. Kalau dia minta dibangunkan candi dalam semalem, gimana dong? Gue harus hubungi persewaan jin kemana? “Iya beneran, laki-laki  pantang ingkar sama janjinya sendiri..” Untung gue masih cowok, belum laki-laki. Jihan memicingkan matanya setelah melihat kepercayaan diri Dean. Mencoba mencari keyakinan bahwa benar-benar apa yang dia inginkan bisa terkabul seperti pengen punya emas, pengen punya rumah gede, pengen punya mobil mewah. Gitu kan ya konsepnya? “Tapi inget, gue bukan jin,” ucap Dean seperti bisa membaca pikiran Jihan. Jihan nyengir kecil dan menunjukkan muka polosnya. Saat itulah Dean merasa sayang jika tidak melakukan sesuatu untuk menjahili Jihan. Dean memutar kursi gaming dan menundukkan wajahnya menghadap ke wajah Jihan. Jihan tersentak dan memegang erat pegangan kursi. Senyuman di wajah Dean membuat Jihan berkali kali melihat mata dan bibir Dean bergantian. Wajah itu hanya terpaut beberapa cm dari wajahnya. Netra mereka saling bertemu, menguatkan hasrat untuk memburu. Napas mereka mulai memacu dan jantung mereka sama sama menderu. Jihan langsung memejamkan matanya saat wajah Dean kian mendekat. Kini jarak bibir mereka hanya tinggal helaan napas. Dean menarik kedua sudut bibirnya melihat wajah Jihan, ada getar kecil di sudut hatinya. Jihan merasakan bagaimana panas napas Dean menerpa wajahnya. Merasakan ada hasrat yang muncul membuatnya ingin segera mempertemukan kulit mereka. Hingga desiran halus itu terdengar di telinganya. “Good luck.” Jihan yang sadar bayangan itu mulai pergi lalu membuka matanya, melihat Dean sudah duduk kalem di pinggiran kasur tersenyum dengan satu sudut bibirnya terangkat. “Gue ke-ke kamar man...belet...pipis,” ujar Jihan terbata bata lalu mencari kamar mandi yang ada di kamar Dean. Dengan santai Dean menunjuk ke sudut ruangan bersebelahan dengan pintu kamarnya. Jihan bergegas masuk dan membanting pintu cukup keras. Sedang Dean merebahkan badannya ke kasur dan tersenyum lebar.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN