Debar ini Siapa Yang Punya?

1718 Kata
            “Bunda, ini rumahnya? Gede ya bund?” ujar Jihan menatap kagum melihat rumah dengan halaman yang sangat luas hingga bangunan utamanya terlihat bagian depannya saja. Jihan celingukan, dan melihat ada satpam yang menghampiri. Busyet, istimewa banget ini rumahnya sampai dijaga oleh satpam.             “Cari siapa buk?” tanya Satpam yang pas Jihan ngelihat name tag bernama Pak Jan. Jihan sedikit linglung dan sadar bahwa yang dipanggil oleh satpamnya langsung ke bunda.             “Adek juga cari siapa?”             “Saya mau antar snack pesenan Ibu Muti, Pak. Tadi sudah bilang bahwa saya perjalanan ke rumah dan dijawab beliau dengan ‘oke’.”             “Kalau saya antar Bunda saya, Pak.”             “Baik, sebentar ya buk, dek. Saya konfirmasi dulu ke bu Muti.”             Mereka berdua mengangguk dan menunggu.             “Bunda muterin rumahnya yuk!”             Bunda menoleh ke anaknya heran, “buat apa?”             “Kata Bunda kalau kita ada kepengenan sesuatu, disholawatin, kalau ketemu benda atau yang mirip tinggal diputerin sambil di sholawatin,” ujar Jihan mengingat kata-kata Bundanya saat dirinya pengen dibeliin hape baru. Biar cepet terkabul kalau kata Bunda, jadi ada extra usaha selain tentu aja menghasilkan uang.             “Ya sana kamu puterin, biar disangka mau maling, Bunda nunggu di sini aja.”             “Ealah, Bunda mah nggak konsisten,” gerutu Jihan kemudian mengamati sekali lagi rumah mewah di depannya. Dari luar terlihat gaya modern eropa mendominasi, ada juga taman dan air mancur terlihat. Nggak ada namanya garasi, atau memang tidak terlihat karena Jihan melihat ada 2 mobil terparkir di halaman rumah.             Dari jauh, Pak Jan mulai terlihat berlari kecil menghampiri mereka dan membukakan pintu gerbang. “Kata Bu Muti, masuk aja buk, dek.”             Bunda dan Jihan tersenyum berterima kasih dan langsung masuk tapi tiba-tiba Bunda berhenti dan menarik rambut Jihan hingga membuat anak itu mengaduh dan berhenti berjalan.             “Aduh, Bunda mulai kdrt deh.” Jihan mengelus kulit rambutnya yang tertarik akibat ulah Bunda.             “Motormu,” kata Bunda mengingatkan. Rupanya mereka hendak meninggalkan motor di pinggir jalan.             “Eh, ya ampun, untung Bunda inget. ~ Harta yang paling berharga adalah motor matic ~” nyanyi Jihan segera mendatangi motornya dan menstarternya untuk diparkir ke dalam. Jihan memarkirkan kendaraannya tepat di sebelah mobil CRV.             “Kayak pernah liat, dimana ya?” tanya Jihan mencoba mengingat ingat.             “Oh, di jalan banyak,” ucap Jihan asal karena merasa buntu memikirkan dimana dia seperti mengenali mobil tersebut. Bunda menghampiri Jihan dan berdua menuju pintu depan yang setengah terbuka. Jihan ancang ancang untuk mengetuk pintu dan berteriak “ASSALAM…”             “WOY! Kaget aing!” teriak seseorang yang tiba-tiba membuka pintunya lebih lebar. Jihan juga melotot saking kagetnya.             “LO!” teriak mereka berdua berbarengan.             Jihan menelan ludah merasa pangling dengan penampilan cowok di depannya ini. Biasanya dia lihat, laki-laki ini berpakaian more casual tapi yang sekarang dia lihat meski mengenakan kaos warna hitam dan juga celana pendek tapi justru damage-nya lebih ngeri di pikiran dan jantung Jihan.             Laki-laki itu juga balik mengamat Jihan yang biasanya mengenakan baju, kemeja dan jeans saat kuliah kini mengenakan gaun selutut yang ditutup dengan blazer di luarnya. Dia kira selama ini Jihan nggak akan bisa jadi cewek karena kelakuannya yang suka bar-bar saat di kampus. Lebih tepatnya saat mereka bertemu.             “Lo ngapain ke rumah gue?” sentaknya sembari memicingkan mata curiga.             “Mau maling!”             “Emang ada maling ngucap salam?”             “Ada lah! Gue kan maling alim. Minta ijin dulu sebelum maling!”             “Nggak boleh! Nggak gue ijinin!”             “Lha gue kan mau maling, nggak lo ijinin juga gue bakal maling!”             “Jihan…”             Panggilan itu menyadarkan mereka berdua. Jihan menoleh ke bunda dan memasang muka sebal. Padahal lagi seru-serunya debat dengan Dean. Dean langsung memasang senyum cerah saat mengetahui ternyata ada ibunya Jihan juga. Perhatiannya teralihkan oleh keberadaan Jihan hingga tidak menyadari ada orang lain selain mereka.             “Sore, Tante,” sapa Dean walau sedikit tengsin pertengkaran mereka terlihat oleh Bunda.             “Sore, Dean. Bunda boleh kan ya ijin masuk rumah? Keburu sosis solonya dingin.”             Ajaib! Di depan Dean, Bunda langsung bisa mengingat nama cowok itu, padahal saat ngobrol dengan Jihan, Bunda suka lupa dengan nama Dean. Jihan takjub dan bertepuk tangan kecil sebelum akhirnya berhenti karena dipelototi oleh Bunda.             “Iya, tante, silahkan. Maaf ya harus lihat rutinitas saya sama Jihan setiap ketemu.”             Bunda tersenyum kecil dan berjalan melewati Dean sembari menepuk pelan pundaknya.             “Kadang kala orang bertengkar itu sedang mengakrabkan diri,” ujar Bunda lalu masuk. Di dalam Bu Muti langsung menyambut dengan teriakan dari ruang tengah, mengajak Bunda untuk langsung masuk melewati ruang tamu.             “Lo ngapain berdiri aja? Nggak ikut masuk?”             Jihan membalas dengan masih mengamati Dean dari atas ke bawah, hingga matanya tertumbuk pada celana pendek Dean. Ingatannya melayang saat mereka main tebak-tebakan. Seketika Jihan langsung menutup matanya dengan kedua tangannya. Ya walaupun masih menyisakan sela-sela jari terbuka.             “Heh! Lo liat mana?! Dasar cewek m***m!” Dean langsung menarik celana pendeknya agak ke bawah dan berlalu ke dalam, meninggalkan Jihan yang cekikikan sendirian. Jihan mulai mengekor dan menutup pintu setelah puas tertawa sendirian sampai-sampai pak Jan celingukan mendengar suara tawa Jihan.             “Oh, ini ya anak gadis kamu?” tanya Bu Muti saat Jihan mendatangi suara Bunda yang sedang berbincang di ruang tengah. Jihan tersenyum lebar dan duduk dekat Bunda.             “Namanya siapa?” tanya Bu Muti.             “Jihan, Tante.”             “Anaknya cantik, aku kok jadi pengen punya anak perempuan ya, mbak?” kekehnya. Bunda menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya. “Nggak usah, Ti. Mau cewek atau cowok kalau bangor mah sama, bikin kepala koploan saking seringnya bikin masalah.”             “Jadi Jihan masalah, Bund?” tanya Jihan cepat.             Kedua wanita paruh baya itu langsung tertawa mengabaikan pertanyaan Jihan.             “Semua dari kita itu pasti hidup dengan masalah. Masalah memang sudah melekat ke person tanpa harus diminta. Bukannya manusia hidup tuh memang untuk mencari solusi atas masalah yang ada?” ujar Bu Muti yang mendapat anggukan dari Bunda sedang Jihan menggaruk garuk pelipisnya yang tidak gatal. Sepertinya karena Jihan kelaparan, Jihan tidak terlalu memahami maksud pembicaraan Bu Muti.             “Tadi sudah kenalan sama anakku, mbak?”             Bu Muti memang dari dulu selalu memanggil Bunda dengan panggilan, mbak. Karena usia mereka yang memang terpaut satu tahun.             “Udah, sebenernya Dean udah pernah anter Jihan pulang ke rumah.”             “Eh kalian satu kampus?”             “Iya, tante. Satu kampus beda fakultas beda tingkatan.”             “Waduh, ternyata anak-anak udah saling kenal, bisa ini mbak,” goda wanita itu membuat Bunda tertawa kecil. Jihan semakin tidak paham dan memilih mengerutkan kening.             “Mereka aja dah kayak tom and jerry,” tambah Bunda.             “Eh, mbak. Ikut aja ya arisan, nggak ada acara kan habis ini?” Bunda langsung terlihat kurang enak hati dan melirik ke Jihan dan justru sedang melihat ke arah lain.             “Tapi aku kan nggak ikut arisan, aku bantuin aja ya di belakang?”             “Hus! Ngomong apa sih mbak, mbak kan tamu di sini. Sekalian aku kenalin ke temen-temen arisanku, mbak. Tadi kan aku dah nyicip sosisnya satu. Dan enak banget. Jihan juga mau ya nemenin bundanya di sini dulu?”             Kali ini Muti meminta dukungan dari Jihan agar Bunda mau tetap tinggal dulu sembari menunggu teman-teman Muti datang. Jihan yang melihat ada peluang mengedipkan matanya ke Bunda, memberikan tanda bahwa dia setuju Bunda tinggal dulu. Kalau catering Bunda ramai yang pesan pasti urusan membayar kuliah juga umroh tinggal kedipan mata sudah terwujud.             “Iya, deh. Aku ikut ya?”             “Nah gitu, mbak. Kalau nanti missal kurang nyaman, bilang aja ya. Nggak papa nanti milih pulang.”             Bunda mengangguk setuju.             “Dean! DEAN!” teriak bu Muti. Jihan mulai pasang alarm memikirkan kemungkinan kenapa tiba-tiba Dean dipanggil.             Jangan-jangan…             “Iya, Mah?”             Dean datang dengan penampilan yang santai seperti tadi hanya kini celana pendeknya sudah berganti ke celana panjang jeans belel berwarna biru.             “Kamu temenin Jihan ya?”             Dan saat itulah netra mereka saling bertemu.             “Dean? Nemenin Jihan?”             Kan, apa gue bilang. Feeling gue jelek nih. Masak gue harus sama Dean, bisa-bisa nggak jadi arisan, tapi ngurusin gue sama Dean yang adu bacot             “Iya, kan kalian udah saling kenal. Kata mbak Katrin, kamu juga dah pernah anter Jihan ke rumah kan?”             Duh emak gue ember banget sih, jadi boomerang kan?             Jihan menatap kesal ke Bunda.             “Bisa kan?” tanya Bu Muti penuh dengan penekanan ke Dean. Dean melirik Jihan sekilas kemudian mengiyakan.             “Bisa dong, Mah. Dean kan dah biasa momong bayi. Yuk ikut gue ke atas,” ajak Dean lalu menarik pelan tangan Jihan hingga ketika Jihan bangun tanpa jeda kini dia sudah berjalan tertatih karena di tarik Dean.             “Jangan kasar-kasar sama bayi, Dean,” ujar ibunya memperingatkan kelakuan Dean. Bunda hanya bisa menggeleng kecil melihat Dean dan Jihan berlalu menuju ke tangga.             “Tuh, bener kata mamah kamu. Katanya gue bayi, bayi kok ditarik sih,” protes Jihan. Mereka kini berhenti di ujung tangga.             “Trus mau lo apa?” ujar Dean datar.             “Gendonggg,” goda Jihan tahu bahwa Dean akan sebal setengah mati dengan ucapannya yang sengaja dia buat terkesan manja. Jihan tahu Dean bakalan muak dengan kelakuannya.             Jihan cekikikan kecil melihat tatapan membunuh yang dia terima.             “Oke.”             Belum sempat Jihan memproses maksud dari persetujuan Dean, tubuhnya kini terangkat ke atas. Dean menggendongnya ala bridal style, membuat Jihan gelagapan.             “HE! Turunin gue nggak?!             “Ulu ulu, adek bayi lucu banget. Om gendong ya? Trus buang ke parit dari lantai 2,” desis Dean membuat Jihan melotot. Saat itu tatapan mata mereka tiba-tiba terkunci. Jihan yang tadinya marah kini terdiam membeku. Tatapan mata tajam Dean membuatnya terkunci dalam pusaran berwarna coklat. Jihan terus menatap wajah Dean meski kini Dean memutus koneksi mereka dan mulai menggendongnya ke atas.             Jihan melirik ke tangannya yang kini merangkul leher Dean. Ada desiran halus yang menerpa kulitnya, membuat Jihan semakin merasa ingin berada di posisi ini lebih lama. Profil wajah samping Dean, membuat Jihan lupa. Lupa bahwa Dean itu musuhnya, dan sebenarnya, kegantengannya saat ini mampu membuat detak jantung Jihan makin tak beraturan. Telinganya bahkan bisa merasakan bagaimana detak itu bergema dan mengacaukan pikiran alam bawah sadar.             “Kalau lo ngeliatin gue terus…” Dean menoleh dan tersenyum licik, “…gue jamin lo nggak bakalan bisa lepas dari gue.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN