Bagas

1116 Kata
Jihan masih melongo, menatap kepergian Dean dengan perasaan yang belum bisa Jihan gambarkan. Rasanya begitu sesak ketika rasa hangat tadi begitu saja pergi, berlalu tanpa menjelaskan secara detail. Dawai Jihan bergetar membuatnya tersentak, terbangun dari lamunan. Ada pesan masuk dari Bagas. Han, ketemu 10 menit lagi ya di deket almameter? Atau gue jemput lo?  Lo dimana? Jihan mengesampingkan dulu pikirannya barusan dan memusatkan fokusnya ke chat Bagas. Akhirnya mereka akan bertemu lagi. Sejak Jihan menghindari teman temannya, ini yang dilakukannya, bertemu sembunyi-sembunyi dengan Bagas dekat area kampus. Padahal awalnya mereka sepakat bertemu di dekat area rumah mereka sendiri. Jihan merasa, Bagas mulai berani karena hendak membiasakan diri untuk membuat pengumuman tentang pacaran ke mereka. Kalau Bagas nggak sabaran gini, gue justru yakin sebenernya Bagas memang suka sama gue. Ngapain gue ngeraguin dia ya? Jihan menggelengkan kepalanya cepat. Menghalau semua hal megatif yang sempat terlintas di pikirannya karena omongan Dean. Tiba-tiba rasa kesal dan muak muncul, membuatnya berjanji nggak akan mau ketemu dengan Dean kapanpun dan dimanapun. Jihan memutuskan untuk menelepon langsung kekasihnya begitu dirinya sudah berada di luar perpustakaan. “Halo, Gas...” “Iya, apa sayang?” “Gue lagi di perpus deket rektorat. Kalau lo jemput gue bagaimana? Nanti tinggal lo balikin gue kesini. Kita mau kemana?” “Sepakat, gue jemput lo ya. Mumpung gue sudah di parkiran kampus. Kayaknya kita main ke rumah gue saja, bagaimana?” Jihan terdiam. Main ke rumah cowok? Kalau Bunda tahu bakal kena marah dianya. “Emang ada siapa aja di rumah? Lo mau ngenalin gue sama bokap nyokap lo ya?” ujar Jihan dengan tertawa yang agak dipaksakan. Bingung bagaimana harus menanggapi ajakan Bagas. “Nggak sayang, maaf ya, kebetulan justru bokap nyokap lagi pergi. Ngenalinnya besok besok saja ya. Di rumah gue, kita bisa mainan monopoli bareng, main games seru bareng lainnya yang penting gue pengen kita hanya berduaan.” Ajakan Bagas tentu saja menggiurkan. Tapi alam bawah sadar Jihan memperingatkan sesuatu. “Oke deh, deal. Gue tunggu depan rektorat yaa.” Jihan langsung memutuskan koneksi mereka dan mulai berjalan ke depan rektorat. Selang lima belas menit, mobil Bagas terlihat berhenti di jalur mobil, segera Jihan berlari kecil dan membuka pintu serta masuk ke mobil. “Hai,” sapa Jihan sambil mengenakan seat bealtnya. “Hai, sayang. Eh ada yang baru ya? Lo keliatan sangat fresh dan tentu saja cantik. Ahh, poni kamu ya? Love it! Cewek gue tambah mempesona, wah ini harus dikarungin ini biar nggak banyak orang lihat.” Jihan menepuk pelan lengan Bagas, wajahnya tersipu dan merasa senang. “Apa sih.” “Appa syih,” ujar Bagas membeo kata kata Jihan hanya sedikit dilebih lebihkan membuat Jihan tertawa. “Ah ayok, mau kemana ini? Yakin mau ke rumah?” “Yakin dong, lagipula ada pembantu di rumah. Wajahnya nggak usah tegang begitu deh,” goda Bagas sembari melajukan mobilnya meninggalkan area kampus. Jihan meringis, merasa bersalah karena terlihat dirinya masih enggan datang ke rumah Bagas. “Nanti kita bisa nonton Netflix bareng, lo lagi suka nonton film apa?” Jihan tertegun dengan pertanyaan Bagas. Dirumah maupun di handphonenya, keluarganya tidak pernah berlangganan Netflix, kalau butuh liat film yang terbaru, ya dia datang ke warnet, cari cari film resmi di youtube. Jihan bahkan nggak tahu film apa yang sedang marak sekarang. “Ngikut aja deh, Gas. Gue akhir akhir ini nggak bisa nonton, jadi nggak tahu apa yang lagi booming begitu. Lo ada saran nanti kita mau nonton apa? Yang ringan, simple, menarik tapi nggak berat di pikiran.” Bagas lalu terkekeh, kalau nggak salah saudaranya pernah menyarankan drama korea yang bagus. Bagas sempat dengar langsung dari Jihan kalau dirinya sebenernya penyuka k-drama meski nggak yang ngebet ngebet banget harus nonton. “Nonton Hospital Playlist? Kata sodara gue bagus. Yang kayak lo bilang. Ringan, simple, menarik tapi nggak berat di pikiran.” Jihan mengangguk, setuju mereka akan menonton Hospital Playlist. “Eh, Eh, gue punya tebakan ini. Apa yang membedakan lo dengan Hospital Playlist?” Jihan mengerutkan kening, berusaha memikirkan jawabannya. “Gue real, mereka nggak nyata?” “Mereka juga nyata, sayang. Kan ada wujudnya,” ujar Bagas tertawa kecil, hal itu langsung menular juga ke Jihan, dirinya tertawa juga menyadari kebodohannya bilang bahwa yang ada di televisi itu nggak real. “Maksud gue itu, ceritanya,” kata Jihan ngeles kemudian menjulurkan lidahnya cepat, mengejek Bagas. “Eh, lidahnya nakal ya, awas nanti bisa gue kondisikan. Cepetan dijawab.” “Bagas, apa sih,” ujar Jihan terlihat frustasi dan kesal. Frustasi karena mencari jawaban yang dimaksud Bagas serta kesal dengan kata kata Bagas yang terlalu menjurus. Jihan belum terbiasa dengan becandaan yang mengarah ke hal yang tabu untuknya. Jihan berpikir sebenarnya dia harusnya malu atau nggak sih dengan keadaannya yang seperti habis keluar dari alam lain? Banyak hal yang terjadi di sekitar dia, tapi Bunda bisa membentengi dirinya hingga selama ini Jihan nggak pernah terpikirkan ke arah itu. Semenjak dirinya masuk kuliah barulah Jihan mulai mendengar dan mengenal bercandaan atau istilah istilah yang mengarah ke hal yang tabu. “Dijawab sayang, kok malah diem sih?” ucap Bagas menyadari kebisuan Jihan. “Ini lagi mikir kok.” “Udah belom? Kalau nggak gue saja yang jawab deh.” Jihan menoleh dan tersenyum mengiyakan. “Apa dong jawabannya?” “Tadi lo bilang kalau Hospital Playlist itu ringan, simple, menarik dan nggak berat di pikiran. Nah kalau lo itu berat di pikiran.” “Kok bisa?” tanya Jihan. Mulai memicingkan matanya, berpikir yang tidak tidak. Jadi maksud Bagas dia gendut begitu? “Iya, karena setiap detik, setiap menit, setiap waktu, lo ada di pikiran gue. Berat, makanya biar gue saja yang mikirin lo.” Mendengar itu, Jihan langsung tidak tahu harus tertawa atau tersipu malu. Jihan berusaha menahan tawa sambil melihat Bagas yang kini sedang menatapnya menunggu reaksinya. Hingga akhirnya tawa itupun keluar juga. “Bahahaha, Bagas ih, gue pikir lo mau bilang berat badan gue yang hinggap di pikiran makanya berat. Kirain apa, jayus tahu.” “Jangan salah, jayus gini juga lo suka kan?” goda Bagas menggerak gerakkan alisnya membuat Jihan semakin tidak bisa menahan tawanya. “Iya iya, memang sudah pas suka sama lo.” Jihan mencoba menghapus air matanya karena terlalu banyak tertawa. Ini comfort zone yang paling disuka oleh Jihan terhadap Bagas. Sejenak, Jihan menoleh dan tersenyum manis yang dibalas dengan hal yang sama oleh Bagas. Tangan kiri Bagas kemudian terangkat dan mengelus lembut rambut Jihan, elusan itu berlanjut pelan pelan menuju leher Jihan yang terbuka, saat itulah bulu kuduk Jihan berdiri. Karena elusan ringan di rambutnya kini berpindah ke lehernya. Bagas mengelus pelan seperti memberikan sengatan yang membuat Jihan kurang nyaman. Tapi Jihan tidak menolak, dia tetap berdiam membeku. Apa yang seharusnya dia lakukan?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN