Dah sampe! Yuk!”
Bagas keluar lebih dahulu setelah memarkirkan mobilnya di depan garasi, Jihan masih terdiam, mengamati rumah dari balik kaca mobil. Banyak pertentangan di batinnya. Haruskah dia keluar? Harusnya dia memilih untuk pulang begitu saja. Entah, Jihan tidak nyaman tapi itu lebih ke karena dia ngerasa nggak aman saja
Hei, dia itu cowok lo? Masak lo nggak percaya sih?
Jihan tertegun, bener juga sih.
Tapi dia tadi dan berani ngelus ngelus leher lo sambil pandangannya penuh nafsu loh.
Jihan menelan ludahnya, mulai meragu karena pikirannya itu bener.
“Ayok, sayang, nunggu apa? Mau aku ke gendong?” sahut Bagas membuyarkan lamunannya. Jihan menggeleng cepat dan memutuskan keluar dari mobil dan berjalan di belakang Bagas, menunggu Bagas membuka pintu. Saat pintu sudah terbuka, Bagas menggandeng tangan Jihan, Jihan tak kuasa menolak dan pasrah digandeng tangannya. Mereka melewati ruang tamu, ruang tengah hingga saat kaki mereka memginjak ke tangga pertama, Jihan langsung memyentakkan tangannya dan bergegas kembali ke ruang tengah.
“Gu-gue duduk disini saja,” tunjuk Jihan ke sofa depan TV.
“Kamar gue di atas, sayang.”
“Lo mau ganti baju dulu kan? Gue tunggu di sini saja ya?” pinta Jihan. Bagas mengedikkan bahunya dan memutuskan untuk naik ke kamarnya sendiri. Jihan mulai menengok-nengok ke kanan dan kiri. Rumah Bagas lumayan luas, kadang kala ini yang membuat Jihan semakin tidak percaya diri. Dirinya dikelilingi oleh orang yang berada. Satu-satunya orang yang bawa motor matic di circle mereka hanyalah dirinya. Kadang kala memang Dean dan Ikbal bawa motor ratusan juta yang selalu Jihan labelkan motor balap rosi. Well yeah, Jihan tahu setiap motor ada merek, type dan keistimewaannya tapi Jihan memang nggak mau ribet nyebutnya. Sebut dia kurang gaul karena kosakata yang dipunya orang kaya memang tidak masuk ke kamusnya.
“Eh, ada tamu ya?”
Jihan langsung menelengkan kepalanya dan melihat ada seorang wanita paruh baya keluar dari lorong dekat tangga. Jihan tersenyum menganggukan kepalanya. Tapi masih belum berani menyapa, perempuan itu meski sudah berumur tapi penampilannya modis. Jihan takut salah sangka kalau menyapa. Siapa tahu anggota keluarga Bagas yang lain meski yang dia ingat tadi Bagas bilang orang tuanya pergi dan hanya ada pembantu di rumah.
“Neng mau minum apa?”
“Apa saja, bu.”
“Mas Bagas kemana?”
“Lagi ke atas, mau ganti baju dulu.”
Seakan jawaban Jihan aneh, wanita itu tampak berpikir.
“Neng nggak ikut ke atas? Soalnya biasanya...”
“Mbok! Bikinin makan siang buat gue sama teman gue ya?” Seru Bagas dari atas. Jihan sampai mendongak ke atas. Wanita itu juga terlihat salah tingkah dan lalu pergi meninggalkan mereka berdua untuk menyiapkan pesanan Bagas. Bagas sendiri masih menyenderkan tangannya ke selasar tangga.
“Mau aku jemput ke atas atau naik sendiri?”
Itu sama saja kamu nawarin mau nyerahin nyawa kamu secara iklas atau mati di tempat. Jihan nggak suka dengan semua pilihan yang ada. u*****n demi u*****n keluar dari hatinya. Kenapa tadi dia harus mengiyakan untuk datang ke rumah ini?
“Iya deh, gue ke atas,” ujar Jihan kemudian bangun dari duduknya dan berjalan ke atas. Ada banyak doa yang terucap, meminta tidak akan ada hal yang aneh terjadi. Bagas sudah menghilang dari penglihatannya dan saat sudah sampai di atas, cowok itu ternyata menunggu di depan pintu kamarnya.Bagas tersenyum dan langsung menghampiri Jihan, menggandeng tangannya sekali lagi. Jihan sampai harus melihat bagaimana genggaman itu kini berayun saat memasuki kamar Bagas. Jihan sengaja tidak menutup pintu tapi sedetik kemudian genggaman itu lepas karena Bagas menutup pintu kamarnya.
“Welcome to my world,” seru Bagas. Jihan yang tadinya sempat menunduk akhirnya mendongakkan kepalanya. Matanya mengelilingi sudut kamar, melihat dengan seksama. Kamar ini sangat meriah menurut Jihan. Dan ketika membandingkan dengan kamar Dean tentu saja berbeda. Kamar Dean simple dan sedikit barang di kamarnya sedang kamar Bagas penuh dengan barang-barang khas laki laki. Ada banyak poster dan lukisan yang menunjukkan bahwa Bagas ini pengagum wanita. Ada lukisan siluet wanita, ada juga gambar aktris cantik yang sudah lama meninggal, Marylin Monroe. Kamarnya juga di d******i oleh warna abu abu. Di atas tempat tidurnya juga beragam poster orang orang memegang mic ataupun gitar. Tapi yang buat Jihan kagum adalah, ada rak buku besar di sudut ruangan. Jihan perlahan berjalan mendekati rak buku dan melihat buku buku yang dibaca oleh Bagas
“Lo suka baca?” tanya Jihan masih nggak percaya.
“Well, kalau kita nggak ada asupan materi bagaimana kita mau kaya ilmu?”
Jihan mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya, membuka halaman demi halaman lalu menengok ke Bagas yang kini sedang memgamatinya. Senyum terukir di wajah Jihan. Salah satu impiannya adalah punya banyak buku dan rak di rumahnya. Khusus untuk buku-bukunya. Bukan lagi ditaruh di meja, ditumpuk atau masukin ke kardus karena sudah nggak ada tempat lagi.
“Keren ya kamar lo,” puji Jihan. Bagas menggerakkan alisnya dan tersenyum bangga. Sudut mata Jihan melihat ada juga PC dengan 1 layar besar dan juga kursi gaming selayaknya yang dia liat di kamar Dean. Tapi ada juga tv besar berukuran di atas 43 inch, karena menurut Jihan tv di kamar Bagas lebih besar daripada tv di rumahnya hadiah dari rekan Bunda saat Bunda berhasil stock Catering dengan kualitas bagus selama 2 bulan berturut turut.
Stop, Jihan! Stop banding bandingin. Lo bakal ngeliatin banget kalau lo itu memang orang nggak punya
“Kita langsung nonton saja bagaimana? Kalau nanti sampai malam kasihan kalau lo kemaleman. Nanti ibu lo marah-marah lagi.”
Bukan hanya marah, sudah pasti gue dicoret dari KK.
Langkah Jihan berhenti ketika dirinya tidak melihat ada kursi atau sofa disitu, malahan Bagas langsung merebahkan badannya ke kasur, kemudian menelungkupkan dirinya menghadap ke tv.
“Sini sayang, rebahan deketan gue sini,” ujar Bagas menepuk nepuk area kosong di dekatnya. Jihan memilih duduk di pinggiran kasur, dan mengangkat kedua kakinya dan melipatnya. Bagas yang melihat itu hanya mengernyit sekejab melihat jarak duduk Jihan dan dirinya tapi kemudian Bagas memilih menyalakan tv dan membuka menu untuk Netflix. Dipilihnya Hospital Playlist sesuai dengan yang mereka sepakati tadi.
“Sayang deketan sini,” ujar Bagas dengan wajah memelas. Jihan menelan ludahnya, masih ragu untuk mendekat dan memutuskan fokus untuk melihat k-drama. Bagas yang kemudian kesal berinisiatif berguling mendekat ke Jihan dan menyenderkan kepalanya ke paha Jihan. Jihan kaget namun akhirnya diam karena setelah itu Bagas juga fokus menonton.
“Sebenernya gue pengen banget rebahan dengan posisi seperti ini dari dulu, dan itu kesampaian sama lo. Makasih ya yang, salah satu keinginanku terwujud akhirnya. Dan ternyata posisi kayak gini itu nyaman banget.”
Sedang Jihan hanya meringis, kakinya mulai kesemutan tapi nggak berani bilang ke Bagas. Tengsin rasanya harus bilang saat momen indah sedang tercipta. Nggak ingin Jihan serta merta menghancurkan momen yang tercipta.
“Han...”
“Hm.”
“Coba dari dulu gue ketemu sama lo...”
Jihan melihat Bagas yang kini sedang mendongak ke wajahnya. Ada sorot yang tak terbaca di sana. Jihan ngerasa ada penyesalan tapi juga Jihan tidak tahu apa itu karena dirinya belum pandai menilai laki-laki yang dekat dengannya.
“Gue sayang sama lo, Han.”
Saat kalimat itu meluncur dari bibir Bagas, Jihan ngerasa keraguannya mendadak hilang, pikiran buruknya tergantikan dengan perasaan yang meluap-luap. Banjir sudah pikiran Jihan dengan kata kata sayang dari Bagas. How could she can survibe from this situasion?
“Gue juga, Gas. Gue sayang banget sama lo.”
Kepala Bagas agak diangkat dan tangannya merangkul leher Jihan. Saat bibir mereka bertemu, ada dentuman yang terasa. Jihan menutup matanya sesaat, dan saat membuka mata, Bagas tersenyum menatapnya. Cowok itu mengelus elus pelan bibir Jihan. Kepalanya hendak diajukan lagi ketika ada bunyi ketokan di pintu.
Tok! Tok! Tok!
“Mas Bagas, ini makanannya. Mbok taruh depan kamar ya?”
“Iya! Taruh saja disitu!” balas Bagas dari dalam. Setelah tidak ada bayangan lagi dari balik pintu. Bagas menatap Jihan lagi.
“Gue ambil dulu ya, laper nggak lo?”
Jihan mengangguk seperti kebo ditusuk hidungnya. Bagas tertawa kecil dan memgusap usap kepala Jihan. Gadis itu menyadari cepolnya mulai tidak beraturan dan memutuskan untuk menggeraikan rambutnya.
“Kenapa digerai rambutnya? Gue kan jadi nggak bisa liat leher lo.”
Jihan hanya membalasnya dengan senyuman. Bagas meletakkan nampan di meja Pcnya. Jihan bisa melihat ada pasta yang tersajikan juga minuman dingin. Setelah itu Bagas kemudian duduk di dekat Jihan merebut ikat rambutnya dan mulai menata rambut Jihan dengan diikat dengan asal.
“Tadi bagaimana sih bisa di bulet buletin begitu?”
Jihan tertawa, “coba bagaimana? Harus bisa coba,” tantang Jihan. Bagas lalu mencoba menggelung rambut Jihan, mencepolnya dan ketika gagal, dia ulang beberapa kali hingga membuat Jihan gemas. Gadis itu merebut kembali ikat rambutnya dan menggelung dengan kecepatan cahaya. “Tada! Sudah ini!”
Bagas lalu mengamati wajah Jihan, mengelus anak rambut di pelipisnya dan memgamati bagaimana cepol itu tercipta sempurna ke wajah Jihan. Gadis itu terlihat sangat memesona di matanya.
“Han, lo itu ternyata hidden gems ya? Hanya potong poni saja sudah bikin kecantikan lo tampak. Tadi sih gue beneran laper, kalau sekarang sudah laper yang lain.”
“Jangan bilang lo kenyang gara gara liat wajah gue,” goda Jihan lalu menepuk pelan pundak Bagas.
“Enggak, karena gue beneran laper.”
“Yaudah ayuk kita makan.”
“Tapi gue lapernya beda, Yang.”
“Maksud lo? Makanan kan ada di meja, kenapa lo liatinnya gue mulu, Gas?”
“Karena gue lapernya sama lo, Han.”
Jihan terdiam karena menyadari tatapan intens Bagas ke bibirnya.
“I love you,” bisik laki laki itu tepat sebelum bibirnya akhirnya mendarat di bibir Jihan untuk kedua kalinya. Tapi kali ini ciuman mereka lebih lama, hingga Jihan merasakan sesuatu yang aneh saat ada yang mencoba menelusup masuk. Jihan menghentikan dengan cepat dan menatap Bagas gamang.
“Lo percaya sama gue kan?” tanya Bagas dengan pandangan yang menggelap. Mulai meneruskan lagi apa yang mereka mulai sebelumnya.