Jihan mengendap-endap masuk ke rumah, jam menunjukkan jam 9 malam, biasanya Bunda sedang mengurusi Budhe. Jihan berdoa dalam hati, jangan sampai Bunda ketemu dengannya dan tahu kondisinya. Bisa bisa Bunda tidak lagi menyuruhnya untuk kuliah lagi.
Usaha Jihan berhasil. Dia masuk ke kamar tanpa harus berpapasan dengan Bunda atau Budhe. Sempat tadi dia mendengar suara Bunda sedang berbicara dengan Budhe, Jihan lalu berteriak bahwa dia sudah sampai di rumah kemudian lari ke kamarnya. Tapi sepertinya suasana tegang di pikirannya masih harus berlanjut karena ada ketukan di pintu kamarnya.
“Jihan, sudah makan?”
“Sudah, Bunda.”
“Sudah jam segini, nggak usah mandi. Cuci muka aja. Bunda besok pagi langsung belanja ya? Sarapan bakal Bunda siapin. Bunda boleh masuk buat kasih ciuaman selamat malam?”
Jihan langsung panik, dengan segera menelusupkan badannya ke selimut dan menutup seluruh badannya. “Jihan kan belum cuci muka, Bund! Bau! Ciumnya besok ya!” Jihan menyuarakan alasannya untuk usaha terakhirnya agar Bunda tidak segera masuk ke kamar. Terdengar jeda beberapa saat hingga akhirnya Bunda menjawab. “Oh iya bener. Oke, selamat istirahat ya. Bunda balik ke kamar Budhe lagi ya?”
“Met malam, Bunda. Jihan sayang Bunda!”
“Bunda juga sayang Jihan, lekas tidur ya.”
Tak berselang lama, Jihan mendengar suara langkah kaki menjauh dari pintu kamarnya. Jihan langsung bergegas bangun dan menuju ke kaca kamarnya. Agak lama Jihan mengamati wajahnya dan berlama lama mengamati bibirnya. Disentuhnya bagian itu pelan pelan. Terasa bengkak dan juga berat. Jihan berasa punya bibir seperti Angelina Jolie. Ingatannya langsung melayang ke kejadian tadi di rumah Bagas. Bagaimana Bagas memperlakukannya dan seakan rakus akan dirinya. Jihan tersenyum kecil. Laki-laki itu bener bener memujanya. Selalu membisikkan kata kata yang mampu membuat Jihan melayang. Berkali kali Jihan menggigit bibirnya. Bulu kuduknya sedikit berdiri mengingat tiap tiap sentuhan yang terjadi. Jadi ini rasanya diistimewakan seperti ratu di hati seseorang?
Jihan langsung merebahkan dirinya lagi ke kasur. Mulai terus tersenyum tanpa henti.
“Dean, lo salah. Bagas nggak nyembunyiin apa apa dari gue.”
**
“Lo nggak akan bisa menghindar lagi dari kita, Han. Mau lo pakai masker, mau pakai topeng, mau pakai jurus seribu bayanganpun kita tahu ini elo kan?” ujar Tissa menghadang Jihan di depan kelas yang menunduk sambil membenarkan maskernya.
“Lo kenapa sih?” tanya Kanaya terlihat khawatir.
“Gue lagi flu saja, nggak sembuh sembuh makanya jarang ngumpul,” ujar Jihan suaranya agak disengau sengauin dan juga mulai batuk batuk kecil.
“Sebulan? Flu apa itu, Han?” bingung Kanaya.
“Flu burung? Ebola?” serobot Tissa.
“Eh, mulut. Ngadi ngadi ya kalian,” sungut Jihan.
“Han, lo potong poni ya? Pegang ya? Keliatan tambah imut lo.”
Jihan langsung memegang poninya dan tersipu senang. Meski senyumnya tidak terlihat dari balik masker tapi teman temannya bisa tahu dari perubahan sudut mata Jihan yang menyipit karena tersenyum.
“Tapi lo beneran parah ya flunya sampai harus pakai masker begitu? Dulu ingus lo kemana mana juga lo pede saja, Han.”
“Dulu gue memang pede tapi sejak tahu bahwa kesehatan itu nomor satu, nggak mau lagi gue sembarangan nularin virus ke teman teman gue, Tis. Kalau kalian ketularan bagaimana? Kayak waktu itu gue berbagi ingus dan bersin terus kalian akhirnya ikut sakit juga.”
“Lo abis kesambet apa?” heran Kanaya.
Kesambet cinta, ujar Jihan terkikik dalm hati. Sebenernya dirinya nggak sabar mengumumkan ke dunia kalau dia sudah punya pacar. Sudah bisa saling curhat dan punya pengalaman. Karena biasanya Tissa dan Kanaya yang asyik berbagi pengalaman mereka.
“Bener-bener harus pakai masker?” Tissa masih tidak percaya, kelakuan Jihan sudah kayak idol korea pas jalan di airport atau aktris/aktor yang nggak ingin ketahuan sama paparazi.
Jihan mengangguk cepat dan langsung memegang maskernya. Ketakutannya bertambah. Jangan sampai teman temannya tahu bagaimana bentuk dan warna bibirnya. Bagas terlalu beringas jadi sekarang bibirnya bengkak dan warnanya berubah ke arah gelap.
“Ya, oke deh. Yuk kita nongkrong di cafe biasa. Gue sudah janji ke yang lain harus bisa bawa lo kesana. Mereka butuh klarifikasi kenapa lo ngehindar dari mereka.”
“Sekarang, Kan?”
“Iya, masak tahun depan sih. Lo nggak usah ngadi ngadi mau kabur dan juga alesan segala macem ya. Kita nggak butuh itu sekarang.”
Jihan menelan ludahnya ketika Tissa dan Kanaya menggandeng lengannya. Jihan sudah kayak tahanan kota saja dapat kawalan agar tidak bisa kabur. Jihan memejamkan matanya, mulutnya komat kamit, mengeluh bingung harus bagaimana nanti. Bertemu dengan para cowok saat kondisinya seperti ini sudah kayak masuk ke kandang buaya. Mereka jelas paling paham kenapa Jihan bertingkah aneh ketika melihat bibirnya. Bagaimana jika Bagas juga punya masalah yang sama dengannya? Langkah Jihan berhenti, rasanya dia ingin lari dan nggak siap bertemu dengan yang lain.
“Kenapa berhenti?” tanya Kanya lalu melihat kepanikan tergambar di wajah Jihan.
“Jangan bilang lo nggak mau dan mau kabur ya? Nggak bisa. Kita sudah sering lo hindari. Bingung kan salah kita apa,” ujar Tissa menyeret Jihan akhirnya. Mereka berjalan bertiga dengan posisi seperti hendak menculik anak orang. Yang di tengah, Jihan, sampai harus menengok terus ke Tissa dan Kanaya bergantian. Rasanya dirinya mau nangis. Nggak siap dengan konfrontasi berikutnya. Langkah mereka akhirnya berhenti di depan cafe Almameter. Mereka bertiga masuk dan mulai celingukan. Suasana cafe sangat ramai. Tissa melambaikan tangannya ketika melihat yang lain sedang duduk di area outdoor yang terletak di samping cafe.
“Akhirnya ketangkep juga anak satu ini setelah ngilang sebulanan,” ujar Dean dengan nada sarkasnya. Jihan sampai nggak berani menatap wajah Dean dan langsung duduk di kursi terdekat dengannya. Jauh dari para laki-laki. Sekilas melihat, Jihan tidak merasakan kehadiran Bagas. Rasanya kelegaannya berkurang.
“Loh, Bagas mana? Nggak ikut gabung?” tanya Tissa sambil duduk di kursi dekat dengan Dean, Jihan bertambah kelegaannya karena sekarang dirinya tertutupi dengan adanya Tissa duduk di antara mereka. Dirinya tidak harus melihat Dean.
“Malu katanya gabung. Habis cipokan semalem sama pacarnya, bibirnya sampai warnanya biru gitu. Mungkin sekalian mantap-mantap. Bagas mana puas cuma cipokan,” ujar Ikbal membuat telinga Jihan langsung memerah. Terasa panas. Beruntung rambutnya digerai jadi kini semua struktur wajahnya tertutup kecuali matanya.
“Bagas punya pacar?” heran Kanaya, karena baru kali ini mereka membahas tentang hubungan Bagas dengan perempuan.
“Punyalah. Playboy cap kadal begitu kalau nggak punya pacar ya punyanya mainan. Biasanya sih nggak lama bertahannya. Setau gue dia sudah lama kok punya pacar cuma memang nggak dikenalin saja ke kita. Takut Dean naksir,” seloroh Ikbal.
“Kayak nggak ada cewek lain saja,” sungut Dean mulai sibuk dengan gadgetnya bermain games.
“Memang nggak ada, lo kan hatinya tertaut pada Alyssa seorang,” balas Ikbal berbuah pelototan dari Dean.
“Alyssa anak MIPA? Yang terkenal karena selalu bawa nama baik kampusnya waktu kejuaraan? Serius lo pacarnya Alyssa?” seru Tissa hingga matanya melotot tidak percaya. Jihan mulai mendengarkan dengan seksama. Tiba-tiba jiwa keponya melonjak naik.
“Dulunya,” lirih Dean.
“Gila lo! Selera lo tinggi juga. Terus kenapa kalian putus?”
“Dean yang mutusin, jadi lo tanya saja ke orangnya langsung.”
Mendengar omongan Ikbal, mereka semua kini memusatkan perhatiannya ke Dean yang seakan nggak peduli pandangan mata mereka kini mengarah padanya. Dean masih sibuk bermain games.
“Sayang salah kali, masak Dean yang mutusin?” tanya Kanaya ke pacarnya. Ikbal langsung membentuk huruf v dengan jarinya dan bergumam, “suer, gue kagak bohong. Gue kan sodaraan sama Dean, jadi ya tahu kisah cintanya.”
“Sudah lo nggak usah ngurusin gue,” sergah Dean.