Ketemu Mantan

1274 Kata
"Daripada ngurusin gue, itu kenapa Jihan pakai masker segala? Sakit? Nggak pesen makan atau minum begitu?” Jihan mengumpati Dean dalam hati, matanya agak melotot ke Dean. Siyalan memang ini cowok, padahal Jihan sudah memilih untuk diam dan tidak terlihat menonjol agar tidak ditanya tanya. Bagaimana mau pesan makan minum kalau bibir jontor sudah kayak disengat lebah? “Nggak, gue lagi nggak nafsu makan.” “Iya, Han. Pesen minum gih,” suruh Tissa. Jihan langsung beranjak menuju counter. Tidak menyadari bahwa Dean mengikutinya. “Lo kenapa? Kebanyakan make out ya?” Jihan menoleh cepat dan langsung menunduk. Merasa malu sekaligus geli.  “Kenapa nggak bilang anak anak saja kalau lo pacaran sama Bagas? End story. Lo jadi nggak harus nahan beban sendirian. Kondisi lo kayak gini juga butuh pendampingan.” Jihan menoleh cepat, “gue kan nggak diapa apa in. Nggak ngalamin trauma juga, kenapa gue harus didampingi?” Dean terkekeh pelan, “didampingi kalau sampai lo diinterogasi. Jadi nggak cuma pihak cewek saja, pihak cowok jugalah. Biar sama sama tahu, jawaban kalian klop apa nggak.” Jihan mengerutkan keningnya. Sebenernya Jihan tadi sempat memikirkan kata kata Ikbal. Mereka baru dua bulan pacaran, kenapa Ikbal bilang Bagas sudah lama punya pacar ya? Atau dua bulan itu bagi mereka sudah hitungan lama? Jihan tertawa kecil dalam hati, baginya berkenalan dekat dengan Bagas selama dua bulan ini sudah membuat dunianya jungkir balik. Ternyata jatuh cinta semenarik ini. Membuat Jihan merasakan berbagai macam sensasi yang belum dia rasakan sebelumnya. “Ati-ati pacarannya. Lo nggak bakalan tahu mau terjebak sampai mana. Inget-inget wajah Bunda ajalah. Gue waktu nyium lo, gue keinget Bunda.” Telinga Jihan langsung berdenging dan terasa panas. Entah mengapa mengingat Dean menciumnya mampu menghidupkan segala sel dalam tubuhnya. Matanya kini juga tidak mampu melihat Dean padahal tadi mereka ngobrolin bagaimana Jihan dan Bagas melakukan hal tersebut sampai bibir mereka bengkak. Perasaan bahagianya mengingat Bagas tergantikan dengan rasa tidak nyaman dekat dengan Dean. “Dean...” Keduanya menoleh.  “Lys? Hei...” Dan gadis itu yang dipanggil Lys oleh Dean mulai memandang Jihan dari atas sampai ke bawah, naik lagi dan berhenti dengan menatap mata Jihan dalam. Jihan memilih melirik ke Dean, karena perasaannya semakin nggak enak di scanning layaknya sebuah kepantasan. Dean yang paham, langsung menepuk lengan Jihan pelan mengisyaratkan bahwa dirinya tidak usah merasa takut atau terintimidasi. “Pacar lo yang baru ya? Kok gue nggak dikenalin? Tipe lo berubah ya?” Dean hanya membalas dengan senyuman. Jihan memutar bola matanya kesal. Mendengus pada kata kata cewek itu. Beruntung dia pakai masker, nggak banyak mimik wajah terlihat. Karena sebenernya mulut Jihan mulai komat kamit mengeluarkan kata kata kekesalannya. Mereka berdua sama sama cewek. Tipe apa yang berubah? Dia type 90 terus Jihan type 36B begitu?  “Han, kenalin ini Alyssa.” Oh ini mantan pacar Dean yang katanya super smart kek handphone canggih jaman now. “Lys, ini Jihan.” Saat Jihan ingin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, gadis itu malah memfokuskan menatap Dean dan seperti menganggap Jihan nggak ada. Jihan menatap kosong tangannya.  Ya apalah gue yang tingkat kepandaiannya sudah kayak padi, makin merunduk makin berisi. Saking berisinya gue tinggal di kolong kamar. Jadi nggak pandai deh gue. “Dean, kapan ke rumah? Mamah nanyain tuh. Katanya sudah kangen ingin masakin buat lo.” “Minggu deh gue ke rumah. Lo lagi nggak sibuk pelatihan?” “Nggak, semester ini mau gue fokusin nyantai dulu. Males belajar gue.” “Memang ada yang nilainya jelek?” “Nggak pernahlah, gue belum pernah ngerasain dapat nilai B.” Jihan makin makin pengen kabur dari suasana penuh dengan level yang susah dijangkau oleh Jihan. Belum pernah merasakan nilai B? Harga diri Jihan sebagai mahasiswa penuh derita tumbang sudah. Nggak kuat Jihan melawan atmosfer kelas atas. Tapi ini kenapa kakinya susah bergerak ya? Hingga akhirnya Jihan melihat ke tangannya. Sejak kapan tangan Dean menggenggam erat tangannya. Jihan langsung cegukan. “Hik!” Tapi Alyssa seakan nggak peduli, Dean menoleh sejenak kemudian membebaskan genggamannya dan memilih mengelus pundak Jihan pelan. Mereka berdua masih mengobrol. Jihan memandangi wajah Dean dari samping. Tatapan mata mereka tidak pernah lepas. Cewek itu jelas masih sangat menyukai Dean. Dan Dean sendiri masih tertarik. Terus kenapa mereka putus ya? Kok kayaknya pacarannya orang orang ribet banget sih. Gue pacarannya ngobrol, makan, jalan jalan, ciuman. Jihan reflek menepuk kepalanya. Menyadari bagian akhir dari pemikirannya itu bakalan menghasilkan sesuatu yang buruk. Dean menoleh sesaat dan mengelus pelan kepala Jihan yang tadi ditepuk. Kemudian kembali mengelus pundak Jihan karena gadis itu kembali cegukan. Jihan mengingat kata kata Bundanya pas mereka nonton drama dan ada bagian ciumannya. “Bund, kok kata teman teman aku denger ciuman bisa bikin orang hamil? Terus kok itu pemain filmnya nggak pernah hamil habis ciuman.” “Ya karena ciuman itu awal dari proses menuju bisa hamil.” “Ha? Ha? Gimana? Jihan nggak ngerti bahasa Bunda. Kalau pas SMA, pas pelajaran biologi mah dijelasin Bund. Proses bisa hamil itu gimana. Cuma nggak paham andil ciuman dari mana.” “Hahaha, kamu itu mancing Bunda keinget masa muda. Ya kan semua semua itu terkendalikan yang namanya nafsu. Kalau sudah mulai pengen megang, pengen berduaan, pasti kejadian yang namanya ciuman. Itu gerbang pembuka menuju ke yang lainnya. Semua cowok cewek pasti punya nafsu. Tinggal mana yang menang. Logika atau nafsunya? Nurutin nafsu mah nggak akan ada habisnya. Tapi kita hidup pasti sudah dipas in. Mana nih mau menempatkan nafsu, mana ini menempatkan logika. Bahkan orang berumah tangga meski sedang nafsu tetap logika jalan. Eh kenapa kamu mukanya merah. Jangan dibayangin bambang,” seru Bunda membuat Jihan tertawa. “Suatu hari kamu bakal ngalamin, tapi Bunda mohon ya, pakai logikanya. Apalagi cewek yang kepake kebanyakan perasaan. Jadi kalau sudah nafsu tetap saja menang, karena perasaan juga mendominasi.” “Maaf ya, lo jadi diem saja dari tadi.”  Suara itu membuyarkan ingatan Jihan tentang nafsu. Jihan hanya angguk angguk karena masih belum konek dengan yang dimaksud oleh Alyssa. “Jangan jealous ya, Dean memang udah deket banget sama keluarga gue,” tambah Alyssa. Jihan akhirnya paham. Padahal dia nggak tanya sejauh apa hubungan Alyssa dan Dean. Apa diperjelas? “Jihan orangnya pengertian kok, gue selingkuh aja paling dia nggak ngeuh,” seloroh Dean membuat Jihan melototkan matanya. Dean tertawa kecil dan mengacak acak poni Jihan membuat gadis itu tambah mencak-mencak. “Ih, apa sih,” gerutu Jihan. Alyssa yang tadinya tersenyum langsung terdiam. Wajahnya langsung menunjukkan ketidaksukaannya ke Jihan. “Eh cewek lo lagi sakit atau lagi nggak pede sama penampilannya?” Dean menjawab dengan ringan, “sakit, dia aware sama kesehatan. Nggak mau nularin yang lain kalau bib...eh bersin.” Jihan langsung mencubit perut Dean kemudian memperlihatkan eye smilenya ke Alyssa. Tapi seperti teringat sesuatu, Alyssa kemudian tersenyum. “Sampai jumpa hari minggu ya, De.” Mulut Jihan memganga karena kini Alyssa mencium pipi sebelah kiri Dean dan langsung pergi begitu saja tanpa pamitan ke Jihan. “Mantan lo kelasnya atas ya? Saking atasnya, mendongak terus susah nunduk. Kasihan, hidupnya nggak berwarna,” sebal Jihan membuat Dean tertawa. “Setiap orang punya karakteristiknya sendiri, Han.” “Tipe lo kayak begitu berarti?” Dean kemudian tertawa, “orang jatuh cinta, kasmaran itu nggak ngenal tipe. Kalau begitu berarti tipe lo yang b*ngsat begitu ya?” Jihan langsung terdiam dan membeku. Alarmnya terus berbunyi sejak tadi, banyak pertanyaan yang membuat Jihan berpikir keras. Dan dia nggak suka. “Maksud lo apaan ngatain cowok gue?” Dean mengedikkan bahunya dan meninggalkan Jihan kembali ke tempat duduknya. Hampir saja Jihan meneriakkan nama Dean, tapi dia nggak ingin bikin drama. Hingga akhirnya yang bisa dia lakukan hanya menghentakkan kakinya ke lantai. “Dean brengs*k!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN