Perasaan tidak enak

1081 Kata
            Jihan keluar dari kelas dengan perasaan aneh yang mendera di dirinya. Saat tadi kegiatan tatap muka berlangsung, Jihan merasakan puluhan mata sedang menatapnya penuh rasa ingin tahu. Bukannya fokus belajar, mereka malah fokus melirik dan berbisik satu sama lain. Lirikannya juga mengandung pisau, tajam dan menyakiti. Ingin rasanya bersikap masa bodoh, tapi mana bisa ketika hampir sebagian waktunya dia habiskan di kampus. Mana pas lagi banyak-banyaknya tugas. Belum lagi Jihan memikirkan beasiswanya yang terancam tercabut kalau nilai dan reputasinya nggak bagus. Dan sekarang yang sedang goyah adalah reputasi Jihan.             “Han, kita ngerjain di perpus mau? Apa mau di hima aja? Eh gue kayaknya tahu deh di student corner ada tuh. Bisa buat kita ngerjain bareng. Mau sampai malam juga aman.”             Jihan menengok ke samping, kedua temannya seperti biasa berjalan berdampingan dengannya. Jihan selalu diposisikan di tengah. Entah memang kemauan mereka atau mandate dari Dean tapi setelah kejadian di Kantin, Dean dan teman-temannya jadi super protektif.             “Gue nggak tahu nih. Mau ngerjain kok nggak ada semangat. Nggak ngerjain kok ya besok dikumpulin. Dahlah ya, mau kawen ajalah gue. Nggak mau mikir tugas kuliah,” jawab Jihan dengan tubuh yang lunglai.             “Kawin memang jalan pintas yang gue juga sepakat, tapi nggak ada yang bisa kawin dalam waktu semalam. Kawin juga nggak akan ngilangin fakta kalau lo mahasiswa dan memang bakalan nganalisis masalah.”             “Aduh, Kan. Serius amat sih, gue nggak bener-bener mau kawin kok. Calon aja masih belum ada,” kesal Jihan meski dia juga tertawa kecil.             “Dean kagak lo anggep calon? Mang dia apa? Bodyguard lo?” sahut Tissa.             Lagi-lagi Jihan diingatkan bahwa yang namanya hubungan pura-pura itu hanya akan mendatangkan banyak luka dan juga insecure. Istilahnya memiliki tetapi tidak memiliki. Membayangkan nantinya Dean bakalan menjauh darinya saat kondisi sudah normal lagi atau malah Dean barengan sama cewek lain saja membuat keringat dingin Jihan bermunculan. Mau ngelarang-ngelarang juga pasti mikir mereka bukanlah siapa-siapa. Mau cemburu aja sampai nggak bisa. Nyiksa memang, dan Jihan lama-lama kurang nyaman. Takut bahwa nantinya dia nggak siap ketika semua harus berakhir. Lalu kapan sebaiknya dia dan Dean jujur ke teman-temannya?             “Dean itu masih belum kelihatan hilalnya jadi jodoh gue,” jawab Jihan ngasal. Temannya langsung menepuk lengan Jihan dan mereka kemudian tertawa. Tanpa disadari mereka berjalan menuju ke student corner. Tanpa harus disepakati ulang, memang mereka bertiga menginginkan pergi ke tempat itu daripada ke perpus atau hima.             Student corner disini memang dibangun untuk mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas setenang seperti di perpustakaan dan sebebas gaya seperti di hima. Ada mini perpustakaan di dalam bangunan dan juga ada outdour dengan gazebo mini di belakang bangunannya. Lumayan sih mereka bayar uang pembangunan ada hasilnya.             Selain lantai 1 yang terdapat mini perpustakaannya, di lantai 2 juga ada semacam café yang dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. Meski terkesan bebas, ada petugas yang mengawasi dan juga mahasiswa magang atau part-timer yang membantu mengkondisikan suasana di bangunan tersebut.             Tissa mengajak mereka untuk langsung naik ke lantai 2, berharap mereka masih mendapatkan tempat, karena terlihat banyak motor terparkir di luar menandakan bangunan tersebut sudah terisi banyak orang.             Kanaya menunjuk ke spot terdekat dengan jendela yang kosong, mereka langsung berlari agar tidak keduluan oleh orang lain. Di ruangan ini memang terdapat dua style pengerjaan. Ada yang lesehan dan ada juga yang meja dengan kursinya. Spot yang ditunjuk oleh Kanaya dan langsung mereka tempat kebetulan adalah mode lesehan.             “Ada meja bulet nganggur nggak?” tanya Jihan sambil celingukan. Dia memang nggak bisa berlama-lama mengerjakan sesuatu terlalu menunduk. Hingga matanya melihat ada satu meja bulat yang diletakkan dekat dinding dan tidak terpakai. Dengan cepat Jihan berdiri dan mengambil meja itu, saat berbalik ternyata ada yang hendak melakukan hal yang sama tapi keduluan oleh Jihan.             “Hehehe, maaf ya, gue duluan ngambilnya,” ujar Jihan menundukkan kepala cepat dan meminta maaf. Gadis yang didepannya mengerutkan kening. Jihan juga merasa pernah melihat gadis itu, tapi dimana ya?             “Lo, Jihan kan?”             “Iya gue, Jihan.”             Gadis itu lalu mengedikkan bahunya dan langsung berbalik meninggalkan Jihan tanpa sempat Jihan menanyakan balik siapa gadis itu dan kenapa bisa mengenalnya.             Nggak mungkin kan gossip tentang gue dah nyebar ke semua fakultas?             Jihan melihat sekeliling dan merasa seharusnya nggak banyak yang tahu tentang dirinya di student corner. Ini bangunan milik bersama, berarti ada banyak mahasiswa dari fakultas lain yang menggunakan fasilitas ini. Memang kebetulan bangunan ini paling dekat dengan fakultas Bahasa, jadi wajar juga ada yang sedang berdiskusi dengan bule.             Rasa penasaran dan juga rasa tidak nyaman mulai menyeruak di hati Jihan. Bagaimana kalau ternyata gossip sudah sangat menyebar? Jihan berjalan melirik ke gerombolan orang-orang yang sedang belajar dan melihat apakah mereka sedang membicarakan tentang dirinya atau nggak. Hingga tak sadar, Jihan sudah berada di spot teman-temannya berada bahkan dirinya hampir saja menginjak badan Kanaya yang sedang rebahan.             “Han, lo serius sih! Masak badan gue hampir aja digepengin,” keluh Kanaya langsung bangun dan duduk, menarik Jihan agar dia juga segera duduk. Jihan mengucapkan kata maaf dan langsung memasang meja lipat yang dia pegang.             “Lo kenapa sih? Habis liat setan? Jam segini?” tanya Tissa keheranan dengan tingkah Jihan yang terlihat tidak tenang dan terus saja mengamati sekelilingnya.             “Jiwa introvert lo lagi kambuh? Kalau nggak nyaman, kita bisa cari di tempat lain. Gimana?” tanya Kanaya merangkul pundak Jihan agar gadis itu kembali fokus ke mereka. Seketika Jihan langsung menggeleng dan tersadar, dia terlalu memikirkan kemungkinan sedangkan orang-orang di sekitarnya saja sama sekali tidak menaruh perhatian ke Jihan.             Lalu siapa gadis tadi ya?             “Aman kok, kita ngerjain di sini aja ya. Kalau di sini, mau sampai malam juga aman. Sampai pagi juga aman. Cuman tadi gue penasaran aja sama cewek yang gue temui waktu ambil meja. Dia kenal gue, trus gue coba cari dia kemana, nggak keliatan lagi. Aneh,” ujar Jihan memilih untuk meletakkan buku di atas meja. Dikeluarkannya notebook lama yang pernah bunda belikan ke dia. Dibandingkan dengan teman-temannya yang langsung mengeluarkan laptop dengan symbol durian krowak, terlihat memang perbedaan status sosial mereka. Tapi Jihan percaya diri dan tidak berusaha merepotkan teman-temannya.             “Lo yakin?” tanya Tissa ikutan melihat ke sekeliling, tidak ada yang aneh memang.             “Yakin dong, dia langsung nembak nama gue. Gue kayak pernah liat dia juga tapi dimana, gitu.”             “Yaudah, Han. Lo nggak usah pikirin ya, kita kerjain aja,” ajak Kanaya lalu mereka mulai sibuk mengerjakan dan diskusi tanpa mereka sadari ada yang mengamati mereka dari kejauhan.             “Gue harus lapor Karina, nih,” bisik gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN