Sabar adalah Koentji

1157 Kata
            “Ini gimana gue ngomong ke Bunda? Masak bilang, ‘Bun, maaf, anak gadisnya nggak sengaja kena pukul trus kepalanya jadi nambah volume, membesar gitu’, keknya malah gue kena tabok deh,” gumam Dean sambil menyetir. Diliriknya Jihan yang malah cengengesan duduk di sebelahnya sesekali memijat bagian kepalanya yang sakit.             “Tapi kabar baiknya, karena Bagas merasa bersalah, dia dah minta maaf ke kita dan nggak akan gangguin lo lagi dengan segala pengakuan cintanya.”             “Ya berarti pengorbanan gue terbayarkan dong?”             “Bangga?! Sakit bangga?!” kesal Dean. Jihan tertawa kecil tapi sedetik kemudian mengaduh kesakitan. Dielusnya cepat bagian kepalanya yang kesakitan.             “Motor gue aman kan ya ditinggal di kampus?”             “Ya dipikir aja sendiri, dah pernah ninggal motor kan?”             “Lo kenapa sih sewot banget, marah-marah gitu? Lagi dapet?”             “Iya, lagi dapet,” ketus Dean. Dirinya memang masih marah dengan kejadian tadi. Inisiatif yang berujung petaka. Masih mending dirinya yang tonjok-tonjokan sama Bagas. Nggak usah pakai dilerai segala. Emangnya tarung ayam?             “Dean…”             “Apa?”             “Noleh dong, noleh dikit aja,” pinta Jihan.             “Males,”             “Hm, ayolahhh, dikit aja nolehnya.”             Akhirnya Dean mau juga menoleh sedikit dan kaget mendapati sesuatu menabrak pipinya dan melihat jari telunjuk Jihan berhenti tepat di dekat pipinya.             “Dengdeng dengdeng!” ujar Jihan menirukan suara windows yang dimatikan.             “Tombol marahnya off akhirnya,” tambahnya lalu tersenyum sangat manis. Dean langsung konsen ke depan lagi melihat lampu yang masih merah. Ajaibnya rasa marahnya memang menghilang karena tingkah Jihan.             “Nggak usah bercanda,” ujar Dean berusaha kalem meski sekarang detak jantungnya sedang jumpalitan nggak karuan.             “Yah, gagal. Tombolnya mana sih? Power offnya?” tanya Jihan lalu mencari dengan memencet bagian lengan Dean dengan telunjuknya. Tawa yang keluar dari bibir Dean membuat Jihan berhenti memencet. “Oh, disini ya?” tanya Jihan dengan wajah penuh rasa bangga karena menemukan area yang pas yang menurut dia bisa membuat Dean tidak marah lagi.             “Nih, tombol!” seru Dean gentian memencet hidung Jihan yang nggak terlalu mancung.             “Dean, tambah pesek ih!”             Tiiin!!!             Mereka berdua refleks melihat lampu yang sudah berubah warna menjadi hijau kemudian dengan cepat Dean menurunkan hand remnya dan tancap gas. Mereka saling lirik setelah itu dan lalu tertawa padahal habis dimarahin orang banyak karena nggak maju-maju.             “Lo sih,” tuduh Dean.             “Kok gue? Yang mencet hidung gue kan lo? Trus gue salah apa,” sahut Jihan tidak mau disalahkan.             “Lo sih…” Dean melirik dan tersenyum, “…imut banget.”             Dang! Hanya satu kalimat itu saja dah bikin Jihan kelojotan hatinya. Jihan memilih diam setelah itu dan menikmati keremangan jalan. Mereka tadi akhirnya pergi ke klinik di dekat kampus. Sebenernya tidak ada luka yang membuatnya berdarah tetapi dikhawatirkan benturannya membuat Jihan sementara ini akan merasakan pusing. Ternyata dipukul dengan kekuatan penuh saja efeknya seperti ini. Membayangkan laki-laki suka main tonjok ketika menyelesaikan masalah saja membuatnya bergidik ngeri. Jihan melihat ke Dean dan merasakan pasti tadi Bagas sakit dipukul oleh Dean.             “Lo besok aman kan masuk kuliahnya? Berangkat jam berapa? Kalau nggak pagi, gue bisa jemput trus anter lo ke kampus.”             “Gue ada kuliah jam 9 sih, tapi gue nggak papa naik ojek online aja.”             “Trus pake helm? Padahal bisa aja lo kepala lo besok nonjol kayak pake konde,” ujar Dean masih fokus melihat jalanan. Malam ini ramai seperti biasa karena meski jam pulang kantor sudah lewat, banyak juga karyawan yang baru pulang atau dalam perjalanan mereka kembali ke rumah.             “Ya, pakai taksi online bisa,” sahut Jihan.             “Lo lupa? Lo punya cowok di sini, gue bisa kok jemput kalau jam 9.”             Tapi lo juga lupa juga, De. Kita cuma pura-pura. Dan gue nggak bakalan bisa lupa itu situasi yang kita punya.             “Lihat besok ya? Siapa tahu karena sakit, gue besok nggak masuk.”             “Oke, call me whenever you need,” bisik Dean.                                                                                     **             Tissa dan Kanaya sedang asyik mengerjakan tugas mereka ketika menyadari Jihan hanya terdiam, seperti sedang melamun. Mereka memang memilih mengerjakan tugas di kelas yang tidak terpakai sebelum kelas mereka dimulai. Saat ghibah tadi, mereka baru inget ada tambahan analisis yang harus mereka berikan ke dosen sebelum presentasi. Tissa dan Kanaya langsung dengan cepat mengerjakan dan diskusi tapi Jihan sesekali menghela napasnya dan terlihat tidak nyaman.             “Kayaknya gara-gara tadi,” bisik Tissa ke Kanaya. Gadis itu lalu mengangguk mengiyakan. Desas desus tentang Jihan semakin membesar dan tidak terkendali. Orang-orang bahkan sampai pada konklusi bahwa Jihan merebut Bagas dari Karina padahal Jihan sudah pacaran dengan Dean. Jadi temen makan pacarnya temen, padahal si temen itu sahabatan sama temen itu sendiri. Paham nggak? Pusing ya? Sama.             Saat mereka hendak memasuki kelas tadi, beberapa anak ada yang sedang duduk di depan kelas dan membicarakan tentang Jihan tanpa mereka sadari bahwa Jihan ada di belakang mereka.             “Ih, parah tuh Jihan. Cantik juga kagak, masak nggak tau diri banget. Udah ngembat Dean, ngembat juga Bagas. Jadi cewek kok nggak puasan,” gerutu salah satu dari mereka.             “Gue kaget waktu stalk ceweknya Bagas. Cantik banget sumpah, bisa-bisanya Bagas mau sama Jihan. Kena pelet apa ya? Pantesan aja gerombolan cowok ganteng itu sering nyamper. Ngeri ya bisa dipake dua cowok,” kikik salah satunya lagi.             “Mental aman nggak ya dianya sekarang?” ejek salah satunya lagi menanggapi.             Jihan langsung menghalangi niat Tissa dan Kanaya yang hendak mendatangi cewek-cewek itu. Jihan nggak ingin membuat scene drama baru tentang percintaannya. Hal ini sudah sempat dia pikirkan. Memang berat konsekuensi dari sebuah gossip. Dia memilih langsung masuk kelas diikuti kedua temannya dan mereka lalu berbicara sebentar dan mulai mengerjakan analisis mereka.             “Han, lo kalau nggak baik-baik aja, ngomong ya?” tanya Tissa pelan. Karena sedari tadi mereka menanyakan Jihan selalu menjawab kalau dia baik-baik saja.             “Lo mau ijin aja? Aman kok nanti gue bilang Bu Praptya lo lagi nggak enak badan.” Sahut Kanaya memandang khawatir ke Jihan.             Semua mata melihat ke Jihan yang hanya menggeleng pelan. Kanaya terlihat kesal dan menyobek kertas dengan sangat kasar kemudian meremasnya dan melemparnya ke pintu hingga terpental ke tempat sampah. Tissa mengelus lengan Kanaya yang emosi ingin melabrak orang-orang yang sudah bergosip tentang Jihan.             “Gue nggak tahan pengen ngerujak bibir Sonya, anjir, nggak sopan banget ngatain orang tanpa bukti. Mereka orang cerdas. Harusnya kalau ada desas desus tuh dicari tahu dulu kebenarannya bukan malah stalk doang trus body shamming. Secara nggak langsung mereka membenarkan tindakan Bagas yang suka main sama banyak perempuan kan? Gila emang!” kesal Kanaya mulai frustasi dengan mencoret coret kertas kosong di depannya.             “Cocotnya emang pada nggak bisa dikontrol. Tapi kita nggak boleh gegabah, Kan. Jihan tadi dah wanti-wanti. Semakin kita emosi yang dikeluarin, semakin orang nunjuk jarinya ke kita. mereka akan melakukan pembenaran bahwa pihak Jihan yang salah.”             Jihan mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum.             “Sabar adalah koentji,” jawab Jihan menirukan slogan yang biasa dia dengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN