Pertengkaran Mereka

1414 Kata
            Jihan terus berlari tanpa tahu arah dan dia hendak kemana. Yang dia pikirkan hanyalah menjauh dari lokasi pertengkaran tadi. Jujur bagi Jihan ini yang pertama terjadi dalam hidupnya. Bertengkar dengan orang karena sesuatu yang sebenernya adalah aib. Bayangkan besok apa yang akan dia hadapi. Keterlaluan memang, bertengkar di areanya sendiri tentu gossip akan cepat tersebar dan omongan mahasiswa lain tentu nggak bisa dia kontrol.             Ngenes amat ya punya kisah asmara pertama kali, udah kek ikut survival show             Jihan berhenti di gerbang kampusnya dan menyadari harusnya dia pergi ke parkiran kampus dan mengambil motornya.             “Aish! Gue harus jalan beda arah lagi. Bentar, atur napas dulu,” gerutu Jihan. Jihan menunduk untuk mengatur napasnya ketika ada seseorang yang menarik lengannya hingga dia harus menoleh. Matanya membelalak melihat siapa yang berhasil menyusulnya.             “Kita harus bicara.”             “Nggak!” Jihan menarik lengannya cepat. “Nggak ada yang perlu dibicarain. Gue nggak mau urusan sama lo lagi,” tolak Jihan meski dia tahu Bagas nggak akan semudah itu menyerah dan langsun pergi.             “Kita beneran butuh bicara!” marah Bagas menyulut perhatian orang yang lalu lalang keluar masuk gerbang. Beberapa mulai kepo dan mendekat, bahkan satpam di kampusnya ikutan celingukan dari dalam ruangan satpam.             “Please, Gas. Lo bikin posisi gue makin sulit kalau lo bertingkah kayak gini. Lo mau ngundang massa berapa banyak biar urusan kita kelar? Lo seneng ya bikin gue susah kedepannya.”             “Gue bakalan bertingkah seperti ini sampai lo jujur sama diri lo sendiri kalau lo itu CINTA sama gue!”             Seketika Jihan terperangah, tapi tidak hanya dia. Beberapa orang yang penasaran melihat ikutan terkaget-kaget. Jihan hanya bisa melongo mendengar perkataan yang keluar dari mulut Bagas. Perkataan yang menurut Jihan di luar nalarnya dia.             “Lo b**o apa gimana sih, Gas? Lo kira semudah itu memaksakan orang untuk mencintai padahal gue sendiri nggak cinta sama lo! Lo harusnya nyadar, gue nggak punya perasaan seperti itu ke lo!” Jihan menggelengkan kepalanya frustasi karena Bagas terlalu denial. Masih mencoba untuk memberi pemahaman tentang hubungan mereka yang dulu. Tapi nggak! Jihan nggak mau secara gamblang mengartikan mereka dulu sempat pacaran apalagi sekarang Bagas mencoba memvalidasinya di depan banyak orang. Dulu mereka pacarana tidak ada yang tahu, tidak ada yang sadar jadi ketika hubungan itu berakhir maka memang seharusnyapun tidak ada yang tahu tentang itu.             “Kak Bagas…” seketika mata laki-laki itu membulat mendengar nada formal dari mulut Jihan.             “Dengerin saya ya? Saya mohon, biarkan saya pergi, dan kembali ke kehidupan normal kita lagi sebelum kita saling kenal. Biarkan kita hidup tenang, oke?” lanjut Jihan setengah meminta dengan penuh ketulusan. Bagas tidak mengatakan apapun hanya menatap tajam mata Jihan. Jihan melihat dari kejauhan Dean dan Tissa mendekat. Ada perasaan lega ketika melihat Dean setengah berlari mendekatinya tapi kemudian berhenti dengan cepat. Begitu juga Tissa. Mulut Tissa langsung menganga dan Dean menatap tajam ketika Bagas bertekuk lutut di depan Jihan serta langsungmencoba memegang tangan Jihan, seperti seseorang yang hendak melamar.             “Bagas! Lepasin!” Jihan sampai bingung harus berbuat apa. Pegangan di tangannya begitu kuat. Kini semua orang yang menatap mulai berbisik. Ada yang menggoda mereka, ada juga yang menatap tajam. Mungkin mereka tidak menduga, Bagas yang terkenal dari kampus sebelah, yang hobinya punya pacar cantik, kini bersimpuh di depan Jihan. The nobody girl in her campus.             Jihan mulai cemas karena matanya terus melirik ke Dean. Pikirannya terganggu dengan cara Dean menatap mereka, seakan-akan dia sangat marah tapi apa…bukannya mereka hanya pura-pura?             Ah! Nggak tau ah! Nyebelin!             “Ariesta Jihan Mahesa, mau nggak lo jadi cewek gue?” tanya Bagas. Jihan dengan cepat mengibaskan tangannya hingga terlepas dari pegangan Bagas. Gila memang nih cowok, saat situasi seperti ini malah meminta Jihan menjadi pacarnya dengan cara yang romantis pula. Hampir saja Jihan terpesona diminta dengan cara yang belum pernah dia alami. Andai saja lelaki yang memintanya ini adalah Dean.             Jihan langsung menggelengkan kepala. Mengenyahkan pikirannya yang malah membandingkan Dean dan Bagas. Tapi sepertinya hal itu diartikan berbeda oleh Bagas. Laki-laki itu langsung berdiri dan memandang penuh marah padanya.             “Lo tetep nolak gue meski gue minta lo jadi pacar gue di depan orang banyak? Ini yang lo minta dulu kan? Lo pengennya kita pacaran resmi?!             Dentum di kepalanya kini muncul mendengar pernyataan Bagas. Kepalanya sakit meski bukan karena penyakit.             “Lo lihat sendiri kan? Jihan nolak lo!” sergah Dean. Bagas akhirnya menoleh dan menyadari tidak hanya Dean yang melihat kejadian tadi tapi juga Tissa. Dean lalu berdiri di antara Jihan dan Bagas. Badannya menghadap ke Bagas dengan penuh percaya diri.             “Lagipula, lo tahu kan? Jihan itu cewek gue. Lo mau ngerebut Jihan? Lo mau ngajakin Jihan selingkuh dari gue?!” geram Dean.             “Lo ngomong apa, De? Lo tahu kan gue sama Jihan itu pacaran? Dia itu cewek gue!” mendengar amarah yang muncul dalam nada suara Bagas, Jihan lalu berlindung di balik badan Dean dan memeluk Dean dari belakang karena ketakutan.             “Lo lihat? Kalau emang dia milik lo, dia sekarang lagi meluk siapa? Meluk gue. Dan gue peringatin ke elo, Gas. Jangan macam-macam ngerusak hubungan orang,” ujar Dean memberi peringatan ke Bagas.             “Beneran lo pacaran sama Dean? Beneran lo cinta sama Dean?!” tanya Bagas setengah membentak. Jihan lalu akhirnya berdiri di samping Bagas.             “Lo udah denger sendiri dari kemarin, Gas. Gue sama Dean itu punya hubungan special. Dan ya, gue cinta banget sama Dean,” jawab Jihan. Jihan sendiri agak kaget dengan pernyataannya. Bagas menatap Jihan penuh dengan kemarahan hingga Jihan sempat melihat Bagas mengepalkan tangannya.             “Itulah kenapa gue nolak lo, Gas. Gue cuman cinta sama satu orang dan itu Dean.”             Sepertinya Jihan berhak mendapatkan penghargaan untuk kategori artis perempuan yang pura-pura pacaran tapi sebenarnya memendam rasa. Tanpa sadar di hatinya ada kepercayaan diri ketika mengatakan bahwa dirinya menyukai Dean. Dirinya cinta dengan adanya Dean. Jihan berinisiatif mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Dean. Ada sentakan halus yang dia rasakan bahkan ketika Dean balas menggenggamnya lembut.             “Jadi lo bohong sama gue? Lo bohong kalau lo cinta sama gue?”             Dentum di kepalanya semakin menjadi, kenapa sih Bagas tidak bisa langsung pergi dan tidak banyak membicarakan hubungan lalunya dengan dirinya.             “We never be in love, or being in a relationship. Lo nggak punya bukti,” bisik Jihan.             “Jadi lo mau menyangkal dan lo mau bohong sama gue?! Lo mau bohong ke semua orang kalau gue itu pacar pertama lo…”             Benar sih kalau pacar pertama, orang pertama yang meminta dia untuk menjadi pacarnya adalah Bagas.             “…Lo mau bohong kalau gue itu cowok pertama yang lo bilang bisa bikin lo jatuh cinta?” tanyanya setengah menggeram.             Jihan tahu dirinya sudah sangat menyakiti Bagas. Tapi kadangkala memang kebenaran itu bisa menampar seseorang. Saat ini dia berperan sebagai tokoh antagonis yang justru menyadarkan orang bahwa tidak semua orang bisa bertahan menjadi orang baik. Adakalanya dalam hidup mereka harus berbuat jahat.             “Lo bilang gue itu hal pertama yang terjadi dalam hidup lo? When we kiss…”             Tidak! Nggak bener ini! Meski justru bukan Bagas ciuman pertamanya tapi membeberkan hal privasi ke ranah umum itu sudah beda tujuannya.             “Baj*ngan lo, Gas!”             Dean akhirnya maju dan memukul wajah Bagas. Cowok itu terkaget dan tidak siap ketika ada yang menubruk wajahnya. Badannya terhuyung ke belakang, dan ketika kesadarannya kembali, Bagas merasakan perih di bibirnya.             “Lo nantangin gue?!” Bagas lalu maju dan hendak balas memukul. Jihan yang melihat itu langsung panik dan tidak ingin Bagas melukai dean. Dengan inisiatif cepatnya, Jihan bertekad untuk melerai hingga…             BUK!!!             Tubuhnya terjatuh di tanah. Bagas kaget dan memandang tangannya yang mengepal yang baru saja menghantam kepala Jihan.             “Jihan!” teriak Tissa mendekat, membantu Dean yang dengan sigap bersimpuh ke tanah dan memeluk Jihan. Kepala Jihan diletakkan perlahan ke lengan Bagas.             “Tis, lo bawa mobil?” tanya Dean panik.             Melihat Tissa mengangguk, Dean langsung berseru, “cepetan, ambil! Kita bawa Jihan ke rumah sakit!”             “Lo bisa bantuin gue nggak?” tanya Dean ke Bagas.             Bagas lalu dengan cepat mengiyakan.             “Lo susul Tissa, dia pasti panik juga!”             Akhirnya Bagas lari menyusul Tissa yang mengambil mobil. Keributan di sekitar mereka, tidak dipedulikan oleh Dean. Yang dia fokuskan hanyalah Jihan yang terkulai lemas serta merintih kesakitan.             “Pusing banget, De. Nggak bisa liat,” bisik Jihan gemetaran.             “Nggak papa, sayang. Gue ada, lo bakalan baik-baik aja,” bisik Dean mengelus pelan dahinya.             Sayang, dia manggil gue sayang? Ini pura-pura atau keceplosan kah?             Sebelum Jihan sendiri bisa menjawab, lambat laun rasa sakit yang mendera membuatnya terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN