“Karina?!”
“Aku cariin kamu dari tadi, ternyata emang bener ya kamu sering nongkrong di sini ya?” tanya Karina. Senyumnya hanya tertuju pada Bagas, sedang pandangan matanya tertuju pada Jihan.
“Ngapain sih nyusulin gue?”
Jihan mengamati bagaimana gadis itu tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka. Saat menatap Jihan, gadis itu menyibakkan rambut panjang lurusnya, memperlihatkan bahwa dia wanita yang elegan. Bajunya juga memakai dress selutut dengan motif bunga yang cocok dikenakan ketika cuaca panas seperti ini. Kalau wajah jangan ditanya. Cantik kayak ada blasteran bulenya. Beda jauh padahal sama Jihan yang hanya blasteran Jakarta-Purworejo.
“Aku kan kangen pengen ketemu, akhir-akhir ini kamu susah banget aku hubungi. Ternyata lagi ketemuan sama yang baru ya?”
Jihan mengernyit mendengarnya. Bagaimana bisa gadis itu bertanya seakan hal itu hal yang biasa. Biasa diduain, dan dia nggak masalah. Jihan melirik ke Dean yang asyik mainan membuka game di gadgetnya dan mengabaikan kedatangan Karina.
“Han, mainan ini deh, biar bisa barengan main,” ujar Dean menunjukkan game yang dimaksud. Jihan hanya ber-hehehe ria karena seleranya main game di gadget sebatas masak-masakan dan juga cookie run.
“Itu ada sesi masaknya nggak?” ujar Jihan membuat Dean tersenyum lebar dan gemas dengan mencubit pipinya.
“Ya nggak ada, masak habis ngeluarin ulti trus masak? Hahaha.”
“Siapa tahu aja, itu kan ada hero cewek tuh, jadi habis tanding, dia laper trus dia masak,” sahut Jihan semakin ngadi-ngadi.
“Makanya sana minta private ke Dean, ajarin main game, bakalan nagih lo-nya,” ujar Ikbal ikut menyela.
“Nggak usah disuruh, gue pasti ngelakuin itu. Iya nggak, sayang?” jawab Dean lalu memainkan alisnya naik turun memandang Jihan.
Apa? SAYANG? Pasal mana nih yang bilang boleh pake sayang kalau pacaran pura-pura? Nggak tahu apa hati dah jatuh ke bawah saking nggak kuatnya?!
Jihan memilih melihat teman-temannya karena merasa pipinya terasa panas. Perutnya seakan mulas merasakan banyak kupu-kupu bertebangan. Apalagi yang lain langsung menggodanya karena Dean memanggilnya sayang.
Suara meja yang bergeser mengagetkan Jihan. Saat itulah matanya beradu pandang dengan mata Karina. Bagas yang tidak terduga malah terlihat kalem, tidak terganggu sama sekali dengan kemesraan yang diperlihatkan oleh dirinya dan Dean.
“Dean, lo nggak mau ngenalin gue sama temen-temen lo? Oh, halo Kanaya. Masih awet ya sama Ikbal?” sapanya dengan wajah manis dan senyuman di bibir. Kanaya melambaikan tangannya mengucap halo.
“Kenalin sendiri aja, mereka welcome kok kenalan sama siapa aja,” sahut Dean agak malas-malasan dan masih berkutat di layar handphonenya.
“Lo kan yang namanya Tissa?”
“Iya, gue Tissa, mang kenapa?”
Karina hanya tersenyum kecil melirik ke Bagas. Ternyata bahkan hubungan dengan Tissa dulunya, Karina juga pasti mengetahui.
“Dan, lo. Jihan kan?”
“Iya, kenalin gue Jihan,” jawab Jihan ramah dan mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan tapi lawan bicaranya itu hanya memandang sinis tangannya dan membiarkan Jihan menarik kembali ulurannya tanpa mereka saling berjabat tangan.
“Itu lo tahu nama mereka? Ngapain ngajak kenalan?” tanya Dean melirik tajam karena melihat Jihan yang jadi salah tingkah.
“Memastikan aja gue, boleh kan?”
Dean mengedikkan bahunya, mulai bersikap masa bodoh lagi.
Mereka kemudian terdiam dan sibuk dengan urusan mereka sendiri. Bagas yang jengah lalu memutuskan untuk berdiri dan pamitan.
“Gue duluan deh, kalian bisa tanya ke orangnya sendiri,” ujar Bagas tapi Karina langsung menggamit lengannya.
“Nanya apa nih? Gue juga kebetulan mau nanyain sesuatu ke…” pandangan matanya pura-pura tidak fokus lalu kemudian menunjuk ke orang yang dia maksud.
“…Jihan. Gue pengen nanya sesuatu ke lo. Dan kamu, sayang. Jangan pergi sebelum aku ngomong sama cewek ini,” ujarnya dengan nada yang datar namun mampu mengirimkan aura dingin, dengan hanya satu kali perintah, Bagas seperti terpaksa untuk duduk lagi dengan menghembuskan napas keras.
“Ya, ada apa sama gue?”
“Gue mau nanya. Lo punya kesadaran lebih nggak sih buat ngerebut seseorang yang bukan punya lo?” tanyanya langsung memandang Jihan dari apa yang dia kenakan dan kemudian nyengir setelah matanya selesai mengamati wajah Jihan.
“Maksudnya? Kesadaran diri gue siapa dan lo siapa gitu?”
“Bagus deh, lo tahu apa yang gue maksud.”
“Ada bukti nggak lo kalau gue ngerebut seseorang yang lo maksud?”
Dean malah menopangkan dagunya dengan tangan kirinya dan memilih memandang Jihan. Ada hal yang membuat Jihan berbeda. Ya Jihan akui, ketika ditanyakan langsung oleh Karina, tidak ada lagi panik atau gemetar ketakutan. Karena Dean selalu menyemangatinya dengan “Kalau lo nggak berbuat salah, kenapa harus takut?”
Gadis di depannya hanya diam.
“Nggak ada bukti kan kalau gue ngerebut?” tantang Jihan.
“T*I lo! Lo jujur aja deh! Lo udah ngerebut Bagas dari sisi gue! Dan masih berani-beraninya lo nunjukin muka lo ke dia?!”
Bagas langsung menggenggam tangan Karina yang mulai tersulut emosi.
“Maaf? Gue nunjukin muka gue ke dia? Emang lo sekarang ada di mana? Di kampus gue. Jadi siapa yang nunjukin wajah ke siapa?”
Karina hendak menjulurkan tangannya untuk menampar Jihan tapi dicegah langsung oleh Dean.
“Tangan lo nyentuh dan nyakitin Jihan sedikit aja, lo urusan sama gue!” desis Dean.
“Oh, lo belain cewek nggak bener ini ya? Cewek yang dah bikin cowok gue mutusin gue. Ngaca dong! Masih mending cantik, lo nggak ada apa-apanya sama gue!”
“Gue belain cewek gue, ada masalah?”
Satu fakta yang tidak diketahui Karina karena mata gadis itu membelalak dan melihat ke Bagas.
“Kalau lo ngerasa gue yang bikin cowok lo mutusin lo sedang gue aja nggak cantik, wah, menang banyak dong gue.”
Karina akhirnya mengumpat dengan nama binatang dan mulai menunjukkan emosinya. Tangannya meraih tangan Jihan dan menariknya untuk bisa dia lukai. Tapi Dean langsung sigap dan melindungi Jihan meski sempat kuku Karina menggores lengannya.
“Mending lo bawa pergi cewek lo, Gas!” perintah Dean dan dia menekankan bahwa dia nggak main-main kalau ada yang melukai Jihan. Ikbal ikutan menarik Karina yang masih terus nyerocos mengeluarkan kalimat kebenciannya untuk Jihan. Tissa dan Kanaya ikutan juga melerai. Banyak orang akhirnya ikut berkumpul, menyaksikan pertengkaran mereka.
“Heh! Lo *njing! Dasar tukang rebut cowok orang! Abis Bagas korban lo sekarang lo juga ngerebut Dean dari Alyssa. Emang ya kalau dah punya habit udah sampai merasuk ke DNA!”
Jihan menatap ngeri Karina yang kalap seperti orang gila. Terus memakinya meski badannya ditahan oleh Ikbal dan Bagas. Jihan tahu, Dean tidak mungkin menghentikan Karina dengan k*******n.
“Gu-gue pergi aja dulu, ya,” bisik Jihan ke teman-temannya dan Dean, dengan cepat Jihan pergi meninggalkan area kantin yang ramai oleh mahasiswa yang melihat pertengkaran mereka, bahkan saat Jihan menyeruak dari keramaian, banyak yang sudah bisik-bisik dan menatapnya penuh penghakiman.
Dean yang tidak sadar Jihan langsung lari kaget karena melihat Bagas langsung pergi, hingga disadari Jihan sudah tidak ada di belakang mereka lagi.
“Loh, Jihan mana?” seru Tissa. Tidak mendengar kata-kata Jihan karena suasana sudah sangat ramai. Dean langsung ikut pergi melewati orang-orang untuk menyusul Jihan. Tissa ikutan lari meninggalkan Kanaya yang memilih berada di situ.
“Mo pergi kemana lo?! Pengecut!” Kanaya lalu membantu Ikbal memegang lengan Karina.
“Lo kalau nggak bisa diem, gue yang pake k*******n!” ancam Kanaya dengan keras hingga membuat nyali Karina ciut juga.
“Duh, semoga Dean duluan yang ketemu sama Jihan, bukan Bagas,” bisik Kanaya dalam hati.