Ketenangan Semu

1249 Kata
            Beberapa minggu ini, ketenangan mulai menyelimuti mereka semua. Mereka sering berkumpul seperti biasa. Jihan dan teman-teman dengan tugas kuliah mereka. Dean dan yang lain dengan skripsinya. Bahkan akhir-akhir ini lancar saja ketika gadis itu mengikuti kegiatan Dean fotografi. Nggak ada yang aneh, bahkan Bagas kadangkala masih ikut bergabung dan seperti tidak ada masalah di antara mereka. Tapi entah mengapa Jihan merasa situasi yang damai ini hanyalah bom waktu yang siap setiap saat meledak kapan saja.             Jihan sedang mendengarkan penjelasan dosen ketika ada kertas yang terlempar ke arahnya. Matanya mengamati gerak gerik dosennya sedangkan tangannya menggapai kertas yang mendarat di ujung mejanya. Ketika dirasa dosennya sedang menuliskan sesuatu, Jihan langsung membuka kertas dan membaca tulisan dengan huruf besar semua ‘LO DICARI KARINA, DASAR TUKANG REBUT PACAR ORANG’             Glek!             Bulu kuduk Jihan langsung berdiri, dia memandang ke belakangnya dan tidak tahu siapa yang melempar kertas ini padanya. Semua fokus pada penjelasan dosennya. Jihan melirik ke Tissa dan Kanaya yang duduk satu baris di depannya. Mereka juga sibuk mendengar dan mencatat. Sekali lagi diliriknya ke belakang dan tidak ada tanda-tanda ada orang yang menatap matanya dan bilang kalau dialah yang melempar kertas itu.             Dilihatnya sekali lagi, kemudian gadis itu hanya mengedikkan bahunya. Dia sudah tidak peduli lagi dicari Karina atau nggak. Toh belakangan ini dia nggak ada deketin Bagas. Kalau Karina ngelabrak dia, salah sasaran dong.             Kelas akhirnya berakhir lima belas menit kemudian. Jihan langsung berdiri begitu dosen meninggalkan kelas. Tatapan mengarah ke belakang lagi dan hendak menanyakan siapa yang mengiriminya kertas ini. Tapi situasi di belakang sudah tidak kondusif. Banyak juga yang keluar lewat pintu belakang.             “Lo kenapa kayak bingung gitu,” ujar Tissa melihat Jihan yang menengok ke kanan dan kiri sembari memegang kertas.             “Ini apa?” tanya Kanaya merebut kertas yang ada di tangan Jihan serta membacanya.             “Mo mati dia! Heh ini siapa yang ngasih kertas ini?!” seru Kanaya bahkan sebelum Jihan bisa meneriakkan pertanyaan yang sama. Tapi pertanyaannya hanya mengundang tanya di mata teman sekelas mereka. Mereka semua malah terlihat kebingungan. Beberapa menjawab tidak tahu.             “Udah berani tuh cewek gunain temen kita buat kirim ancaman ke Jihan, perasaan ketemu sama Bagas kemarin kayak udah clear aja. Gue denger mereka balikan,” gerutu Kanaya. Tissa menggebrak meja hingga mengagetkan mereka semua.             “Kalau gue tahu dari kalian ada yang ngancam temen gue, kalian harus siap urusan sama gue!”             Teman-temannya yang mendengar langsung memilih untuk pergi dan meninggalkan kelas dengan cepat. Jihan berusaha menenangkan teman-temannya. Helaan napasnya terdengar. Padahal baru saja dia merasa hidupnya sudah tenang kembali.             “Gue telpon cowok lo ya?”             Jihan tahu itu bukan pertanyaan untuk dia jawab karena Kanaya langsung mengambil handphonenya dan menelepon Dean. Kanaya bercerita dengan semangat dan entah apa saja jawaban Dean, Jihan masih terdiam di tempat.             Tadinya ketika keadaan sudah seperti semula. Jihan ingin menghentikan sandiwaranya dengan Dean. Rasanya berat ketika semakin hari yang dirasakan Jihan adalah keinginan kuat untuk saling bertemu. Untuk saling berbagi dan untuk bisa mengagumi. Jihan tidak pernah melewatkan saat mereka bertemu dan dia sangat menikmati kebersamaan mereka. Kebersamaan yang adalah semu. Bahkan saat ini Jihan rasanya ingin menghamburkan dirinya ke pelukan Dean dan mengatakan dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi rasanya berat ketika dia harus sadar sebenarnya dia siapa. Dia nggak mau memanfaatkan kebaikan Dean padanya.             “Dean mau nyamper sini,” ujar Kanaya masih telponan dengan Dean.             “Nggak usah, kita ketemu aja di kantin. Gue laper,” alasan Jihan. Kanaya mengangguk dan bilang ke Dean untuk menyusul mereka ke kantin dan menyuruh Dean menyeret sekalian Ikbal.             “Ayok, kita ke kantin. Han, lo serius nggak tahu siapa yang ngelempar kertas ini?” tanya Tissa  membantu Jihan merapikan peralatannya. Jihan menggeleng. Dan kedua temannya hanya bisa bersimpati padanya.                                                                         ***             “Kali ini gue nggak takut,” ucap Jihan penuh dengan penegasan.             “Meski lo harus tertampar?” tanya Tissa.             “Ya kan angin doang kan?” tanya Jihan justru mulai ragu.             “Jihan seumur-umur belum pernah naik roller coaster?” tanya Ikbal keheranan.             “Dia agak takut sama ketinggian. Meski nggak sampe akrofobia,” jelas Dean.             “Loh kok Dean tahu? Gue aja baru tahu,” sahut Tissa.             “Gue nggak cerita sih…” bisik Jihan mengerutkan keningnya. Selama ini memang Jihan menghindari untuk berlama-lama di tempat yang tinggi. Bahkan saat naik escalator, Jihan tidak berani berdiri di sisi yang membuat dia bisa melihat ke bawah. Saat menggunakan lift, jantungnya sering deg-deg-an apalagi menggunakan lift transparan. Jihan memilih untuk memejamkan matanya untuk tidak melihat ke luar. Apa Dean ngerasa waktu Jihan sering meremas ujung baju Dean saat mereka jalan-jalan berdua ke mall dan harus naik escalator atau lift? Apa karena itu sekarang Dean lebih suka mengajaknya untuk ngobrol di rumah Jihan?             Ah! Nggak mungkin! Hubungan mereka itu hanya pura-pura. Dean nggak mungkin sedetail itu. Jihan bertekad, itu keyakinan yang harus dia tanamkan ke alam bawah sadarnya.             “Nah itu, Bagas,” ujar Kanaya mengalihkan perhatiannya melihat kedatangan Bagas. Dean sengaja mengundang Bagas terkait kertas yang dikirimkan ke Jihan. Kondisi mereka akhir-akhir ini membaik. Bagas sudah mau merespon dirinya saat mereka ngobrol di grup atau malah langsung ketemu.             “Dah lama? Sorry, gue tadi ketemu sama temen gue dulu. Ada urusan kerjaan,” sapa Bagas lalu duduk bergabung dengan mereka.             “Nggak kok, aman. Kita lagi ngomongin mau ke Dufan. Lagi nantangin Jihan main roller  coaster,” jawab Ikbal.             Baru kali ini Jihan bertemu lagi dengan Bagas secara langsung setelah kejadian di kantin kampus Dean. Tentu saja rasanya rikuh dan Jihan beneran nggak tahu harus seperti apa. Yang bisa dia lakukan hanya tersenyum. Gini ya ternyata punya mantan di lingkungan sendiri. Lagi-lagi Jihan kemudian melirik Dean. Napasnya tertahan membayangkan dia akan mengalaminya lagi ketika sandiwara mereka berakhir. Perasaan sakit mendera hatinya saat membayangkan waktu itu akan tiba.             Bagas membalas sekilas senyuman Jihan dan lalu memfokuskan dirinya melihat Dean.             “Mana kertasnya?” tanya Bagas ke Dean. Cowok itu lalu memberikannya ke Bagas.             “Kerad juga ya, lo nggak tahu siapa yang dah ngelempar kertas ini ke lo?” kini tatapan mata Bagas beralih ke Jihan. Jihan menggeleng.             “Yaudah, kita tanya langsung aja ke Karina, cewek lo,” perintah Ikbal tapi Bagas langsung menggeleng pelan dan nyengir.             “Kalian nggak paham juga ya? Aku dah bilang kalau gue udah lama mutusin Karina. Kalau kalian lihat gue sama dia, gue cuman bangun hubungan meski kita sudah mantan. Dan kita nggak mungkin balikan. Gue dah nggak cinta sama dia lagi, gue cintanya dengan orang lain,” ucapnya dengan nada yang kalem membuat yang lain kecuali Dean langsung bermuka pucat.             “Lo nggak lagi bercanda kan, Gas? Lo mutusin hubungan lo yang udah lima tahun jalan hanya karena alasan nggak cinta lagi?” tanya Tissa. Jihan lalu merasakan tangannya ada yang mengenggam di bawah meja. Dean berusaha menggenggam lembut dan menyakinkan dirinya bahwa dia aman dekat dengan Dean.             “Tis..” ujar Kanaya tidak bernada, memperingatkan Tissa tentang pertanyaannya.             “Dan lagi-lagi kalian nggak nanya ke gue siapa cewek yang gue suka sekarang. Sedih gue jadi temen kalian, kayak nggak dianggap,” balas Bagas sarkas. Ikbal membelalak kaget sedang Dean masih kalem. Tissa dan Kanaya mulai merasa tidak nyaman. Karena sebenarnya mereka semua sudah menebak siapa yang dimaksud oleh Bagas, belum lagi penegasan dari pandangan mata Bagas ke Jihan.             “Sayangnya sekarang doi sudah ada yang punya…” tatapan matanya masih belum lepas dari Jihan.             “Dan gue nggak tahu kebetulan apa nggak, jadian tepat setelah putus dari gue.” Mata Bagas kini beralih ke Dean.             “Dia…”             “Bagas!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN