Detektif beraksi

1254 Kata
            "Udah nanya Ikbal kan?"              "Udah dong, Tis. Gara-gara kalian nih, gue jadi ngomong ke Ikbal. Dia nanya terus ngapain gue mau tahu dimana Bagas sekarang. Tapi gue dah wanti-wanti kok jangan sampai Dean tahu."              "Lo yakin Dean bakalan nggak marah sama lo?" senggol Kanaya. Jihan hanya terdiam. Kayaknya bakalan marah deh. Beberapa hari yang lalu kan dah bilang ke Jihan, dirinya nggak usah aneh-aneh.              "Han, geseran dikit," pinta Tissa. Jihan menggeser duduknya sedikit agar mereka semua kebagian tempat untuk duduk. Kanaya menggunakan kipas tangannya untuk mengusir panas hawa sore itu. Mereka sendiri sedang memaksakan diri untuk bisa duduk di pinggiran tembok yang tersisa. Ada sedikit cekungan di situ yang membuat mereka bisa sekaligus bersembunyi dan duduk. Sesekali Tissa menyembulkan kepalanya, mengintip apakah gerombolan Bagas sudah datang atau belum. Hingga akhirnya Tissa menepuk cepat lengan Kanaya, mereka berdua langsung celingukan meniru apa yang dilakukan Tissa.              "Gue lihat mobilnya Bagas masuk, tuh yang itu, lagi markirin mobil," bisik Tissa menunjuk dengan matanya.                 "Arah jam dua, Kan," ujar Jihan dengan suara sepelan mungkin karena Kanaya sepertinya masih kebingungan.                  "Oh, iya, gue dah lihat. Itu bukannya sama Karina ya?" sahut Kanaya dengan suara tertahan. Mereka bertiga memusatkan perhatian penuh pada orang-orang yang keluar dari mobil Bagas. Ikbal juga ikut meski tidak terlihat ada Dean disitu.             "Baguslah, sayang gue ikut. Dean jelas nggak mungkin ikut. Dia masih berantem sama Bagas kan?"             “Tapi gaes, ada Karina loh, cukup dengan bukti voice recorder gue aja nih?” tanya Jihan ragu.             “Cukup, kebetulan ada Karina jadi kita konfrontir Bagas. Lo lihat deh cara Karina yang kepengen gandeng tangan Bagas tapi ditolak terus.”             Jihan melihat juga bagaimana usaha Karina untuk mendekati Bagas. Meski ditolak akhirnya Bagas diam juga dan tidak menolak ketika lengan Karina menggamit lengannya saat masuk ke sebuah Café yang terdiri dari dua lantai.             “Udah lo ambil fotonya kan?”             “Udah dong,” jawab Tissa mengacungkan jempolnya ke Jihan.             “Kalau Ikbal bisa berhasil nyuruh mereka duduk dekat kaca, better lagi nih kita bisa ngelihat mereka tanpa masuk ke café. Kita tunggu bentar ya,” ujar Kanaya sudah tidak berbisik lagi karena Bagas dan yang lainnya kini sudah memasuki café.             “Tis, kepala lo jangan keliatan banget celingukannya. Satpam bisa curiga ama kita loh. Gue tadi pas ditanya kenapa nunggu di sini alesannya nunggu jemputan,” gerutu Jihan karena Tissa dengan berani menjulurkan setengah badannya dan terlihat dengan berani membidikkan kamera.             “Tuh kan ngeliatin!” seru Jihan menarik tangan Tissa. Kanaya ikut bantu menarik badan Tissa agar dirinya duduk tapi terlambat, satpam udah menghampiri mereka.             “Mohon maaf, kalau nggak ada ijin, tidak boleh mengambil foto café,” ujar Pak Satpam dengan penuh ketegasan.             “Oh, maaf ya, Pak. Saya nggak tahu. Saya terkesan banget dengan bangunannya yang unik dan bagus. Keren gitu, secara nggak sadar saya ngeluarin kamera saya. Emang saya hobinya foto-foto sih, Pak. Lihat nih hasilnya bagus kan?” ujar Tissa memperlihatkan hasil bidikannya. Tissa memang suka memfoto sehingga hasilnya bisa terlihat bagus. Pak Satpam hanya angguk-angguk, mengagumi hasil karya Tissa.             “Ini buat konsumsi pribadi kok, Pak. Boleh ya saya ambil gambar sekali lagi?” rayu Tissa. Jihan dan Kanaya menahan tawa mereka. Memang Tissa itu jago kalau merayu orang dan membuat orang kagum dengannya. Ditambah Pak Satpam malah mesam-mesem digodain oleh gadis cantik seperti Tissa.             Saat itulah dering handphone Jihan bunyi, dengan segera Jihan mengangkat melihat siapa yang meneleponnya.             “Iya, De?”             “Lo dimana?”             Aduh, Jihan mengumpat dalam hati. Bisa gawat kalau gini. Jihan nggak bisa bohong ke Dean. Dari mereka merencanakan kegiatan ini beberapa hari lalu sampai hari ini, Jihan memang nggak cerita ke Dean, dan kebetulan Dean juga nggak nanya-nanya aneh ke dia. Jihan masih bicara jujur ke Dean. Kalau kali ini dia nggak jawab yang sebenarnya, Jihan akhirnya melakukan satu kebohongan. Jihan lalu menggelengkan kepalanya cepat, dia nggak boleh bohong lagi.             “Three Cafe, di Kemang,” jawab Jihan. Kanaya yang nggak sengaja mendengar langsung melotot.             “Ngapain? Ngikutin Bagas?” tanya Dean dengan suara yang mulai terlihat kesal.             “Eh kok tahu? Hehehe, iya, De. Kan kita pengen ngelengkapin bukti. Gue nggak aneh-aneh sendirian kok. Gue sama Tissa dan Kanaya. Jadi aman,” ujar Jihan membela diri sebelum dimarahin Dean. Terdengar helaan napas di ujung sana.             “Gue jemput sekarang, lo tungguin gue,” perintah Dean.             “Iya, pasti gue nungguin lo,” balas Jihan dengan perasaan yang lega. Hal yang dia takutkan tadi ternyata tidak menjadi kenyataan. Ternyata semudah ini berterus terang, karena memang komunikasi mereka dari awal sudah penuh dengan keterbukaan.             Kalau gini kan gue bisa lupa sama status gue dan dean. Kita nih pura-pura apa nggak ya?             “Lo ngomong ke Dean?” tanya Kanaya setelah Jihan menyembunyikan handphonenya ke saku.             “Iya, dia nggak marah kok. Tenang aja, tapi gue nggak pulang bareng kalian ya? Dean katanya mau jemput gue.”             Kanaya bertepuk tangan penuh kekaguman dengan pernyataan Jihan barusan. “Beneran, kalian emang pasangan serasi, bisa jadi panutan.”             “Apa sih, Kan,” malu Jihan. Tissa yang selesai berbicara dengan Pak Satpam akhirnya menemui mereka dan mengajak mereka untuk segera cabut dari situ.             “Gue udah dapat foto Bagas nih. Keliatan waktu gue zoom. Cowok lo keren juga, bisa bikin Bagas dan Karina keliatan. Gue bahkan berhasil nangkep adegan Karina nyosor,” ujar Tissa menunjukkan ke Kanaya dan Jihan. Mereka berdua langsung excited.             “Mana? Eh gile lo, Tis. Bisaan ya? Lo tadi motretnya depan Pak Satpam langsung?” kagum Kanaya.             “Iya, dong, Bapak e kagak ada tuh curiga sama gue. Gue puji aja terus sampai melambung, ya walaupun harus merelakan ada foto bapaknya di kamera gue dan gue berjanji bakal kirim ke bapaknya. Gue udah ngasih nomor gue, dan sebagai imbal baliknya gue minta nomor beliau juga. Biar bisa gue kirim nih fotonya. Gue tawarin juga free foto keluarga. Bapaknya seneng dong,” kikik Tissa.             “Wagelaseh emang lo tuh!” seru Kanaya melempar kekagumannya. Jihan masih fokus melihat foto-foto yang diambil. On point banget, karena apa yang mereka inginkan terekam sempurna.             Bertiga kemudian bergegas berjalan menuju mobil yang mereka parkirkan di minimarket, agak jauh dari café. Mereka masih sibuk berebut melihat, ketika Jihan merasa ada yang membuntuti mereka.             “ANJING!” serunya kencang.             “Ha? Lo ngumpat ke gue?!” kaget Tissa, Kanaya ikutan melihat. Jarang-jarang mereka mendengar Jihan bisa ngumpat pake bahasa kasar.             “Ada anjing!” seru Jihan langsung kabur karena dirinya takut dengan anjing. Melihat Jihan yang lari, anjing itu malah semangat mengejar Jihan dan menyalak. Tissa dan Kanaya yang masih bengong, malah hanya bisa melihat adegan Jihan sampai naik ke pohon di pinggir jalan. Pohonnya memang tidak terlalu tinggi dan Jihan bisa naik ke dahan yang terendah.             Tissa dan Kanaya juga takut mendekat, gimana kalau ternyata anjingnya gigit dan bawa penyakit. Mereka semua kebingungan dan ikutan mencari pertolongan. Sampai akhirnya ada mobil menepi dan keluarlah seorang cowok. Anjing itu menggerak-gerakkan ekornya kegirangan.             “Dean…”             “Sini, turun, anjingnya nggak gigit. Dia jinak kok,” ujar Dean meminta Jihan turun, Jihan akhirnya berusaha turun karena anjingnya terlihat tidak galak, malah manja mendekati kaki Dean. Dean membantu Jihan turun dan menggendongnya karena Jihan terlihat masih takut.             “Hush! Mbaknya takut, kamu main sana sendiri,” ujar Dean lalu melempar ranting yang akhirnya dikejar oleh si anjing.             “Makasih ya, De,” bisik Jihan ketika Dean menurunkannya.             “Dasar kamu,” gerutu laki-laki itu lalu mengacak-acak rambut Jihan. Tissa dan Kanaya yang melihat adegan itu memilih untuk tidak mendekat.             “Let them have their quality time,” bisik Kanaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN