"Oke, ada yang bisa jelasin ke gue nggak? Dan kalian berdua, kalian jadian kapan?! Gue nggak tau! Sayang, kamu dah tahu mereka jadian?" tanya Ikbal memandangi Kanaya yang menggaruk pelipisnya. Rencananya dia hendak bercerita dengan Ikbal saat mereka bertemu sekarang, sebelum ada Bagas malahan. Sekarang pupus sudah karena Ikbal jadi kambing conge tadi. Cuman better sih beberapa malah Ikbal yang mancing Bagas.
"Gue aja yang jelasin," sela Dean saat mulut Kanaya dan Tissa hendak berlomba menguntai kata.
"Maaf ya, Bal. Kita emang udah mau cerita waktu kumpul ini tadi sih. Tapi Bagas keburu berulah. Dan ya, gue sama Jihan udah jadian," ujar Dean sembari tersenyum kecil.
Wait what?!
Jihan lalu menoleh memandang Dean dan menunggu laki-laki itu mengatakan detail penjelasannya. Tapi nggak ada. Ketika Ikbal mengucapkan selamat kepada mereka, Dean masih tidak mengatakan apapun terkait sandiwara mereka. Jihan kemudian melirik ke kedua temannya yang ternyata juga melakukan hal yang sama dengan dirinya.
"De..." bisik Jihan menarik ujung lengan baju cowok itu. Dean malah tetap tersenyum dan menoleh. Tangannya mengelus rambut Jihan sebelum berbisik di telinganya. "Rahasia diantara kita berdua aja, biar gue lebih gampang ngelindungi lo."
Sialan memang Dean, Jihan sampai harus mengumpat dalam hati karena sesantai itu Dean berucap dan memainkan rambutnya dengan lembut. Dirinya belum di briefing juga dia tadi, trus gimana teman-temannya?
"Kalian beneran jadian?" tanya Tissa dengan tatapan datarnya. Dean mengangguk penuh dengan keyakinan.
"Bukan pura-pura?" bisik Kanaya dan cowok itu menggeleng pelan namun terlihat binar di mata coklatnya.
Kanaya langsung terperangah dan menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. Lengannya menyenggol lengan Ikbal.
"Kalian juga baru tahu?" heran Ikbal.
Jihan tersenyum kaku memperlihatkan giginya, ada sesuatu yang mengganjal tapi Jihan nggak yakin itu apa. Rasanya semua terasa cepat. Diliriknya cepat Dean yang malah tertawa melihat reaksi teman-temannya dan juga Jihan mengamati bagaimana mereka semua menunjukkan ekspresinya.
"Asyik, nih. Akhirnya bisa double date! Triple date kalau Tissa lekas gabung ke squad pasangan aneh," tawa Kanaya. Dirinya paling antusias karena justru baginya rencana yang tadinya pengharapan malah jadi kenyataan. Kanaya menaruh penuh kepercayaannya kepada Dean.
"Makanya cariin buat gue lah, mentang mentang dah punya cowok, temen sendiri dilupain," gerutu Tissa.
"Tapi rencana kita yang berikutnya tetep jalan kan?" tanya Tissa lagi teringat dengan berbagai rencana mereka.
"Jalan dong, gimanapun, Bagas kan temen kita, kalau dia bisa nerima kenyataan yang ada, kita bersedia banget nyambut dirinya jadi bagian kita lagi. Dia masih belum paham konsekuensi yang dia tanggung dengan perbuatannya," jelas Kanaya.
"Sayang...bisa jelasin ke aku nggak?" pinta Ikbal ragu-ragu takut diterkam.
Kanaya menghela napas pelan kemudian menjelaskan ke cowoknya. "Sayang inget kan? Kecurigaan kita terkait hubungan Bagas dan Jihan? Dan terbukti bener mereka pacaran...Jihan yang lama lama paham dikibulin, minta putus dong, trus nggak ke acc..."
"Lo kira proposal kagak di acc," sela Jihan.
"...yang ada malah Bagas mutusin semua ceweknya termasuk Karina. Super kan?" Ikbal lumayan terkejut dengan fakta yang dia dengar.
"Jadi yang gue denger tadi itu deskripsiin Jihan?"
Kanaya mengiyakan.
"Bagas nggak mau mutusin Jihan. Jadi kita buat rencana deh. Buat ngeliatin ke Bagas gimana kelakuannya yang suka mainin anak orang. Mumpung Dean sama Jihan lagi deket, gue usulin mereka jadi pacar pura-pura. Eh malah mereka ternyata beneran jadian. Poin plus dalam rencana gue, hahaha," ujar Kanaya berbangga diri.
"Kondisi mereka pacaran aja, Bagas masih sempat sempatnya flirting sama Tissa. g****k kan?! Temennya pacar sendiri diembat. Terlepas Tissa sama Bagas ada history ya. Menurut gue kelakuan Bagas dalam hal cinta dah red flag banget."
Ikbal masih terdiam dengan penjelasan yang diutarakan oleh Kanaya. Cukup detail dan dirinya masih berpikir, apalagi Bagas masih saudaranya. Karena sebenarnya Bagas nggak sebrengsek itu di luar hubungan asmaranya.
"Trus kalian mau ngapain lagi?" tanya Ikbal.
"Gue aslinya udah jadi buronan, Bal. Mantan pacar Bagas nyariin siapa cewek yang dah bikin Bagas mutusin mereka. Lebih tepatnya mutusin Karina, sih. Padahal disini gue sebenernya nggak tau apa apa. Gue mau jelasin posisi gue ke Karina tapi butuh bukti. Kayak ini tadi, aslinya percakapan kita semua waktu Bagas datang, gue diem diem rekam. Biar jelas posisi gue sebenernya bukan orang yang bikin kacau hubungan mereka. Emang udah dari awal kacau. Terlalu banyak pemakluman dari si cewek jadinya si cowok ngelunjak." Jihan lalu menunjukkan layar handphonenya.
"Mantap, Han. Ide lo," kagum Kanaya mengacungkan jempolnya.
"Bukan ide gue sih, Dean tadi sempet bisikin gue sesaat setelah Bagas gabung duduk dengan kita, hehehe."
"Kita bakalan tetep ngikutin Bagas, buat memvalidasi sesuatu sih sebenernya. Buat data pendukung, tapi itupun kalau berhasil..." gumam Jihan mulai ragu dengan rencananya dan melirik ke Dean.
"Kalian pengen buktiin apa setelah hal ini dia tetap punya cewek buat dimainin?"
Jihan mengangguk mendengar pertanyaan Ikbal.
"Kalau nggak? Kalau dia ternyata nggak macem-macem? Kalau dia ternyata beneran suka sama lo gimana?"
"Itu resiko dari plan kedua. Tapi sekarang terpatahkan. Jihan nggak mungkin kan galau lagi. Dia dah ada yang jagain, dia udah punya cowok. Jadi kalau Bagas ternyata nggak macem-macem lagi, berarti bagus dong dia berubah."
"Cowok nggak sesimpel itu keliatannya gaes, kayak kalian nih. Gue nggak paham sama esensi rencana kedua. Toh rencana pertama otomatis udah teranulir. Jihan udah jadi milik gue sekarang, jadi lo semua nggak usah khawatir."
"Aduuh, melting gue denger ada orang bilang 'dia milik gue sekarang', au ah sayang mana pernah bilang gitu," goda Kanaya pada awalnya walau sekarang dia jadi cemberut membuat yang lain tergelitik untuk tertawa.
"Ngapain harus bilang? Punya kesadaran kan? Kamu milik siapa?"
"Milik sayang," bisik Kanaya sedikit malu. Jihan menggelengkan kepalanya. Emang ya orang kasmaran kalau dilihat kesannya jadi malu-maluin.
"Nah itu tahu," balas Ikbal yang malah mendapat tendangan pelan di kakinya.
"Ishh, kalian itu kejam tahu nggak? Dah tahu ada yang jomlo disini. Terus aja disuguhi ama lope lopenya kalian! Muak gue, isshh," kesal Tissa lalu mendapat elusan di lengan oleh kedua temannya.
"Emang tuh, Kanaya tukang pamer, bwlee!" sahut Jihan menjulurkan lidahnya ke Kanaya.
"Loh, lo sendiri muka kek udang rebus dielus elus rambutnya sama Dean, tukang pamer nggak? Bwlee!" balas Kanaya.
"Gue siram air nih muka kalian!" sentak Tissa. Secara bersamaan mereka berdua lalu mendekat ke Tissa dan memeluk Tissa mencari perlindungan satu sama lain agar tidak kena marah lagi. Dean sama Ikbal hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tapi tak berapa lama Tissa menyunggingkan senyum yang justru membuat teman temannya semangat memeluk dan Tissa lalu mencoba melepaskan pelukan mereka di balik gerutuan dan senyumannya.
"Kita tetep jalanin rencana kita ya?" bisik Kanaya cepat ke Jihan dan Tissa saat Dean dan Ikbal mulai sibuk ngobrol sendiri. Berdua langsung mengangguk cepat.
"Dirumah gue, sore ini," tambahnya lagi.