"Udah, udah, kita lagi ngumpul nih. Jarang kan kita bisa ngumpul semua lagi kayak gini. Kemarin kita sok sibuk sih," ujar Kanaya berusaha melumerkan situasi yang menegang. Dean dan Bagas lalu saling mengalihkan pandangan mereka. Jihan menatap Dean khawatir, takut laki-laki itu akan meledak emosinya.
Perasaan bersalah berkecamuk di d**a Jihan. Tak henti hentinya gadis itu terlihat salah tingkah. Malah kadang berpikir, benarkah pilihan yang dia buat? Baru kali ini memang membuat dua orang terlibat pertengkaran. Apalagi yang bersitegang ini justru mereka bersahabat.
"Ka-kalian kok masih ambil kelas?" tanya Jihan berusaha santai di depan teman temannya.
"Kita nih korban sistem baru," jawab Dean.
"Gue, Bagas dan Dean serta anak angkatan kita mau nggak mau ambil mata kuliah wajib ini. Dulu nggak ada. Karena di semester tiga sekarang adanya, yaudah buat syarat wajib lulus, kita ambil barengan adik tingkat. Makanya tadi ada anak semester tiga yang gabung," ujar Ikbal ikut membantu menjelaskan.
"Trus skripsweet kalian udah sampai mana?" Tissa ikutan bertanya. Dean, Bagas dan Ikbal saling melihat. Sebenarnya saat kondisi mereka baik baik aja, pasti mereka akan tertawa dan menjawab berbarengan. Karena jawaban mereka sama.
"Masih bab awal dong," sahut Ikbal.
"Bab satu?" tanya Kanaya.
"Bab niat," jawab Dean yang membuat mereka semua tertawa. Bagas hanya menyengirkan senyumnya mendengar jawaban temannya. Matanya sempat menatap jenaka ke Dean tetapi kembali melirik ke Jihan. Bulu kuduk Jihan di leher sampai berdiri. Berkali kali dirinya mengelus lehernya belakangnya yang terbuka karena rambut pendeknya diikat ke belakang.
"Kalian sendiri ini masanya punya banyak seabreg tugas kan?" ujar Bagas.
"Ho oh, bener banget, Gas. Ini lagi kita ada kelas yang beda. Kelas pilihan, sih. Kelas bahasa. Gue lebih tertarik bahasa Rusia. Kalau Tissa lebih suka bahasa Jerman. Kalau anak bungsu lebih suka bahasa Prancis. Tapi nggak dilarang ikut ketiganya. Tep masuk ke SKS. Ya ampun tugasnya kebanyakan praktek. Sering main ke Ambass, mana dosennya sering jelasin cas cis cus pake bahasa rusia, kagak ngarti gue dah. Orang gue tuh pemula langsung dianggap expert," keluh Kanaya yang mendapat elusan di tangan oleh Ikbal. Cewek itu langsung menaruh kepalanya ke bahu cowoknya.
"Jihan suka yang berbau romantis emang," bisik Bagas namun bisa didengar oleh semua.
"Kita nanti ada praktek ngomong sama bule. Gue sampai ngikut les bahasa Jerman, anjir. Habisnya 2 SKS kita disuruh expert. Mo meninggoy ajalah kita," gerutu Tissa mulai mencemil siomay yang mereka beli tadi.
"Gue mah cukup liat di youtube aja deh. Pusing dengerinnya, ya ampun. Tulisannya bonsoir bisa bisanya di baca 'bongswa' itu tersesat dimana hurufnya," tawa Jihan.
"Lo sih sok sok an ambil bahasa Prancis. Nggak mau kan lo sekelas ama kita? Bosen kan? Ketemunya gue sama Tissa terus? Ngaku!" tunjuk Kanaya pura pura marah, mereka semua lalu tertawa.
"Kayak lo kagak aja, bosen kan lo jagain gue?!" sentak Jihan yang malah membuat Tissa dan Kanaya tertawa. Jihan menampakkan wajah cemberutnya dan mulutnya dimonyong-monyongin hingga membuat Dean mencubit pipi gadis itu. Gadis itu tertawa kemudian menoleh ke Dean, kaget dengan sentuhan itu. Pipinya seketika memerah, dan ketika tak sengaja matanya menatap ke arah teman temannya, justru pandangannya tertuju ke Bagas yang menatapnya tajam. Lagi-lagi Jihan sampai harus mengelus tengkuknya karena tidak nyaman.
"Gue pernah belajar bahasa rusia, Kan. Asyik loh versi nulisnya," ujar Dean sambil tangan kirinya berusaha mencopot ikatan di rambut Jihan hingga rambut gadis itu terurai. Meski mata Dean tidak memandang Jihan, tetapi laki-laki itu bisa dengan lembut melakukannya. Tangannya masih membantu Jihan mengatur2 rambutnya yang tidak beraturan setelah terurai meski rambut Jihan sendiri tergolong rambut setengah ikal yang gampang sekali diatur. Jihan dalam hati berterima kasih. Karena tengkuknya kini terlindungi. Tadinya dia sendiri hendak melepas ikatannya, tapi malah keduluan Dean.
"Bener De, belajar bahasa yang belum pernah kita kuasai tuh menantang, kayak mo dapeti idaman hati deh. Banyak nyerahnya," ujar Kanaya tertawa kecil. Matanya sempat menangkap gerakan tangan Dean, senyum terukir di bibir gadis itu melihat kepedulian Dean terhadap Jihan.
"Tempat mana sih yang biasanya ada bule dari berbagai belahan dunia? Enak gitu kalau kita praktek bareng meskipun beda bahasa," tanya Tissa.
"Taman bermain, kayak dufan gitu biasanya ada," ujar Jihan merasa tenang karena kini tangan kanan Dean mengelus punggung. Sedang tangan kiri cowok itu digunakan untuk bertopang dagu, menyimak pembicaraan yang lain.
"Ahh, dufan! Mau maen kesana, yuk yuk! Kita dah lama nggak pergi bareng," ajak Kanaya mendengar nama tempat area bermain.
"Mauu!" seru Tissa mengiyakan.
"Gue mau ajak gebetan gue boleh nggak?" tanya Tissa karena melihat sudah ada dua pasangan di sini. Dirinya sendiri sedang tidak mau dipasangkan dengan Bagas.
"Boleh banget, lo juga, Gas. Lo boleh ajak cewek lo juga," ujar Ikbal tapi malah mendapat cubitan di perutnya.
"Aduh, sayang. Sakit. Kamu kenapa sih?" gerutu Ikbal tidak paham situasi.
"Cewek gue dah direbut orang," jawab Bagas terlalu santai, merebut minuman botol punya Ikbal dan meneguknya sembari melihat ke Jihan.
"Loh bukannya loh mutusin Karina? Aduh, sayang, sakit, kakiku kok diinjek," rengek Ikbal melihat ke ceweknya yang melotot ke arahnya.
"Cewek gue kan bukan Karina. Lo mau tau nggak cewek gue siapa?"
Mendengar itu badan Jihan langsung kaku, Dean sendiri menyandarkan punggungnya ke bangku dan menatap Bagas dengan tatapan datar.
"Iya deh, lo ngomong aja, gue nggak bakalan nanya daripada gue sakit sendiri," gerutu Ikbal masih belum paham situasi yang ada.
"Cewek gue tuh orangnya nggak tinggi-tinggi banget. Rambutnya dulu sempat panjang tapi kemudian dipotong pendek. Jadi tambah lucu. Orangnya perhatian, sering bikinin gue bekal, nanyain kondisi gue dalam keadaan apapun. Kadangkala tingkahnya absurb, makanya gue suka. Apalagi kalau udah ketawa, beuh, langsung jatuh cinta juga lo, Bal."
Ikbal memilih mengamati wajah Tissa, Dean, Jihan dan ceweknya secara bergantian. Merasa hanya dia yang melewatkan sesuatu.
"Lo mau tahu nggak? Kalian semua udah tahu ya? Yang penasaran cuman Ikbal doang, neh."
"Sepengetahuan gue, lo udah putus sama cewek itu sebelum lo mutusin Karina. Bener kan?" tanya Dean sembari nyengir.
"Tapi gue nggak ngerasa setuju untuk putus. Yang namanya hubungan butuh persetujuan dengan kedua belah pihak kan?"
"Padahal udah jelas jelas tuh cewek dikibulin, tep nggak bisa merjuangin kehendaknya ya? Lo mau denial berapa kali lagi sih, Gas?"
"Wait, wait, kalian ngomongin siapa nih? Gue ngelewati sesuatu?" bingung Ikbal.
Kanaya menarik lengan Ikbal dan memintanya untuk mengajukan pertanyaan nanti.
"Oh, ya. Maaf ya, Gas. Gue nggak suka cewek gue dilihatin dari tadi. Jadi, dijaga ya pandangan matanya," ujar Dean tegas. Bagas lalu menyambar tasnya dan mengeluarkan kata makian untuk Dean. Dirinya langsung pergi dan meninggalkan seruan, "tunggu aja pembuktian dari gue!"