“Jadi apa yang pengen lo bicarain?” tanya Dean. Jihan memandang Dean ragu dan melihat bagaimana laki-laki itu dengan santainya makan makanannya dengan lahap. Mereka memilih duduk di pojokan agar lebih privasi sesuai permintaan Jihan. Bangunan kantin yang mereka tempati sebenarnya semi indoor, jadi ketika ada orang datang, mereka akan tahu dengan cepat.
“Dean, gue mau minta tolong sama lo,” sahut Jihan terdengar ragu-ragu.
“Apa? Ngomong aja. Hm, ini enak lo masakan lo. Lo berbakat nih kayak Bunda kalau suatu saat buka catering atau restaurant,” puji Dean membuat fokus gadis itu terpecah dan malah tersenyum dengan pipinya memerah. Tapi kemudian Jihan terdiam, bibirnya terus dia gigiti dan kakinya tidak berhenti bergerak.
“Lo masih inget kan rencana gue mau main detektif-detektifan sama Tissa dan Kanaya?”
Dean mengangguk, masih menghabiskan sushi sambil sesekali memandang Jihan.
“Jadi gini, sebuah rencana bisa aja berjalan dengan baik. Tapi bisa juga nggak, makanya butuh rencana cadangan. Bukan cadangan juga sih, bisa aja ini justru rencana utama untuk mensukseskan yang sudah ada. Jadi gue sama yang lain ada plan baru, bukan gue juga sih yang ngusulin. Ini yang ngusulin Tissa kok, eh bukan. Kanaya, Kanaya. Iya. Kanaya yang ngusulin. Kita pengennya…bukan…em…”
“Han, lo boleh banget to the point,” ujar Dean mulai mengerutkan keningnya.
“Oh, hahaha. Gue langsung ke intinya aja ya? Dean, lo mau nggak jadi cowok gue?”
“Ha?” Dean langsung tersedak. Jihan ikutan panik mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan membantu Dean membersihkan sisa nasi yang terlempar.
“Tadi lo bilang apa?”
“Gue bilang, mau nggak lo bantuin gue jadi cowok gue? Ini cuman pura-pura kok. Kan lo udah janji mau ngelindungi gue. Biar totalitas ngadepin Bagas sama ceweknya,” jawab Jihan lalu menggigit bibirnya. Mengharapkan jawaban Dean yang bersedia membantunya. Jihan tidak enakan jika Dean harus bersandiwara sementara dia sendiri masih menyukai mantannya.
“Gue nggak papa lo nggak bisa bantuin gue jadi cowok gue. Gue nggak ngarepin sampai tahap itu. Gue paham juga pasti lo nggak akan bebas nantinya karena mau nggak mau kita ngumumin ke semua kalau kita itu pacaran. Kita bisa stick ke plan awal kok. Lo ngelindungin gue. Jadi nggak masalah tanpa rencana itu. Kalau kita terlihat sebagai teman yang sangat dekat aja gimana?” tanya Jihan karena melihat pandangan mata Dean yang kini malah menatapnya tajam. Dean menyandarkan punggungnya dan memandang lurus ke manik mata gadis itu. Seketika bulu kuduk Jihan berdiri dan ada rasa aneh yang memenuhi hati dan perutnya saat ini.
“Nggak bisa, kita nggak bisa jadi temen yang sangat dekat.”
“Ha? Oh, maaf kalau…”
“Karena sekarang lo milik gue.”
Sepersekian detik Jihan mengedipkan matanya berkali-kali. Senyuman yang menghiasi wajah laki-laki mengantarkan ribuan tegangan listrik ke otaknya. Rasanya keinginan untuk melambung tinggi sangatlah besar.
“Pura-pura,” tambah Dean menyadarkan Jihan bahwa Dean hanya mencoba menyetujui rencananya untuk menjadi pacar pura-puranya.
“Oh, tentu aja. Makasih De,” bisik Jihan mencoba mencari kembali kewarasannya. Untuk sesaat Jihan percaya dengan kata-kata Dean. Dia milik Dean? Rasanya Jihan ingin melepaskan diri dan menghambur ke pelukan laki-laki itu. Ada rasa suka cita yang langsung muncul dan mendebarkan jantungnya tapi kini rasanya ada yang mengiris, menggores dengan pelan di hatinya.
“Meskipun pura-pura, gue bakalan nyoba totalitas biar orang percaya kita pacaran.”
Nggak! Gue yang bakalan susah totalitas! Kanaya karpet bener, nyarain ide yang justru bikin gue nggak bisa tenang. Ini kenapa hati gue malah terasa sakit?
“Tentu, gue-juga bakalan berusaha buat totalitas, hehe.”
Mereka lalu terdiam. Jihan sibuk menata perasaan dan juga moodnya sedang Dean sibuk menghabiskan makanannya. Tanpa mereka sadari, ada yang datang dan langsung bergabung dengan mereka.
Jihan tersentak dan melongo melihat Tissa, Kanaya dan Ikbal ikut bergabung dengan mereka. Gadis itu melirik sesaat Dean yang terlihat tidak peduli lalu tersenyum ke teman-temannya.
“Ganti basecamp nih kita?” seru Tissa.
“Han, lo duduk sini,” usul Dean setengah menarik tangan Jihan yang lalu manut, duduk di sebelah Dean, menggeser Ikbal.
“Uuu, keliatan nyata banget nih,” goda Kanaya.
“Kenapa nggak diresmiin aja sih,” gerutunya kemudian. Ikbal memandang ceweknya kemudian melihat gelagat Dean dan Jihan.
“Gue ngelewatin sesuatu?” tanya laki-laki itu. Kanaya lalu membisikkan sesuatu ke Ikbal yang direspon dengan anggukan kepala.
“Anterin gue pesen makanan, Yang. Nggak paham gue area sini,” ujar Kanaya lalu menggamit Ikbal pergi, menerobos orang-orang yang kebanyakan laki-laki memang di kampus ini. Jihan sendiri lalu sibuk berbicara dengan Tissa. Dean yang sudah menyelesaikan makanannya lalu menyeruput es teh pesanannya tadi yang sudah hilang esnya. Dean mengamati Jihan yang sedang tertawa dengan senyum khasnya.
Senyum Jihan memang selalu menyenangkan untuk dilihat. Nggak ada yang tahu kalau lo dah menarik perhatian gue dari pertama kita ketemu. Sampai gue sadar kemana mata lo tertuju. Nggak tau kenapa gue marah dan sedih secara bersamaan. Maaf, kadang gue ngerasa gue keterlaluan waktu ngebentak lo kayak gue benci banget sama lo. Padahal lo tau nggak, Han? Senyum lo, kelakuan lo, tawa lo selalu bikin gue keinget terus. Aslinya lo dah lama milikin gue. Nggak harus pura-pura.
Dean lalu ikut nimbrung ketika Ikbal dan Kanaya datang membawa siomay dan juga minuman botol lainnya. Saat itulah mata Dean menangkap kedatangan Bagas yang menghampiri meja mereka. Dean langsung merapatkan duduknya ke arah Jihan hingga membuat gadis itu sempat kebingungan.
“Kenapa?” tanya Jihan tiba-tiba dengan muka polosnya hingga ada keinginan kuat Dean untuk mencubit pipi gadis itu.
“Bagas datang,” bisik Dean tepat di telinga Jihan agar yang lain tidak mendengar walau Tissa dan Kanaya sempat melihat gerakan Dean dan ikut menoleh ke arah datangnya Bagas.
“Oh! Tenang aja, sesuai rencana kan?” Jihan langsung tersenyum lebar dan seketika ada perasaan menghangat menyinari hati Dean.
“Bersikap kayak orang pacaran beneran, gue pasti bakalan ngelindungi lo kalau dia macam-macam sama lo,” Dean mencoba mengatakan dengan nada sepelan mungkin dan juga terlihat biasa tapi Jihan justru menanggapinya dengan senyuman dan membuat Dean seketika berhenti bergerak dan malah mengamati senyum Jihan dari dekat.
Brak!
Bagas menjatuhkan tasnya ke meja dan membuat piring dan botol sempat terlonjak sedikit meskipun tidak sampai membuat barang pecah belah itu terjatuh. Matanya jelas langsung tertuju ke Dean dan Jihan yang sedari dia lihat dari jauh, malah asyik saling berbisik dan tersenyum. Bagas tidak suka.
“Hai, Gas,” sapa Kanaya dengan riang.
“Pindah tempat ngumpul?” tanya Bagas bersikap masa bodoh.
“Iya nemenin Jihan mau ketemu Dean,” sahut Tissa yang justru terlihat menegang ekspresi wajahnya.
“Emang lo ada hubungan apa sama Jihan?” tanya Bagas langsung. Teman-temannya yang lain langsung merasa tidak nyaman dengan sikap dan nada suara Bagas.
“Bukan urusan lo,” sahut Dean dengan nada yang mampu mengirimkan udara dingin ke tulang.
Mereka berdua saling menatap dengan tajam dan tidak mau kalah.
Jihan hanya mampu menggigit bibirnya dan tidak bisa membayangkan sebentar lagi apa yang akan terjadi.