Jihan memandang pantulan bayangan dirinya melalui cermin. Setengah memutar dan mencoba memantaskan diri dengan pakaian yang kini dia kenakan. Hari ini Jihan hendak main ke kampus Dean setelah kemarin gagal menemui cowok itu. Mereka bertiga mengerjakan tugas sampai malam dan tidak mungkin Jihan mengutarakan idenya dengan mudah melalui sambungan telepon. Nggak mungkin kan tiba-tiba Jihan telpon dan bilang, “Dean, lo mau nggak jadi cowok gue? Tapi pura-pura…”. Jihan yakin seratus persen, proposalnya akan ditolak tanpa pertimbangan oleh Dean.
Jihan sengaja tidak bermake-up dan hanya memoles sunscreen di wajahnya. Sedikit tambahan liptint agar wajahnya terlihat segar. Jihan memasukkan kaos pas badan warna putih ke dalam boyish jeans warna biru yang kemudian dia padukan dengan jaket berwarna senada yang terlihat agak kebesaran di badannya.
“Kayaknya orang-orang nggak akan ngeuh ini gue, nggak bakalan menarik perhatian juga. Karena main ke kampus Dean sama aja gue lagi melakukan percobaan bunuh diri,” ujar Jihan setengah berbisik masih memandangi dirinya. Semalam dirinya sudah chat dengan Dean, Jihan berusaha mengingat nama kelas Dean lalu dibukanya kembali obrolannya dengan cowok itu.
Dean Lintang : Emang lo ngapain mau ketemu gue? Kita ada jadwal pemotretan?
Ariesta Jihan : Nggak boleh? Gue mau ngomong sesuatu penting.
Dean Lintang : Sepenting apa?
Ariesta Jihan : Sepenting oksigen meninggalkan dunia ☹
Dean Lintang : Gue ada kelas besok jam 9 di Gedung Utara lantai 2 paling selesai jam 11, lo nyamper ya? Aman?
Ariesta Jihan : Lo bukannya tinggal skripsi doang?
Ariesta Jihan : Aman kok, mental gue yang nggak aman kalau ke kampus lo T.T
Dean Lintang : Ada satu mata kuliah yang gue ulang
Dean Lintang : Bagas? Lo nggak usah mikirin. Ada gue.
Dean Lintang : Gue ada di kelas Reguler 4 ya. Kalau males nunggu lo bisa nunggu gue di café Almameter aja
Ariesta Jihan : Big no! gue mending nyamper aja di kelas lo aja
Dean Lintang : Hahaha, oke deh. Met ketemu besok
Ariesta Jihan : C u Tomorrow
Oke, bakalan aman hari ini Jihan main ke kampus Dean. Jihan percaya dengan kata-kata Dean yang bakalan melindungi dia. Setelah dirasa cukup rapi, Jihan lalu bergegas keluar kamar dan menuju ke dapur. Dia tadi sudah menyiapkan bekal yang sengaja dia buat untuk Dean. Disambarnya kotak makanan Tupperware punya Bunda yang sudah dia isi dengan sushi roll dan spicy wings. Sejak mereka pindah rumah memang secara tiba-tiba keuangan keluarga lumayan membaik. Pesanan Catering Bunda membludak, sampai Bunda harus merekrut pegawai dan sengaja tidak merepotkan Jihan agar Jihan fokus belajar. Makanya Jihan paling terakhir pindah ke rumah ini. Dan masakan ini memang sengaja Jihan buat khusus untuk Dean.
“Bunda, Budhe, Jihan berangkat dulu ya?” Jihan lalu mencium punggung tangan Bunda dan Budhe bergantian yang sedang berjemur di teras rumah.
“Awas Tupperware Bunda jangan diilangin,” sahut Bunda memberi peringatan karena sudah ketiga kalinya Tupperware Bunda hilang karena sifat pelupa Jihan.
“Kali ini nggak akan ilang Bunda. Jihan kan udah takut dicoret dari KK,” ujarnya yang membuat Budhe dan Bunda tertawa kecil. Setelah itu Jihan lalu menaiki motornya dan bergegas menuju kampus Dean. Dalam perjalanan Jihan sangat menikmati cuaca menjelang siang yang tidak terlalu panas. Terlihat mendung tetapi justru udaranya sangat enak dihirup. Kadang kala nyanyian demi nyanyian keluar dari bibir mungilnya.
Setelah sampai, Jihan memarkirkan motornya di parkiran kampus Dean dan berjalan dengan bersenandung santai menuju Gedung Utara. Ketika menaiki tangga menuju lantai dua, jantung Jihan mulai bergemuruh membuatnya sedikit gugup ketika mencari kelas Dean. Gadis itu sempat melirik ke jam tangannya dan melihat waktu menunjukkan pukul 11.10, seharusnya Dean sudah selesai dengan kelasnya.
“Loh..Jihan?”
Jihan menoleh dan mendapati Ikbal hendak masuk ke kelas yang sama dengan Dean.
“Oh, Hai, Bal. Dari mana?”
“Gue habis dari toilet sih, nyariin siapa? Hm…”
Ikbal terlihat hati-hati ketika menanyakan siapa yang Jihan cari.
“Gue udah janjian sama Dean. Deannya ada kan?” tanya Jihan sambil sesekali melongok ke dalam. Matanya menangkap sosok Dean yang terlihat sedang asyik berbincang dengan temannya. Yang membuat Dean terlihat menonjol karena semua mata tertuju pada Dean yang berbicara dengan badan tegapnya. Sekilas rasa iri melintas di hati Jihan.
“Ada kok, gue panggilin ya?” Ikbal lalu masuk dan langsung meneriakkan nama Dean. “Dean, lo dicari Jihan nih!”
Nggak hanya Dean, semua yang ada di situ langsung reflek mengikuti pandangan menuju ke Ikbal. Jihan berusaha menyembunyikan diri dengan tidak ikut masuk dan memilih menunggu di luar.
“Oke, tunggu bentar.”
Dean dengan sigap lalu keluar kelas dan mendapati gadis itu sedang menunduk dan memainkan kakinya di dekat pintu.
“Baru nyampe?” tanya Dean.
Jihan akhirnya mendongak dan tersenyum kemudian mengangguk cepat.
“Nih! Gue bikinin buat lo!”
Dean memandang kotak makanan yang disodorkan Jihan. Dengan cepat, diterimanya kotak tersebut dan langsung dibuka.
“Hm, so yummy. Masakan bunda apa masakan lo nih?”
“Masakan gue dong. Gue jamin rasa nggak akan kalah jauh sama masakan Bunda. Hehehe. Gimana? Mau ngobrol dimana? Nggak mungkin kan di depan kelas dengan temen lo pada ngeliatin semua?” bisik Jihan, matanya menunjuk ke pintu dan jendela. Teman-teman Dean dengan pedenya menampakkan wajah penuh keingintahuan melihat Dean dan Jihan. Dean hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya yang kemudian menggoda mereka berdua.
“Ya udah ayok kita ke kantin gue aja ya, gue ada spot menarik,” ujar Dean kemudian masuk mengambil tasnya dan Jihan mendengar teman-teman Dean mulai menyorakinnya dengan berbagai macam kata-kata yang justru membuat Jihan tersipu. Ketika Dean keluar dari kelas. Mereka lalu berjalan beriringan menuju ke kantin yang dimaksud oleh Dean.
Tanpa mereka sadari, tadi dikelas ternyata ada Bagas. Dirinya cukup kaget juga Jihan menghampiri Dean bukannya malah menghampiri dirinya. Apalagi saat dia ikut mengintip dan melihat bagaimana tawa Jihan yang begitu lepas sedang bermanja dengan Dean. Genggaman di tangannya semakin mengerat. Ini nggak bisa dibiarin. Bagas sudah bertekad, bahwa Jihan nggak boleh keluar dari perasaannya. Harusnya bekal itu buat dia. Sama seperti dulu Jihan yang selalu memperhatikannya, peduli dengannya.
“Lo kenapa, Gas?” tanya Ikbal melihat aura di atas kepala Bagas yang terlihat suram. Ikbal sendiri tadinya takut untuk menghampiri temannya ketika Dean sudah pergi.
“Jadi lo berpihak sama Dean, orang yang udah ngerebut cewek gue?” tantang Bagas.
Ikbal lalu menunjukkan wajah seriusnya. “Maksud lo? Gue harus membenarkan kelakuan lo?”
Bukannya menjawab, Bagas langsung menggebrak meja, mengambil tas dan meninggalkan rasa penasaran orang-orang yang ada di kelas.