Plan A Plan B

1172 Kata
            “HE?! Seriusan Bagas nggak mau mutusin lo dan malah mutusin cewek-ceweknya? Dahlah, kiamat sudah dekat,” ujar Kanaya ikutan frustasi dengan cerita Jihan. Tissa langsung memukul lengan Kanaya, menyuruhnya diam dan membiarkan Jihan melanjutkan lagi ceritanya. Kanaya menahan amarahnya dengan sikap Bagas yang semaunya. Lagipula Jihan sudah berusaha mengakhiri tapi kenapa malah Bagas mutusin semua ceweknya?             “Tapi kok Bagas malah mutusin Karina padahal lo dah minta putus baik-baik?” tanya Kanaya lagi. Jihan hanya bisa menggeleng pelan.             “Gue nggak tau, Kan. Gue kan dah nyadar kalau hubungan kita tuh salah, makanya gue minta putus. Tapi Bagas malah ngasarin gue dan bilang nggak mau mutusin gue. Kenapa sih dia?” kesal Jihan masih mencoba menghapus sisa air matanya di pipi.             “Ya nggak heran sih. Bagas dah bilang cintanya sama lo. Makanya nggak mau diputusin,” ujar Tissa diikuti anggukan setuju dari Kanaya.             “Tapi gimana. Perasaan gue dah hilang seiring dengan pengetahuan gue terkait Bagas. Hubungan kita aja banyak bohongnya. Gimana mau baik-baik aja. Walau bisa aja gue ambil sikap dengan jadi pemenang. Udah hambar rasanya, malah yang ada gue males ketemu Bagas.”             Jihan memandang Kanaya dan Tissa dengan muka memelas. Mukanya berantakan dengan mata yang bertambah sipit karena bengkak sehabis menangis. Teman-temannya tidak bisa menyalahkan Jihan. Bagaimanapun, Bagas itu pacar pertama Jihan setelah Bunda ngijinin Jihan untuk pacaran. Dari awal Jihan mengenal kata suka pasti susah diekspresikan dan malah sekarang bertemu dengan buaya darat. Kanaya memeluk Jihan, menepuk punggungnya pelan, mengisyaratkan bahwa Jihan akan baik-baik saja.             “Aneh emang. Oke. Gue sama Tissa bakalan bantuin lo nyelesein urusan sama Bagas. Lo pengen putus kan? Gimana?” Mata Jihan langsung membelalak lebar dan itu terlihat lucu karena sebenarnya mata Jihan tidak bisa terbuka lebar dengan matanya yang membengkak.             “Kalian mau bantuin gue?” tanya Jihan seperti ingin menangis lagi.             “Jelas, gue sama Kanaya bakalan bantuin lo. Inget, Han. Mungkin ini emang jalan lo nemuin cinta sejati kelak. Ini tuh anggap sebagai tantangan hidup.”             “Dan ketika semakin banyak hal yang terjadi dalam pencarian lo, lo bakal semakin mudah nemuin apa itu cinta. Tapi inget, harus ekstra selektif! Ini masih mending punya pacar lain, kalau posisinya pacar pertama lo ternyata punya istri dan anak gimana? Di rujak Netizen pasti lo!” tambah Kanaya. Mereka akhirnya tertawa mendengar kalimat terakhir Kanaya.             “Viral lo!” ujar Tissa malah membuat mereka sampai terpingkal.             “Entar gue bikin di twitter dengan judul ‘Saya bukan madu, a thread’,” cerocos Jihan. Mereka sampai memegang perut mereka dan menghapus air mata yang turun karena kebodohan mereka.             “Aing maung! Dahlah, malah ngajakin ketawa. Mata gue sakit nih, habis nangis malah disuruh narik otot wajah,” dengus Jihan pura-pura kesal. “Tapi, beneran kalian mau bantuin gue?”             “Beneranlah! Lo kira selama kita sahabatan, gue sama Kanaya itu hanyalah gantungan kunci yang nggak bisa ngapa-ngapain gitu? Ngurusin Bagas mah kecil. Yang gede tuh ngurusin Karina,” gemas Tissa langsung mengacak-acak rambut Jihan yang sudah berantakan. Kalau di foto dah menjiwai banget depresinya.             “Makasih ya, Kan, Tiss. Kalian emang berarti banget buat gue. Cuma kalian yang bisa mahamin gue.” Jihan lalu memeluk mereka berdua, sama sama terharu dengan suasana.             “Ada satu lagi nih yang on the way bisa mahamin lo,” bisik Kanaya membuat mereka melepas pelukan mereka.             “Siapa?” tanya Jihan dan Tissa berbarengan.             “Ya siapa lagi yang sekarang ada dimana aja saat susahnya Jihan dan sukanya Jihan?”             “Bunda?” jawab Jihan meski dia sendiri nggak yakin.             “Ck! Ternyata cuman gue yang peka. Mungkin itu salah satu alasan gue punya relationship yang stabil. Nggak kek kalian!” sembur Kanaya. Kedua temannya hanya bisa melongo, masih tidak paham maksud Kanaya.             “Gue punya ide nih!” ujar Jihan tiba-tiba. Mereka langsung memusatkan perhatian ke Jihan.             “Gimana kalau kita ngikutin Bagas dan nge-gap dia bikin salah, jadi nggak ada alasan lagi dia nggak mutusin gue. Kan alasannya hanya gue satu-satunya sekarang. Kayak yang pernah gue bilang ke Dean…” Mata Kanaya langsung berputar mendengar Jihan menyebut nama Dean, membuktikan bahwa kedua temannya nggak peka sama sekali dengan maksudnya. “…gue mau main detektif-detektifan. Kalau punya bukti, pas gue dilabrak sama Karina, gue bisa pembelaan kan ya? Karena sejatinya, gue sama Karina itu ada di kapal yang sama.”             “Boleh juga, ide bagus,” ujar Tissa.             “Kenapa ide bagusnya nggak lo yang punya pacar jadi Karina mau ngelabrak lo mikir-mikir juga.”             Jihan lalu memandang Kanaya dengan kening berkerut, sedang Tissa malah menganggukkan kepalanya.             “Gue tambahin info ya? Karina saat ini lagi nyari siapa cewek yang dah bikin Bagas mutusin dia. Dia tuh kan pacar Bagas sejak SMA, jadi kelakuan Bagas itu dah banyak ditolerir sama dia. Dia nggak terima diputusin karena cewek baru,” kata Kanaya memberikan informasi yang membuat Jihan keringat dingin.             “Lo denger apa lagi, Kan? Soalnya gue sejak main api sama Bagas berusaha menulikan telinga gue dengan gossip yang beredar. Karena sejatinya karena gue tahu gue salah, gue yakin, kalau ketahuan gue juga pasti dilabrak,” ujar Tissa menambahkan.             “Karina ngamuk gitu deh. Yang gue khawatirin justru circlenya Karina. Doi kan seleb tuh, kalau kita nggak hati-hati, informasi yang kelempar ke publik bisa ngerugiin lo, Han.”             “Ya ampun, s**l banget gue harus urusan sama Bagas,” kesal Jihan.             “Kita harus punya Plan A dan Plan B. Bisa juga dengan ide lo, bisa juga dengan ide gue. Gue mau minta tolong Dean buat jadi pacar lo.”             “Pura pura?” tanya Jihan.             “Beneran juga boleh.”             Pernyataan Kanaya membuat pipi Jihan bersemu merah.             “Nggaklah, gue nggak mau jatuh di lubang yang sama. Dean kan masih ada feeling sama mantannya.”             “Ngarep berarti kan lo?” goda Tissa membuat gadis itu harus menerima cubitan di lengannya.             “Secara nggak langsung, image yang terlihat adalah kalian ini barengan terus, dan nggak ada kesempatan buat ngait-ngaitin Bagas sama lo. Kita gunain nih di bagian ‘tolerir’ nya Karina terkait Bagas yang suka selingkuh tipis tipis. Gue yakin, Karina nggak bakalan gangguin lo lagi.”             Jihan dan Tisa angguk-angguk mendengar rencana Kanaya.             “Di sisi lain, dengan cara Jihan, kita punya banyak bukti kalau Jihan itu korban, sama kek yang lain. Walau bedanya disini, Bagas mulai main perasaan ke Jihan. Eh dia malah suka,” tambah Kanaya.             “Berarti kita harus gerak cepat dong, Kan. Apalagi gue udah dicari sama Karina. Gimana kalau besok kita mulai rencana kita?” usul Tissa.             “Berarti gue harus bilang Dean hari ini?” ujar Jihan kemudian menelan ludah karena pertanyaannya sendiri. Harus berbicara dengan Dean tentang hubungan, berarti harus siap mengingat kejadian minggu lalu. Jihan mendesah keras dalam hati. Mati-matian selama seminggu ini dia bersikap professional ke Dean, dan tidak menunjukkan bahwa dia peduli dengan kejadian malam itu. Kalau gini mau nggak mau harus ngobrol dari hati ke hati dengan Dean.             “Emang dia bakalan mau?” tanya Jihan lagi tidak yakin. Jihan menatap temannya yang malah nyengir dengan pertanyaannya.             “Berani taruhan?” tantang Kanaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN