Persahabatan bagai...

1199 Kata
    “Bunda, ini beneran bukan seperti yang Bunda pikirin, kami nggak ada…”     “Nggak ada hubungan?” tanya Bunda to the point. Para ibu-ibu masih bersidekap di dekat pintu meminta penjelasan dari mereka berdua.     “Nggak hubungan tapi bibirnya di monyong-monyongin?” tanya Mamanya Dean.     “Maaf, Bunda. Saya yang salah disini, saya yang ambil kesempatan atas Jihan. Saya janji nggak akan ngulangin lagi, disini.”     Bunda dan Mamanya Dean kemudian saling pandang, seketika tawa mereka keluar. Jihan dan Dean saling pandang, kebingungan dengan tingkah orangtua mereka.     “Ya ampun mbak, maaf ya, aku punya anak nggak ada sadar-sadarnya,” ujar Mamanya Dean ke Bunda.     “Padahal bilang aja saling suka, mana janji nggak akan ngulangin. Iya nggak akan ngulangin di sini, tapi di tempat lain iya,” balas Bunda lalu menatap langsung ke Dean. “Tenang aja Dean, Bunda ngerasa aman nitipin anak Bunda yang suka bikin Bunda geregetan itu ke kamu. Restu akan meluncur begitu cepat kalau kalian sudah menyelesaikan hal yang lalu dan udah pada sadar sama perasaan masing-masing. Iya kan?” tambah Bunda melihat ke Mamanya Dean. Wanita itu mengangguk kemudian mengandeng tangan Bunda.     “Ayo mbak, kita tidur lagi aja. Ternyata seru juga ya nge-gap anak muda yang lagi kasmaran.” Wanita itu terkikik lalu mengajak Bunda pergi. Bunda sempat melambaikan tangan pada mereka berdua yang dibalas dengan Jihan lambaian tangan yang terkesan ragu-ragu. Sedari tadi wajahnya memucat dan tidak mampu mencerna apa yang orang tua mereka katakan.     Jihan lalu menunduk, memilih melihat sekelilingnya tanpa harus melihat ke wajah Dean. Wajahnya terasa panas dan Jihan mulai kebingungan. Dean yang tersenyum melihat tingkah para ibu-ibu hanya bisa menggeleng pelan. Pandangan matanya kemudian jatuh mengamati kelakuan Jihan yang absurb. Gadis itu sedang berusaha merapikan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali.     “Kalau lo mau balik ke kamar, gue anterin. Gimana? Masih terasa sakit tangannya?” tanya Dean dengan lembut sembari mengelus puncak kepala Jihan. Jihan mengangguk pelan. Pikirannya benar-benar tidak bisa fokus sekarang. Perlakuan Dean membuatnya merasa sangat dilindungi.     “Gue balik ke kamar, ya?” ujar Jihan setengah berbisik. Gadis itu lalu menggigit kecil bibirnya. Seketika ingatan tentang apa yang mereka lakukan tadi menyambar dengan cepat, Jihan yang harusnya segera turun dari bangku, malah menatap sekilas Dean. Dirinya kemudian turun dan malah hampir menabrakkan dirinya ke badan Dean. Jihan memutar badannya dan menyenggol bangku kemudian hampir terjatuh. Dengan gerak cepat Dean langsung membantu Jihan dan meraih kursi panjang itu agar tidak jatuh. Jihan bergegas melepaskan diri dari dekapan Dean dan setengah berlari meninggalkan dapur.     “Han,” panggil Dean. Jihan lalu berhenti dan menoleh.     “Kalau ada apa-apa sama lo, gue bakalan ngelindungin lo. Jadi nggak usah khawatir yang berlebihan.”     Jihan menganggukkan kepalanya pelan kemudian langsung ngacir menuju kamarnya. Sepeninggal Jihan, Dean menghela napas kecil. Kali ini dia nggak akan tinggal diam. Jihan sudah memperjelas posisinya dan bagi Dean, sudah halal baginya memperjuangkan apa yang dia mau dari dulu.                                                                         **     Sudah selama seminggu ini Dean selalu berusaha dekat dengan Jihan kemanapun dia pergi. Dean juga sengaja selalu mengajak gadis itu untuk mengikuti kegiatannya sebagai fotografer. Tentu saja hal ini membuat Dean dan Jihan jarang bertemu dengan geng mereka. Bahkan Tissa dan Kanaya sampai bingung dengan banyaknya kegiatan Jihan membuat mereka tidak bisa menculik Jihan hingga akhirnya ada tugas kelompok yang harus mereka bahas. Kanaya mengajak kedua temannya untuk mengerjakan tugas di kamarnya.     “Han…” Jihan langsung menengok ke Tissa yang terlihat ragu-ragu hendak mengatakan sesuatu.     “Ya?” tapi Tissa terdiam. Jihan memandangi Kanaya dengan bingung hingga akhirnya Tissa mau juga mengatakan apa yang dia ingin katakan.     “Lo akhir-akhir ini sibuk banget deh, sampai nggak bisa ngumpul lagi. Trus kok gue liatnya lo sama Dean ya?”     “Oh, gue sama Dean ya? Gue ngikut jadi asistennya gitu. Mayan sih, gue dibayar kok. Dia kan kebetulan lagi naik naik ke puncak gunung nih karirnya, butuh ada yang handle. Entah jadwal, entah bawain peralatannya. Mumpung gue free dan emang butuh kerjaan, why not.”     “Lo deket banget ya sama Dean?” goda Kanaya.     “Apa sih, gue sama Dean cuma…cuma lagi nggak pengen berantem aja. Padahal aslinya kita suka debat kok,” ujar Jihan membela diri padahal wajahnya mulai memerah.     “Gue lebih setuju sih lo sama Dean daripada sama Bagas. Longterm relationship ya,” ujar Kanaya menambahkan. Tissa diam dan memilih menganggukan kepalanya.     “Dia udah bantuin banyak. Dari yang pas gue diusir, gue nyari kerjaan. Jadi kan nggak etis ya kalau gue masih ngajakin dia berantem.” Jihan lalu nyengir dan memberikan kedua temannya senyum ragu-ragunya.     “Better, Dean sama mantannya deh. Perfect gitu. Gue mah apa? Cuman mic yang berharap dipegang terus sama Jaehyun,” ujar Jihan sambil lalu. Berharap teman-temannya stop menanyakan tentang dirinya dan Dean. Karena ingatan minggu lalu saat ke gap oleh orang tua mereka masih berbekas sampai sekarang.     “Ada pengharapan nih,” goda Kanaya masih berusaha menggali lebih lagi tentang mereka berdua.     “Eh, Han. Lo udah pindah ya dari rumah Dean?” tanya Tissa tiba-tiba teringat sesuatu.     “Officially, udah. Semalem gue udah tidur di rumah baru. Kalian main ya kesana. Atau habis ini mau anter gue pulang ke rumah?” usul Jihan yang dibalas dengan jempol kedua temannya.     “Setuju gue! By the way, lo pada dah denger berita yang lagi hot nggak di kampus? Bagas mutusin ceweknya. Literally semua ceweknya. Bahkan sama Karina yang udah tahunan pacaran aja juga diputusin.” Berita dari Kanaya membuat Jihan membeku dan belum bisa memberikan komentar apa-apa. Dia sendiri belum bercerita ke sahabatnya tentang hasil pertemuannya dengan Bagas.     “Ho oh! Bener! Gue juga denger itu. Gue malah sempet ketemu sama Bagas langsung. Dia cerita kalau hubungannya dengan Karina udah selesai. Bisa gitu ya? Mana kata Bagas dia udah jatuh cinta sama cewek lain. Power tuh cewek baru, sangar emang,” cerocos Tissa. Jihan pura-pura antusias mendengarnya dan masih belum memberi tanggapan.     “Kira-kira siapa cewek itu ya? Lo beruntung banget, Han. Lo yang mutusin Bagas kan? Cewek lain nasibnya diputusin. Mayan rame loh, beberapa anak fakultas lain aja sampai tahu. Emang beda ya? Kalau idola kampus ada gosip, dengan kecepatan cahaya, gosipnya dah sampai bahkan ke kutub utara,” ujar Kanaya meski terasa lebay tapi Tissa mengangguk setuju. Jihan menelan ludahnya kasar.     “I-iya, gue yang mutusin Bagas…”     “Gue seneng lo terbebas dari jerat buayanya Bagas. Walau dia temen kita, tapi gue nggak rela juga doi makan temen sendiri, iya kan Tiss?”     Tissa tertawa dengan kaku. Kanaya yang menyadari langsung tertawa sampai memegangi perutnya.     “Oh, iya. Lo juga korbannya Bagas. Hahaha. Untung gue dah kenalnya sama Ikbal duluan.”     Tissa langsung memukul lengan Kanaya yang masih tertawa. Jihan yang melihat keakraban di antara mereka berdua memilih untuk diam dan mengamati. Ingatannya akan kebersamaan mereka selama ini membuatnya meneteskan air matanya. Tanpa terasa Jihan menangis sesenggukan hingga akhirnya Tissa dan Kanaya menyadari suara isakan Jihan. Dengan segera mereka langsung menghampiri dan memeluk Jihan.     “Hey, lo kenapa Jihan plincesnya kita tuh?” usap Kanaya terus memeluk Jihan.     “Mind to tell us?” Tissa berusaha menghapus air mata Jihan.     “Maaf, gue minta maaf..” dan akhirnya Jihan jujur mengatakan tentang pertemuannya dengan Bagas dan menjelaskannya di tengah isak tangis.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN