Jannah menangis di pelukan kedua sahabatnya, lebih tepatnya, mereka menangis bersama sambil berpelukan. Ikut sedih dan prihatin atas masalah rumah tangga yang kini menghantui Jannah. “Gue harus bilang apa, Na? Speechless, gue. Nggak bisa ngomong apa-apa?” Tarra mengusap air matanya. Makin banjir air mata, mengingat nasib percintaannya sendiri, dan apa jadinya bila pernikahan tanpa kesetiaan dari Eki, sang mantan, tetap mereka paksakan ke jenjang pernikahan. Mungkin, kondisinya akan lebih buruk dari rumah tangga Jannah saat ini. Ia perlahan menyadari, Tuhan masih begitu sayang padanya, menghindarkan dirinya dari menikahi pria tak bertanggung jawab. “Gue nggak sanggup kasih saran, Na. Jujur. Gue takut salah ngomong. Kita temani elo diskusi ke ahlinya, yuk. Ustadzah? Konselor pernikahan

