“Sulit tidur, Na?” Jannah mengangguk. “Kalau pun tidur, pasti sebentar, dan sangat nggak tenang. Seperti cuma memejamkan mata aja, gitu. Tapi tubuh nggak ikutan tidur.” “Bahaya kalo seperti itu berkepanjangan.” Bianca prihatin memandanginya. “Apakah jadi mudah menangis? Sedikit-sedikit menangis?” Jannah mengangguk. “Bahkan, ketika sedang berjalan dari kamarku ke dapur, pun, air mataku bisa meleleh tiba-tiba.” “Aku kasih resep ya, Na. Terpaksa. Ini mengandung penenang syaraf. Di otak manusia ada ribuan syaraf yang mengatur emosi kita. Sedih, marah, gembira, semua saling terkait di kepala kita. Jadi, obat ini bisa menetralisir kadar sedih kita. Sedih yang berlebihan, ditangkal sama obat ini. Plus, nanti jadi mudah mengantuk. Semoga bisa tidur nyenyak malam ini.” “Wah, canggih ban

