Audisi Tahap 2

1598 Kata
Frengky dan Nuna tiba di Jakarta. Mereka pun segera memesan taksi untuk menuju rumah Frengky. Taksi yang mereka pesan segera datang. Frengky memilih duduk depan, karena ia tidak mau duduk bersebelahan dengan Nuna, ia masih tidak bisa lupa pada Ghia, ia takut sikapnya buat Ghia sedih. Nuna yang sedikit aneh pada sikap Frengky, memilih tidak bertanya pada Frengky. Nuna pun mencoba untuk memberi kabar pada kawan kawan kuliahnya, Nuna memiliki banyak kawan, karena ia dikenal baik, dan pandai dalam beradaptasi. Nuna pun menelpon Dian, kawannya di kampus yang selalu tau tentang kehidupan cinta Nuna. Nuna pun memberanikan untuk bercerita pada Dian karena Frengky sedang ke toilet di pengisian bensin. “Hei Dian, gue mau cerita nih.” “Iya cerita aja kali Nuna, aku pasti dengerin.” “Tapi kamu bisa ya gak bilang bilang pada yang lain?” “Kamu bisa kok cerita tentang rahasia kamu.” “Kamu tau dian? Aku udah menikah?” “What… menikah?” “Iya, gue udah menikah, kalau cerita kenapa bisa nikah, gue cerita langsung ya kalau ketemu.” “Loe bisa bisanya nih gak ceritain.” “Eh udah dulu ya suami gue udah ke mobil nih, ntar kita ngobrol ya.” Nuna menutup telponnya. Frengky yang langsung masuk ke taksi, tidak bertanya pada Nuna, terlihat kalau Frengky memikirkan orang lain. Nuna udah kenal dengan sifat Frengky yang tidak bisa menutupi kalau ia sedang memikirkan orang lain. Nuna pun memilih untuk tidak bertanya. Setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di rumah Frengky, mereka lalu menurunkan barang-barang serta oleh-oleh yang mereka beli. Frengky membukakan pintu gerbang untuk Nuna, ia membawakan barang Nuna. “Assalamu’alaikum, papa, mama aku dan Nuna udah pulang nih.” Orang tua Frengky seperti tidak yakin itu suara Frengky, karena orang tua Frengky memberi waktu honeymoon selama tiga hari bukan sehari. “Kenapa gak dibuka ya, yaudah aku masuk pakai kunci cadangan deh.” Frengky langsung membuka pintu dengan kunci cadangan. Orang tua Frengky yang sedang duduk di ruang tamu, langsung terperanjat, karena ada yang membuka pintu secara mendadak. Papa lalu melirik ke pintu, siapa yang datang. “Kamu siapa?” “Aku Frengky dan Nuna pah.” Papa pun lega karena yang membuka pintu rumah adalah Frengky dan Nuna. Mama pun langsung mendekati Nuna, dan bertanya tanya tentang honeymoon yang mereka  jalani. “Nuna menantuku, gimana honeymoon bareng Frengky?” “Iya aku suka kok.” Mama terlihat antusias, dan mama pun langsung mengajak Nuna untuk masuk ke kamar, karena ada yang mama mau tanyakan. Nuna pun menurut. Frengky yang belum bisa lupa pada Ghia bercerita pada papa.  Di kamar, mama pun langsung bertanya Nuna tentang pertanyaan yang buat Nuna geli sekaligus, ketawa. “Nuna, gimana milik Frengky?” “Milik Frengky?” Nuna kebingungan tidak mengerti maksud mama mertuanya. “Itu loh, yang itu..” Mama tertawa. “Maaf mah aku gak ngerti.” “Duh kamu polos, atau malu?” “Beneran gak tau.” “gak tau?” “Iya mah.” “Nuna kamu pingin mama sebut ?” “Boleh.” “Fregky kan memiliki…” “Tunggu mah, udah tau jangan sebut.” “Haha udah mama duga kamu Cuma malu, iya gimana honeymoon kamu?” “Iya aku suka kok, Bali cantik sekali.” “Oh syukurlah, semoga kamu dan Frengky bisa selalu bersama.” Lalu di tempat yang berbeda, papa dan Frengky sedang ngobrol. Frengky pun menceritakan tentang Ghia yang muncul lagi di hidup Frengky. “Kamu ketemu Ghia? “ “Iya pah, aku gak tau sikapku ke Ghia benar atau gak ya?” “Sikap kamu seperti bagaimana ke dia?” “Aku gak peduli, karena kan dulu Cuma pura-pura pacaran. “ “Papa tau kamu kan cerita ke papa tentang Ghia pacar kamu yang Cuma pura-pura.” “Iya pah, aku benar atau gak ya?” “Benar, karena sebagai laki-laki kita harus teguh, tidak boleh selingkuh.” “Iya pah aku mau seperti papa yang selalu mesra, sama mama.” “Frengky, kamu jangan sakitin Nuna, karena kamu gak tau kan kenapa kamu dinikahkan dengan Nuna?” “Iya pah aku gak tau.”                 Papa lalu merangkul Frengky. Mama yang udah selesai ngobrol dengan Nuna langsung mengajak papa untuk makan di ruang makan, dan melarang Frengky untuk ikut makan di ruang makan.                 “Frengky, mama mau hukum kamu.” “Kenapa mah?” “Kamu udah pulang dalam waktu sehari.” “Oh iya kan Nuna ada rapat organisasi mah di kampus, kasian kalau dia gak ikutan.” “Oh gitu,yaudah mama ngerti, tapi kamu mama larang makan di ruang makan.” “Yah, aku udah lapar banget.” “Udah kamu makan di kamar, temani Nuna, pasti kalian lelah,.” “Yaudah mah, aku ke kamar dulu.” Di kamar Nuna sedang tiduran di kasur, badannya terasa lemas, Nuna tidak mengerti kenapa ia lemas, Nuna pun memilih untuk beristirahat. Frengky masuk ke kamar, ia lalu membangunkan Nuna, karena Nuna belum makan. Nuna pun terlihat lemas, Frengky mulai cemas karena tidak biasanya Nuna lemas. Frengky pun lalu memeriksa Nuna, dia demam atau tidak, ternyata tidak demam. Lalu Frengky bertanya apa yang di rasa Nuna. Nuna merasa mulutnya pahit. Frengky pun lalu meminta Nuna untuk makan walau Cuma beberpaa sendok. Nuna tidak mau, karena mulutnya pahit, tapi kalau Nuna tidak makan Nuna akan jatuh sakit. Nuna pun tidak mau sakit karena besok ia akan menghadapi audisi tahap 2. Nuna pun mau menelan makanan yang disuapi oleh Frengky.                 “Frengky thank you, kamu udah jadi kawan aku yang super baik.”                 “Iya, kamu kan udah bukan orang asing, aku pasti rawat kamu.”   Nuna pun merasa Frengky seharusnya bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik. Nuna tau kalau Nuna bukan tipe Frengky. Nuna bahkan tidak pernah serius dalam berpacaran, dan Nuna juga terkesan cuek.                 “Aku boleh gak ngomong?”                 “Iya kenapa?”                 “Kamu beneran gak papa nikah denganku?”                 “Kamu kan tau ini keinginan orang tuaku, aku gak masalah.”                 “Aku gak mau kamu nikah dengan orang seperti aku.”                 “Kamu kan kawan yang hebat, kenapa kamu menilai diri kamu rendah?”                 “Aku Cuma pingin kamu bisa bahagia dengan orang yang pantas.”                 “Aku gak mau kamu nilai diri kamu rendah, aku mau kamu sekarang pulih ya.”                 Setelah Nuna makan, Frengky lalu menyiapkan vitamin. Frengky lalu menyuapi Nuna. Mata Nuna dan Frengky bertabrakan. Nuna menatap mata Frengky yang berbola mata coklat, Nuna bahkan tidak berkedip seperti terpesona pada tatapan Frengky. Frengky pun menjetikkan jarinya di depan wajah Nuna sambil tersenyum.                 “Kamu kenapa kok liatin aku?”                 “Gak kok.”                 “Kamu jatuh cinta ya sama aku?”                 Frengky menggoda Nuna, dan berhasil buat Nuna merah pipinya.                 “Aku kan bilang gak mungkin aku suka kamu.”                 Frengky pun lalu  mau meninggalkan Nuna karena ia harus menyiapkan mobil, untuk mengantar Nuna besok ke audisi. Nuna pun melarang, Nuna meminta Frengky untuk tetap disini, merawatnya. Frengky pun menurut pada Nuna. Frengky pun tidak ingin menyembunyikan tentang kebingungan yang ia hadapi.                 “Nuna, aku mau cerita ke kamu?”                 “Boleh dong cerita.”                 “Kamu tau itu yang di Bali?”                 “Aku gak mau tau Frengky.”                 “Aku sekarang mau cerita, itu mantan aku.”                 Nuna melotot, dan terpaku.                 “Aku gak cerita karena buatku itu gak penting, tapi aku tau kamu orang yang berhak tau.”                 “Kamu cinta sama mantan kamu?”                 “Aku udah lupain dia, karena dia Cuma mantan pura-pura.”                 “Aku gak ngerti?”                 “Dia bukan pacar beneran.”                 “Oh gitu.”                 Hari pun udah berubah malam, Frengky mengajak Nuna sholat, Nuna pun memberitau kalau ia sedang berhalangan sholat, Frengky tertawa, karena ia lupa. Frengky lalu memilih sholat di masjid. Nuna senang karena Frengky adalah kawan yang baik dalam ibadahnya. Nuna pun tak sabar menunggu besok.                 Besoknya Nuna udah bangun lebih pagi, ia udah pemanasan, badannya sekarang jauh lebih sehat, ia pun segera bersih-bersih dan bersiap untuk audisi. Nuna pun berdandan dan ia segera meminta Frengky mengantarnya. Frengky pun mengantar Nuna. Setelah satu jam perjalanan, Nuna turun dari mobil, dan ia berjalan ke kampus, Nuna gak mau ketahuan oleh kawan-kawannya. Frengky pun parker di halaman belakang kampus. Nuna lalu segera ke ruang ganti untuk mengganti pakaian olahraga. Nuna menguncir rambutnya dan ia bersiap untuk mengikuti audisi tahap 2. Nuna mulai latihan sebelum dimulai audisi. Setelah latihan Nuna harus menunjukan performa dalam bermain basket.                 Nuna pun bermain dengan sportif. Ia harus bisa memasukan bola, yang telah dihalangi oleh peserta audisi lainnya. Nuna pun bergerak cepat ia segera mendribble bola, dan ia berhasil mengecoh peserta lain dengan gaya pebasket, dan ia berhasil memasukkan bola. Ia pun mendapat poin. Setelah itu Nuna pun dimunta untuk menshoot dari jauh, Nuna pun dengan yakin langsung menembakkan bolanya ke keranjang, dan bolanya berhasil masuk. Nuna pun sekarang harus bisa menshoot sekitar lima puluh bola, setidaknya Cuma boleh tga kali bola tidak masuk. Nuna pun takut karena menurut Nuna ini adalah kelemahan Nuna, terkadang Nuna tidak konsisten, kalau udah memasukan bola. Nuna pun melirik jajaran penonton ia mencari Dian, dan Frengky, karena Dian dan Frengky, mereka prang yang penting bahkan sebelum Nuna menikah dengan Frengky. Di sudut kiri ada Dian yang mendukung Nuna dengan tulisan Nuna you are the best. Di sudut yang ujung ada Frengky yang duduk sambil tersenyum dan memotret Nuna. Nuna pun dengan yakin menembakan bola ke ring.                 “Peserta no 101 berhasi memasukkan bola sebanyak 50.” Teriak Mc.                 Nuna pun loncat kegirangan , itu adalah skor yang tak pernah dicapai Nuna. Nuna pun bersujud syukur.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN